Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
46.Tidak Mau makan


__ADS_3

...______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


"Heyyy..., apa yang kamu lakukan, mundur-mundur!" usir Arya sembari menoyor kepala Arini untuk menjauh.


"Astaghfirullah hal 'azim.." Arini tersentak dan cepat mundur sendiri dari Arya, "ehh..., kenapa pak Tuan di sini!? " Arini terkejut saat dia sadar sepenuhnya.


"Kenapa pak Tuan masuk kamar Arini," ternyata Arini belum sadar sepenuhnya.


Arya kembali terperangah, sejak kapan ruangan ini menjadi milik Arini? "Lihat yang bener, ini bukan kamar mu. Ini rumah sakit," jawab Arya.


Astaga.., Lama-lama botak si Arya ngeladenin Arini yang belum sadar-sadar juga. Pengen sekali Arya sentil tuh kening Arini supaya bisa sadar tapi dia takut jika tiba-tiba Eyangnya masuk.


"Benarkah ini rumah sakit," mata Arini mengedar memastikan, "hehehe..., ternyata benar, mata Arini perlu vitamin sepertinya." ringisnya.


"Apa wajah tampanku tidak cukup sebagai vitamin untuk matamu! " celetuk Arya tak sabar, biasanya kan para gadis akan bilang seperti itu, vitamin mata yang mujarab adalah pria tampan atau sebaliknya gadis cantik.


"Ihh, pak Tuan terlalu kepedean. Tampan menurut Arini itu bukan terletak pada wajahnya, pak Tuan. Tapi pada hatinya. Percuma kan kalau wajah plus tapi hati minus!"


"Apa kamu bilang! apa menurutku hatiku minus begitu?! " tanya Arya menekankan.


"Ya, ya pak Tuan merasa seperti itu atau tidak, kalau tidak nggak harus marah juga kan," begitu enteng Arini mengatakan itu, Arini juga tidak takut sedikitpun pada Arya, dia harus semakin kebal menghadapi Arya si bos luar biasanya itu.


"Ihh...,"Arya begitu geram tapi Arini hanya meringis memandanginya dengan begitu polos, "nih sarapan mu! cepat di makan lalu jangan lupa di minum obatnya," Arya menyodorkan sarapannya Arini dengan kasar lalu duduk di kursi sebelah Arini dan langsung membuka makanannya sendiri.


Arini terdiam melihat sarapan yang sudah ada di tangannya, astaga bubur putih tok! tak ada yang lainnya bahkan sambel, tempe goreng atau ikan asin juga tidak ada.


Arini menoleh begitu polosnya ke arah kotak milik Arya dia kembali terperangah. Begitu komplit, capcay sayur, ayam goreng, tahu bacem, bakmie, ikan, sambel juga kerupuk. Yang pasti akan membuat Arini ngiler kan.


Mulut Arini berkecamuk dia juga ingin makan enak. Tapi apa yang dia dapatkan hanya bubur putih dewekan tanpa teman apapun.


Baru juga satu suapan Arya menyadari Arini yang terus menatapnya dengan mulut yang terus berkecamuk, "kenapa kamu?! " tanya Arya dengan suara yang tak ada halus-halusnya sama sekali.


"Pak Tuan, Arini boleh mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Hem.. " Arya kembali menyuapkan nasinya ke dalam mulutnya tanpa lagi melihat Arini, dia terus abai tak mau terus menerus memandanginya.


"Pak Tuan, sebenarnya siapa sih yang sakit? Arini atau pak Tuan? " tanya Arini. Jelas saja Arini akan bertanya seperti itu melihat makanan yang mereka makan.


"Seharusnya yang ada di atas sini bukan Arini kan pak Tuan? seharusnya yang ada di atas sini itu pak Tuan kan?" ucap Arini begitu berani.


"Kenapa seperti itu?" Arya mengernyit dengan apa yang Arini katakan padanya, dia tak mengerti apa maksudnya.


Arya hanya melirik kecil ke arah Arini kemudian kembali sibuk dengan sarapannya sendiri.


"Ah, pak Tuan nggak asyik! pak Tuan nggak ngerti-ngerti," Arini capek juga, dia ingin mengatakan kalau dia juga ingin makanan seperti Arya tapi dia juga tidak jelas mengatakan.


Arini mengambil obatnya saja lalu ingin meminumnya tanpa sarapan lebih dulu tapi itu tak terjadi karena sudah ketahuan oleh Arya, "ehh..! Apa yang kamu lakukan, sarapan dulu baru minum obatnya," Arya merebut obat yang ada di tangan Arini dia tak akan biarkan Arini meminumnya sebelum dia sarapan.


"Arini sudah kenyang, jadi nggak usah sarapan juga tidak masalah pak Tuan!" Arini ingin kembali merebut obat di tangan Arya namun itu tak akan mungkin bisa karena Arya langsung mengantonginya di saku celananya.


