Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
154. Tidak mau bertemu


__ADS_3

Happy Reading...



Langkah kaki begitu lemas dari seorang Arini. Tiga hari meninggalkan rumah Kakeknya karena ikut ke puncak dan kini dia bisa kembali lagi dengan selamat juga sehat, tapi hanya dengan tubuhnya saja tidak dengan hatinya yang begitu sakit karena kekecewaan.



Setelah barusan sempat menyapa Kakek Neneknya yang berada di ruang tengah kini Arini pergi ke kamarnya dengan alasan untuk istirahat.



“Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntum minadhdhalimin (Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim)."



Bibir hanya mampu mengulang-ulang doa dari Nabi Yunus. Berharap dengan melafalkan doa itu hatinya akan tenang dan dia bisa menerima jalan itu yang sudah menjadi takdir.



Terduduk Arini di atas dipan kayu yang hanya ada kasur lipat berwarna biru di atasnya. Untaian doa tak pernah terhenti meninggalkan bibirnya.



Ingatan kembali dengan sangat jelas juga sangat nyata bagaimana dia melihat Arya yang tidur dengan Melisa dengan Melisa yang memeluknya mesra.



Baru saja Arini merasa bahagia tapi semua itu sekarang telah pupus seolah habis tak tersisa.



"Ya Allah, kenapa Engkau anugrah-i aku cinta jika akhirnya tidak akan bisa aku miliki. Ingin sekali aku menjaganya untuk tidak pergi tetapi kenyataan lah yang tidak akan mungkin membuat cinta ini terus bertahan."



"Ternyata Engkau yang lebih benar, seharusnya aku tidak terlalu berharap kepada manusia karena sepantasnya hanya Engkau saja tempat ku berharap."



"Maafkan Arini karena sempat berbelok dari kebenaran-Mu yang lebih nyata."



Lelah hati membuat Arini terpaksa merebahkan tubuhnya di kasur, dengan memeluk bantal dan menjadikannya sebagai temannya.



Ingin sekali memejamkan mata untuk bisa menghilangkan semua beban yang ada tetapi rasanya sangat susah. Kilatan-kilatan akan ingatan saat-saat kebersamaan dengan Arya masih terus muncul membuat Arini sangat susah untuk tidur.



Arini hanya bisa guling-guling di atas kasur karena dia sangat pusing dengan permasalahan ini.



"Arini... Arini..."



Baru saja Arini merasa sedikit tenang dan akan bisa memejamkan mata ada orang yang memanggilnya di luar.



Arini terperanjat, dia duduk dengan mata membulat. Arini bergegas untuk keluar untuk melihat siapa yang datang.



"Siapa yang datang, Nak?" Kakek Susanto datang dan mengejutkan Arini yang akan membuka pintu.



Arini menoleh, dia juga sedikit terkejut tadi tetapi itu tak berlangsung lama.

__ADS_1



Arini menggeleng karena dia juga belum tau siapa yang datang malam-malam begini di saat semua orang seharusnya istirahat setelah lelah seharian melakukan pekerjaan mereka.



"Arini... Arini..."



Suara panggilan itu terdengar lagi di selingi dengan ketukan pintu yang berkali-kali juga.



Sejenak Arini terdiam, dia sangat mengenal suara itu, suara dari orang yang saat ini sangat tidak ingin dia temui, suara Arya Gautama.



Tak mau membuka pintu dan sekedar memastikan Arini membuka sedikit korden dan ternyata benar, Arya sudah ada di depan pintu dengan gelisah.



Arini melangkah mundur, setelah itu dia memutar kakinya dan kembali melangkah untuk masuk.



"Loh, kok nggak di bukain? Emang siapa yang datang, Nak?" tanya Kakek Susanto.



Arini berhenti di depan Kakek Susanto wajahnya sudah berubah tidak semangat.



"Kakek, tolong bilang dengannya kalau Arini sudah tidur dan tidak bisa di ganggu. Arini tidak mau bertemu dengannya," Senyum kecil Arini keluarkan tetapi terlihat sangat jelas kalau Arini sangat malas.



"Iya, akan Kakek katakan padanya. Kamu istirahatlah, kamu pasti sangat lelah," jawab Kakek Susanto, meskipun belum tau siapa yang datang dan tidak ingin di temui oleh Arini tetapi itu adalah jawaban terbaik untuk sekarang.




