Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
110. Hanya anak angkat


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...__________...


Sejenak Arini istirahat, duduk di sofa dengan memeluk gagang pel di tangannya. Nafasnya memburu karena sangat kelelahan, sungguh terlalu emang si pak Tuan. Sepertinya dia memang sengaja mengerjai nya.


Untung saja Arya sedang tidak ada di ruangan kalau tidak mungkin dia tidak akan bisa istirahat. Saat doa ketahuan duduk bersantai pasti akan dapat omelan yang sungguh membuat hatinya semakin dongkol.


"Ya Allah, Arini sangat lelah. Ini kenapa lagi denganku, rasanya sangat lemes kayak hilang semua tenagaku," ucapannya terdengar begitu lemah matanya juga berkedip-kedip tak menentu.


Samar-samar pandangannya semakin kabur hingga akhirnya hilang dan Arini ambruk ketiduran di sofa.


///////


"Ton, apa yang ingin kamu katakan. Informasi apa yang kamu dapat tentang Arini? "


Mata Arya tak berkedip memandangi Toni yang duduk di hadapannya. Penuh dengan selidik dan juga terlihat tak ada kesabaran dalam aura wajahnya.


"Begini, Tuan. Kemarin orang kepercayaan saya mendapatkan informasi kalau ternyata Arini bukan anak kandung dari pak Marta. Itu di dengar langsung dari istrinya pak Marta, ibu angkatnya Arini."


"Terus? "


"Tapi mereka juga tidak tau darimana Arini sebenarnya karena yang tau kebenarannya adalah kakeknya Arini, dialah yang telah menemukannya," imbuhnya lagi.


Arya diam berfikir, pantesan saja Arini sangat jauh berbeda dengan kedua kakaknya. Kepribadian yang sungguh berbeda.


"Cari semua informasinya, saya mau kamu bisa mendapatkannya dengan cepat. Kalau bisa hari ini juga kamu mendapatkan informasi itu. Saya ingin tau darimana Arini di temukan, kalau bisa cari tau juga siapa orang tua sebenarnya, " jawab Arya begitu menekankan.


Toni terdiam sesaat, mana mungkin dia akan mendapatkan semua informasi hari ini juga. Mengulik kebenaran seseorang tak akan mudah, juga tidak bisa asal menebak begitu saja.


"Kenapa kamu diam? apa kamu tidak mau bekerja lagi? " tanya Arya tak sabar. Hatinya tak akan bisa sabar jika mengenai mainannya.


"Tidak, Tuan. Saya akan kerjakan sekarang juga," jawab Toni tak mau berlama-lama lagi, kalau tidak dia pasti akan mendapatkan yang lebih lagi dan tidak sekedar peringatan saja.


"Hem.., bagus. Kerja yang benar dan jangan pernah mengecewakan. Saya tunggu informasi selanjutnya," Arya beranjak sembari tangan merapikan kemejanya.


Kakinya mulai melangkah ingin keluar dari sana tapi belum juga sampai dia kembali berhenti lalu menoleh.


"Tolong pesan makan siang untuk ku juga Arini, yang seperti biasa," ucapnya lagi.


"Baik, Tuan," Toni hanya bisa mengangguk nurut dia tak bisa menentang apapun perintah dari Arya yang jelas karena dia masih membutuhkan pekerjaannya.


Tak lagi ada jawaban dan Arya berlalu pergi. Dia sudah tak sabar lagi ingin melihat Arini sekarang, entah apa yang sedang dia lakukan. Gadis itu pasti sangat kelelahan karena semua pekerjaan yang sengaja Arya berikan.


Melangkah dengan pasti menuju ruangan yang tidak jauh dari tempat dia bersama dengan Toni tadi. Langkahnya semakin cepat saat dia melihat pintu ruangannya.


Ujung bibirnya tertarik bayangan akan wajah Arini sudah terngiang di dalam benaknya yang kecil.

__ADS_1


Tapi bukan hanya itu saja yang Arya pikirkan tapi siapa Arini sebenarnya, dari keluarga siapa, bagaimana orang tua kandungnya, dan kenapa dia di buang begitu saja.


