
Happy Reading....
"Terimakasih sayang, *muach*..." dikecupnya kening Arini setelah Arya selesai menyatukan cinta mereka. Begitu bersyukur Arya bisa lagi membuat istrinya tersenyum setelah tadi diam dengan sedikit kesal karena Arya yang tiba-tiba menerkamnya.
"Hem," Arini mengangguk sembari tersenyum dengan tangan membenarkan selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak menggunakan apapun sekarang.
"Kamu mau makan apa? apa perlu aku yang memasaknya?" tanya Arya. Berlagak sok-sokan bisa masak padahal dia sendiri sama sekali tak bisa masak. Bibirnya menawarkan pada Arini tapi hatinya, "*katakan tidak Arini, katakan tidak. Aku tidak bisa masak apapun*," hatinya sangat berbanding terbalik dengan apa yang keluar dari bibirnya.
Semua itu hanya semata-mata untuk bisa membuat Arini senang dan bisa tersenyum setelah memaafkannya.
"Tidak usah, tadi Arini sudah masak. Mas ambil saja di dapur untuk ku dan juga Mas, karena aku tak mungkin kan keluar dengan keadaan seperti ini?" ucap Arini. Sebenarnya tak mau mengatakan itu, tak mau memberikan perintah kepada suaminya tapi dia pikir tak masalah, dia sangat lelah dan itu semua juga karena Arya kan?
"Baiklah, aku akan ambilkan untuk mu, untuk kita, *muach*, " sekali lagi Arya mengecup kening Arini sebelum dia benar-benar beranjak.
Arya tersenyum sekejap lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri untuk yang kedua kalinya.
Arini masih bermalas-malasan di atas kasur bahkan dia juga memejamkan matanya karena benar-benar merasa sangat lelah.
Arya keluar dari kamar mandi dengan keadaan sudah segar lagi, menoleh sebentar dan tersenyum melihat Arini yang masih setia dan tak bergerak dari posisi seperti tadi.
"Istirahatlah, aku akan secepatnya ambilkan makan untuk mu," Arya kembali berjalan menuju ruang ganti dan setelah itu dia juga cepat keluar untuk mengambilkan makan untuk dirinya juga istrinya.
Setelah Arya keluar Arini cepat beranjak, dia berlari untuk ke kamar mandi dan membersihkan diri juga. Tapi sebelum dia masuk dia pergi ke ruang ganti terlebih dahulu untuk mengambil baju ganti, dia akan ganti di kamar mandi saja pikirnya. Takut kalau dia pas keluar dan Arya sudah kembali pasti dia akan menjadi santapan lagi nantinya.
Beberapa saat Arini berada di kamar mandi Arya sudah kembali masuk dengan membawa nampan yang berisi satu piring penuh nasi beserta lauk pauknya juga dua cangkir besar air putih.
Diletakkan di atas meja, Arya lalu berjalan untuk membangunkan Arini tapi ternyata Arini sudah tak ada di kasur. Arya kembali tersenyum karena mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Menunggu Arini keluar Arya duduk di sofa, membuka tasnya dan mengeluarkan laptop. Sesaat dia memeriksa pekerjaannya yang mungkin ada, mungkin kiriman baru dari Toni tapi ternyata tidak ada.
*Klekk*..
Arya menoleh, menjauhkan tangan dari laptop dan duduk sedikit bergeser.
"Kok sudah pakai baju saja," tanya Arya basa-basi. Melihat Arini yang keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah komplit memakai bajunya juga menutup rambutnya dengan handuk berwarna putih.
"He'em," Arini berjalan menghampiri lalu duduk di sebelah Arya yang sudah menunggunya.
Tangan Arya meraih piring, bersiap untuk menyuapi Arini. Dia akan selalu memperlakukan Arini dengan spesial karena Arini memang sangat spesial untuk nya.
"Aku bisa makan sendiri, Mas," Arini hendak mengambil sendok nya tapi Arya sudah lebih dulu mengangkatnya.
__ADS_1
"Biar aku saja, kamu pasti lelah kan gara-gara aku. Dan sekarang kamu hanya tinggal duduk manis dan biarkan aku yang melayani mu, akk," ucap Arya lalu mulai menyuapkan makan untuk Arini yang akhirnya hanya bisa pasrah.
"Mas nggak makan juga?" tanya Arini menghentikan sejenak mengunyahnya sekedar untuk bertanya.
"Aku juga akan makan, kita akan makan satu piring berdua," jawab Arya dan benar saja, Arya langsung memasukkan sendok ke dalam mulutnya sendiri.
"Gimana, apa pekerjaannya sudah selesai?"
"Sudah. Dan kita akan terus bersama selama beberapa hari. Dan di hari terakhir aku cuti kita akan pindah ke rumah baru, bagaimana? kamu setuju kan?" tanya Arya.
Sebenarnya Arya betah tinggal di rumah Hendra tapi akan lebih bebas dan leluasa jika berada di rumah sendiri, iya kan?
