
Happy Reading...
Arya juga Arini melangkah keluar dari hotel dengan terus berangkulan, setelah tadi ada kesalahpahaman kini keduanya sudah akur dan terus tersenyum.
Keduanya tidak makan malam di tempat yang jauh melainkan di tempat yang terdekat namun sangat terkenal dan sudah dipercaya bagaimana rasa makanannya.
Tak perlu menaiki kendaraan keduanya bisa sampai hanya dengan jalan kaki dan kali ini mereka sudah berada tepat di depan rumah makan yang sangat mewah.
Arya terus saja memeluk pinggang ramping milik Arini dia sama sekali tidak mau melepaskan apalagi sampai Kehilangan wanitanya yang sudah berhasil mengaduk-aduk hatinya.
Padahal mereka berdua sudah sampai tapi Arya belum juga menghentikan langkah membuat Arini terus mengikutinya dengan bingung.
"Mas, kita mau ke mana?" tanyanya heran dengan wajah yang langsung menoleh ke arah Arya yang seketika membalas dengan senyuman.
"Tempat kita bukan di sini sayang," jawab Arya dan semakin mengeratkan rangkulannya. Bahkan Arya juga iseng menggelitik pinggang Arini.
"Mas! geli!" pekik Arini dan seketika mengalihkan semua pasang mata yang ada di sana, dan tertarik untuk melihat.
Wajah Arini sudah berubah menjadi merah karena menahan malu, tapi suaminya itu? sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi apapun, alias DATAR.
__ADS_1
Arya tidak peduli, baginya semua yang dia lakukan benar dan tidak berdosa, jadi seharusnya tak menjadi masalah kan?
"Mas, aku malu," ucap Arini begitu lirih.
Ucapan Arini membuat Arya menoleh, dia ternyata punya hati juga dan merasa begitu sombong jika dia membiarkan Istrinya yang sudah berubah wajahnya.
Arya langsung melepaskan jasnya, menutupi kepala Arini dan mendekapnya semakin dekat. Bahkan Arini bisa mendengar nyanyian jantung milik Arya.
"Kamu kayak Bunglon, Sayang. Wajahmu bisa berubah-ubah sesuai keadaan," celatuknya.
"Aww! sakit, Yang!" bukan hanya protes tapi Arini juga langsung mencubit pinggang Arya kecil, membuatnya menjerit sakit.
"Kalau yang lain yang di cubit kecil enak, lah ini? bisa bentol loh, Yang," ucapnya, kayaknya ada yang melenceng dari ucapannya?
"Biarin bentol, lagian kalau ngomong suka asal!" Arini semakin menggemaskan kalau marah, membuat Arya ingin sekali menerkamnya. Untung saja ada di keramaian jadi Arini bisa selamat darinya kalau hanya di kamar berdua saja, Arya pastikan Arini akan habis olehnya.
"Maaf.Tapi, sejak kapan ya aku jadi begini? ngomong ngelantur, bucin naudzubillah, cengeng, aduh lama-lama aku jadi letoy nih," ucapnya.
__ADS_1
"Letoy apaan sih, Mas?"
Plakk...
"*Astaga aku lupa ngomong sama bocil. Bocil yang bisa di ajak produksi bocil, Hhhhh*..." *Arya hanya bisa terpingkal dalam hatinya*.
"Mas! Letoy itu apa?" Arini merengek karena dia semakin penasaran.
"Letoy itu makanan dari sayur hijau sayang, yang ada sawi juga wortelnya itu loh," jawab Arya.
"Emang ada?"
"Ada dong," kedua alis Arya naik turun secara bergantian, seneng banget dia mempermainkan istrinya dan membuatnya pusing tujuh keliling.
"Tutup mata kamu sayang," perintah Arya. Bukannya menutup mata tapi Arini malah membulatkan matanya dengan sangat bulat membuat Arya menggeleng kasar, "tutup mata sayang akuh," ucapnnya mengulang dengan tangan yang bergerak membantu istrinya menutup mata.
"Nanti kalau jatuh gimana?" Arini sudah bergidik ngeri membayangkan dirinya yang jatuh, pasti dia akan sangat malu karena menjadi tontonan banyak orang.
__ADS_1
Bersambung...