Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
198.Sebentar Lagi


__ADS_3

Happy Reading...



Begitu bahagia Nilam sekeluarga, akhirnya anak yang sudah lama mereka anggap telah tiada ternyata masih hidup, bahkan kini sudah kembali ke rumah juga kehidupan mereka.



Senyum terus mengembang dari mereka semua. Bukan itu saja, Nilam juga terus merangkul Arini dan tak pernah melepaskan sedikitpun.



Arini menghentikan langkah saat sampai di depan rumah yang sangat mewah. Arini terperangah, dia begitu mengagumi rumah yang sangat indah itu.



"I-ini rumah Mama?" mata Arini terpaku melihat begitu indah dan besarnya rumah kedua orang tuanya. Bahkan rumah Marta juga Ratna yang begitu besar tak sebanding dengan rumah mereka.



Keindahannya juga tak bisa secuil saja di tandingi, rumah mereka benar-benar sangat mewah dan megah.



"Iya, Sayang. Ini rumah Kita," Nilam begitu senang. Rasa lesunya sekarang telah terganti dengan rasa semangat. Dia begitu bahagia dengan kembalinya Arini.



"Kita masuk yuk, ini sudah malam kita harus istirahat," ajak Nilam.



Mereka kembali melangkah dan masuk ke rumah mewah itu. Arini semakin terpaku setelah sampai di dalam, rumahnya sungguh sangat sempurna bagi Arini.



"Selamat datang, Non," sapa salah satu asisten rumah yang menyambut kedatangan Arini.



"Selamat datang, Non."



"Selamat datang, Non," semua menyapa Arini, mereka juga begitu senang karena akhirnya rumah itu akan kembali hangat dengan kebahagiaan.



"Saya Arini Khumaira, bukan Non," jawab Arini. Dan mulai lagi kebodohan Arini, kumat lagi kan? Padahal Non bukan sebuah nama melainkan panggilan dari mereka.



"Iya, nama kamu memang Arini Khumaira dan mereka memanggil mu dengan sebutan Non, Non Arini," Dimas menjelaskan.



"Nama Arini sudah di ganti?" mata Arini terus menoleh dengan bingung. Apalagi melihat kedua orang tuanya juga kakaknya malah tersenyum geli.



"Sudah sudah," Nilam melerai.



"Bi, apa kamar Arini sudah di bersihkan?" tanya Nilam.


__ADS_1


"Sudah, Nya. Semuanya sudah di siapkan," asisten mengangguk.



"Yuk biar Mama antar ke kamar kamu, ini sudah malam, kamu harus istirahat," Nilam kembali menuntun Arini, berjalan menuju kamar yang sudah di siapkan di lantai dua. Namun baru saja beberapa langkah mereka kembali berhenti.



"Saya pamit dulu, Ma. Gerah, mau mandi dulu," pamit Dimas.



"Papa juga, Ma. Papa sangat lelah," susul Hendra, "selamat istirahat ya, Sayang. Bertemu lagi besok pagi," direngkuhnya kepala Arini lalu memberikan kecupan sekejap di puncak kepalanya.



"I-iya, Pa. Selamat malam," jawab Arini.



Dimas juga Hendra pergi bersamaan. Sementara Arini bersama Nilam juga langsung menyusul pergi dari ruangan itu.



Lagi-lagi Arini di buat terperangah dengan kamar barunya. Kamar yang sangat luas juga kasur sangat besar. Hampir sama dengan tangan ada di apartemen Arya, hanya warnanya saja yang berbeda.



"Ini kamar kamu, Sayang," ucap Nilam.



Arini masih diam tak menjawab, kakinya terus melangkah mendahului Nilam sementara matanya tak pernah berkedip.




"Ini sangat indah, Ma. Bagaimana mungkin Arini tidak menyukainya?" jawab Arini.



"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang istirahatlah Mama juga mau istirahat. Kamar Mama ada di ujung kanan sementara kamar kak Dimas ada di sebelah kiri kamar ini. Kalau butuh apa-apa atau ada yang mau kamu tanyakan bisa panggil Mama atau kak Dimas," ucap Nilam.



"Baik, Ma," jawab Arini patuh.



Nilam keluar, dia juga langsung menutup pintu sebelum dia pergi.



Sementara Arini, dia masih terus mengamati setiap sudut. Kakinya mulai berjalan lalu duduk di kasurnya yang sangat empuk. Sangat jauh berbeda dengan kamar saat dia berada di rumah Marta dulu.



