
Happy Reading...
"Maafin Papa," rasa bersalah Hendra membuat dia kini menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan anak gadisnya, "Papa yang bersalah, maafin Papa," Hendra terus menunduk.
Rasa bersalahnya begitu besar hingga membuat dia begitu tak berdaya. Hendra juga terus menangis dalam kesalahan juga penyesalan.
"Papa minta maaf," ucapannya semakin tak terdengar lagi di telinga Arini.
Sementara Arini terus melangkah mundur, dia begitu kecewa dengan kenyataan yang dia dapat hari ini. Tak terpikir sebelumnya kalau ternyata orang yang selama ini dia kenal dengan sangat baik dia adalah ayahnya sendiri yang telah tega membuangnya.
Langkah Arini terhenti karena punggungnya menabrak Arya, hampir saja Arini terjatuh tapi dengan cepat Arya menahannya di tubuhnya.
"Dia sudah sangat menyesal, apakah kamu tidak mau memaafkannya? bukankah kamu ingin sekali bertemu dengan keluargamu, dan sekarang Allah mengizinkanmu bertemu dengan mereka," ucap Arya yang masih terus menahan kedua bahu Arini.
"Tapi, pak Tuan?" Sejenak Arini menoleh ke belakang dan begitu jelas dia melihat Arya yang tersenyum memberikan kekuatan.
"Kamu sendiri yang selalu mengatakan, kalau Allah saja Maha Pemaaf, apakah kamu tidak bisa memaafkannya?" imbuh Arya menasehati.
Arini masih diam dalam kebingungan. Dia sangat merindukan mereka, dia juga bersyukur karena ternyata keluarganya adalah orang yang sangat baik, tapi kenapa hatinya masih sangat sakit.
"Apakah Arini harus memaafkannya?" tanya Arini kepada Arya, dan laki-laki yang masih berada di belakangnya mengangguk.
"Ya, kamu harus memaafkannya. Kamu juga harus bahagia," jawab Arya.
Arini melepaskan diri dari Arya, berjalan ke arah Hendra yang lama-lama menjadi berlari.
"Papa," Seketika Arini menjatuhkan diri di sisi Hendra berlutut lalu memeluk Hendra yang masih terus menunduk dengan sangat erat.
"Arini sangat merindukan Papa," ucap Arini yang akhirnya kini dia menangis saat memeluk Hendra.
Hendra juga tak dapat menahannya lagi, hingga gelombang besar dari matanya menyapu rata pipinya.
Hendra juga langsung memeluk Arini dia sangat senang karena Arini memaafkannya tapi tetap saja masih terselip rasa penyesalan yang akan selalu membekas dan tak akan pernah bisa hilang.
Dimas juga Nilam mendekat, mereka juga langsung memeluk Hendra juga Arini hingga suasana begitu haru biru dengan bersatunya lagi Arini dengan keluarganya setelah sekian lama.
Setetes bening keluar dari mata Arya dengan cepat dia juga langsung menghapusnya dengan ibu jari kanan.
"*Kamu berhak bahagia Arini. Kamu harus bahagia," batin Arya*.
__ADS_1
"Anda telah berhasil, Tuan. Terimakasih karena sudah menyatukan Arini dengan keluarganya," ucap Raisa yang berdiri tepat di belakangnya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Aku ingin dia bahagia."
"Apakah pesta ini sebenarnya untuk memberikan kejutan kepada Arini?"
"Ya, salah satunya memang untuk Arini. Tapi juga untuk membuat semua orang terkejut. Bukan itu saja, karena ini juga pesta ulang tahun Arini, Dan yang paling penting adalah..?"
"Hem....!"
Rasa syukur selalu Arini ucapkan dalam hati, akhirnya dia bisa bertemu dan berkumpul dengan semua keluarganya lagi.
Akhirnya Allah menjawab doa-doanya, dia ingin sekali bertemu mereka dan sekarang semua telah Allah wujudkan melalui Arya sebagai perantaranya.
"Selamat ulang tahun, Arini Khumaira!" seru Raisa seraya mendorong kue ulang tahun yang begitu besar. Bahkan kue itu lebih besar daripada dirinya sendiri.
