Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
187.Tidak boleh terjadi


__ADS_3

Happy Reading...


~|~~


Sepulang kerja Melisa terus mondar-mandir di rumahnya, di juga terus keluar masuk dari satu ruang ke ruang yang lain. Dengan membawa kresek yang di dalamnya terdapat buah-buahan masam yang tadi pagi sempat di pesan oleh Fara, ya! Melisa tengah mencari Fara yang kini entah ada di mana.


Melisa tampak bingung, dia berhenti dan berdiri dengan mata celingukan mencari keberadaan Fara tapi tetap saja adiknya itu tidak kunjung dia temukan.


"Fara kemana sih?!" ucapnya dengan nada yang sangat kesal.


Lelah-lelah sepulang kerja dan dia fokuskan untuk mencari Fara tetapi lelahnya sama sekali tak membuahkan hasil. Fara sepertinya tidak ada di rumah.


Saat Melisa hendak kembali berjalan matanya menangkap Bi Ani yang tengah masuk dengan membawa pakaian yang habis di jemur. Melisa cepat menghentikannya untuk bertanya tentang keberadaan Fara juga kedua orang tuanya.


"Bi, Bi Ani tau di mana Fara nggak?" suaranya terdengar sedikit berteriak, karena Melisa takut kalau dia tak berteriak Bi Ani pasti tidak akan dengar.


Langkah dari Bi Ani berbelok, tadi dia berjalan lurus hendak pergi ke ruang setrika terapi karena mendapatkan panggilan dari Melisa dia urung dan kini berganti ke arah Melisa yang berdiri dengan satu tangan berkacak pinggang.


"Non Melisa mencari non Fara?" tanya Bi Ani dan Melisa mengangguk angkuh.


"Non Fara ketahuan kalau dia sedang hamil, Non. Terus kata bapak dia harus menemukan laki-laki yang telah membuatnya hamil, kalau non Fara gagal menemukannya, maka non Fara harus pergi dari rumah ini. Dia tidak boleh kembali lagi ke rumah ini," ucap Bi Ani menjelaskan.


Melisa terbelalak, dia sangat pusing sekarang. Jika benar Fara angkat kaki dari rumah itu rencananya bisa gagal total. Dia tidak akan pernah lagi mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu menikah dengan Arya dan menjadi nyonya Gautama.


"Sial," tangan Melisa mengusap wajahnya dengan sangat kasar, dia sangat bingung sekarang.


"Nih ambil!" kresek yang seharusnya dia berikan kepada Fara kini dia berikan kepada bi Ani dengan sangat kasar.


Melisa cepat melenggang, dia berniat untuk mencari Fara dia harus bisa membawanya pulang kalaupun tidak dia harus tetap membuat Fara berada di tangannya dan mengendalikannya. Melisa sangat membutuhkan Fara, dan yang paling utama dia sangat membutuhkan anaknya Fara.


"Non! Non mau kemana?!" suara bi Ani dengan setengah berteriak. Matanya terus memandangi kepergian Melisa dengan langkah yang sangat cepat.


Melisa tak menjawab, dia terus melangkah pergi membawa tekat yang sudah bulat untuk menemukan Fara.


"Ini tidak boleh di biarkan, aku harus bisa menemukan Fara atau kalau tidak semua rencana ku akan gagal." batin Melisa.


Sementara bi Ani kini tersenyum kecil menyunggingkan sebelah bibirnya yang di susul dengan menggigit buah kedondong yang tadi di berikan oleh Melisa.

__ADS_1


"Puyeng-puyeng deh sana! siapa suruh suka jailin orang. Jadi perempuan juga jangan keras-keras kayak batu, sekali saja kena palu ambyar kan?!" gumam bi Ani.


"Kapan tugasku akan beres, udah bosan aku di sini. Hadehhh..." bi Ani hanya geleng-geleng kepala, cukup melelahkan memang berada di tengah-tengah orang yang tak tau aturan hidup. Yang bisanya hanya menyombongkan diri juga tak bisa saling empati kepada orang lain.


***~


Lelah rasanya seharian mencari orang yang sama sekali tidak di ketahui di mana keberadaannya. Fara sudah terus berputar-putar mencari di mana Nando berada tetapi dia tak kunjung menemukannya.


Berkali-kali Fara mengusap keringat yang terus mengalir keluar tetapi rasanya keringat itu tak pernah ada habisnya dan terus membasahi sekujur tubuhnya yang mulai kelelahan.


Fara istirahat sejenak, dia duduk di bangku pinggir jalan. Tangannya bergerak untuk membuka tutup botol air mineral, di angkatnya lalu diteguknya air yang hanya tinggal sedikit. Setelah habis Fara langsung melemparkannya ke tempat sampah yang tak jauh dari dia duduk.


