Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
236.Kesempatan


__ADS_3

Happy Reading..


Ketidakhadiran Arya di perusahaan membuat Toni sedikit bernafas lega, tapi bukan berarti Toni tidak bekerja dengan baik. Dia sangat baik dalam bekerja bahkan dia tidak pernah meninggalkan kantor sebelum semuanya pekerjaannya selesai.



Setelah jam pulang Toni juga bergegas untuk segera pulang seperti yang lainnya lagian semua pekerjaan juga sudah selesai jadi dia bisa beristirahat. Tapi bukan kembali ke rumah yang menjadi niat Toni sekarang, dia berniat untuk menjemput seseorang di rumah sakit.



Mumpung tidak ada Arya dia memiliki kesempatan untuk menyelesaikan urusan hatinya kalau tidak selamanya dia akan menjadi perjaka tua dan tidak akan bisa merasakan manisnya cinta yang sekarang telah dirasakan oleh bosnya yang dingin yang jelas juga begitu kejam kepadanya.



Mobil yang dia kendarai terus melaju menuju rumah sakit dengan kecepatan sedang. Meskipun ingin secepatnya sampai di rumah sakit dan bertemu dengan seseorang yang dia inginkan tapi dia tidak mau terlalu buru-buru dan akan membuatnya berada dalam masalah nantinya Toni juga harus hati-hati bukan.



Setelah hampir 20 menit akhirnya mobil yang ditumpangi Toni sampai juga di depan rumah sakit Gautama, Toni cepat memarkirkan mobilnya namun dia tidak langsung keluar dan hanya menunggu di dalam mobil menunggu seseorang itu akan keluar setelah jam pulang.



Toni tersenyum saat melihat seorang gadis berhijab putih berseragam putih selayaknya perawat yang lain keluar dari rumah sakit dengan menenteng tas hitamnya, dia adalah Nisa gadis yang tengah Toni tunggu.



"Alhamdulillah dia sudah pulang," gumam Toni.



Melihat Nisa yang semakin dekat dengan mobilnya Toni langsung keluar dan menghadang Nisa tepat dihadapannya. Toni tampak canggung dia juga terlihat sangat ragu untuk mengatakan sesuatu pada Nisa yang berhenti dengan heran karena kedatangan Toni.



"Tuan, Anda di sini?" tanya Nisa dengan mengernyit.



"I\_iya," sungguh benar kata orang-orang sekuat apapun seorang laki-laki, sedingin apapun, seanggkuh apapun jika sudah berhadapan dengan gadis yang dia suka pasti dia akan Kehilangan keberaniannya begitu pula dengan Toni sekarang.



"Apa ada yang ingin anda katakan, Tuan?" tanya Nisa lagi setelah melihat Toni yang terdiam dengan gugup juga tangan yang terus melainkan kunci mobilnya.


__ADS_1


Astaga pria yang berbaju rapi dengan setelan jas berwarna hitam juga terlihat sangat berkarisma itu kini tengah berdiri di hadapan seorang gadis dan terus diam tak berani mengatakan apapun sungguh, membuat Nisa semakin heran.



"Hmm... Saya ingin mengantar kamu pulang. Hmm... Apa kamu mau?" tanya Toni dengan pelan memberanikan diri untuk memulai berbicara mengenai apa yang dia inginkan dan apa tujuannya juga datang ke sana.



Melihat Nisa yang masih terdiam dengan bingung membuat Toni kembali berbicara.



"Atau kamu masih ada kerjaan kalau iya aku akan menunggumu," imbuh Toni dengan cepat.



Padahal bukan karena itu yang membuat Nisa terdiam melainkan dia bingung kenapa Toni lagi-lagi datang dan ingin menjemputnya. Nisa merasa tidak enak apalagi dia juga belum pernah merasakan hal yang seperti ini, mendapatkan perhatikan khusus oleh seorang laki-laki.



"Saya sudah selesai bekerja Tuan, tapi saya hanya ingin pergi ke Supermarket sebentar untuk belanja kebutuhan," jawab Nisa.




"Tapi apa tidak merepotkan tuan? saya tidak mau sampai mengganggu, dan saya tidak mau gara-gara saya nanti pekerjaan Tuan jadi terbengkalai," ucap Nisa yang begitu enggan. Dia juga tak enak juga sebenarnya.