Arini yang terus berada di tengah-tengah keluarganya hanya bisa melongo melihat kue yang begitu besar berwarna biru berpadu dengan putih itu, bukan hanya itu saja, tapi ada namanya juga yang terdapat di sana membuat Arini begitu senang.
" Benarkah itu namaku?" ucapnya dengan girang tapi tetap tak pernah percaya.
"Ya, itu adalah namamu, Sayang. Arini Khumaira," jawab Nilam seraya mengelus lembut kepala Arini.
"Ternyata Tuan Arya benar-benar sangat mencintai Arini, kalau tidak tidak mungkin dia akan membuat pesta yang semewah ini untuk ulang tahunnya. Ternyata baku salah karena telah mencurigai dia yang tidak-tidak," batin Dimas.
Dimas terus memandangi Arini yang sangat bahagia, begitu juga dengan Nilam yang juga sama. Sungguh Dimas lebih bahagia dari mereka berdua.
Dimas mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang kini tak terlihat.
"Tuan Arya di mana?" gumamnya.
Tak melihat Arya membuat Dimas tidak tenang, dia ingin pergi dari sana tapi di cegah oleh Raisa yang seketika menarik pergelangan tangannya.
"Tuan mau kemana, ini adalah acara ulang tahun Arini yang pertama di keluarga Tuan loh! masak iya mau di tinggal pergi," ucap Raisa.
"Hem..." bukannya menjawab Dimas malah melihat tangan berganti dengan wajah Raisa yang begitu berani memegang tangannya.
"Ma- maaf," Raisa tergagap setelah sadar kalau tangannya telah lancang. Dia hanya berpikir kalau Dimas tak sepantasnya pergi saat acara hampir di mulai kan?
"Hem," Dimas mengangguk, dia urung mencari Arya karena ucapan Raisa memang benar. Arini pasti akan sangat sedih kalau dia pergi di saat hari bahagianya.
Acara benar-benar di mulai, hingga akhirnya Arini begitu bingung saat di suruh untuk memotong kuenya. Bagaimana dia akan memotong kue yang begitu besar.
Bukan itu saja, tapi Arini juga merasa eman kalau kue yang terlibat indah itu harus di potong.
"Sayang, di potong kuenya," pinta Nilam.
"Arini sayang, di potong kuenya," susul eyang Wati.
Arini menoleh dengan bergantian ke arah kedua perempuan beda generasi itu.
"Tapi, Ma, Eyang. Sayang kalau di potong kuenya. Mbaknya yang buat pasti sudah capek-capek demi bisa menyelesaikan satu kue ini, apalagi menjadikan kue yang sangat indah seperti ini bagaimana mungkin akan di potong begitu saja," jawab Arini yang terlihat sangat sedih.
Keduanya tersenyum bahkan bukan hanya mereka tapi semua yang ada juga ikutan tersenyum bahkan tertawa.
"Tidak apa-apa Arini, potong saja," kini Luna berbicara.
Akhirnya Luna berbicara dengan sangat lembut juga pada Arini.
Dengan berat hati Arini memotongnya, satu potongan kecil berhasil mendarat di piring kecil berwarna putih.
"Potongan pertama untuk siapa, Sayang?" tanya Nilam.
"Yang pertama...?" Arini berpikir dengan sangat keras. Siapa yang lebih pantas mendapatkan potongan kue yang pertama. Semuanya mereka sayang, tapi hanya ada satu orang saja yang begitu membuat dia sangat bahagia, dan sepertinya dia juga sangat menyayanginya.
Arini mengedarkan pandangannya mencari orang itu yang sungguh tidak terlihat.
__ADS_1
"Kamu mencari siapa, Sayang?"
Arini sangat terkejut saat tiba-tiba Nilam menyentuh bahunya. Dia belum juga menemukan orang yang dia cari tapi Nilam sudah mengejutkannya.
"Hem...?"
Nilam juga yang lainnya ikut bingung, sebenarnya siapa yang Arini cari sampai-sampai dia terlihat sangat serius.
Senyum Arini mengembang saat dia melihat orang yang di cari tersenyum di ujung ruangan dengan melihatnya, menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangan di depan dada.
