
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...___...
Desas-desus tentang kedatangan OB baru di perusahaan Gautama kini sampai juga di telinga Melisa. Ciri-ciri yang dia dengar membuat dia tak percaya karena semua yang ada tertuju pada satu orang yang dia kenal, yaitu Arini.
Tapi Melisa belum bisa percaya begitu saja dengan berita itu sebelum dia bertemu langsung dengan orangnya, lagian dunia ini sangat luas jadi mana mungkin orang yang ciri-cirinya seperti itu hanya Arini saja, nggak mungkin kan?
Saat semua orang sudah mulai pulang Melisa masih menunggu di depan gerbang, dia hanya ingin memastikan bahwa apa yang dia pikir itu salah, karena tidak mungkin seorang Arini bisa masuk ke dalam perusahaan yang sangat besar itu, apalagi mengingat semua peraturan yang ada. Tidak mungkin kan.
Setengah jam menunggu namun Melisa tak mendapatkan hasil sama sekali, orang yang dia tunggu tak kunjung datang. Bahkan semua OB sudah pulang pun orang itu belum juga terlihat.
"Apa mungkin dia sudah pulang?" gumamnya dengan tak yakin, "lima menit lagi, kalau tidak datang berarti dia bukan Arini."
Melisa kembali menunggu, berharap dia bisa mendapatkan hasil meskipun lima menit lagi menunggu.
Melisa terus mondar-mandir tak jelas di sana. Dia juga sudah mulai kesal karena kakinya sudah mulai lelah berdiri.
"Benar-benar hanya menyita waktuku saja. Lebih baik pulang saja daripada nanti aku kemalaman sampai rumah," ucapnya lalu bergegas pergi.
Saat bekerja Melisa akan selalu pulang pergi dengan mobil. Dia yang sangat di sayang oleh Marta juga Ratna telah di fasilitasi sebuah mobil sesuai permintaannya,
"Masih ada waktu besok, aku akan mencari tau siapa orangnya. Apalagi, katanya dia di tempatkan di lantai lima puluh? dia tidak boleh mendapatkan perhatian dari Tuan Arya. Karena Tuan Arya hanyalah milikku," gumamnya lagi.
/////
Benar-benar sial Arini di hari pertama kerja ini, di saat semua orang sudah pulang kini dia masih harus membersihkan toilet di kamar khusus milik Arya.
Entah kedatangan lumpur dari mana toilet itu sampai-sampai toilet yang awalnya sudah sangat bersih kini tak dapat di kenali lagi olehnya.
"Sejak kapan nih toilet jadi sawah begini? benar-benar besok harus bawa bibit padi buat di tanam di sini," ucapnya.
"Lagian, siapa juga yang bajak toilet jadi seperti ini? nggak mungkin ada kerbau yang masuk kesini dan main lumpur di sini kan?"
Meskipun terus mengoceh namun tangan Arini terus fokus membersihkan tempat yang tak kunjung bersih itu. Dia sudah sangat lelah, bahkan bajunya juga basah dan banyak lumpur tapi pekerjaannya, "kapan selesainya?" ucapnya dengan memelas.
Meskipun bodoh tapi Arini tak akan mungkin percaya kalau toilet itu tiba-tiba kotor sendiri, pastilah ada dalang yang melakukannya. Yang pasti orang itu memang berniat untuk mengerjai nya.
__ADS_1
Tanpa bersuara Arya melihat Arini yang terus bekerja, bahkan dia juga mendengar apa yang selalu Arini katakan. Arya hanya berdiri di pintu dan menyandarkan lengannya di sana sembari bersedekap dada.
Sesekali Arya tersenyum melihat Arini, wajahnya sudah banyak lumpur begitu juga dengan baju yang dia pakai. Namun itu tak berlangsung lama karena Arya langsung mengembalikan dengan wajah dingin yang begitu menakutkan.
"Kamu lelet sekali sih! katanya kamu terbiasa dengan pekerjaan seperti ini, tapi nyatanya? hanya membersihkan satu toilet saja nggak becus! " ucap Arya yang terdengar sangat pedas di telinga Arini. Seandainya pedas karena bakso enak untuk di nikmati saat kedinginan seperti sekarang, tapi ini? ini adalah kata-kata yang akan membekas, tak enak di rasakan namun sangat susah untuk di hilangkan.
Arini menoleh dengan kesal, sepertinya dia tau siapa orang yang telah melakukan itu sekarang dan pelakunya adalah orang yang bersandar dengan santai di pintu masuk kamar mandi tersebut.
Mata Arini melotot tak bersahabat, bibirnya manyun bahkan pipinya sudah menggembung begitu besar. Arini ingin marah tapi dia...?
"Mau marah? coba saja kalau berani," ucap Arya. Arya sepertinya memang sengaja membuat Arini menjadi kesal.