Sejenak Arya berpikir, pantas saja keluarga angkatnya tidak memperlakukannya dengan baik, dan juga fitnah keji yang Arini dapatkan pasti juga karena ulah dari kedua kakaknya.


"Siapa kamu sebenarnya Arini. Apakah mungkin kamu terlahir dari orang tua yang hebat? Orang tua yang kaya raya atau malah sebaliknya. Tapi aku rasa tidak, meski kamu terlihat sangat bodoh tapi sebenarnya otakmu sangat luar biasa tak mungkin kamu hanya terlahir dari orang biasa," ucapnya.


Tangannya meraih kenop pintu, perlahan mendorongnya lalu dia masuk setelah terbuka. Matanya langsung mencari dimana gadis yang dia cari.


Tubuh kurus kering itu ternyata tengah berbaring di sofa dengan mata yang terpejam dengan tangan yang masih setia memegangi gagang pel berwarna oranye.


"Dia pasti kelelahan," Arya mendekat, setelah tepat di sisi Arini Arya berlutut di tepat depan wajahnya.


Wajah lelah itu sangat terlihat dari Arini, meski tidak mengatakan tapi tetap saja Arya akan mudah mengetahuinya.


"Kamu pasti kelelahan, maaf," ucapnya.


Ingatan Arya kembali berputar saat Arini bercerita tentang dirinya yang tidak di harapkan oleh semua orang, apa mungkin Arini juga sudah mengetahui kalau dia bukan bagian dari keluarga Marta yang sebenarnya.


Tangan ingin sekali menyentuh pipi tirus Arini tapi rasanya sungguh berat.


"Aku akan membantu kamu menemukan orang tuamu, Arini. Aku janji akan menemukan mereka. Dan jika mereka membuang mu dengan alasan sederhana maka aku sendiri yang akan menghakimi mereka," ucapnya dengan sangat lirih tak mau sampai Arini terganggu dan akan terbangun karena ucapannya.


Rasa gengsi hilang begitu saja dari hati Arya, rasa yang ada sudah mulai terganti dengan rasa yang lain yang lebih istimewa.


Arya mengambil perlahan pel yang ada di tangan Arini menyingkirkan dari sana supaya Arini bisa tidur dengan tenang. Arya juga melepaskan jas abu-abu danmenggunakannya sebagai selimut untuk menghangatkan Arini yang sepertinya kedinginan karena AC.


𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬... 𝘛𝘰𝘬....


Arya cepat beranjak dari sana, menghampiri pintu karena dia mendengar suara ketukan dari luar.


"Tuan, ini makan siang yang Anda pesan," ternyata Toni yang datang, dengan tangan membawa dua 𝘵𝘶𝘱𝘱𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘦 kotak berwarna merah dan bertutup biru.


"Hem...," jawab Arya. Tangannya sudah mengambilnya dari Toni tanpa dia melebarkan pintu apalagi mengizinkannya masuk untuk melihat keadaan di dalam.


Toni juga sudah terbiasa, dia tidak akan kaget lagi karena tak ada kata terimakasih dari mulut Arya.


"Pergilah, dan kerjakan semua pekerjaanmu," titahnya.


Toni mengangguk tapi belum juga selesai Arya sudah menutup pintunya. Pengusiran yang cukup membuat hati mulai tergelitik.


"Mungkin memang benar," Hanya itu yang Toni katakan, mungkin memang benar kalau bosnya sudah mulai ada rasa spesial untuk OB pribadinya itu. Apalagi perlakuannya? Dengan itu semua bisa menjelaskan bagaimana perasaan Arya sekarang.


Setelah menutup pintu Arya kembali ke tempat semula tapi kini dia duduk di sofa yang berbeda. Arya duduk dengan tenang melihat wajah Arini yang begitu damai akan tidurnya.


"Apa yang kamu lakukan padaku, Arini. Kenapa aku bisa tertarik padamu. Niatku ingin membuatmu jatuh cinta padaku tapi lihatlah? Bahkan ku telah lebih dulu melakukannya. Kamu menang dariku. Dan aku yang kalah."