"Tidak masalah, mari," dengan gerakan yang cepat Toni langsung membukakan pintu mobil di bagian penumpang di samping pengemudi. Toni begitu antusias meski dia belum mendapat jawaban akan Nisa yang setuju.



"Tapi Tuan?" Bisa begitu ragu.



"Tidak apa-apa," sekali lagi Toni meyakinkan Nisa dan akhirnya Nisa menyetujuinya dan masuk ke mobil.



Setelah masuk baru Toni langsung menutupnya, ada senyum kebahagiaan di bibir Toni padahal dia tidak sengaja mengeluarkan senyum itu membuat dirinya merasa bingung sendiri.


__ADS_1


"*Pantesan Tuan Arya menjadi seperti orang gila saat jatuh cinta, ternyata itu benar dan aku sendiri sekarang tengah mengalami itu. Tapi, benarkah aku tengah jatuh cinta? apakah aku mencintainya Nisa?" batin Toni*.



Toni mengernyit bingung sendiri. Hanya bisa berkata dalam hati dan tak berani mengatakan secara nyata di hadapan Nisa. mungkin itu belum waktunya.



Tidak mau Nisa menunggu lebih lama lagi Toni langsung masuk ke dalam mobil, tersenyum sejenak ke arah Nisa lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera melaju dengan pelan.



Keduanya hanya diam, hanya rasa canggung yang begitu menguasai hati keduanya. Sekali mereka saling menoleh ke arah satu sama lain namun itu tidak lama hanya sebentar saja. Ternyata mereka berdua masih sama malu-malu karena belum terbiasa.



Tidak ada halangan apapun yang dialami oleh Fara di hari pertama dia bekerja di toko bunga Risman. Meski dia sedang hamil muda tapi sama sekali tidak rewel, dia tidak mual juga tidak mengalami pusing sedikitpun tapi memang dia lebih lemas dan juga berhati-hati karena dia tidak mau sampai terjadi apa-apa dengan calon anaknya.


Risman benar-benar orang baik, semua kebutuhan Fara di hari itu semua dipenuhi olehnya. Tidak ada satupun yang kurang bahkan Fara merasa sangat terpenuhi dia tidak merasa lapar seperti kemarin juga tidak bingung saat ingin makan karena semua sudah disiapkan oleh Risman.


Sore ini Fara sudah selesai membereskan semua bunga dan sudah menyiramnya juga sudah waktunya untuk Fara juga Risman menutup toko seperti hari-hari biasanya.


Fara masih saja menjaga jarak dari Risman, dia irit bicara juga tidak ingin terlalu dekat dengan Risman. Dari apa yang dilihat oleh Fara sepertinya Risman memang tertarik kepadanya dan Fara tidak mau sampai Risman benar-benar jatuh cinta padanya.


Fara tidak mau karena semua yang mungkin akan terjadi itu tidaklah benar menurutnya. Farah tidak mau sampai Risman kecewa padanya dan mungkin merasa telah dibohongi.


Tapi Fara yang semakin menjauh dari Risman itu membuatnya semakin penasaran, bahkan semakin ingin mendekatinya. Risman memang tidak tau sekarang tetapi dia ingin berusaha mencari tahu kenapa Fara sampai begitu takut untuk dekat dengannya.


Apakah mungkin Fara sudah memiliki kekasih, atau bahkan sudah bertunangan? itu yang ingin segera Risman cari tahu.


Toko baru saja ditutup Fara juga masih di sana sementara Risman dia masih mengunci pintu sebelum meninggalkan tempat itu supaya semuanya lebih aman. Fara hanya menoleh sebentar lalu mulai berjalan tanpa pamit dari Risman. Fara ingin secepatnya menghindar sebelum Risman menyadarinya.


Selesai mengunci pintu Risman langsung menoleh dia tersenyum lebih dulu karena dia memiliki niat untuk mengantarkan Fara pulang.


"Aku antar kamu pu..." ucapan Risman berhenti saat dia menoleh dan melihat Fara yang sudah jauh. senyumnya juga seketika pudar.


"Loh, kenapa dia sudah jalan lebih dulu? masak iya dia takut padaku, aku kan nggak gigit," Risman begitu bingung.


"Aku akan tetap mengantarkannya, aku ingin memastikan kalau dia sampai di rumah dengan selamat."


"Fara... tunggu!" Teriak Risman. Seketika dia mengayunkan kaki dan cepat mengejar Fara yang terus saja menghindar dari dirinya.



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2