Lagian rumahnya juga sudah jadi seratus persen dan hanya tinggal di tempati saja, akan sangat eman kan jika di biarkan lebih lama lagi tanpa penghuni.
"Arini ikut bagaimana baiknya saja. Kalau Mas pikir itu lebih baik kenapa tidak," Arini kembali menerima suapan Arya.
Begitulah Arya terus mengajak ngobrol tapi dia juga terus menyuapi Arini dan juga dia sendiri hingga makanan di atas piring berhasil habis tak tersisa.
"Alhamdulillah.Gimana, udah kenyang belum, atau mau nambah lagi?" Arya hendak beranjak.
Arini menggeleng, tangan juga memegangi perutnya karena benar-benar sangat kenyang. Sedikit jika makan dengan tangan sendiri tapi berbeda jika makan dengan di suapi Arini akan selalu lahap dan akan habis banyak.
"Hahaha..., kan biar cepat gendut. Biar enak juga untuk di pegang-pegang, Hhhhh..." Arya terkekeh.
jangankan Arini sampai gendut, krempeng saja Arya juga sudah seneng banget, bahkan dia selalu ingin memegang apapun yang ada pada Arini bagaimana jika Arini gendut? pasti tidak akan pernah di lepaskan kan.
Tapi apa yang Arya katakan malah membuat Arini menganga, telinganya terasa digelitiki gimana gitu.
"Apa sih, Arini nggak mau gendut. Arini mau seperti ini saja. Nanti kalau gendut Mas lirik-lirik yang langsing lagi. Terus aku harus bagaimana," ucapnya dengan bibir yang manyun.
"Tidak, Sayang. Mau kamu kurus mau kamu gendut seperti apapun aku tidak akan lirik sana-sini. Aku hanya akan lirik kamu saja. Kan semua sudah ada padamu?"
"Masak!"
"Iya sayang. Oh iya, ini ada hadiah dari eyang."
Tangan Arya mengambil kedua kotak hadiah dari eyang Wati diberikannya kepada Arini.
"Hadiah apa?"
__ADS_1
"Hadiah pernikahan, cepatlah di buka," Arya begitu antusias, dia juga ingin melihat apa yang Eyangnya berikan sebagai hadiah untuk Arini.
Tangan Arini juga langsung bergerak untuk membuka hadiah dari eyang Wati. Dia juga penasaran, dia membuka kotak yang lebih kecil lebih dulu.
Satu set perhiasan yang komplit. Kalung, gelang, anting-anting, cincin bahkan ada gelang kakinya juga. Modelnya sangat indah, Arini begitu takjub.
"Ini bagus banget, Mas. Ini pasti sangat mahal ya? seharusnya tidak perlu semewah ini juga, Arini juga tidak pernah pakai perhiasan," ucapnya yang begitu terkesan.
"Sekarang kamu buka yang ini," pinta Arya.
"He'em," Arini juga langsung membukanya. Arini mengernyit melihat apa yang ada di dalamnya. Sebuah baju berbahan dari kain satin yang begitu lembut dan jatuh jika di pakai.
Arini tambah terperangah saat mengangkatnya.
"Ini baju apa?" Arini sama sekali tak mengetahui baju model apa yang dia dapatkan itu.
Sementara Arya malah tersenyum, dia tau itu baju apa, "*lingerie*?"
"*Astaga eyang, eyang memang benar-benar baik sekali. Hadiahnya sangat luar biasa," batin Arya*.
"Kenapa Mas tersenyum, apa Mas tau ini baju apa? baju pendek banget kayak gini, mana terbuka banget lagi. Apakah Eyang tidak salah beli baju? ini kan belum selesai di jahit?"
*Plakk*...
Sudah lama Arya tidak tepok jidat dan sekarang dia kembali melakukannya. Lagi-lagi istrinya kumat dengan kebodohannya.
"Kamu pikirkan besok bagaimana cara pakainya, sekarang duduklah yang benar," pinta Arya seraya menarik Arini yang berdiri.
Sebuah kotak perhiasan juga Arya sodorkan, dan yang sekarang adalah asli dari dirinya.
"Aku memesannya khusus untukmu. Kamu harus selalu memakainya untukku. Kamu juga tidak boleh melepasnya dalam keadaan apapun," kalung yang memiliki permata berwarna merah jambu Arya berikan kepada Arini. Bahkan Arya sendiri yang memakaikannya sekarang.
"Sempurna," ucapnya.
"Dan ini, ini adalah milikmu. Aku kembalikan sesuai janjiku," kalung Arini yang dulu juga Arya kembalikan dia menepati janjinya kalau dia akan mengembalikannya setelah mereka berdua menikah dan ternyata benar.
"Terimakasih, Mas," jawab Arini.
Kebahagiaannya begitu berlipat-lipat sekarang. Dia mendapatkan semua yang sama sekali tidak pernah dia impikan sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1