Ternyata Arya mengakui kalau di hatinya memang sudah tumbuh akan benih-benih yang kemungkinan tanpa sengaja di sebarkan oleh Arini. Benih kebahagiaan juga rasa yang begitu besar untuk bisa selalu bersama bahkan untuk bisa memilikinya.

__ADS_1


"Apakah kamu akan menjauh jika mengetahui semua ini, Arini? Apakah kamu akan pergi meninggalkanku sama seperti dia?"


"Semoga aku salah, semoga kamu tidak sama seperti dia yang pergi meninggalkanku," imbuhnya.


Ternyata memang ada trauma di hati Arya, mungkin itulah yang membuat dia selalu berfikir kalau semua wanita itu adalah sama.


"Hem... " Arini menggeliat, tangan juga langsung terangkat untuk mengucek matanya, "astaghfirullah hal 'azim! Aku ketiduran! "


Arini tersentak dia bangun dari tempatnya dengan cepat. Arini begitu gelisah karena takut Arya akan melihatnya yang pasti dia akan mendapatkan omelan dari tuannya.


"Sudah bangun, yuk makan. Semua sudah aku siapkan," ucap Arya.


Seketika Arini menoleh dan ternyata apa yang di takutkan terjadi Arya telah melihatnya. Apakah dengan ini dia akan kehilangan pekerjaannya, atau hutangnya akan semakin bertambah? Atau mungkin dia akan kembali di hukum?


Arini menelan salivanya dengan susah, bahkan rasanya seperti tersendat di tenggorokannya.


"Pak-pak Tuan." Arini sudah mulai ketakutan.


"Jangan berfikir dulu, sekarang makan dulu dan kamu baru kembali berfikir. Kamu tidak akan bisa berfikir dengan benar jika perutmu kosong." Tangan Arya mulai bergerak membuka 𝘵𝘶𝘱𝘱𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘦 yang tadi di bawa oleh Toni.


Isinya sangat fantastik, sungguh membuat selera makan meningkat dengan cepat apalagi saat perutnya juga sudah kosong.


"Nih makan," Arya menyodorkannya pada Arini dan gadis itu sudah tak berkedip melihatnya.


"Ini untuk Arini, Pak Tuan!? "'tanya Arini tak percaya. Tubuhnya sudah condong ke depan dengan mulut yang berkecamuk juga bergantian dengan lidah yang sudah keluar masuk membasahi bibirnya.


" Hem..., cepat makan! Bukankah aku sudah bilang kalau dalam waktu satu minggu kamu harus naik berat badan lima kilo," jawab Arya tanpa melihat lagi ke arah Arini dan sibuk membuka 𝘵𝘶𝘱𝘱𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘦 untuk dirinya sendiri karena yang satunya sudah dia buka dan dia berikan pada Arini.


"Mana bisa satu minggu lima kilo, tulang Arini sudah tulang kecil nggak akan bisa menjadi besar," protesnya.


Kini Arya menatap Arini, bingung juga kenapa nih anak selalu saja protes apa tidak bisa nurut begitu saja dengan semua yang dia perintahkan.


"Tidak usah protes, sekarang cepat makan dan habiskan. Tidak boleh sisa sedikitpun meski hanya satu butir nasi saja," ucap Arya begitu menegaskan.


Lagi-lagi Arini menelan ludahnya sendiri, itu makanan sungguh banyak mana mungkin dia akan menghabiskannya, perutnya tidak akan muat.


"Cepat makan! "


Arini terkesiap mendengar suara Arya yang sedikit keras baru saja dia melihat dan menerka-nerka apakah akan muat atau tidak di perut kecilnya tapi Arya sudah mengejutkannya.


"Hem.., akan Arini coba." jawab Arini, tangannya sudah mulai mengangkat 𝘵𝘶𝘱𝘱𝘦𝘳𝘸𝘢𝘳𝘦 dan juga mulai menggerakkan sendok.


"𝘕𝘪𝘬𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪, " batin Arini.


///////


Bersambung...

__ADS_1


____________


__ADS_2