Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
176.perdebatan Raisa Dan Dimas


__ADS_3

Happy Reading...



Dimas juga Raisa masih terus mencari Arini, dengan mengendarai mobil Dimas keduanya terus berkeliling kota meski sampai malam, mereka tetap belum juga mendapat petunjuk tentang keberadaan Arini.



Mata keduanya sesekali melihat arah jalan juga sesekali melihat arah sekitaran yang di lalui mereka tidak ingin sampai melewatkan satu tempat saja.



"Astaga, kamu di mana sih, Kring?" ucap Raisa.



Ucapan yang seketika menarik perhatian dari Dimas yang duduk di sebelahnya. Bukan apa-apa tetapi panggilan itu sangat tidak di sukai oleh Dimas dan sekarang Dimas terlihat sangat kesal karena ucapan Raisa itu.



"Panggil siapa kamu?" pertanyaan Dimas terdengar begitu sengit, dia tidak suka dengan panggilan sayang dari Raisa yang hanya untuk Arini seorang.



Mata Raisa memicing kecil ke arah Dimas, pria itu memang terlihat sangat tampan tetapi kenapa sekarang malah terlihat begitu judes sekali? Sepertinya Raisa yang membuat kesalahan.



"Panggil Cungkring, emang siapa lagi, kamu?" jawab Raisa sinis.



"Namanya bukan cungkring tetapi Arini, jangan sembarangan deh loh dia itu adek gue," Dimas mulai memperlihatkan kekesalannya.



Tangan terus sibuk dengan setir sementara mata sesekali melirik ke arah Raisa dan berganti ke arah jalan dan arah sekitar.



Dimas benar-benar tidak rela karena Raisa yang memanggil Arini dengan sebutan cungkring, padahal Raisa memanggil dengan nama itu juga bukan karena dia membenci Arini tetapi malah sebaliknya.



"Iya, dia memang adek loh yang loh sendiri telat menyadarinya. Kalau gue, dia sudah menjadi adek gue jauh sebelum dia kenal sama loh dan di saat semua orang menghindarinya."



Raisa memang suka ceplas-ceplos dan sering bicara asal tetapi tidak untuk kali ini, dia memang benar-benar sudah sejak lama menjadikan Arini sebagai adiknya.



"Adik adik, dia bukan adek loh kali," Dimas pun tak kalah sinis. Keduanya terus berebut sama-sama ingin mengakui Arini sebagai adik mereka.



Baru saja selesai berbicara mobil berhenti, tatapan mata Dimas seakan mengintimidasi Raisa yang kini mengernyit karena bingung.



"Kenapa berhenti?" tanya Raisa yang sontak menoleh.



"Turun, bukannya menemukan Arini malah jadi emosi karena kamu yang terus berisik, turun!" seloroh Dimas begitu sadis.



Raisa terperangah, begitu tega sekali Dimas mengusirnya dan menyuruh dia turun dari mobil, padahal ini sudah sangat malam tempatnya juga sangat sepi.

__ADS_1



Raisa juga sangat terkejut, laki-laki yang terlihat lemah lembut ternyata tak ada kasihan juga sama perempuan bahkan tega menurunkannya di jalan raya yang sepi.



"Loh tega nurunin gue di sini?!" pekik Raisa tak percaya.



Mata Raisa membulat memandangi Dimas yang juga sama, membulatkan matanya seolah menantang tak takut kepada Raisa.



"Dasar laki-laki kejam!"



"Sudah, jangan banyak bicara. Turun turun! Aku mau fokus mencari adek gue. Cepat!"



"Hihh..!" Raisa begitu geregetan karena melakukan Dimas yang benar-benar tidak dia sukai. Sungguh keterlaluan memang tuh Dimas. Tega bener.



"Turun!" Dimas semakin tak sabar.



"Iya iya! Awas saja kau ya. Semoga ban nya kempes semua, atau kalau bisa gelinding lebih dulu!" sinis Raisa mendoakan keburukan kepada Dimas.



Tangan cepat membuka pintu mobil dan Raisa keluar dari sana dengan cepat.




