
Happy Reading...
Begitu indah senyuman Arini yang berhasil keluar saat ini. Di dalam pantry dia masih sibuk dengan beberapa menu yang dia masak khusus untuk Arya. Dan itu juga pesanan Arya sendiri karena dia ingin makan siangnya makan dengan Arini dengan masakan yang dia masak juga.
Hubungan yang semakin dekat membuat Arini selalu saja melakukan apa yang Arya ingin selama masih tak melanggar batas.
"Cie cie cie..., roman-romannya ada yang sedang bahagia nih. Seperti bunga-bunga cinta berkembang semakin besar nih," goda Raisa.
Raisa melangkah masuk ke pantry dengan tangan membawa cangkir kotor. Raisa tak langsung menuju kearah Arini melainkan pergi ke tempat cucian untuk menaruh cangkir itu di sana. Setelah itu baru Raisa menghampiri dan melihat semua yang di hasilkan oleh Arini.
Beberapa menu yang terlihat sangat enak dan sangat menggugah selera makan. Bahkan perut Raisa langsung keroncongan setelah melihatnya.
"Boleh aku cicipi lebih dulu?" Mata Raisa berkedip penuh permohonan tangannya juga mulai bergerak maju untuk mengambil ayam goreng yang sudah di depan Arini.
Arini begitu waspada, dia menyingkirkan tangan Raisa segera.
"Jangan, Mbak! Ini untuk makan siang Pak Tuan. Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang sebentar lagi Pak Tuan juga pulang dari meeting. Arini tidak mau sampai Pak Tuan menunggu Arini memasaknya lagi," ucapnya.
"Kamu pelit sekali. Terus untukku? Apakah tidak ada sedikit saja bagian ku?" Raisa memutar bola matanya malas.
Wajah Raisa yang terlihat sangat kesal menumbuhkan senyum dari Arini.
"Untuk Mbak Raisa ya? Hem..." Arini diam berpikir.
"Arini sudah siapkan, satu porsi khusus untuk Mbak Raisa, taraaa!" satu menu yang sama persis sudah Arini siapkan dan kini dia sodorkan untuk Raisa.
Kini wajah masamnya berubah menjadi binar, Raisa sangat bahagia seraya menerima satu porsi penuh yang Arini berikan.
"Aku jadi terharu, huaaa..., terimakasih Cungkring Ku tersayang. Boleh peluk?" Satu tangan Raisa memegangi piringnya sementara satunya menarik Arini dan memeluknya.
"Jangan kuat-kuat, Mbak. Arini nggak bisa nafas," Arini terasa sangat susah, begitu kuat Raisa memeluknya karena dia begitu senang. Ternyata Arini juga tidak melupakannya.
"Maaf maaf..., hehehe. Aku begitu senang aku begitu terharu," Raisa langsung melepaskan Arini dia tak akan mungkin membuat Arini merasa sakit sedikitpun.
Arini tersenyum, dia juga sangat senang karena bisa memasak lebih hingga akhirnya dia bisa membagi juga dengan Raisa.
Dua piring yang sudah terisi penuh Arini angkat, dia hendak pergi dari sana untuk pergi ke ruangan Arya karena dia yakin Arya sudah kembali dan telah menunggunya.
__ADS_1
"Mbak, Arini pergi dulu ya? Jangan lupa di habiskan makanannya dan semoga Mbak Raisa suka dengan masakan Arini," Arini meninggalkan senyum saat dia hendak pergi.
"Pasti aku suka, kamu tenang saja. Semoga sukses ya untuk mu. Semoga Tuan Arya menyukainya," ucap Raisa.
"Iya, Mbak."
Arini melangkah pergi, dia cepat bergegas karena tak mau Arya menunggu lama.
Langkah Arini semakin cepat, dia tak sabar untuk bisa sampai di ruangan Arya.
Arini juga terus menjaga dengan baik supaya tidak terjatuh dan isi piring itu akan tumpah, Arini begitu hati-hati.
Langkah Arini terhenti saat dia melihat Arya juga Melisa yang sedang berbicara.
"Mereka membicarakan apa?" Arini begitu penasaran, dia juga ingin mendengar apa yang tengah mereka bicarakan. Apalagi mereka berdua terlihat serius dalam perbincangan mereka.
Arini melangkah semakin dekat, dia tau menguping pembicaraan orang itu tidak di benarkan tetapi Arini begitu penasaran hingga rasanya dia sendiri tak mampu mengendalikan kakinya yang terus melangkah maju.
"Tuan, i-itu... itu hasil dari dokter. Sa-saya telah hamil."
Ucapan Melisa terdengar begitu jelas masuk di telinga Arini yang sudah sangat dekat. Kata-kata itu seketika membuat Arini menghentikan langkah dan termangu diam.
Terlihat Arya juga terperangah tak percaya. Dia sangat yakin dia tidak melakukan apapun dengan Melisa jadi mana mungkin Melisa bisa hamil anaknya.
Arya tetap tidak akan percaya begitu saja. Dia yang sangat tidak menyukai Melisa pastilah akan membela diri kalau dia tidak bersalah dan apa yang di katakan oleh Melisa pasti tidak benar.
