Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
87.Mau kemana


__ADS_3

..._____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


"Akhirnya, pekerjaan ku selesai juga, " gumam Arini. Dia begitu lega karena semua pekerjaannya sudah beres, dia juga akan pulang sekarang.


Arini pergi ke lokernya, mengambil barang-barangnya yang dia tinggalkan di sana. Kali ini dia akan kembali mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Nilam lagi, dia juga sangat merindukannya meski pagi dia sudah bertemu.


Arini sendiri tak tau kenapa tapi yang jelas dia selalu senang dan nyaman saat berada didekat Nilam. Arini seolah melupakan semua masalah nya saat berada di dekatnya.


Baru saja Arini ingin melangkah keluar ponselnya kembali berdering membuatnya kesal karena dia tahu siapa pelakunya.


"Ada apa lagi sih Pak Tuan," gumam Arini.


Arini mengangkatnya, belum juga dia bicara Arya sudah lebih dulu bicara.


"𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨! " ucap Arya.


𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵...


Belum Arini menjawab telfon sudah di matikan oleh Arya, mungkin dia trauma kali ya, dia takut kalau Arini yang akan lebih dulu mematikan ponselnya.


"Astaga, Pak Tuan. Ada apa lagi sih? " Arini mengernyit, tapi dia tetap melangkah menuju ruangan yang di minta oleh Arya. Semua barang-barang Arini juga dia bawa, setelah selesai di tempat Arya dia akan langsung pulang.


Sesampainya di depan ruangan Arya Arini langsung masuk, mengucapkan salam dengan senang hati meskipun dia tau tak akan mendapatkan jawabannya. Tapi Arini akan coba mengingatkan Arya untuk menjawab.


"Assalamu'alaikum... " ucapnya. Dan benar saja, laki-laki angkuh itu tetap diam dan duduk dengan santai di sofa dengan kaki berselonjoran ria si atas meja. Sungguh tidak sopan.


"Pak Tuan tidak mau menjawab salam dari Arini? " tanya Arini sebelum dia menutup pintu.


"Buat apa aku menjawab, aku tidak akan mendapat apapun." jawab Arya dengan cepat


Benar kan, sangat sesuai seperti yang Arini pikirkan. Tapi tenang, jika menurut Arya dengan tidak menjawab salam dia tak akan mendapatkan apapun maka dia tidak akan mendapatkannya, termasuk Arini juga.


Arini kembali memutar tubuhnya, dia ingin keluar saja dari ruangan itu.


"Eh..., mau kemana kamu! aku menyuruh mu untuk datang, bukan untuk pergi! " seru Arya dengan kesal.


"Bukankah pak Tuan bilang kalau pak Tuan tidak mau menjawab salam dari Arini karena tidak mendapat apapun? maka pak Tuan juga tidak akan mendapat apapun, termasuk keinginan pak Tuan mengundang Arini," jawab Arini begitu berani. Astaga nih anak, apa yang terjadi padanya sekarang dia lebih mengerikan daripada Arya sendiri.

__ADS_1


"Percuma kan, Pak Tuan. Kalau Arini masuk dan mendoakan kebaikan untuk pak Tuan tapi pak Tuan tidak mau mendoakan Arini juga. Bukankah semua ada imbal baliknya kan! " imbuh Arini.


Memang sangat susah untuk mengajarkan kebaikan kepada orang yang sudah sangat tersesat. Jangankan untuk yang lain? hanya menjawab salam saja Arya sungguh berat.


Dongkol itu pasti pada Arya, kenapa sekarang dia yang ingin di kendalikan? padahal dia sendiri yang berniat mengendalikan Arini supaya lebih patuh padanya.


"Wa- Wa'alaikumsalam... " akhirnya jawaban itu Arya ucapkan meski terdengar sangat aneh dan juga tidak benar. Tapi tak menjadi masalah awal mula yang bagus kan?


Sekarang baru menjawab salam, besok-besok pasti akan ada penambahan lagi yang lebih baik pada Arya.


Arini urung untuk keluar setelah mendengar jawaban dari Arya, dia sedikit tersenyum hatinya sangat senang karena dia bisa juga membuat sedikit perubahan pada Arya, semoga saja ini akan menjadi kebiasaan nantinya.


"Kenapa pak Tuan, apa pak Tuan masih menginginkan sesuatu?" tanya Arini.


"Tidak, aku hanya ingin kamu menemaniku di sini saja," jawab Arya yang kembali menyandarkan punggung di sofa.


