Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
290. Toni Dan Nisa


__ADS_3

Happy Reading....


************


Begitu senang Nisa dengan status barunya juga tempat tinggal yang baru bersama Toni. Di salah satu unit di apartement mereka tinggal sekarang.


Status barunya tetap bisa di sesuaikan dengan baik, bahkan Nisa bisa melakukannya pekerjaan juga dengan sangat baik.


Setiap harinya Toni akan selalu mengantarkan Nisa ke rumah sakit Gautama sebelum dia ke perusahaan Gautama, dan saat pulang Toni juga akan selalu menjemputnya.


Keduanya sama-sama pulang malam saat ini. Toni lembur begitu juga dengan Nisa. Keduanya baru saja pulang.


Begitu lelah rasanya, hingga keduanya langsung pulang dan tak mampir kemana-mana lagi. Dan langsung menuju ke tempat mereka tinggal sekarang.


"Bersih-bersih dulu, setelah itu istirahat." Ucap Toni dengan sangat lembut.


"Mas nggak makan malam dulu?" Tanya Nisa.


"Tidak usah, Mas masih kenyang." Tiba-tiba saja Toni merangkul pinggang Nisa dan menuntunnya semakin masuk dan sampai ke kamar.


Jelas Nisa menjadi sangat gugup sekarang ini. Meski sudah hampir satu minggu mereka menikah tapi keduanya benar-benar belum bersatu.


"Kenapa kamu terlihat kaku begitu, aku tidak akan memakan-mu sekarang. Bukannya tamu bulanan mu belum pergi kan?" Tanya Toni dengan terus melangkah sejajar dengan Nisa.


"Hem?" Nisa menoleh, melirik Toni sekejap dengan jantung yang dag dig dug der, "Se_sebenarnya, sebenarnya Nisa..., tamunya udah pergi." Nisa menunduk wajahnya seketika memerah.


Benarkah Nisa akan memberikannya malam ini juga? Tapi, seandainya Toni memintanya Nisa harus memberikannya kan? Kalau untuk menawarkan sepertinya tidak, Nisa sangat malu untuk itu.


Toni diam, dia juga berhenti melangkah. Wajahnya nampak bersinar di tambah dengan senyumannya yang khas. Matanya langsung menangkap wajah sang istri yang kembali menunduk malu-malu.


"Apa itu artinya... Aku boleh memintanya?" Toni meraih dagu Nisa dengan perlahan. Membuat Nisa berhasil menatapnya.

__ADS_1


"Bo_boleh. Ta_tapi aku takut," Jawab Nisa. Seketika menjadi gugup.


"Hem, sekarang bersih-bersihlah dulu. Jangan terlalu takut, tidak akan seburuk yang kamu pikirkan kok." Ucap Toni yang sebenarnya dia sendiri tidak tau akan rasanya seperti apa. Dia sama sekali belum pernah merasakan, makanya dia sangat penasaran.


"Hem," Nisa mengangguk. Setelahnya dia berlalu dan masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih, menyegarkan diri setelah seharian dia bekerja.


Toni terus tersenyum, dia juga merasa grogi sekarang jantungnya bekerja lebih keras tak menentu.


"Astaga, ada apa denganku. Kenapa aku jadi deg-degan seperti ini?" Gumam Toni setelah Nisa masuk ke kamar mandi.


Tak lama Nisa dengan kegiatan di kamar mandinya, dia sudah keluar dengan memakai baju tidurnya. Melihat Nisa keluar Toni buru-buru masuk ke kamar mandi, dia benar-benar ikut gugup sekarang.


"Astaga, tenang Toni, tenang," Gumamnya begitu lirih setelah dia berada di kamar mandi dan menyandarkan punggung di pintu.


Sementara Nisa, dia juga sama halnya. Gugup bukan main. Nisa duduk di depan meja rias sejenak, melakukan perawatan wajah sebentar lalu bergegas ke kasur.


Perlahan Nisa membaringkan tubuhnya miring, memunggungi kamar mandi. Astaga, rasa nya seperti saat malam pertama setelah mereka menikah. Tapi kali ini lebih mendominasi gugupnya.


