Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
96.kembali Marah


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...___________...


Tak ada lagi minuman keras tak ada lagi acara pergi dan berpesta ria di 𝘤𝘭𝘶𝘭-𝘤𝘭𝘶𝘱 malam seperti beberapa waktu lalu itu. Perlahan-lahan semua kebiasaan buruk Arya mulai hilang terganti dengan kebiasaan baru yang lebih baik.


Tapi Arya masih tetap Arya si angkuh juga si keras kepala. Belum ada yang bisa mengubah sifat itu dalam dirinya. Arya masih si tuan pemarah juga tuan yang ingin menang sendiri dan tak bisa di kendalikan.


Sementara ini belum ada yang bisa mengendalikan setiap amarah-amarahnya selain satu gadis saja, Arini.


Amarah Arya kembali meledak saat dia melihat Arini kembali pergi dengan Dimas. Berkali-kali Arya mengatakan untuk Arini menjauh dari Dimas tapi dia tetap saja lengket seperti prangko.


Arya tak mengetahui apa alasannya Arini pergi dengan Dimas tapi yang pasti dia sangat marah dengan itu. Arya merasa Arini mengabaikan semua peringatannya.


Di dalam ruangannya Arya terlihat sangat marah, tangannya mengepal, matanya melotot tajam juga wajahnya begitu sangat menakutkan. Amarahnya kembali meledak hanya karena Arini kembali pergi dengan Dimas saja, padahal saat ini juga sudah di luar jam kerja karena Arini pergi dengan Dimas juga setelah pulang dari kerjanya.


"Arghhh...! " teriak Arya begitu marah.


"Kenapa kamu tidak menurut padaku, Arini! kenapa kamu pergi dengan laki-laki lain! arghhh..., dasar! kalian semua sama saja! kalian hanya membutuhkan uangku, arghhh...!"


Entah punya masa lalu yang seperti apa sampai-sampai Arya menjadi seperti sekarang, menganggap semua wanita sama dan juga menganggap semua wanita hanya menginginkan hartanya.


Kemarahan yang tidak ada dasar. Dasar apa sampai Arya semarah ini hanya karena Arini yang pergi bersama Dimas. Arini bukan siapa-siapa Arya hanya OB pribadinya saja bukan lebih.


"Aku akan pergi, kamu harus mendapatkan hukuman mu karena menjadi pembangkang seperti ini," Arya menyambar kunci mobil yang ada di atas mejanya langkahnya semakin cepat juga semakin lebar.


Arya sangat buru-buru, dia pergi dengan mobilnya dan ingin menemui Arini sekarang.


////////


Tak kemana-mana Dimas membawa Arini pergi. Dimas hanya membawa Arini ke rumah sakit untuk menemui Nilam, saat pagi tadi Arini belum sempat datang dan sekarang Dimas kembali memintanya untuk datang.


Dimas pergi setelah mengantarkan Arini ke ruangan Nilam karena ada tugas yang tiba-tiba harus dia tangani. Kedatangan Arini begitu di sambut oleh Hendra dia terlihat sangat baik namun masih saja terlihat sangat menakutkan.


"Assalamu'alaikum, Om," sapa Arini.

__ADS_1


Arini tersenyum manis di hadapan Hendra. Sungguh bisa melelehkan hati yang membeku senyuman Arini. Wajahnya begitu sangat teduh juga begitu lembut.


Hendra menoleh ke arah Nilam sejenak kembali lagi ke arah Arini yang masih berdiri di depannya.


"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘢. 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶..., 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘏𝘦𝘯𝘥𝘳𝘢.


Mata tak berkedip menatap Arini rasanya kedua tangan ingin menyambutnya dan memeluk gadis yang menurut kata hatinya adalah anaknya. Tapi tidak, dia tak ingin hanya karena apa yang dia pikirkan dia kehilangan kesempatan untuk membuat Nilam sembuh.


Bening-bening kristal berhasil lolos dari mata Hendra. Mengenang duka dari kesalahan yang dia perbuat sendiri. Setiap Arini datang menjadikan penyesalan itu selalu terbuka kembali.


"Kenapa om menangis?" air mata Hendra tidak bisa disembunyikan dari Arini. Saat dia melihatnya dia langsung bertanya pada Hendra karena sangat penasaran.


Tubuhnya masih terlihat gagah, wajahnya juga masih sangat segar bugar tapi kenapa hatinya begitu lemah, apa yang sebenarnya terjadi kepada Hendra. Itulah yang menjadi pemikiran dari Arini.


Tak mungkin tak ada masalah apapun. Tak mungkin orang tiba-tiba menangis jika dia tidak sedang mengalami sebuah duka.


Hendra mengusap puncak kepala Arini dengan tangan gemetar, dia hanya bisa melakukan itu padahal dia ingin sekali memeluknya. Kenapa hatinya tiba-tiba ingin sekali memeluk gadis ini yang baru beberapa kali dia lihat.


