Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
40.Minta Maaf


__ADS_3

...____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Ratna juga Marta sangat kebingungan di kediamannya, dari kemarin putri satunya tidak pulang juga tidak ada kabar apapun, bahkan dihubungi pun tidak bisa.


"Buk! sebenarnya pergi kemana anak mu itu. Dari kemarin dia tidak pulang, juga tidak ada kabar sama sekali, apa dia melupakan kalau dia punya rumah!" ucap Marta yang mulai kesal.


"Entah, Pa. Aku sendiri juga tidak tau dia pergi ke mana. Kemarin dia hanya bilang kalau ada pesta ulang tahun di tempat temannya, ya mungkin dia menginap di sana kan?" jawab Ratna.


Tak pernah diam begitu saja bagi Ratna dia akan selalu mempercantik penampilannya, biasanya dia akan memakai kutek di kukunya tapi tidak untuk sekarang, dia tengah asyik mencatok rambutnya.


"Sudah lah, Pa. Jangan terlalu di pikirin nanti dia juga pulang sendiri dia kan sudah besar," sambung Ratna.


"Dia memang sudah besar, Ma! tapi dia seorang gadis, tak sepantasnya dia kelayapan tidak jelas seperti ini! bagaimana kalau hal buruk terjadi padanya. Astaga..., semoga saja pergaulannya tidak bebas," Marta bergidik membayangkan itu, meskipun dia kadang sadis tapi kalau dengan Melisa atau Fara dia tak akan pernah marah.


"Sudah lah, Pa! lebih baik Papa tengok tuh kebun, dari pagi Papa hanya di rumah terus apa tidak bosen," sebenarnya bukan Marta yang bosen tapi Ratna lah yang bosen melihat suaminya itu terus mondar-mandir karena mengkhawatirkan Fara.


"Aku pulang," Melisa masuk dengan wajah lelahnya, jalannya pun juga tak seimbang karena dia benar-benar lelah hati, lelah pikiran juga.


"Mel, di mana adikmu pergi!" baru saja masuk Melisa langsung mendapatkan pertanyaan dari Marta membuatnya semakin kesal saja.


"Mel tidak tau," jawabnya acuh dan terus melaju pergi menuju kamarnya sendiri.


"Ini juga sama saja," kesal Marta.


"Aku pulang," dan kini yang di tunggu pun juga pulang dia adalah Fara yang kini berpakaian lebih tertutup tidak seperti saat dia pergi, "Papa juga Mama kenapa?" tanyanya saat melihat kedua orang tuanya itu terus menatapnya.


"Dari mana kamu!" suara Marta sudah meninggi begitu saja.


"Dari rumah teman, Pa. Bukankah kemarin Fara sudah bilang sama Mama," Fara melirik ke arah Ratna.


Ratna yang tau pun juga langsung membalas kata-kata Fara tentunya, "Mama sudah bilang sama Papamu, tapi dia saja yang tidak percaya."

__ADS_1


"Fara, kamu tidak berbuat aneh-aneh kan! " selidik Marta.


"Aneh gimana sih, Pa. Fara hanya berpesta di ulang tahun teman Fara saja tidak lebih," jawab Fara yang tak mau mengaku, jelas dia tak mau mengaku kalau mengaku dia pasti akan mendapatkan siksaan dari Marta.


"Sudah Fara lelah, mau istirahat," Fara pun berlalu.


"Sudah lah, Pa. Jangan keras-keras dengan anakmu, mereka sudah dewasa mereka pasti tau mana yang baik juga tidak," ucap Ratna.


"Semoga saja kamu benar. Sudahlah, aku mau ke kebun," Marta pun juga berlalu pergi.


Di dalam kamar Fara cepat membuka tasnya, dia mengambil pil kontrasepsi yang sempat di belikan oleh Nando tadi saat di jalan pulang.


"Aku tidak boleh hamil, meskipun Nando akan bertanggung jawab tapi aku tidak akan mempermalukan diriku sendiri," Fara pun langsung memasukkan satu pil kedalam mulutnya, dia meneguk dengan bantuan air putih yang selalu tersedia.


