Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
220.Tetaplah Bahagia


__ADS_3

Happy Reading....



Pagi menjelang, semua juga mulai beraktifitas seperti biasanya. Begitu juga dengan Toni sang asisten pribadi Arya.



Dengan mobilnya dia melaju untuk sampai ke kantor, dia harus bekerja keras. Apalagi bosnya sudah bilang kalau dia akan cuti beberapa hari.



Di tengah perjalanan Toni menghentikan mobilnya saat melihat gadis berhijab yang dia kenal berjalan seorang diri. Dia adalah Nisa.



*Tinnn*....



Nisa seketika berhenti saat mendengar bunyi klakson mobil di sebelahnya. Nisa juga menoleh untuk memastikan siapa yang menyapanya pagi-pagi seperti sekarang.



*Klekk*....



Nisa terpaku diam saat Toni membuka pintu mobil di sebelah pengemudi, sepertinya Toni meminta Nisa untuk masuk.



"Masuklah, biar aku antarkan," dan ternyata benar, Toni meminta Nisa untuk ikut bersamanya.



Entah ada apa pada Toni, tapi setelah melihat Nisa dia memang ingin sekali mengantarkannya, dia merasa tak tega melihatnya berjalan kaki.



Nisa terlihat bingung.



"Tidak usah, Tuan," jawab Nisa yang begitu sungkan. Merasa tak enak jika benar di antar oleh Toni takut menggangu waktunya saja.


__ADS_1


"Cepatlah!" Toni tetap kekeh, dia tetap ingin mengantarkan Nisa ke tempat dia bekerja. Di rumah sakit milik keluar Gautama.



"Hem.." ragu tapi Nisa memilih menerima tawaran dari Toni, dia mulai masuk ke mobilnya.



Ada rasa puas di hati Toni saat Nisa benar-benar menerima tawarannya.



Setelah Nisa masuk Toni bergegas untuk melajukan lagi mobilnya menuju rumah sakit Gautama untuk mengantarkan Nisa terlebih dahulu sebelum dia pergi ke kantor Gautama.



"Bagaimana kabarmu," tanya Toni memecah hening di paginya bersama Nisa.



"Alhamdulillah, baik," suara Nisa terdengar sangat pelan, dia juga hanya melirik sebentar ke arah Toni dengan memberikan senyum kecil sebagai tanda keramahannya.



"Alhamdulillah," hanya satu kata itu juga yang kembali keluar dari bibir Toni. Dia begitu kikuk, dia gugup entah apalagi yang akan dia katakan pada Nisa.




Aktivitas di dalam rumah Hendra juga sama seperti biasa, di pagi hari mereka akan sarapan bersama. Tapi kali ini tak ada lagi kegaduhan seperti saat pertama kali Arini datang, semua asisten sudah tau dan hanya membantu saja di dapur untuk menyiapkan sarapan.


Tujuh kursi di meja makan sudah terisi. Semua sudah datang untuk melakukan ritual sarapan bersama.


Ada mata yang sesekali menatap kesal kepada Dimas yang sudah rapi. Dia adalah Arya yang hanya mengenakan baju rumah saja. Tentu Arya sangat kesal karena kebohongan yang Dimas katakan semalam tentang Arini yang katanya menangis karena dirinya yang tak kunjung pulang.


Dimas yang sadar akan hal itu hanya diam, sesekali dia juga menelan saliva nya sendiri karena begitu sakit melihat mata Arya yang seolah mengintimidasinya.


"Sepertinya dia benar-benar marah padaku, abis lah diriku," batin Dimas.


"Hem.., Dim, bukankah seharusnya kamu mengurus kepindahan mu ke daerah pelosok untuk hari ini?" Arya memulai pembicaraan.


"Hem?" Dimas begitu cengo, dia menoleh dengan cepat tentunya dengan sangat bingung, siapa kiranya yang mau pindah ke pelosok? bahkan dia sendiri tidak tau dengan itu.


"Ma-maksudnya?" Dimas begitu tergagap dia yakin ini semua karena ulahnya semalam.


Meskipun sudah menjadi adik iparnya ternyata Arya tetap menakutkan.

__ADS_1


"Kakak mau pindah ke pelosok?" tanya Arini dengan begitu polosnya. Dia sama sekali tak tahu apa yang di rencanakan oleh suaminya. Dia ingin


membuat Dimas ketakutan atau mungkin dia harus meminta maaf karena telah berbohong.


"Ti-tidak," Dimas tersenyum gagu seraya menjawab pertanyaan Arini. Bagaimana mungkin dia akan pindah tanpa dia sendiri mengetahui sebelumnya?


"Iya," jawab Arya, hampir bersamaan dengan jawaban yang Dimas berikan untuk Arini.


"Kenapa?" tanya Arini lagi.


Sementara yang lain hanya diam mendengarkan apa yang tengah di perbincangan oleh mereka. Matanya juga berpindah-pindah melihat ketiganya.


"Tanya saja sendiri dengan kakakmu," jawab Arya yang terdengar sangat angkuh.


"Ti-tidak, saya tidak akan pindah. Siapa bilang, itu hanya candaan suamimu saja, iya kan, Ar... Tu-Tuan.." Dimas meringis, dia yang ingin memanggil dengan nama Arya saja tapi tidak jadi karena mata tajam itu kembali bereaksi.


"Saya rasa tidak," jawab Arya begitu dingin.


"Syukurlah kalau kak Dimas mau pindah, setelah itu nggak akan ada yang meledekku."


Jleb...


Sakitnya hati Dimas. Ngga suami nggak istri sama-sama kejam kepadanya. Bahkan Arini tidak menahannya dan malah senang jika dia benar-benar pindah.


Dimas benar-benar melongo, kecewa itu pasti. Adiknya itu, Ihh... rasanya ingin menjitak kepalanya. Tapi Dimas takut karena ada suaminya bisa-bisa benar sampai pelosok hari ini juga.


"Hem, jangan begitu lah Tuan, Arini. Aku minta maaf, aku ngaku salah telah berbohong. Jangan hukum aku ya, jangan usir aku ya, ya," Dimas begitu memohon.


"Emangnya kamu punya salah," Arya semakin angkuh bicaranya.


"Banyak, sangat banyak malah. Jadi saya minta maaf dan, jangan kirim saya ke pelosok ya. Kalau aku tidak ada siapa yang akan memastikan kesehatan kalian," ucap Dimas begitu percaya diri.


"Di sini banyak Dokter selain dirimu."


"Ya elah Tuan. Jangan duain saya dong! sakit loh," ocehnya.


"Hahaha, Kakak ada-ada saja. Bukan hanya diduain, Kak. Tapi di selingkuhin, hahaha.." tawa Arini lepas. Senang juga dapat komplotan untuk menindas balik Dimas. Kemarin kan dia hanya sendiri sekarang? ada suaminya yang ikut serta.


"Tega lu, Dek."


"Hahaha..."


Dengan melihat tawa Arini


yang begitu lepas membuat Arya semakin senang ternyata tidak susah membuat istrinya itu tertawa hanya dengan hal kecil saja dia bisa tertawa.


"*Tetaplah seperti ini Arini, tetaplah bahagia. Tetaplah tertawa dan juga tersenyum. Jangan ada lagi Air mata di hidup mu mulai sekarang dan yang akan datang." batin Arya.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2