Perasaan Nisa semakin tak karuan saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Berarti Toni sudah keluar sekarang, entah seperti apa dia sekarang.


Langkah Toni semakin dekat, bahkan terasa sudah naik di ranjangnya di sebelah Nisa. Tapi sepertinya bukan tidur, melainkan duduk bersandar.


"Nis," Panggil Toni. Meski tidak melihat wajah istrinya tapi Toni tau kalau dia belum tidur.


"Hem?" Nisa seketika menoleh, meski gugup namun dia tak boleh mengabaikan panggilan suaminya. Seketika mata Nisa membulat, Toni tak memakai baju, dan terlihatlah bagaimana tubuhnya. Bukan itu saja, tapi Toni juga hanya memakai handuk saja untuk menutupi area bawahnya.


Nisa menelan saliva dengan susah.


"Nis, dia sudah bangun," Ucap Toni. Entah apa yang Toni pikirkan hingga membuat yang di bawah sana langsung bangun begitu saja sebelum menyentuh Nisa. Mungkinkah di dalam kamar mandi Toni memikirkan hal-hal mesum.


"Hah!" Mata Nisa terbelalak. Dengan bodohnya mata Nisa juga langsung mengarah ke pusat Toni yang terlihat sudah menyembul tinggi.

__ADS_1


Toni sangat ingin, tapi dia sangat bingung untuk memulainya dari mana. Tidak mungkin dia langsung nubruk begitu saja kan? Sementara Nisa sendiri, apalagi Nisa.


Nisa duduk, dia ikut bersandar seperti Toni. Keduanya kembali gugup. Astaga, benar-benar seperti remaja saja meraka ini. Malu-malu tapi mau.


Melihat wajah Nisa insting Toni langsung mengarah pada bibir ranum miliknya. Bibir yang begitu menggoda saat di lihat dan membuatnya sangat penasaran akan rasa aslinya.


"Bismillah," Gumam Toni tak terdengar.


Seketika Toni duduk menghadap Nisa, merengkuh tengkuknya, membuat sang istri pasrah mau di apa-apain juga.


Perlahan-lahan hanya ciuman sederhana namun tuntutannya yang begitu luar biasa. Inikah rasanya saat ingin bercinta? Laki-laki dan perempuan yang sama-sama tidak berpengalaman dalam bidang itu akan tau sendiri. Semua tubuh seakan tergerak sendiri untuk mencari tempat yang bisa di sentuh dan di puaskan.


Keduanya begitu menikmati, rasa canggung dan gugup mereka barusan seketika lenyap bersamaan dengan gelora perang yang semakin menggebu-gebu menguasai mereka.


Nikmat, dan menuntut. Dua hal itulah yang mereka rasakan.


Semakin dalam dan semakin liar sentuhan Toni hingga membuat Nisa tak bisa menahan kenikmatannya. Satu persatu suara keramat lolos dari mulut Nisa saat Toni mulai menjelajah ke setiap inci yang dia punya.


Tangan Nisa tak tinggal diam, terus mengusap rambut Toni ketika Toni mulai mendaki gunung kembar identik yang menjulang. Sensasi luar biasa yang dia dapatkan. Nikmat, darah perlahan berdesir panas menawarkan sensasi yang tak biasa.


Tak perlu belajar dalam hal ini. Nisa ataupun Toni tetap bisa mempelajarinya sendiri seiring berjalannya kegiatan mereka. Tak butuh guru pula mereka akan tetap menjadi pintar.


"Bisa kita mulai, Sayang?" Toni menyempatkan bertanya sebelum benar-benar memulai permainan yang sebenarnya. Memastikan bahwa istrinya benar-benar sudah ikhlas memberikan apa yang memang menjadi seharusnya.


"Hem," Nisa mengangguk malu meski terlihat jelas ada raut takut yang terlihat di matanya.


"Tidak perlu takut, aku akan pelan-pelan," Di belainya lembut pipi Nisa, membuatnya sedikit tenang.


Dan penyatuan Nisa juga Toni benar-benar terjadi malam itu juga.


◦•●◉✿"✿◉●•◦

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2