Arini terdiam, ini sudah habis waktu kerjanya dan dia kembali di tahan hanya untuk menemaninya apakah itu wajar? Arini hanya seorang OB loh.


"Tapi, Pak Tuan? Arini mau ke rumah sakit."


"Untuk apa ke rumah sakit, bukankah nenekmu sudah pulang? " tanya Arya, matanya sudah terpejam.


Arya kembali menegakkan duduknya matanya kembali dia buka dan kakinya juga dia turunkan di lantai.


"Untuk apa kamu susah-susah ke sana! Atau jangan-jangan kamu dan Dimas...? kalian mempunyai hubungan? " tanya Arya menyelidiki.


"Hubungan apa? Arini tidak mempunyai hubungan apapun dengan kak Dokter." jawab Arini.


"Bagus, jangan pernah ada hubungan apapun dengan laki-laki yang tidak jelas," Sebenarnya siapa yang tidak jelas sih, Dimas atau Arya?


Sepertinya Dimas lebih jelas orangnya daripada Arya, dia juga selalu menjalankan ibadah dengan baik, kepribadiannya juga baik tak di ragukan lagi tapi kalau Arya? Dia sungguh-sungguh tak jelas.


"Bukankah kamu kemarin memanggilnya pak Dokter? Kenapa sekarang jadi kak Dokter? Apakah Dimas yang memaksamu, atau kamu sendiri yang berniat menggodanya?"


Dasar Tuan kepo. Kenapa juga harus tau kenapa Arini memanggilnya Kak, apa itu menjadi masalah juga untuknya.


Apalagi pak Tuanya itu mengira Arini yang menggodanya, sungguh menyakitkan hati saja.


"Maaf ya, Pak Tuan. Arini tidak mau menggoda siapapun," jawab Arini.

__ADS_1


"Dan untuk Arini yang memanggilnya kakak, itu memang kak dokter yang memintanya. Arini rasa itu juga baik," imbuhnya lagi.


"Oh..., jadi kamu sudah menuruti apapun yang dia mau ya? kalau begitu kamu juga harus menurut padaku. Kamu harus ikut dengan ku ke suatu tempat. Sekarang," Arya beranjak dia mulai berjalan bahkan mendahului Arini.


Arini masih tak bergerak, dia masih berfikir kira-kira mau di ajak kemana Arini sekarang oleh Arya. Semoga saja tempat yang baik.


"Kenapa kamu masih diam, cepat ikut!" Arya kembali menoleh.


Arini tersentak. Dia terbangun dari diamnya.


"Kita mau kemana, Pak Tuan? " tanya Arini namun dia belum berjalan dan baru saja menoleh.


"Tidak usah banyak bertanya, cepat ikut! kalau tidak cepat berjalan maka aku akan menggendong mu lagi. Atau kamu memang menginginkan itu? oke, aku akan senang hati melakukannya," Arya yakin Arini akan menolaknya dan akan menurut apa yang dia katakan dengan cara itu.


Gagal sudah Arini untuk pergi ke rumah sakit, dia sangat merilndukan Nilam tapi bosnya itu, kenapa harus menggagalkannya. Sebenarnya mau di ajak kemana?


Arini hanya bisa mengikutinya dengan melangkah pelan di belakang Arya. Dia tak bisa menolaknya kalau sudah seperti itu.


"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘵𝘦 𝘕𝘪𝘭𝘢𝘮. 𝘔𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬, " batin Arini.


Begitu cepat Arya melangkah membuat Arini kesusahan untuk mengejarnya. Mereka berdua turun dengan lift, kali ini tak seperti awal saat Arini menggunakan lift dan hanya berdua saja dengan Arya, sekarang Arini lebih tenang meski dia tetap waspada.


Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Arya, dia diam dengan wajah dingin yang membuat Arini membeku.


"Cepatlah jalannya," Pintu lift terbuka, hanya dua kata saja yang keluar dari Arya.


"Kita mau kemana, Pak Tuan? " Arini masih saja penasaran. Kenapa Arya tidak mengatakan dia mau membawa Arini kemana.


Arya diam tak menjawab, bahkan sampai di tempat parkir mobilnya dia terus diam. Tak ada perlakuan yang spesial kali ini, Arya tak membukakan pintu untuk Arini dan langsung menuju tempat pengemudi dan masuk.


"Cepatlah! " serunya saat Arini masih ragu untuk membuka pintu mobil.


Arini membuka pintu dengan sendiri dia juga langsung masuk dan duduk dengan tenang.


"𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪? 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩-𝘢𝘯𝘦𝘩, " batin Arini.


///////


Bersambung....

__ADS_1


__________


__ADS_2