
..._______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Arini kembali terperangah saat dia masuk ke dapur di apartemen Arya. Semua begitu rapi, luas, semua peralatan komplit juga begitu bersih.
Mata Arini terus mengamati setiap sudut ruangan, juga semua peralatan yang juga pastinya sangat mahal-mahal karena dari bahan yang berkualitas.
"Subhanallah, ini sungguh luar biasa," gumamnya.
Tangan Arini juga menyentuh satu persatu barang-barang di sana, dia yakin itu barang-barang yang sangat mahal.
"Belum puas mengamati semuanya! " ucap Arya mengejutkan.
Arini benar-benar terkejut, bukan hanya itu saja sih tapi Arini juga begitu was-was dia harus waspada dengan Arya. Bagaimanapun mereka hanya berdua saja di apartemen itu. Arini takut kalau Arya kembali kumat lagi dan akan melakukan hal buruk padanya.
Arini memutar badannya, dia meringis begitu saja saat Arya datang ke sana. "Hehehe.. " deretan gigi putihnya juga langsung dia perlihatkan.
Senyum Arini yang seperti itu yang membuat Arya ingin sekali menerkamnya, wajahnya terlihat sangat manis dengan hiasan lesung pipi di kanan dan kirinya.
Tapi Arya langsung menggelengkan kepala, dia tak akan mungkin mendapatkannya dengan mudah. Di ruangan itu begitu banyak macam pisau, bisa-bisa Arini langsung bunuh diri nanti.
"Cepatlah, aku sudah sangat lapar." ucap Arya. Arya kembali melangkah keluar, duduk di ruang makan menunggu Arini memasak untuknya.
"Pak Tuan mau makan apa!? " tanya Arini sedikit berteriak.
"Terserah kamu, yang penting harus enak. Awas saja kalau tidak enak maka kamu yang akan aku makan." ancam Arya.
"Emang pak Tuan doyan, Arini saja tidak punya daging semuanya tulang keras tentunya juga sangat pahit," jawab Arini. Jawaban yang membuat Arya tepok jidat lagi, bocah satu ini benar-benar sangat bodoh.
"Astaga, peliharaan ku yang satu ini. Benar-benar membuat otakku ngebul," gumam Arya, tangannya masih tertempel manis di jidatnya sendiri, "benar-benar luar biasa,"
Arya lebih memilih diam kali ini, dia tak ingin lebih pusing karena meladeni kata-kata Arini.
Sementara Arini mulai membuka kulkas, melihat isi di dalamnya. Arini di buat terperangah lagi dengan isi kulkas.
"Astaghfirullah hal 'azim..., hanya telur doang. Pak Tuan! Arini harus masak apa! hanya ada telur saja di sini! " teriak Arini.
Arini tak menyangka kulkas yang begitu besar, kulkas empat pintu atas bawah tapi di dalamnya hanya ada telur beberapa butir saja.
Ya jelas sih, Arya tak pernah masak apapun karena dia juga tak bisa masak. Dia selalu makan di luar bahkan dia sendiri lupa sudah berapa lama telur itu ada di dalam sana.
__ADS_1
"Masak itu juga nggak masalah, cepatlah saya sudah sangat lapar. Kalau tidak cepat aku benar-benar akan memakan mu nanti," teriak Arya menjawab.
Arini mengeluarkan dua telur saja, lalu sibuk mencari beras dan akhirnya dia dapatkan di sebuah wadah yang berbahan stainless.
Arini mulai bergerak cepat, dia juga langsung memakai celemek yang ada di salah satu lagi di sana. Semua sangat komplit semua ada, hanya bahan yang untuk di masak saja yang tidak ada.
Arini memaklumi itu, lagian mana mungkin Arya akan memasak sendiri. Orang yang notabene tinggal makan doang mana mungkin akan memasak sendiri.
Setelah semuanya siap Arini di buat bingung.
"Kompornya di mana? " bingung Arini, wajahnya terus menoleh, dia tak melihat kompor gas maupun kompor sumbu seperti yang selalu dia gunakan saat di rumah neneknya.
Arini garuk-garuk kepada.
"Pak Tuan! Kompornya di mana?! " teriaknya lagi.
Ternyata tak enak juga tinggal di rumah mewah yang semua serba ada. Percuma juga kan karena mau masak tapi tak ada kompornya.
Kini Arya berdiri dari tempat, kenyamanannya benar-benar telah terganggu karena Arini yang tak mengetahui apapun.
Arya menghampiri Arini dengan wajah yang terlihat begitu frustasi. Tapi Arya sadar itu juga karena kebodohannya sendiri, buat apa dia membawa orang bodoh ke apartemennya.
"Kamu ini benar-benar tidak tau apapun ya!? " ucap Arya dengan ketus.
