Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
81.Tak Mungkin ada


__ADS_3

...______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Malam semakin larut, hewan-hewan malam mulai melantunkan lagunya dengan begitu merdu menemani kesendirian Arini di kamar sempit.


Kursi kayu yang sudah usang menjadi sandaran untuk punggungnya. Tangannya menggenggam kalung berlian yang katanya orang tuanya yang berikan.


Pantesan saja kakek Susanto tidak membolehkan dia menggadaikan apa lagi menjualnya, karena mungkin dengan kalung itu Arini bisa menemukan orang tuanya.


Entah karena masalah apa sampai-sampai mereka tega membuang Arini di saat masih bayi merah yang baru lahir. Jika orang tuanya menginginkan dia hidup pasti Arini tidak akan dihanyutkan di sungai berarti mereka memang menginginkan untuk Arini tiada kan?


Air mata yang tadi sudah terhenti kini kembali mengalir lagi. Hatinya begitu lemah dan rapuh, begini menyakitkan.


Kenyataan pahit yang tak ingin Arini dengar, tapi harus tetap di ketahui. Sekarang tak ada alasan untuk Arini bisa kembali ke keluarga Marta lagi dia tak ada hubungan darah.


"Ya Allah, siapa orang tuaku. Apakah mereka baik-baik saja?apakah mereka mengingat ku? Apakah mereka merindukanku? Apakah mereka masih mengharapkan aku kembali? Atau malah sebaliknya? "


Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulut Arini. Mungkin itu baru sebagian saja yang bisa di ucapkan tapi sebenarnya pertanyaan itu tak akan pernah ada habisnya, dan akan selalu berjajar rapi di dalam ingatannya.


"Jika mereka tidak menginginkanku kenapa aku harus dilahirkan?"


Air mata yang terus mengalir Arini biarkan begitu saja, biarlah semua keluar dengan sesuka hatinya, biarkanlah sampai habis tak bersisa. Semoga besok tak akan ada lagi air mata yang akan membanjiri pipinya lagi.


////////


Kaki jenjang Arya kembali menginjak di rumah utama. Bukan tanpa alasan dia mau kembali ke sana lagi tapi semua itu dia lakukan karena eyang Wati tengah sakit. Arya hanya ingin memastikan keadaannya saja, bukan yang lain.


Baru saja sampai di ruang tengah langkah Arya di hentikan oleh suara Luna yang begitu menggelegar seperti petir menurutnya. Begitu menyakiti telinga jika suara itu sudah di keluarkan.


"Arya..! Mama mau bicara dengan mu! " Bukannya menyapa atau menyambut dengan suara lembut karena kepulangan anaknya tapi Luna tetap mengatakan kata dengan kasar pada Arya.


Entah apa yang Luna inginkan dari Arya. Arya hanya selalu bingung dengan kedua orang tuanya itu, sebenarnya dia anak kandungnya atau hanya anak pungut? Kenapa tak ada sayang-sayang dan halusnya saat menyambut kedatangannya.


Arya masih berdiri di tempat dan Luna sendiri yang datang menghampirinya. Luna memutar lalu berdiri tegak seperti seorang yang menantang Arya. Matanya melotot tajam dengan aura wajah yang begitu menakutkan.


"Apa yang kamu lakukan pada Nadia? Hahh!! kenapa dia datang pada Mama dengan menangis! " Arya tau pertanyaan itulah yang akan terlontar dari mulut Luna.


Arya hanya menyungging sinis. Benar-benar sesuai dugaan bagaimana sifat Nadia. Dia akan selalu mengadu pada Mamanya, merintih seolah dia teraniaya dan tersakiti.

__ADS_1


"Arya! Apa yang kamu lakukan pada Nadia! Katakan dengan jujur pada, Mama! "


Kenapa harus orang lain yang Luna perhatikan masalah hatinya tapi kenapa dia tak pernah memperhatikan masalah hati anaknya sendiri. Apapun yang menjadi keinginan Arya tak pernah dia lihat dan cari tau apakah itu yang di namakan orang tua.