Arini tak habis pikir saja, Arya orang pintar, dia juga pemimpin di sini tapi kenapa cara menghukum dan membalas perbuatan Arini dengan cara yang kampungan seperti ini? apakah tidak ada hukuman yang lebih baik lagi apa.
"Jangan berwajah seperti itu, itu sangat menakutkan,"
Arya kembali keluar setelah itu, sepertinya dia datang hanya untuk memastikan pekerjaan Arini sudah selesai atau belum.
"Dan ya, semuanya harus bersih! Kalau sampai tidak bersih akan aku potong gaji mu! " teriak Arya.
"Dia itu seorang pemimpin atau emak-emak komplek sih! cerewet minta ampun," gumam Arini.
Arini kembali bekerja, pekerjaan ini harus cepat berakhir kalau tidak dia akan pulang dengan jalan kaki nantinya dan tentunya sudah malam hari.
/////
Setelah keluar dari kamar mandi Arya pergi ke ruang yang lain. Dan di tempat itu sudah ada Toni yang menunggunya.
Toni masih berdiri di samping sofa setelah kedatangan Arya dia membungkuk sebagai tanda dia begitu menghormati tuannya, "Tuan," sapanya dengan singkat.
"Hemm..," Arya berjalan berlalu, melewati Toni yang masih berdiri. Dengan cepat Arya duduk di tempat biasa miliknya dan setelah itu Toni juga duduk di tempat yang lain.
"Apa ada pekerjaan yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Toni.
"Saya mau semua informasi tentang gadis jelek itu. Darimana dia berasal, siapa keluarganya, dan tinggal di mana dia sekarang, saya mau semua informasi itu besok," ucap Arya dengan serius.
"Besok!?" Toni tersentak, bagaimana bisa dia mendapatkan informasi tentang Arini secepat itu. Ini juga sudah sore dan dia harus bisa mendapatkan semua yang di minta Arya besok berarti Toni harus lembur ke sana kemari tak jelas dong.
__ADS_1
"Iya, besok! kenapa? apa kamu tidak mau mengerjakannya," tatapan mata Arya sudah berubah menakutkan sekarang, padahal Toni juga belum mengatakan tidak mau tapi Arya sudah seperti itu bagaimana kalau Toni benar-benar mengatakannya? pasti Toni akan langsung di pecat saat itu juga.
"Baik, Tuan. Saya akan kerjakan. Besok anda akan dapatkan apa yang Anda minta," jawab Toni yang akhirnya pasrah, "saya permisi, Tuan. Saya harus secepatnya pergi," pamitnya.
"Hem.. " jawab Arya singkat.
Toni benar-benar pergi setelah itu, dia harus mulai pencarian semua informasi tentang Arini dan semoga dia berhasil mendapatkannya malam ini.
Arya merebahkan tubuhnya di sofa, menaruh satu tangannya di bawah kepala menjadikan bantal untuknya. Satu kakinya dia selonjorkan si sofa sementara satunya dia biarkan menapak lantai yang beralaskan karpet merah bermotif.
Matanya terpejam sejenak, dia tak berharap bisa tidur saat itu namun dia hanya ingin bisa menghilangkan semua beban yang sebenarnya tidak ada.
Aroma parfum melati dari gadis yang menolongnya saat itu masih bisa dia rasakan sampai sekarang. Dia tak melihat seperti apa wajah gadis itu, bagaimana tubuhnya, bagaimana rambutnya, dan bagaimana semua keadaannya dia sama sekali tak melihatnya hanya aroma parfum itu yang bisa dia rasakan hingga sekarang.
"Tidak mungkin gadis jelek itu kan yang menyelamatkan ku," gumamnya begitu lirih bahkan di telinganya sendiri saja hampir tak bisa dia dengar.
"Tidak, tidak mungkin dia. Tubuh dia kurus kering, dia juga pendek begitu bagaimana mungkin dia bisa membawaku sampai ke rumah sakit? nggak mungkin," ucapnya yang masih tak percaya.
"Tapi kenapa aroma parfumnya sama persis?" Arya semakin bingung.
"Pak Tuan! Pekerjaan Arini sudah selesai. Sekarang Arini mau pulang! " ucap Arini dengan keras.
"Hem..," jawab Arya masih sangat enggan untuk membuka mata nya.
"Makasih, Pak Tuan! " Arini begitu senang, akhirnya dia bisa pulang sekarang tanpa harus berdebat dulu pada Arya, dia juga tidak perlu melakukan drama lagi untuk bisa terlepas darinya, "Assalamu'alaikum, Pak Tuan! "
Belum juga mendapat jawaban Arini sudah berlari dengan buru-buru. Ini sudah sangat terlambat dan Arini hanya bisa berharap kalau masih ada angkutan untuk mengantarkannya pulang.
"Hem.. " jawab Arya yang masih tak mau menjawab dengan salam dari Arini.
Arya duduk matanya langsung melihat punggung Arini yang semakin jauh, "Gadis yang aneh," ucapnya.
___
Bersambung....
___________
__ADS_1