Tak menghiraukan siapapun lagi Arini langsung berjalan, menerjang para tamu yang sontak minggir saat Arini akan lewat.
Semua mata tertuju pada Arini, entah kemana dia akan membawa potongan kue yang pertama itu, entah untuk siapa juga.
Semua terus mengamati hingga akhirnya Arini berhenti di depan Arya.
"Arini, kamu kenapa ke sini, bukankah acara ulang tahunmu ada di sana?" tanya Arya seraya menurunkan tangan dan menjauhkan punggungnya dari dinding dan berdiri dengan tegak.
"Hem..., Arini hanya? Arini hanya mau memberikan potongan kue pertama untuk Pak Tuan."
"Kenapa untuk ku? kenapa tidak untuk Mama, Papa atau kakakmu? mereka adalah keluargamu sementara aku?"
"Pak Tuan adalah pahlawan Arini. Pak Tuan juga segalanya untuk Arini. Apakah Pak Tuan mau menerima ini dari Arini?" Arini menyodorkan kue itu kepada Arya.
"Tidak, aku tidak akan menerimanya," jawab Arya yang seketika membuat Arini kecewa.
Apakah mungkin Arya memang tidak mau menerimanya? lalu untuk apa dia melakukan semua ini untuknya?
Arini cemberut, wajahnya berubah masam tak semangat. Arini sangat sedih tentunya.
"Aku tidak mau menerima kue itu begitu saja, aku maunya kamu yang suapin aku," ucap Arya di sambung dengan senyum penuh harap.
Arini mengangkat wajahnya dengan sangat sumringah, dia begitu senang ternyata Arya mau menerimanya. Tak masalah kalau dia harus menyuapinya. Mungkin hati Arini tengah di selimut dengan kebahagiaan.
"Baiklah," tangan Arini langsung bergerak, mengambil sendok kecil dan memotong kue itu, "akk...!"
Mata memandangi wajah Arini tanpa berkedip, tapi mulut langsung menganga dan menerima suapan dari Arini.
"Manis dan cantik," celetuk Arya.
"Hem... apa?" tanya Arini cepat.
"Kamu cantik," jawab Arya lebih menjelaskan. Kalau tidak jelas mungkin Arini akan berpikir kalau kuenya yang manis dan cantik.
Arini tersenyum malu, biasanya Arya memang selalu menggodanya tapi saat mereka hanya berdua saja tapi sekarang? mereka bahkan menjadi tontonan dari ratusan tamu undangan termasuk keluarga Arini sendiri.
Arya mengangkat tangan mengambil sisa kue yang ada di piring. Arya langsung menyodorkannya untuk Arini, "Akk..." Arya hendak menyuapi Arini dengan tangannya sendiri.
Arini terdiam, dia masih harus berpikir.
"Tenang, tanganku tidak kena burik," gurau Arya.
Arini melongo mendengar Arya mengatakan itu, padahal Arini juga tidak berpikir sampai sejauh itu. Arini hanya takut saja kan, mereka berdua belum apa-apa bagaimana kata orang nantinya kan?
"Akk.." seru Arya lagi dengan lebih jelas.
Mulut Arini perlahan bergerak, dia membukanya dan menerima suapan dari Arya juva matanya terus memandangi mata Arya yang terlihat begitu banyak cinta di dalamnya.
"Terimakasih, Pak Tuan," ucap Arini setelah berhasil menerima suapan dari Arya.
"Hem..." sisa kue yang masih ada di tangannya kembali dia sodorkan pada Arini, hingga sampai beberapa gigit lagi.
"Sudah," ucap Arini saat Arya masih saja terus menyuapinya.
"Hem.." Arya ikut saja. Sisa yang hanya tinggal sedikit langsung Arya makan sendiri membuat semua orang menganga tak percaya dengan apa yang Arya lakukan.
"Pak Tuan, kok di makan sih!" protes Arini.
"Daripada mubazir," jawabnya begitu enteng.
"Tapi kan....?"
"Sudah, aku tidak akan sakit perut juga kan setelah makan ini?"
"Hem.." Arini mengangguk. Semua memang benar sih.
Pemandangan yang bikin iri para kaum jomblowan dan jomblowati, ngiler pokoknya dah mereka.
__ADS_1
Bersambung...