//////


Eyang Wati begitu sedih melihat keadaan Arini sekarang, dia terus menunggu Arini sampai dia bangun namun sampai sekarang Arini belum juga bangun.


Eyang Wati terus menggenggam tangan Arini berkali-kali dia mengecupnya dia juga terus mengelus nya.


Perlahan-lahan jari-jari Arini bergerak matanya pun mulai terbuka dengan pelan, "Hem...? Arini di mana?" matanya mengedar penuh memandangi semua penjuru dan berhenti saat dia melihat Arya.


Arini kembali ketakutan saat melihat wajah Arya yang kini menunduk tak sadar akan Arini yang melihatnya. Wajah Arini kembali panik dia langsung menarik tangannya yang ada di tangan Eyang Wati.


Eyang Wati langsung tersadar dia berdiri, memandangi Arini yang terlihat sangat panik dan ketakutan, "Arini, kamu kenapa?" tanya Eyang Wati.


Namun pertanyaan itu tak mendapatkan jawaban dari Arini, Arini beralih duduk dengan cepat, dia memeluk kedua kakinya saat dia mengingat kejadian tadi, Arini kembali menangis.


Melihat keadaan Arini yang seperti sekarang ini membuat Eyang Wati langsung menatap tajam ke arah Arya, "𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘈𝘳! 𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘳𝘢𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩𝘢𝘯, " batin Eyang Wati.


Eyang Wati langsung berdiri dia merengkuh tubuh kecil Arini lalu memeluknya, "jangan takut, ada Eyang di sini. Arya tidak akan berani melakukan apapun sekarang," ucapnya.


Arini mengangkat wajahnya setelah melihat siapa yang memeluknya Airin juga memeluk pinggang Eyang Wati.

__ADS_1


"Eyang, Arini takut. Pak tuan jahat sama Arini," rengeknya.


"Maafin Eyang ya, Eyang datang terlambat dan membuat kejadian ini terjadi padamu, maaf ya," Eyang Wati sangat menyesal, dia bahkan meminta maaf atas apa yang di lakukan oleh Arya pada Arini.


Di saat Arini masih memeluk Eyang Wati, Arya mendekat karena mendapatkan kedipan mata dari Eyangnya meskipun ragu Arya tetap mendekat.


"Arini, maaf," ucap Arya dengan dua kalimat saja, dan itu berhasil membuat Eyang Wati semakin melotot geram. "𝘈𝘥𝘶𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘌𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘢𝘢𝘧, " batin Arya.


Susah untuk Arya meminta maaf, dia tak pernah melakukan itu pada siapapun. Gengsi itulah yang Arya pikirkan, bagaimana seorang Arya meminta maaf itu tidak banget kan? sepertinya dalam kamus besar pun tak akan pernah ada. Tapi sekarang? apakah kamus itu akan berubah dan Arya harus minta maaf hanya karena Arini?


"Arya," panggil Eyang dengan geram tentunya.


𝘏𝘶𝘧𝘧𝘧.....


Hembusan nafas panjang terdengar jelas dari Arya mungkin dia akan melakukan apa yang di minta oleh Eyang Wati namun itu pasti terpaksa karena dia masih sangat gengsi.


"Arini, saya minta maaf. Saya menyesal telah melakukannya padamu, aku janji tidak akan berbuat buruk lagi padamu, aku minta mau kamu harus maafin aku," ucapnya, sudah salah kata dengan dingin pula.


Eyang Wati kembali melotot. Arya ini mau minta maaf atau memberi perintah sih? bisa-bisanya dia minta Arini harus memaafkannya, itu sama saja pemaksaan bukan.


"Arya...," Eyang Wati kembali geram.


Arya mengernyit, apa yang salah dengan ucapannya, dia sudah minta maaf kan? kenapa masih juga mendapat tatapan tajam itu.


"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩? " bingungnya.


Arya jadi emosi sendiri karena apa yang dia katakan salah mulu untuk Eyang Wati, entah yang seperti apa yang di inginkan.


"Saya minta maaf Arini. Tolong maafin saya, saya janji tidak akan mengulanginya lagi," ucapnya dengan pelan dan di buat selembut mungkin supaya kali ini dia berhasil di mata Eyang Wati.


//////


Bersambung...

__ADS_1


__________


__ADS_2