Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
319. Untung Cinta


__ADS_3

Happy Reading...




"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Arini. Seketika dia mengangkat tubuhnya yang tengah rebahan di kasur. Niatnya mau istirahat tapi pada kenyataannya dia tak bisa tidur.



"Hem," Arya mengangguk. Berjalan ke arah Arini sembari melonggarkan kemeja dan juga melepas beberapa kancingnya bahkan dia juga sudah melepaskan jasnya yang dia pakai.



"Kenapa bangun, tidur saja kamu terlihat sangat lelah," Arya sudah berhasil duduk di hadapan Arini. Meminta Arini untuk kembali tidur namun tidak! Arini tetap duduk di hadapannya.



Arini menggeleng kecil, "Aku tidak bisa tidur," jawabnya.



"Kenapa, apakah kamu menginginkan sesuatu?" Arya mengernyit bingung, apakah ada sesuatu yang Arini inginkan?



Arini kembali menggeleng. "Tidak."



"Mau mau makan dulu atau mau mandi dulu?" tanya Arini mengalihkan pembicaraan.



"Hem maunya sih, mandi tapi di mandiin, hehehe," Arya terkekeh, dia tau kalau Arini tidak akan setuju dengan itu dia hanya ingin saja melihat Arini yang kembali ngedumel.



"Ih! Apa sih! Mas udah tua ya masak minta di mandiin. Mandi sendiri lah," Arini cepat aka, turun, dia ingin menghindar dari Arya.



Baru juga berdiri Arya kembali menariknya hingga Arini berakhir pada pangkuannya.



"Kenapa buru-buru?" tanyanya. Tangannya menahan Arini juga satunya menyentuh dagunya, dan berakhir... cup!



"Manis sekali," ucapnya.



"Mana bisa manis, nggak di kasih gula atau madu, yang ada malah pahit," jawab Arini.

__ADS_1



"Tidak, ini sangat manis."



"Pahit, Mas."



"Iya deh pahit, tapi aku suka." Arya kembali tersenyum kembali mengecup bibir Arini bahkan akan semakin menuntut tapi Arini sudah kembali mendorongnya.



"Jangan, Mas. Nanti di gigit lagi kayak kemarin, nih jadi sariawan gara-gara mas," Arini cepat beranjak.



"Hah!" mata Arya membuat. "Sariawan?" gumamnya.



Arya harus benar-benar sabar dengan sikap Arini yang tak seperti yang lain, dia berbeda. Tidak akan tergila-gila dan ketagihan akan setiap sentuhannya, dia unik. Baru kali ini juga Arya menggigit kecil bibir seorang wanita bukannya keenakan tapi malah protes karena sariawan.



"Mas, kok bengong. Nggak jadi mandi? sudah Arini siapin air hangat di bak besar." ucap Arini.




"Iya, aku akan mandi." pasrah dan tak mengatakan apapun lagi. Arya tak mau kalau sampai bahasa planet milik Arini akan keluar semua dan membuat doa semakin bingung.



"Aku akan ke dapur, nyusul ya, Mas."



"Iya," jawab Arya.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*''



Bukannya makan tapi Arini malah menatap Arya dengan lekat. Matanya terus membulat cerah tak berkedip juga dengan tersenyum, bahkan kedua tangan menjadi tumpuan untuk dagunya sendiri.



"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Arya penasaran.


__ADS_1


"Hehehe, Mas keren."



"Hem?" mata Arya memicing. "Keren, maksudnya?"



"Iya, mas benar-benar tampan. Putih bersih kayak susu, manis banget."



Arya terdiam, kenapa Arini lemes amat hari ini, apakah dia mulai kumat lagi?



"Kenapa, Mas nggak suka aku puji? atau jangan-jangan mas lebih suka di puji perempuan itu yang suaranya begitu merdu. Iya, suara Arini kan jelek kayak panci jatuh." Arini merajuk.



Mata Arya membulat. Nah kan, setiap Arini memuji dan berkata manis pasti ujung-ujungnya akan seperti ini.



"Astaghfirullah, Sayang. Aku suka kok kamu puji, pujian mu mah tak ada tandingannya dengan yang lain." Arya menggeser kursinya lalu mendekat pada Arini.



Di rangkul pundaknya dengan hangat juga satu tangannya mengelus-elus pipinya.



"Sudah, jangan marah lagi ya, tuh kan cantiknya ilang."



"Mana mungkin ilang, kan dari dulu Arini memang tidak cantik."



"Hah," mata Arya kembali membulat.



'Sabar Arya, sabar,' batinnya. Hanya itu yang pantas di ucapkan pada dirinya sendiri. sekarang dan sampai kapanpun.



Untung cinta, kalau tidak udah pasti di lempar keluar dari rumah tuh si Arini.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*°°°


__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2