"Apa ada masalah, Om? " tanya Arini. Walaupun sedikit tak enak karena tangan Hendra berhasil mengusap lembut kepalanya tapi Arini tetap tak marah padanya.


Hati Arini terasa adem di barengi dengan mata yang dia tutup saat Hendra berhasil menyentuh puncak kepalanya. Ada perasaan aneh yang hadir dalam dirinya. Hatinya gemetar, jantungnya berdetak tak menentu. Tapi rasanya sungguh menenangkan karena ada energi kasih sayang yang di salurkan.


"Kamu mengingatkanku pada seseorang," ucap Hendra.


"Pa," kedatangan Dimas membuat Hendra langsung menarik tangannya dia tak mau di sangka macam-macam kepada Arini yang hanya menurut saja itu. Entah kenapa juga Arini tidak komentar saat dia disentuh.


Hendra cepat menghapus jejak dari air matanya yang begitu nakal. Yang sesuka hati keluar dari pelupuk mata. Hendra menoleh dan memandangi Dimas yang sudah ada di sana juga.


"Urusanmu sudah selesai?" Hendra bertanya setelah dia berhasil menghilangkan semua jejak di pipinya.


"Sudah," jawab Dimas.


Sebesar apapun Hendra menyembunyikan tapi tetap saja tak bisa lepas begitu saja dari Dimas. Air mata memang sudah hilang tapi matanya yang masih sembab masih dapat di lihat.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘢𝘱𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴? " Dimas hanya bisa mengerutkan kening dengan kebingungan. Tak biasa air mata Hendra bisa leluasa keluar begitu saja.

__ADS_1


"Pa, Dimas ingin bicara dengan Papa," Dimas memutuskan untuk mengajak Hendra keluar, hatinya begitu berseru dalam rasa penasaran. Kenapa papanya itu bisa menangis hanya karena Arini. Sebenarnya ada apa?


"Hem," Hendra mengangguk dia menyetujui ajakan dari Dimas. Entah apa yang ingin dia katakan padanya, "Hem.., Arini, om titip istri om sebentar," ucap Hendra kepada Arini yang seketika langsung menoleh.


"Iya, Om," jawab Arini. Arini begitu senang bisa berdua saja dengan Nilam di ruangan itu, karena Arini ingin sekali bisa memeluk kembali Nilam juga memberikan bunga melati yang dia bawa seperti biasa.


Jawaban Arini membuat Hendra tenang, dia keluar dari ruangan itu bersama dengan Dimas yang sudah lebih dahulu keluar.


Arini masih terus melihat keduanya sampai benar-benar hilang di balik pintu yang berwarna putih.


Arini tersenyum wajahnya seketika berbinar saat dia melihat Nilam. Wajahnya tidak se-pucat pertama kali Arini melihatnya dulu sepertinya keadaan Nilam semakin membaik.


"Assalamu'alaikum, Tan. Bagaimana kabar tante har ini, Hem? " tanya Arini.


"Tante, Arini kangen sama tante. Arini boleh memeluk tante kan?" tanya Arini.


Tak akan ada jawaban tapi Arini tetap memeluk Nilam, dia sangat tak sabar untuk melakukan itu. Sekali dia melakukan dan kenyamanan dia dapat hingga sekarang Arini rasanya ingin terus memeluk Nilam.


Seperti biasa jari-jemari Nilam akan bergerak saat Arini datang. Sepertinya sudah ada kekuatan untuk Nilam bangun tapi kenapa sampai sekarang belum juga membuka matanya.


Kalau Arini memang kekuatan untuk Nilam seharusnya dia akan membuka mata saat Arini datang, benar bukan?


"Tante cepat sembuh ya, kalau Tante seperti ini terus Arini marah loh. Arini tidak akan pernah datang lagi ke sini. Arini bosan hanya ngomong sendiri terus. Tante harus cepat bangun dan kita bisa ngobrol bersama itu baru adil," ucap Arini.


Arini melepaskan pelukannya dari Nilam dia langsung memberikan bunga yang dia bawa untuk Nilam lalu dia duduk.


"Apa tante tau, hari ini Arini senang. Kata pak tuan Arini akan di ajak ke puncak untuk acara ulang tahun perusahaan pak tuan. Juga untuk merayakan ulang tahun pak tuan juga. Tapi..? Arini tidak punya uang untuk membeli hadiah Arini juga belum pernah memberikan hadiah pada orang lain."


"Hem..., kira-kira hadiah yang cocok untuk laki-laki itu apa ya, Tan? " tanya Arini dia sungguh bingung menentukan apa yang akan dua berikan untuk Arya sebagai hadiah di pertambangan usianya.


////


Bersambung...


____

__ADS_1


__ADS_2