"Dasar cowok nyebelin!" Raisa mengambil batu di lemparkannya ke arah mobil Dimas tetapi tidak berhasil mengenainya. Raisa semakin kesal karena itu.



Dengan malas Raisa mulai melangkah, entah kapan dia akan menemukan Arini atau mungkin akan sampai ke rumahnya yang jaraknya sangat jauh. Mana sepi tak ada orang juga tidak ada angkutan lain untuk di jadikan tebengan lagi, benar-benar sial Raisa hari ini.



Tau seperti ini pastilah dia tidak akan ikut dengan Dimas untuk mencari Arini. Niat baiknya kini di balas dengan cara yang sangat menyebalkan.



Sementara Dimas yang sudah melajukan mobilnya kini berhenti saat jaraknya belum begitu jauh.



"Bagaimana kalau ada orang jahat? Bagaimana kalau dia hilang? Ish...,sungguh merepotkan saja. Seharusnya aku tidak mengizinkan dia ikut kalau hanya berujung seperti ini."



Dimas kembali memundurkan mobilnya untuk kembali ke tempat Raisa, ternyata dia tak tega juga dengan Raisa. Dia pergi bersamanya kalau terjadi sesuatu pada Raisa pasti dia yang akan di salahkan.



Tiinnn....



"Naik!" Dimas berhenti tepat di sebelah Raisa yang berjalan, membuka pintu mobilnya dan kekeuh memintanya untuk kembali masuk.

__ADS_1



"Tidak? Aku tidak sudi naik mobilmu apalagi satu mobil dengan mu. Pergi saja sendiri nggak usah hiraukan Raisa!" Raisa yang sudah dongkol dia terus melangkah, dia sangat kesal dengan Dimas.



Seiring Raisa yang berjalan Dimas juga menjalankan mobilnya dengan pelan dan terus di sebelah Raisa.



"Masuk lah, nanti kita akan semakin lama menemukan Arini! Cepat naik!" Perintah Dimas menekankan.



"Nggak! Cari saja sendiri. Bukannya dia adikmu!" Sekali Raisa menoleh lalu kembali berjalan.



"Ayolah, ini sudah malam!"



"Tidak ya tidak! Nggak usah maksa gitu ngapa sih! Bukannya tadi situ sendiri yang nyuruh turun!"



"Iya, gue minta maaf. Sekarang cepat naik! Kita harus secepatnya menemukan Arini. Kasihan dia, dia pasti kedinginan di luar sana. Bagaimana kalau ada orang yang jahat padanya? Ayolah, jangan kayak anak kecil!"



"Siapa yang kayak anak kecil! Loh itu yang kayak anak kecil!"



"Masuk!"



"Tidak!"



Dimas menghentikan mobilnya dia turun, melangkah dengan cepat dan menarik tangan Raisa dan memaksanya untuk naik, kali ini dia harus tegas dengan Raisa.



"Masuk!" Cepat Dimas menutup pintu mobilnya setelah berhasil membuat Raisa masuk.



Begitu kesal Raisa pada Dimas, dia benar-benar laki-laki yang plin-plan.



Mobil kembali melaju, dan mereka berdua menjadi diam dalam keheningan di dalam mobil.



Rumah mewah yang begitu sangat besar bernuansa putih ala-ala Eropa. Itu adalah rumah Hendra sekeluarga.


Kakek Susanto juga Nenek Murni sementara di bawa ke sana, keduanya juga di layani selayaknya orang tua Hendra sendiri dan tak ada rasa risih dalam diri Hendra.


"Kalau berkenan, Tuan juga Nyonya tinggallah di sini selamanya. Setelah Arini ketemu kita bisa menjadi satu keluarga yang utuh. Arini juga akan bahagia karena bisa tinggal dengan kami selaku orang tuanya juga dia akan senang jika selalu bersama kalian," ucap Hendra.


"Maaf, kami belum bisa memberikan jawaban. Kami harus berunding dulu," jawab Kakek Susanto.


"Baiklah, tolong pertimbangan permintaan saya, ini juga demi kebaikan Arini."


"InsyaAllah..."

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2