"Arya! katakan pada Mama, apa yang kamu lakukan pada Nadia! " Luna hanya akan peduli tentang Nadia Nadia dan juga Nadia. Tak ada sedikitpun Arya di matanya. Mungkin perjodohan yang Luna inginkan hanya sebuah panjat pamor saja karena Luna juga terlahir dari orang kaya dan juga Nadia sendiri yang seorang model papan atas.


Jengah, itu yang Arya rasakan. Jika bukan karena eyang Wati dia juga tidak akan datang ke rumah itu. Dia akan selalu damai jika di apartemennya sendiri. Dan sebentar lagi dia bisa pulang ke rumah impiannya yang baru tahap renovasi.


"Bukankah dia sendiri kan yang mengadu dengan Mama! Maka tanya sendiri apa yang Arya lakukan padanya. Lagian jika Arya yang mengatakan apa Mama akan pernah? Arya rasa tidak! "


Arya melaju pergi setelah menyelesaikan satu kalimat panjang untuk Luna. Dia tak mau lagi menanggapi Luna, dia terlalu pusing untuk itu.


"Arya..! Arya..! Mama belum selesai bicara, Arya..! " Sekeras apapun suara yang Luna keluarkan tak akan menghentikan lagi langkah Arya, dia sudah terlalu muak dengan perlakuan Luna padanya.


"Dasar anak tak tau di untung!" seru Luna dengan begitu frustasi. Harus dengan apa bisa menjinakkan Arya yang begitu keras kepala itu.


Arya tetap tak peduli meski Luna terus mengomel merutukinya. Arya bisa berbaik hati jika orang itu juga baik padanya jika orang itu tidak bisa menghargainya tidak akan mungkin dia akan menghargainya. Apa yang di tanam itulah yang akan di tuai.


Arya pelan-pelan masuk ke dalam kamar eyang Wati, dan wanita tua itu memang terlihat sangat pucat dan tertidur pulas di atas kasurnya yang super besar.


Arya melangkah dengan pelan juga karena tak mau sampai membangunkan eyang tersayangnya. Dia duduk di sebelah eyang Wati tidur, di tatapnya wajah yang semakin lama semakin keriput.


"Eyang, Arya datang. Apakah eyang akan seperti ini terus setelah kedatangan Arya juga?" Pertanyaannya begitu lirih.


Arya benar-benar takut kalau sampai eyang Wati akan terbangun karena suaranya.


Tapi ternyata eyang Wati memang tidak tidur, dia hanya terlihat pulas saja karena dia memang sengaja diam dan memejamkan mata.


Di bukalah matanya perlahan, di iringi sudut bibir yang mulai tertarik untuk tersenyum.


"Kamu sudah datang, Arya?" Arya cepat beranjak saat eyang Wati ingin mengganti posisinya menjadi duduk. Arya membantunya, menaruh bantal di belakang punggung eyang Wati supaya lebih nyaman duduknya.


"Terima kasih, Ar," Arya hanya tersenyum. Itu bukan seberapa di bandingkan dengan semua yang eyang Wati lakukan padanya.


"Bagaimana keadaaan Eyang sekarang? Kalau masih sakit kita ke rumah sakit saja. Arya tidak mau eyang seperti ini, eyang harus cepat sembuh, " semburat khawatir tercetak dengan jelas di wajah Arya. Dia memang tak akan pernah tega kalau melihat eyangnya sakit seperti ini.


Di tarik jari jemari Arya, di genggamnya di atas satu tangan yang satunya. Eyang Wati tersenyum, dia begitu senang melihat ada sedikit perubahan dari seorang Arya. Wajahnya lebih berbinar seakan ada cahayanya, tak seperti beberapa hari lalu yang sedikit pucat, mungkin karena pengaruh minuman keras.


