Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
246.Cemburu


__ADS_3

Happy Reading...


Hari terakhir Arini juga Arya berada di Bali. Kali ini mereka berdua tengah berkemas untuk kembali ke Jakarta, dan menyudahi bulan madu mereka untuk kali ini.



Mungkin mereka akan merencanakan lagi bulan madu kedua namun di tempat yang berbeda, ya untuk mencari suasana baru yang lebih indah.



Arini terduduk lemas, entah apa yang dia pikirkan saat ini tapi dia sama sekali tidak semangat membuat Arya begitu bingung dan akhirnya menyusul duduk di sebelahnya.



Ditatap mata sang istri dengan dekat tangannya langsung meraih tangan istrinya dan berkali-kali mengecupnya dengan sangat lembut.



"Ada apa sayang, kamu terlihat tidak bahagia. Apakah kamu masih ingin di sini? Kalau iya kita bisa undur kepulangan kita," ucap Arya.



Arini menggeleng dan ternyata bukan itu yang menjadi alasan kenapa dia begitu lemas sekarang. Ada hal lain yang terus mengganggu pikirannya.



"Lalu?" Arya makin mendesak. Dia ingin tahu apa alasan istrinya itu berwajah masam seperti sekarang ini.



Arya setia menunggu di saat Arini masih diam dengan bibir yang berkedut. Ditariknya nafas yang panjang oleh Arya, dia keluarkan perlahan melihat istrinya yang seperti ini.



"Kenapa, apakah aku perlu mentransfer energi supaya kamu kembali semangat?" tanya Arya.



Entah energi yang seperti apa yang Arya maksud. Tapi sangat diyakini itu adalah energi yang akan menguntungkan dirinya.



"Tidak mau, nanti bukannya pulang kita malah semakin lama di sini," jawab Arini dengan suara yang masih malas.



"Kalau begitu maka katakan apa yang membuatmu menjadi seperti ini," Arya semakin tak sabar menunggu apa yang akan istrinya itu katakan.



Dada Arini terlihat mulai terangkat sepertinya dia perlahan mulai menghirup udara dan menghembuskan perlahan. Mungkin setelah itu dia siap untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya sekarang.



Sementara Arya kembali mengecup punggung tangan istrinya dengan sangat mesra.



"Mas, bagaimana kalau nanti saat sampai di rumah Arini belum bisa memberi oleh-oleh dua garis yang diminta mama. Apakah Mas juga akan kecewa kepada Arini?" dan ternyata itulah yang menjadi pikiran Arini saat ini.

__ADS_1



Dia sangat takut kalau belum bisa memberikan apa yang diinginkan oleh kedua orang tuanya yang pasti juga yang diinginkan oleh Arya.



Arya tersenyum mendengar kata-kata dari Arin barusan.



"Jangan takut sayang, Mama ataupun Papa juga tidak mungkin akan marah karena kamu belum bisa memberi apa yang mereka inginkan. Lagian kita menikah juga belum satu bulan, kita masih banyak waktu untuk bisa mewujudkan semua itu."



"Jika nanti dikasih cepat ya alhamdulillah, tapi kalau belum dikasih mungkin Allah memiliki rencana lain dan mungkin kita harus belajar lebih dulu dan menata hati untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita."



"Kita bisa berusaha lebih keras lagi di rumah. Ya mungkin perlu kita tambahin jadwalnya. yang kemarin hanya lima kali kita bisa tambah menjadi enam, tujuh, atau bahkan sepuluh kali."



Mata Arini langsung mendelik mendengar perkataan Arya barusan. Sepuluh kali? astaga Arini benar-benar akan jadi perkedel jika benar itu terjadi.



"Ihh! enak di Mas nggak enak di aku dong!" jawabnya dengan suara keras.



Arya terkekeh melihat wajah panik Arini saat ini, benar-benar sangat menggemaskan bahkan tangan Arya sudah terangkat dan mencubit pipinya sebelah kanan.




"Ya sudah sekarang selesaikan beres-beresnya dan kita pulang. jangan sampai kita ketinggalan pesawat, oke!" Arya tersenyum manis sekali membuat Arini terpaku sejenak.



Sungguh dia sangat mengagumi suaminya yang begitu tampan manis dan begitu besar Mencintainya.



"Ada apa lagi?" Arya mengernyit melihat Arini yang seperti itu, "Oh aku tahu, mau minta ditransfer energi ya?" ucapnya.



Tanpa aba-aba lagi Arya langsung meraih kepala Arini dan mencium keningnya. Bukan hanya sampai di situ saja tetapi ciuman Arya semakin turun ke hidung hingga akhirnya berhenti tepat di bibir ranum milik Arini.



