
Happy Reading..
Kedua Insan terlihat saling canggung bahkan tidak saling bicara meski keduanya berada di dalam satu mobil yang terus berjalan untuk pergi ke rumah sang gadis yang terlihat sangat cantik dengan gamis biru juga hijab pashmina yang menjadi style saat ini.
Sesekali Toni melirik ke arah Nisa dengan sangat hati-hati. Dia ingin bicara tapi seperti kehilangan topik untuk di bicarakan.
Sementara Nisa juga terus diam dan hanya sesekali melirik ke arah Toni.
Sebenarnya Nisa sangat mengantuk, tetapi dia sangat enggan untuk menutup matanya. Entah kenapa tetapi dia merasa tidak enak. Masa iya dirinya tidur dengan pulas sementara Toni yang mengantarkan terus terjaga juga terus fokus nyetir dengan baik untuknya.
"*Sebenarnya apa maksud dari Tuan Toni datang ke rumah. Sepertinya Tuan Toni juga bapak tidak ada pekerjaan yang saling mengikat, lalu pekerjaan apa?" batin Nisa bingung*.
Bagaimana tidak bingung, Toni tidak mengatakan apapun tentang tujuannya dan tiba-tiba mengatakan ingin mengantarkan dia pulang.
Sebenarnya Toni juga ingin bicara, ingin mengatakan langsung apa yang menjadi tujuannya untuk datang ke rumah. Tetapi Toni selalu mengingat kata-kata Nisa kalau orang yang ingin serius kepadanya harus izin dulu kepada orang tuanya, dan itu yang membuat Toni tidak mengatakan apapun.
"Apa kamu lapar?" tanya Toni memecah keheningan juga rasa canggung yang begitu menguasai dalam mobil itu.
"Tidak, tadi saya sudah makan. Kalau Tuan lapar berhentilah dulu untuk makan. Jangan sampai Tuan sakit nantinya," jawab Nisa.
Sejenak Toni mengulas senyum tanpa sengaja, seandainya mereka berdua sudah menjadi pasangan halal mungkin dia akan mendapatkan perhatian yang lebih dari Nisa. Apalagi untuk masalah kesehatan, Nisa pasti akan sangat posesif nantinya.
"Tuan, kenapa tuan menatapku seperti itu, apakah ada sesuatu di wajah saya?" tanya Nisa. Pertanyaan itu muncul tapi pipinya sudah memerah meski Toni beli mengatakan apapun alasannya.
"Kamu cantik," celetuk Toni kelepasan.
Bisa-bisanya Toni mengatakan itu tanpa sadar namun apa yang dia katakan membuat Nisa semakin deg-degan juga salah tingkah.
"Oh, maaf. Saya tidak bermaksud," Toni tergagap setelah dia sadar telah membuat gadisnya itu malu, Toni kembali fokus dengan mengendarai mobilnya dengan sangat canggung.
"*Astaga Toni, apa yang kami katakan. Bisa-bisanya kamu mengatakan itu padanya. Lihatlah wajahnya sekarang, dia terlihat begitu malu karena ucapan mu barusan." batin Toni merutuki kebodohannya sendiri*.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Ban mobil Toni telah menyentuh pekarangan rumah Pak Karna, orang tuanya Nisa. Keduanya juga langsung turun hampir bersamaan.
Padahal Toni ingin sekali membukakan pintu mobilnya untuk Nisa tetapi gadis itu sudah keluar begitu saja dan membuat Toni hanya bisa pasrah, mungkin memang belum saatnya dia begitu mengistimewakan Nisa.
"Assalamu'alaikum, Pak, Bu!" senyum Nisa begitu cerah saat melihat kedua orang tuanya sudah menunggu di depan rumah.
Nisa langsung berlari menyalami keduanya juga memberikan salam takzim kepada mereka. Sementara Toni berjalan dengan pelan mengikuti Nisa yang sudah berlari lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Ibu kangen sama kamu, Nak."
Ibu sulasmi langsung memeluk putrinya dengan sangat erat sepertinya dia juga sangat merindukan putri tunggalnya ini yang sudah hampir sebulan berada di kota.