''Nando, kamu ada di mana? kenapa kamu pergi meninggalkan aku sendiri di sini dan sedang mengandung anak mu, anak kita,'' Fara begitu resah, pikirannya sangat kacau dan sepertinya dia semakin kehilangan arah.


Penyesalan memang akan selalu datang setelah semuanya terjadi, begitu yang Fara alami sekarang. Dia sangat menyesal, ingin sekali dia menangis sejadi-jadinya mengeluarkan semua kekecewaan yang Nando lakukan tetapi kenapa rasanya matanya sangat kering dan tak bisa dia mengeluarkan air matanya.


Jauh mata memandang dia melihat gadis berhijab, tubuhnya kecil sama seperti Arini. Gadis itu tak sendiri karena ada seorang cowok dengan berpakaian sangat rapi.


Rasa menyesal semakin menyelimuti dia tak akan menjadi seperti ini kalau dulu dia mendengarkan apa yang Arini katakan padanya.


''Aku ngaku salah, aku khilaf,'' kali ini dia benar-benar menangis. Air matanya begitu deras keluar dari pelupuk mataya yang indah.


Fara kembali beranjak dia harus bisa secepatnya menemukan Nando sebelum waktu berganti.


``~~


Bukan orang lain yang Fara lihat tadi mereka adalah Nisa juga Toni yang kini tengah berjalan berdua setelah mereka menyelesaikan tugas mereka masing-masing.


Keduanya tampak malu-malu dalam diam, mereka juga jalan berdampingan.


Bukan adanya maksud tertentu yang lebih pasti, acara jalan mereka hanya karena Toni ingin berterima kasih karena Nisa telah membantunya kemarin.


Berkat Nisa dia bisa mengambil rambut Nilam hingga akhirnya tes DNA berjalan dengan lancar sesuai yang Toni rancang sebelumnya.


"Dengan apa aku harus berterima kasih padamu?" meski berusaha menjadi pria yang lebih hangat juga humble tetapi Toni tetap tidak berhasil. Sifat dinginnya masih sangat melekat dalam dirinya, sama persis dengan bosnya yang selalu saja dingin.


Tetapi dalam diri Toni tidak terdapat keangkuhan seperti Arya, dia hanya dingin juga lebih irit dalam bicara.

__ADS_1


"Tidak ada, seharusnya ini pun juga tidak harus terjadi. Aku sudah ikhlas membantu, aku senang dengan sedikit yang aku lakukan bisa mengungkapkan rahasia besar," Nisa menoleh, dia juga melirik kecil ke arah Toni yang kini hanya mengangguk.


Keduanya kembali berjalan dengan langkah pasti, mencari tempat yang pantas untuk mereka makan atau sekedar minum. Dan tentunya untuk ngobrol.


"Mau makan?" tanya Toni dengan dingin tentunya.


"Saya sudah makan, tadi. Tapi saya akan temenin Tuan kalau Tuan Toni ingin makan," jawab Nisa.


Toni mengangguk mengerti, dia juga sudah makan sih sebenarnya tetapi dia katakan juga sekedar untuk basa-basi.


Toni sangat bingung, dia sama sekali belum pernah jalan dengan lawan jenis seperti sekarang ini. Memang tidak buruk sih, tapi susah untuk menyesuaikannya.


Diamnya Toni membuat Nisa juga merasa sangat canggung, Nisa juga sangat bingung mau bicara apa karena itu juga kali pertama untuknya.


"Saya mau pulang saja, Tuan," ucap Nisa, mungkin itu yang lebih baik.


"Hem..., biar saya antar."


"Hemm..."


Kring.... kring.... kring....


Belum juga kaki melangkah, ponsel Toni berdering. Toni urung untuk melangkah dan memilih menerima telfon lebih dulu.


"*Datang ke apartemen lima menit mulai dari sekarang. Ajak Raisa, OB temannya Arini. Sekarang!"


Tut.... tut... tut*...


Ponsel di matikan sebelum Toni menjawabnya. Kini Toni semakin bingung, tadi dia menawarkan untuk mengantar Nisa tapi sekarang? sepertinya tidak akan bisa.


"Kenapa?" tanya Nisa.


"Sa-saya minta maaf, saya harus pergi. Tuan Arya...?"


"Oh, saya mengerti. Saya bisa pulang sendiri kok."


"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Toni menyesalkan.

__ADS_1


senyum kecil keluar dari Nisa, dia juga tidak bisa memaksa karena Arya lebih penting daripada dirinya yang bukan siapa-siapa.



__ADS_2