Arya berhenti tak jauh dari Arini, membuka benda hitam yang berbentuk persegi panjang. "Nih kompornya! " ucapnya.
Arini mendekat, dia mana mungkin percaya begitu saja kalau itu adalah kompornya, tak ada tungku nya dan terlihat sangat rata. Bahkan tempat Arini bisa menyalakannya aja tak ada. Tak seperti kompor yang ada di rumah orang tuanya.
"Idih..., pak Tuan bohongnya kebangetan. Mana ada kompor seperti itu. Itu tak akan bisa menghasilkan api," ucap Arini.
Hembusan nafas terdengar saat Arya mengeluarkan dari hidungnya. Semua barang-barang dari sana adalah barang-barang termahal yang Arya pilih.
"Ini benar-benar kompor, Arini. Kamu bisa memasak di sini," Arya menjelaskan begitu pelan dia harus belajar menjadi orang yang penyabar kalau dia ingin memutuskan Arini menjadi mainannya.
"Mana ada," Arini masih saja tak percaya, iyalah itu tentu.
"Lalu di mana tabung gas nya? Terus, nyalakan apinya darimana? Apinya juga keluar dari mana? " tanya Arini begitu banyak.
Arya harus menahan dua penyiksaan sekarang, perutnya yang terus meminta makan dan juga otaknya yang ingin sekali mau meledak namun harus dia tahan.
"Ini tak memakai gas, Arini. Ini pakai listrik! Sini mendekat lah! Biar aku ajarkan bagaimana caranya," pinta Arya untuk Arini mendekat.
__ADS_1
Karena begitu penasaran Arini langsung melangkah begitu saja, dia berdiri di samping Arya dan melihat bagaimana Arya mengajarinya. Meski Arya tak pernah menggunakannya tapi Arya bisa menyalakannya dia bukan orang bodoh seperti gadis di sebelahnya sekarang.
Tak Arini sangka ternyata ada tombol yang tak terlihat di sana. Tinggal menyentuhnya saja terlihat ada lingkar merah yang sepertinya itu adalah apinya.
"Tuh udah menyala kan sekarang, sekarang cepat masak! " pinta Arya.
Arya menggeser berdiri menjadi di belakang Arini, melihat keterkejutan gadis itu saat melihat kompor listrik itu.
Mata Arya terpejam, wajahnya sedikit menunduk dan mengendus puncak kepala Arini, aromanya sudah menjadi kesukaan Arya. Dia ingin sekali terus berada di dekatnya dan terus menikmati aroma itu. Baru menikmati aromanya saja Arya sudah tersihir bagaimana jika dia bisa menikmati yang ada di dalamnya? pasti bisa membuat Arya benar-benar terbuai.
"Kamu harus menggunakannya dengan baik, kalau sampai rusak, maka kamu yang harus menggantikannya," bisik Arya tepat di telinga sebelah kanan Arini.
Jelas saja Arini akan terperanjat, dia pikir Arya sudah pergi dan ternyata? "Astaghfirullah hal 'azim! " cepat Arini menjauh dari Arya, tangannya juga langsung mengelus dada.
Arini memutar tubuhnya menjadi menghadap ke arah Arya, dan di lihatnya laki-laki dewasa itu tengah menyeringai mengeluarkan smirk yang sangat asing bagi Arini.
"Pak-pak Tuan kenapa?" tanya Arini dengan gagap.
"Mau tau aku kenapa? " Arya balik bertanya. Arini mengangguk pelan juga dengan ragu, "aku ingin memakan mu," Arya semakin menyeringai.
"Arini sudah bilang, Arini nggak ada dagingnya yang ada hanya tulang keras, pak Tuan juga tidak akan bisa kenyang! " jawab Arini yang masih belum mengerti juga.
"Belum bisa tau kalau belum di coba," Arya melangkah maju, mendekat Arini.
"Jangan aneh-aneh ya, Pak Tuan! A- Arini.., bisa..? " Mata Arini mengedar dia dapatkan senjata yang akan membantunya.
Arya tak peduli dia tetap melangkah mendekat.
Baru saja Arya tepat di depan Arini Arya langsung mendapatkan hadiah.
𝘛𝘶𝘬𝘬...
Kepala Arya langsung di getok dengan centong sayur oleh Arini. Arini begitu keras melakukan itu sampai-sampai Arya meringis.
Tangan Arya langsung memeriksa kepalanya untung tidak bocor atau benjol seperti kemarin.
"Cepat masak! " Arya berlalu pergi dengan kesal, niatnya hanya ingin menggoda saja malah hampir di bikin benjol lagi kepalanya oleh Arini.
//////
Bersambung...
__ADS_1
________