"Bohong! Tidak mungkin kamu hamil anak ku! Aku tidak melakukan apapun padamu!"
"Tetapi itulah kenyataannya, Tuan. Kita telah melakukan itu dan benih yang Tuan tinggalkan kini telah berkembang di dalam perutku!"
"Saya tidak percaya. Jika kamu benar-benar hamil belum tentu kan itu anak ku?!" Arya menatap jengah Melisa yang tetap kekeh.
"Ini anak mu, Tuan. Saya tidak pernah melakukan itu selain dengan tuan saja!"
"Kalau begitu, gugurkan. Dia tumbuh hanya karena kesalahan, aku juga tidak akan bertanggung jawab," ucap Arya.
Arini sudah menangis mendengar perdebatan mereka berdua, apalagi mendengar kalau Arya meminta Melisa untuk menggugurkan kandungannya. Itu salah, itu berdosa.
__ADS_1
Jika ada yang salah yang patut di salahkan adalah orang tuanya, bukan janin yang tak berdosa yang sudah mulai berkembang tumbuh untuk menjadi manusia yang sempurna.
"Ini tidak benar, dosa mereka akan semakin besar kalau sampai itu terjadi. Kak Melisa tidak boleh menggugurkan kandungannya," ucapnya.
Dengan tangis Arini melangkah menghampiri mereka berdua. Kedua piring yang dia bawa terpaksa dia letakan di atas lemari kecil di sebelahnya, Arini kembali melangkah.
Langkahnya begitu pelan, tubuhnya gemetar dengan jantung berdetak tak karuan dengan nafas yang terasa sangat sesak.
Kebahagiaan yang barusan sekarang hilang, sekarang telah musnah dan terganti dengan duka yang begitu dalam. Arini kembali dalam dukanya yang beberapa hari ini telah hilang.
"Tidak, Pak Tuan. Pak Tuan harus bertanggung jawab atas anak itu. Anak itu tidak boleh mati, dia tidak bersalah," ucap Arini.
Ucapan Arini membuat mereka berdua yang tengah berdebat dengan tatapan mata yang saling tajam kini menoleh dengan bersamaan.
"A-Arini," Arya tergagap menyebut nama Arini. Dada Arya juga terasa sangat sesak saat melihat Arini yang sudah mengeluarkan air matanya.
"Bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kalian perbuat. Semua sudah terjadi tidak bisa di hindari lagi. Anak itu juga tidak bisa lahir tanpa orang tua yang utuh, jadi Pak Tuan harus menikah dengan Kak Melisa," semakin sakit hati Arini meski dia terlihat tegar mengatakannya.
Cintanya telah habis hangus terbakar dan tak tersisa, menjadi abu hitam yang akan terbang jika terkena badai.
Tubuh Arini juga terasa sangat lemah, dia seakan tak punya daya untuk kembali berbicara bahkan untuk melangkah pergi sekaligus.
Jika Arini adalah halangan nya maka Arini rela pergi, mengorbankan impian yang sudah mulai dia rajut, cinta yang semakin besar, dan juga harapan untuk hidup bahagia dengan Arya. Semua itu akan Arini relakan demi mereka tak lagi menambah dosa.
"Tidak Arini, aku tidak mau. Aku tidak melakukan itu padanya. Aku yakin dia tidak mengandung anakku!" tangan Arya berusaha untuk meraih tangan Arini tetapi Arini menjauh, dia selalu menghindar saat Arya mendekat.
"Jangan pernah lari dari kesalahan, Pak Tuan. Jadilah laki-laki sejati, jadilah Pak Tuan yang Arini kenal yang selalu berani mempertanggung jawabkan setiap kesalahan. Pak Tuan bisa mangkir jika bukti Pak Tuan miliki. Tetapi apa, Pak Tuan tidak mendapatkan bukti itu kan? Itu karena kalian memang benar telah melakukannya. Dan sekarang, Kak Melisa telah hamil anak Pak Tuan. Bertanggung jawablah," ucap Arini yang begitu banyak.
"Tidak Arini. Aku tidak mau bertanggung jawab, apalagi menikah dengannya, aku tidak mau! Aku hanya mau menikah denganmu saja, " Arya masih terus mengejar Arini.
"Kalau begitu Arini tidak mau kenal lagi dengan Pak Tuan. Jika Pak Tuan tidak mau bertanggung jawab hanya karena adanya Arini, maka lupakan Arini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak saling kenal."
Arini memutar kakinya, dia membalikkan badan dan berlari pergi dengan membawa luka di dalam hatinya yang di sertai dengan tangis.
"Arini...!" Arya hendak mengejarnya tetapi tiba-tiba saja ada yang menarik lengannya dan menahan untuk tidak pergi.
"Arya! Apa yang dia katakan benar, kamu tidak perlu mengenalnya. Lupakan dia dan bertanggung jawablah dengan apa yang sudah kamu lakukan. Nikahi Melisa! Dan jangan biarkan anakmu lahir tanpa sosok seorang ayah!" Seloroh Luna yang entah sejak kapan dia ada di sana.
__ADS_1
Bersambung....