"Nisa juga sangat merindukan ibu."
Nisa pun tak kalah, dia memeluk erat bu Sulasmi.
Sementara Pak Karna merasa keheranan dengan kedatangan Toni yang bersama Nisa. Pak Karna langsung menyambut dengan hormat meski di dalam kepalanya terdapat begitu banyak pertanyaan.
"Iya, Pak. Alhamdulillah, Allah mengizinkan kita untuk bisa bertemu lagi. Semoga saja bisa terus seperti ini," jawab Toni tak kalah sopan.
Nafas Toni terasa hampir tercekat di leher barusan. Darimana dia bisa mendapatkan kata-kata itu dan terlihat begitu alim padahal dia tidak jauh berbeda dari bosnya yang dingin juga tidak tau apapun tentang agama.
"Maksudnya?" Pak Karna begitu bingung dengan perkataan Toni barusan. Dia belum bisa mencerna dengan baik.
"Bukan apa-apa," Toni tersenyum kikuk, dia sadar telah membuat pak Karna pusing karena ucapannya barusan.
"Selamat datang, Tuan," Bu Sulasmi pun juga tak mau kalah, setelah kangen-kangenan dengan putrinya dia langsung menyapa Toni.
Senyumnya keluar meski di hati sama seperti Pak Karna yang begitu menyimpan tanya.
"Mari masuk, Tuan. Jangan sungkan-sungkan, ya seperti inilah gubuk kami," ucapan Pak Karna membuat Toni merasa kagum, padahal rumahnya juga sangat bagus juga sangat luas tapi dia begitu merendah.
__ADS_1
"Maaf juga, kalau di desa banyak ayam-ayam yang berkeliaran. Dan mungkin akan mengganggu pemandangan. Pasti sangat beda jauh dengan keadaan di kota," ucap pak Karna lagi.
Mereka sudah berjalan masuk berdampingan sementara Nisa juga bu Sulasmi sudah berjalan lebih dulu.
"Tidak apa-apa, Pak. Saya memakluminya. Walaupun seperti itu saya sangat suka dengan kehidupan di desa," Toni hanya bisa tersenyum menanggapi.
Ya meski yang di katakan pak Karna itu benar. Banyak hewan-hewan peliharaan yang terus lalu lalang bahkan tak sedikit kotorannya yang berceceran di mana-mana. Itulah hidup di desa.
"Mari duduk, Tuan," pinta Toni.
"Jangan panggil saya Tuan, Pak. Panggil saya Toni saja. Saya merasa tak pantas di agungkan dengan sebutan tuan." Toni duduk di kursi kayu menyusul Pak Karna yang sudah duduk di hadapannya.
"Oh maaf, kalau begitu saya panggil Nak Toni saja," pak Karna tersenyum simpul.
"Bue, minumnya!" pak Karna sedikit berteriak.
"Ini, Pak," ternyata Bu Sulasmi juga sudah keluar lagi dengan membawa nampan yang berisi dua cangkir berbahan keramik.
Dengan perlahan Bu Sulasmi mulai menyuguhkan kepada Toni, dia juga tidak lupa mengulas senyum yang begitu manis saat hendak menawarkannya kepada Toni.
"Di minum tehnya, Tuan. Mumpung masih hangat. Cuaca di sini dingin sekali loh! takut keburu dingin."
"Terima kasih, Bu. Seharusnya tidak usah repot-repot."
"Tidak, ini tidak repot. Hanya teh saja." jawab Bu Sulasmi, "silakan di minum, saya ke belakang sebentar," bu Sulasmi langsung pamit.
Tinggallah pak Karna juga Toni di sana karena Nisa juga tadi langsung masuk.
"Silahkan di minum, Nak," pinta Pak Karna.
"Baik, Pak. Terimakasih." diserutupnya pelan teh dari bu Sulasmi, padahal terlihat masih sangat panas karena asapnya masih mengepul begitu banyak tapi ternyata teh itu sudah mulai dingin. Benar kata Bu Sulasmi, udara yang begitu dingin membuat teh itu cepat dingin.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung...