Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
230.Hadiah Dua Garis Biru


__ADS_3

Happy Reading...


Setelah malam hari Arya juga Arini baru saja pulang ke rumah keluarga Hendra setelah mereka berdua pergi ke perusahaan Gautama dilanjutkan dengan berkeliling ke tempat-tempat yang indah sesuai dengan apa yang Arya katakan bahwa dia akan menghabiskan waktu berdua saja bersama Arini untuk beberapa hari ini sebelum dia kembali beraktifitas lagi seperti biasanya.



Dunia seolah hanya milik mereka berdua, dengan melangkah masuk ke rumah tangan mereka saling bergandengan seperti pemuda-pemudi SMK yang tengah merasakan awal jatuh cinta. Senyum juga tidak pernah terlepas dari bibir keduanya memberikan warna baru untuk rumah itu menjadi semakin sempurna.



Nilam ataupun Hendra hanya bisa tersenyum saat melihat anak dan menantunya begitu bahagia. Harapan dari keduanya bukan hanya saat itu untuk kebahagiaan mereka melainkan untuk selamanya meskipun suatu saat akan ada masalah yang mungkin menerpa rumah tangga mereka. Semoga keduanya bisa melaluinya dengan baik dan bisa saling mempertahankan satu sama lain.



"Assalamu'alaikum," uluk salam keduanya ucapkan seraya terus mendekat ke arah orang tua yang kini duduk di sofa dengan terus tersenyum memandangi keduanya.



Tidak lupa mereka berdua juga memberikan salam takzim untuk Nilam juga Hendra dengan penuh rasa hormat membuat Nilam juga Hendra semakin bahagia.



"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya dengan persamaan sembari tangan menerima uluran dari Arini juga Arya yang sudah berada di dekat mereka.



Arini juga Arya menempatkan duduk di hadapan mereka istirahat sejenak sebelum mereka berdua pergi ke kamar mereka. Berkumpul dengan keluarga juga sangat penting untuk membina kedekatan dan kerekatan antara mereka biar menjadi semakin erat.



"Kalian dari mana kenapa sampai malam seperti ini baru pulang?" tanya Nilam yang sangat penasaran dengan keduanya.



"Kami habis keliling kota, Ma," jawab Arini mewakili Arya. Terlihat jelas kalau Arini begitu bahagia bisa jalan berdua dengan suaminya tanpa ada yang mengganggu.



"Oh, Kalian berdua sudah makan malam?" tanya Nilam lagi sekedar memastikan sebelum keduanya pergi ke kamar untuk istirahat. Nilam tidak mau sampai keduanya tidur dalam perut kosong itu tidak akan baik untuk kesehatan mereka, pikir Nilam.



"Kami sudah makan kok Ma," jawab Arini lagi dengan begitu antusias.



" Ma, Pa, Mas Arya akan mengatakan sesuatu pada kalian," Arini terus saja tersenyum meskipun dia kini menoleh ke Arya lalu kembali lagi menghadap ke dua orang tuanya yang terlihat menunggu apa yang akan dikatakan.



"Mengatakan apa?" Hendra duduk tegak memandang menantunya dengan tatapan penuh selidik dan Ingin secepatnya mendengar semuanya.



Nilam pun sama dia juga duduk dengan tegak di samping Hendra dan memandangi Arya sama persis seperti suaminya saat ini.



Dengan santai Arya mencoba mengatakan semua yang akan menjadi maksud dirinya.



"Begini, Ma, Pa. Saya meminta izin untuk mengajak Arini pergi ke Bali untuk bulan madu," ucap Arya dengan santai.



"Kapan kalian akan berangkat?" tanya Hendra.



"Besok, Pa. Karena jika lebih lama lagi mungkin Arya tidak bisa pergi karena pekerjaan pasti akan menunggu. Ya mumpung Arya tengah mengambil cuti," jawab Arya.


__ADS_1


Hendra maupun Nilam mengangguk sepertinya mereka berdua setuju dan memberikan izin untuk Arya membawa Arini ke Pulau Bali untuk bulan madu.



"Baiklah, kalian berdua boleh pergi, tapi kamu harus menjaga Arini dengan baik karena dia belum pernah pergi ke sana. Dan satu hal lagi, bawalah kabar baik saat kalian pulang nanti," ucap Hendra.



"Papa juga Mama mau oleh-oleh?" tanya Arini begitu polos. Arini tidak tahu pasti apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya. Apa yang dimaksud dengan kabar baik itu.



"Iya, kami minta oleh-oleh dari kalian," jawab Nilam.



Arini mengernyit, oleh-oleh apa yang cocok untuk mereka berdua?



"Jangan terlalu pusing untuk memikirkan oleh-oleh yang cocok untuk kami sayang. Kami hanya menginginkan satu oleh-oleh saja dari kalian."



"Apa?" Arini tak mengerti.



"Dua garis biru," jawab Nilam sembari tersenyum.



"Dua garis biru?" ucap Arini menirukan apa yang Nilam katakan.