Pahit-pahit dahulu manis kemudian. Itulah yang Arini alami sekarang. Dulu dia tersiksa dengan semua perlakuan Marta sekeluarga, mendapatkan perlakuan lebih buruk daripada pembantu rumah tangga. Tapi sekarang?



Arini seperti putri raja yang mendapat kasih sayang penuh dari semua orang, mendapatkan cinta dari orang-orang yang masih sangat baru menurutnya.



Roda sudah berputar, membawanya dari tempat terendah dan menjunjung nya sampai di tempat paling tinggi.

__ADS_1



"Apakah aku hanya mimpi?" gumamnya tak percaya dengan apa yang telah terjadi padanya saat ini.



Kebahagiaan demi kebahagiaan telah datang, menggantikan luka lama yang masih sangat membekas.



Arini kembali melangkah, mendekati meja rias yang terdapat kaca besar. Kayu yang menjadi bahannya juga kayu yang sangat istimewa dengan ukiran yang sangat indah.



Arini kembali melangkah, mendekati lemari kaca yang memperlihatkan semua baju-baju seukuran dengannya, apakah mungkin itu di siapkan untuknya?



Arini membuka lemari itu dengan cara menggeser nya, mengambil satu baju tidur, dia coba di tempel di tubuhnya dan ternyata pas, berarti memang itu semua baju yang sudah si siapkan untuknya.



Arini yang sudah selesai mengagumi semua tempat kini pergi dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.



Tak lama Arini kembali keluar dengan baju yang sudah ganti, meskipun di kamar sendiri Arini tetap masih enggan untuk membuka hijabnya, dia masih setia menutup rambutnya.



Perlahan-lahan tubuh mulai di rebahkan, menarik selimut tebal berwarna biru bergambar bunga-bunga. Sejenak matanya melihat langit-langit, Arini mengangkat tangannya sendiri, mendekatkan pada wajahnya.



Senyum simpul keluar dari bibirnya. Cincin yang melingkar di jari manisnya adalah tanda bahwa Arini telah ada yang memiliki. Dan sebentar lagi statusnya akan berganti menjadi seorang istri.



"Semoga Allah memudahkan jalan bersatunya kita, Pak Tuan. Meski aku sudah sangat bahagia bisa kembali ke keluarga ku, tapi aku masih tetap meminta Pak Tuan untuk ku. Ya Allah, restui lah kami," ucap Arini di sambung dengan mencium cincin dari Arya.



Arya menghempaskan tubuhnya di kasur besar miliknya di rumah utama, kali ini dia bersedia untuk pulang dia juga tidak mau berada di apartemennya karena dia pasti akan kesepian karena tak ada Arini di sana.


Pikirannya terus berkelana, membayangkan semua tentang Arini tentang gadisnya yang satu minggu lagi akan dia nikahi, yang akan menjadi istrinya yang sah dan menyandang gelar nyonya muda Gautama.


"Satu minggu kenapa rasanya begitu lama, kenapa tidak besok saja kita menikahnya. Aku bisa menyiapkan semuanya dengan singkat, tapi kenapa tidak bisa besok?" gumam Arya yang sangat tak sabar.


Dia benar-benar merasa kesepian tanpa Arini. Padahal baru beberapa menit saja mereka berpisah tapi rasanya sudah cukup lama.


"Seharusnya aku juga tidak memperbolehkan kamu ikut dengan orang tuamu, aku lebih membutuhkanmu, Arini," imbuhnya lagi.


Arya tak berpikir kalau orang tuanya juga membutuhkan Arini, kebersamaan mereka dalam satu minggu itu sangat singkat bagi mereka, apalagi itu masih di potong Arini yang akan pergi-pergi dengan Arya. Tak lama kan?


"Alhamdulillah, sebentar lagi aku akan memilikimu, Arini. Kita akan bersatu dan hidup bersama dan terus saling beriringan menjalani sisa umur kita."


Harapan yang kini begitu di prioritaskan oleh Arya. Bahkan semua yang sudah biasa dia jalani dia kalahkan hanya untuk tercapainya keinginan Arya.


Tangan meraih ponsel yang ada di sebelahnya, membukanya dan terlihat jelas foto dirinya juga Arini.


Senyum keluar dari Arya, melihat wajah Arini yang terlihat bahagia karena ulahnya.


"Kamu akan bahagia, Arini. Aku akan lakukan segalanya untuk kebahagiaanmu."



Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2