Mulut Arini ternganga, bagaimana bisa dia akan mengambilnya di saku celana Arya, "ihh..! Pak Tuan menyebalkan," Arini memalingkan wajahnya kesal.


"Makan dulu sarapan mu baru minum obatnya,"


Arya pusing menghadapi Arini bagaimana dia akan merayunya supaya Arini mau makan. Arya tidak terbiasa melakukan ini, dia tidak akan pernah bisa.


"Makan Arini," Arya mencoba untuk bersabar.


"Tidak mau, Arini tidak mau makan Arini sudah kenyang," jawab Arini.


Arya beranjak, menggaruk keningnya yang sama sekali tidak gatal. Dia mulai frustasi sebenarnya, Arya tidak mungkin kan akan memohon-mohon pada Arini untuk mau sarapan, tidak mungkin juga Arya akan tunduk pada gadis di hadapannya ini, tidak level bukan.


"Sebenarnya apa sih yang kamu inginkan, aku tak ada waktu untuk meladeni mu, cepat makan! " ucapan Arya mulai meninggi.


Arini tetap menggeleng dia masih tetap kekeuh dalam pendiriannya dia tak mau menyentuh kotak makan itu lagi.


"Arini, makan! atau.., ohh.. atau aku harus menyuapi mu dengan bibirku," Arya menyeringai dia yakin dengan cara ini dia akan berhasil. Arini kan sangat takut kalau Arya menyentuhnya. Sekedar bersentuhan saja dia akan protes bagaimana kalau sampai di cium?


Arya benar-benar ingin melakukannya karena dia tak melihat sedikitpun pergerakan dari Arini, bahkan gadis itu sama sekali tidak menoleh. Arya sudah mengangkat kotak milik Arini dia ingin menyuapkannya ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Sini! " Arya menarik lengan Arini dengan paksa dan berhasil membuat Arini berhadapan dengan nya.


Arya melepaskan lengan Arini dia tak tahu ternyata Arini tengah menangis, "kenapa kamu menangis?" Arya mengernyit. Mata Arya menoleh ke arah pintu bisa berabe kalau sampai ada yang masuk dan melihat Arini yang tengah menangis, "hihh.., sebenarnya apa sih yang kamu inginkan! jangan membuat ku dalam masalah ya, Arini! kamu harus tau batasan mu, aku bos mu! bukan ibumu! " bentak Arya.


Arini semakin tersedu,"ma-maaf pak Tuan. Tapi.., tapi Arini tidak suka bubur. Arini akan selalu muntah lagi kalau makan bubur. Perut Arini tidak akan menerimanya," ucapnya.


"Tapi..., tapi Arini akan mencobanya siapa tau sekarang tidak akan muntah lagi. Setelah itu Arini akan minum obatnya. Lebih baik sekarang pak Tuan keluar saja, nanti pak Tuan akan muntah juga kalau lihat Arini muntah. Pak Tuan keluar saja, dan kembalikan obat Arini," ucap Arini.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢..., 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘪𝘩. 𝘚𝘪𝘢𝘭, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, " batin Arya pusing.


"Assalamu'alaikum..," Keduanya menoleh dengan cepat Arini menghapus air matanya saat melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikumsalam, E-eyang.." ya yang datang adalah eyang Wati.


"Loh! Arini, kenapa kamu menangis? Arya..., apa yang sudah kamu lakukan!! "


"𝘕𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘯𝘢. " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢.


"Arini tidak menangis kok Eyang, Arini hanya kelilipan saja. Ini AC nya terlalu kenceng dan debunya masuk ke mata Arini," Jawab Arini berbohong, "𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨. "


"Oh, begitu. Loh! kok sarapannya belum di makan? di makan dong biar cepat sembuh,"


"I-iya, Eyang. Ini juga lagi mau di makan," Arini meringis dia harus terpaksa makan bubur yang akan membuatnya muntah.


"𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘵𝘢𝘩, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘵𝘢𝘩. 𝘗𝘦𝘳𝘶𝘵 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘺𝘢, 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘶𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩-𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯, " Batin Arini berharap.


Tidak doyan ya tetap tidak doyan, meski Arini memaksakan untuk menerimanya tapi perutnya tetap tak mau di ajak kompromi. Arya juga Eyang terkejut apa yang sebenarnya terjadi pada Arini. Arya pikir tadi yang Arini katakan itu bohong dan ternyata benar sementara Eyang Wati, kini langsung menatap tajam ke arah Arya.


"Arya..., apa benar kamu belum melakukan apapun padanya? dia..., dia tidak sedang hamil anak mu kan?! " tanya Eyang Wati menaruh curiga.


//////


Bersambung....


_________

__ADS_1


__ADS_2