Hendra maupun Nilam hanya tersenyum geli melihat tingkah anaknya yang sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Mereka berdua juga terlihat begitu gemas ingin sekali mencubit pipi anaknya itu namun tangannya tak sampai karena jaraknya juga tidak terlalu dekat.




"Nak Arya, bawa istrimu untuk berkemas. Dan jelaskan dengan baik apa yang kami inginkan," ucap Nilam. Menyerahkan semua kepada Arya. Nilam yakin Arya akan memberitahu Arini dengan sangat sabar sampai Arini bisa mengerti dengan baik.



"Baik, Ma. Kalau begitu kami permisi," pamit Arya.



"Ayo, Sayang," ajak Arya dan langsung menuntun tangan Arini.



"Tapi Arini belum tau apa yang Mama maksud? bagaimana mungkin Mas yang menjelaskannya. Apa Mas tau?" tanya Arini yang sebenarnya sangat enggan untuk pergi.



"Pergilah, Nak. Suamimu kan pintar. Dia tau segalanya," ucap Nilam.



"Ayo, biar Mas jelaskan."



Arya terus menarik tangan Arini dan mengajaknya pergi ke kamar. Dia akan mudah menjelaskannya di sana, mungkin dia juga bisa langsung mempraktekkannya.



"Mama sih, tau anak kita agak lemot. Main bicara yang susah di mengerti. Jadi bingung kan dia," ucap Hendra setelah anak dan menantunya sudah. pergi.


__ADS_1


"Ya, Mama kan tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini. Mama pikir dia bisa menerima yang mama katakan dengan baik, tapi? Sudahlah mau bagaimana lagi semua juga sudah terlanjur kan." jawab Nilam.



"Iya, menurut papa sebenarnya Arini sangat pintar. Mungkin karena keadaan yang membuatnya menjadi seperti ini. Seandainya saja Papa tidak melakukan kesalahan ya Ma, mungkin dia akan jauh lebih baik dari sekarang," ucap Hendra yang kembali lagi mengingat akan masa lalu, akan semua kesalahan yang dia perbuat kepada Arini.



"Sudah lah, Pa. Jangan diungkit-ungkit lagi masa lalu nanti akan membuat Papa kepikiran terus dan Papa bisa saja jatuh sakit nantinya. Lagian semua itu juga sudah takdir untuk kehidupan kita. Mama juga sudah ikhlas apalagi sekarang dia sudah kembali kepada kita kan," jawab nilam.



Nilam menyandarkan kepalanya di pundak Hendra, tangannya juga diselipkan di lengan Hendra saat itu. Nilam memang kecewa bahkan sangat kecewa tapi dia bisa berbesar hati untuk memaafkan suaminya dan kini hatinya menjadi tenang dan dia merasa sangat bahagia.



"Terima kasih, Ma," wajah Hendra sedikit menoleh melirik kecil ke arah wajah istrinya yang terlihat tersenyum.



Mungkin memang benar, dia harus bisa melupakan semua yang terjadi sebelumnya supaya kedepannya dia juga bisa bahagia tanpa ada rasa bersalah juga rasa penyesalan.



Dikecup sebentar kening Nilam, menyalurkan sisa-sisa cinta yang dulu begitu besar dan kini kembali dipupuk supaya bisa kembali subur seperti sedia kala.



"So sweet, romantisnya. Mama dan Papa membuat Dimas iri saja. Kapan aku bisa mesra-mesraan seperti kalian berdua," Kedatangan Dimas begitu mengejutkan mereka berdua, sampai-sampai mereka langsung melepaskan diri dari satu sama lain.



"Datang-datang itu ucap salam, Dimas. Bukan malah mengomentari orang," ucap Hendra dingin bin kesal.



"Lagian kalau kamu pengen juga cepatlah nikah dong. Masak iya kalah sama Mama dan Papa yang sudah tua," imbuh Nilam.



"Hem..., bukannya kalah, Ma. Tapi belum menemukan jodohnya saja."



"Oh iya Ma. Raisa sangat berterima kasih. Makanannya sangat enak katanya," ucap Dimas.



"Alhamdulillah kalau kamu menyukainya."



"Loh, kok aku?"



"Iya, bukankah kamu menyukai gadis itu kan? cepatlah bawa dia pulang sebagai istrimu. Jangan sampai menyesal kalau di embat sama orang lain," ucap Nilam lagi yang berbelok cukup jauh.



"Hadeh, sudahlah. Dimas mau istirahat, Dimas capek. Mama sama Papa kalau mau lanjut sok atuh. Balapan sama Arini bikin dedek bayi," Dimas cepat beranjak dan bergegas pergi.



"Kamu nggak mau ikutan juga? siapa tau nanti kamu yang menang loh," gurau Hendra.



"Mau sama siapa, nyamuk?"



"Hahaha..., kelamaan jomblo sih kamu, Dim Dim," Hendra ataupun Nilam hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi anak laki-lakinya itu.

__ADS_1



Bersambung..


__ADS_2