Meski Arya selalu menyembunyikannya tapi eyang Wati bisa tau. Karena dulu suaminya juga melakukan hal yang sama seperti Arya, hanya saja dia tidak pernah main wanita.

__ADS_1


Mungkin benar, darah dari Gautama suaminya yang membawa dampak buruk pada cucunya itu sekarang. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya dan itu ternyata benar. Bagaimana papa Arya dan sekarang Arya sendiri.


"Tidak usah khawatir dengan keadaan eyang, Ar. Eyang hanya masuk angin, setelah istirahat dan minum obat eyang akan sembuh. Bagaimana mungkin akan terjadi sesuatu pada eyang sebelum eyang bisa melihat kamu menikah, Ar," senyum begitu manis eyang Wati keluarkan.


Eyang Wati memang tak mengharuskan Arya menikah dengan siapa atau dengan wanita pilihannya, karena eyang Wati ingin Arya benar-benar bisa menikah dengan wanita yang Arya pilih untuk menjadi pendamping hidup untuk selamanya.


Yang jelas eyang Wati juga menginginkan wanita yang baik bagi Arya, yang bisa mengubah sifat buruknya dan bisa menerima masa lalu Arya yang seorang pecandu wanita.


"Arya akan menikah dengan gadis pilihan Eyang. Arya percaya eyang tau yang terbaik untuk Arya," Arya merobohkan tubuhnya di pangkuan eyang Wati, tak ada tempat yang paling nyaman kecuali tidur di pangkuannya.


"Tidak, Ar. Kamu harus mencari sendiri, kamu yang akan menjalaninya. Eyang tidak mau jika eyang yang memilihkan rumah tangga yang kamu bangun tidak akan bahagia. Siapapun gadis itu kalau kamu bahagia eyang juga akan bahagia," Tangan eyang Wati langsung membelai lembut rambut Arya.


"Apa perlu Arya harus menyukai wanita yang akan aku nikahi? semua wanita tak membutuhkan cinta, Eyang. Mereka hanya membutuhkan materi saja. Jika materi yang dia inginkan tercukupi maka mereka akan bahagia," ternyata pandangan Arya mengenai wanita belum juga berubah.


"Terus kamu? apakah kamu akan bahagia dengan pernikahan yang seperti itu?"


"Selama dia melayaniku aku akan bahagia. Bukankah itu yang di butuhkan. Hubungan hangat di atas ranjang," jawab Arya begitu santai.


𝘗𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬....


Sentilan di kening berhasil mendarat di kening Arya pelakunya adalah sang eyang yang sangat geregetan karena perkataan Arya.


"Pernikahan bukan hanya kepuasan perut ke bawah Ar. Tapi mencakup semua anggota tubuh. Semuanya harus menerima dan juga bahagia. Jika kamu hanya niatkan pernikahan dengan niat seperti itu setelah kamu selesai melakukannya apa akan bahagia? tidak Ar. Kamu tidak akan pernah puas, dan jika kamu bosan tak menutup kemungkinan kamu akan mencari kepuasan dengan wanita yang lain. Eyang tidak mau kamu seperti itu, Arya."


"Eyang mau kamu menikah dengan landasan cinta dan karena Tuhan, dengan seperti itu kamu akan puas dengan satu wanita saja dan tak akan mencari wanita lain karena kamu mencintai pasanganmu."


"Tidak mungkin, Eyang. Tak akan mungkin Arya bisa seperti itu," Arya kembali duduk menatap eyang Wati dengan tak percaya.


"Bisa, Ar. Kamu pasti bisa. Carilah gadis yang benar-benar bisa membuatmu bahagia saat bersamanya. Gadis yang akan membuatmu semakin baik, dan itulah gadis yang tepat untukmu."


"Eyang ngacok, mana mungkin ada gadis yang seperti itu."


"Ada, eyang percaya itu."


////////


Bersambung....


_________

__ADS_1


__ADS_2