Cukup lama bibirnya bertahan di sana memberi kecupan yang cukup membuat keduanya kembali merasakan kenikmatan.



Arini yang hanya menerima perlakuan Arya tersebut membuat karya gemas hingga satu jarinya membuat ulah dengan menusuk perut Arini dan membuat mulutnya menganga.


__ADS_1


Dengan begitu senangnya Arya menjelajah mulut Arini dengan lidahnya dan mengabsen satu persatu giginya yang kuat. Tidak sampai di situ Arini yang merasa geli jadi menggerakkan lidahnya dan itu membuat Arya mendapatkan kesempatan dan kedua lidah itu menari-nari di dalam sana.



Cukup lama posisi itu membuat Arini tidak bisa bernafas, dengan cepat Arini mendorongnya lalu berebut nafas dengan Arya.



"Mas! Mas mau membuat Arini mati karena tidak bisa bernafas!" protesnya dengan sangat kesal.



"Tidak sayang, Mas kan hanya ingin mentransfer energi saja supaya kamu lebih semangat dan kita pulang dengan bahagia," jawab Arya dengan tanpa rasa bersalah.



"Ya sudah, yuk kita pulang. Suatu saat nanti kita bisa ke sini lagi atau mungkin kita mengunjungi tempat lain yang lebih indah," ucapnya.



Arya berdiri dan langsung menarik tangan Arini dan mengajaknya bergegas untuk pulang.



Berangkat hanya dengan satu koper saja tapi sekarang mereka pulang dengan membawa dua koper besar. Semua itu adalah barang-barang Arini yang diberikan oleh Arya berapa hari sebagai hadiah.


Di sana juga ada beberapa oleh-oleh yang sudah mereka beli khusus untuk keluarga mereka. bahkan Arini sendiri juga membelikan hadiah khusus untuk Raisa sahabat sekaligus Kakak perempuan baginya.


Keduanya begitu senang, senyum terus terpancar saat kaki melangkah masuk ke bandara. Kedua tangan mereka terus saling bergandengan sama sekali tidak terlepas meski hanya sekejap saja dan itu tentu membuat iri para kaum jomblo dan jomblowati yang melihat kemesraan mereka berdua.


Tapi tidak untuk beberapa saat setelah Arini duduk di bangku untuk menunggu waktu penerbangan tiba, saat itu Arya pamit pergi ke toilet sebentar dan Arini terpaksa duduk sendiri dan menunggu suaminya kembali.


Sepuluh menit Arya pergi ada seorang laki-laki yang datang menghampiri Arini. Satu bangku Kosong yang ada di sebelahnya membuat laki-laki itu berani mendekat karena dia juga ingin duduk.


Laki-laki itu begitu ramah sampai saat berada di hadapan Arini dia tersenyum sungguh manis sekali, tapi tetap tidak akan bisa menggoyahkan hati Arini sedikitpun.


"Maaf bisa saya duduk di sebelah anda?" ucapnya dengan halus.


Meskipun ragu tapi Arini tetap mengangguk, dia tidak bisa melarang siapapun untuk duduk di sana karena tempat itu juga tempat umum siapapun bebas menempati termasuk laki-laki itu.


Laki-laki itu kembali tersenyum dan mulai duduk dengan pelan di sebelah Arini. Arini hanya tersenyum kikuk menanggapi senyum dari laki-laki itu, wajah Arini terlihat berubah saat tangan laki-laki itu terulur dan ingin berkenalan dengannya.


"Bisa kita berkenalan?" tanyanya dengan sangat ramah.


Arini sangat bingung dia tidak bisa menjabat tangan laki-laki sembarangan yang bukan mahramnya, dia juga tidak mau sampai suaminya nanti salah paham.


"Ma..." ucapan Arini terputus. Arini menoleh saat tiba-tiba tangan laki-laki itu dijabat oleh tangan lain, orang itu berdiri tepat di depan Arini.


"Perkenalkan nama saya Arya, saya suaminya," dan ternyata orang itu adalah Arya.


"Oh, maaf. saya Ilham. Senang berkenalan dengan anda," ucapnya.


Kedua mata dari dua laki-laki itu terlihat mengibarkan bendera perang. Mata mereka begitu sengit memandang satu sama lain.


"Yuk Sayang, pesawat akan segera berangkat," tangan Arya yang sudah terlepas dari laki-laki itu langsung merengkuh pinggang Arini dengan cepat. dia tidak mau sampai ada orang lain yang lebih dulu merengkuh istrinya.


Sungguh, hati Arya benar-benar terselimuti rasa cemburu besar.


````````````

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2