"Arini... Arini...!" Suara Arya semakin tak sabar, mungkin dia memang tak sabar ingin secepatnya bertemu dengan Arini dan menjelaskan semuanya.



Kakek Susanto yang datang dan membuka pintu. Terlihat Arya celingukan ke arah belakang Kakek Susanto mencari-cari Arini.



"Maaf, tetapi Arini sudah tidur. Tolong Tuan datang lagi besok," ucap Kakek Susanto dengan sangat sopan.



"Tidak, saya harus tetap bertemu dengan Arini sekarang juga. Saya harus bicara dengannya," Arya tetap kekeh, dia gak mau menerima kata penolakan apapun ataupun larangan dari siapapun.



Arya harus tetap bertemu dengan Arini dan itulah yang ingin dia lakukan sekarang.



"Mengertilah, Tuan. Ini sudah malam, Arini juga sangat lelah, dia baru saja pulang," ucap Kakek Susanto menegaskan.



"Tidak, saya harus tetap bertemu dengan Arini. Saya harus tetap bertemu," Arya hendak menyerobot masuk begitu saja tetapi Kakek Susanto tetap tidak mengizinkannya.



Sebelum Arya masuk Kakek Susanto langsung menutup pintunya, memang itu tak sepantasnya dia lakukan tetapi Kakek Susanto tidak mau ada kesalahpahaman juga masalah nantinya.

__ADS_1



Tok... Tok... Tok...



"Tuan, tolong buka pintunya! Saya hanya janji hanya sebentar saja bertemu dengan Arini!" teriak Arya tetapi sudah tidak mendapat jawaban lagi.



"Arini! Arini, buka! Aku tau kamu belum tidur! Arini!" Arya terus saja berteriak tetapi sayangnya pintu tetap tidak terbuka juga Arini tidak pernah muncul.



Arya begitu frustasi, dia sangat bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia sangat lelah, dia mengantuk juga lapar tetapi dia tidak mau pergi sebelum bertemu dengan Arini.



Tubuh Arya ambruk di kursi bambu, menyandarkan punggungnya dengan sejuta pikiran-pikiran juga ketakutannya sendiri.



Arya tidak mau pergi, dia tetap bertahan di sana meski dalam keadaan lapar juga dingin.



Pengorbanan demi bisa bertemu dengan Arini Arya lakukan, meski hanya dengan duduk menunggu di luar rumahnya itu akan menjadi bukti kalau Arya benar-benar ingin bertemu dengan Arini. Dia harus meluruskan kesalahpahaman yang mungkin Arini anggap adalah kebenaran.



Mata Arya terpejam setelah lama dia ada di sana, rasa lelah, kantuk yang luar biasa juga rasa lapar yang dia tahan berhasil membawanya pergi ke alam mimpi dengan posisi duduk bersandar di kursi bambu.



Sementara Arini yang berada di dalam kamar dia juga merasa sangat gelisah. Dia tidak ingin bertemu dengan Arya tetapi setelah tak lagi ada suara dia seolah menyesal.



Bukankah seharusnya Arini memberikan kesempatan untuk Arya menjelaskan semuanya? Mendengar bagaimana kejadian yang sebenarnya sebelum mengambil penilaian kalau Arya telah bersalah?



Arini kembali keluar dari kamar dia tidak keluar tetapi hanya melihat dari kaca saja dengan membuka korden yang sudah lusuh.



"Kenapa Pak Tuan keras kepala banget sih! Kenapa malah tidur di situ kalau dia kedinginan lalu sakit bagaimana? Ish..., dasar kepala batu!" ucap Arini mengomel.



Arini kembali masuk ke kamar, diraihnya selimut cokelat yang biasa dia gunakan Arini kembali keluar dan berniat menyelimuti Arya.



Benar saja, setelah mengambil selimut Arini benar-benar keluar dan menyelimuti Arya. Arya terlihat sangat menyedihkan, wajahnya juga terlihat sangat kacau meski dia tengah tertidur.



"Kenapa, Pak Tuan? Kenapa Pak Tuan lakukan ini pada Arini. Apa benar semua yang Pak Tuan berikan itu hanya sebuah kepalsuan?" hatinya seakan teriris begitu sakit seiring dengan kata yang keluar.



Arini bergegas untuk masuk, dia tak ingin sampai ketahuan Arya kalau dia keluar dan telah menyelimutinya.



Plukkk...



Arini menghentikan langkah saat tangan kekar memeluknya dari belakang.


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2