Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
256.Kedatangan Asisten Baru


__ADS_3

Happy Reading...



Sungguh bosan Arini sekarang, tak ada siapapun di rumah kecuali hanya dirinya sendiri. Rumah yang begitu besar tapi tak ada yang lain sekarang.



Semua sudah dia lakukan, semua kerjaan juga sudah selesai. Rumah sudah kembali bersih.



Arini hanya duduk saja di ruang tengah sekarang, menunggu seseorang yang akan datang. Dia adalah asisten rumah yang di bilang oleh Arya, entah seperti apa orang itu semoga saja dia benar-benar baik dan Arini bisa cocok dengannya.



Tok tok tok....



"Assalamu'alaikum! Permisi!"



Suara sangat keras terdengar oleh Arini juga ketukan pintu berkali-kali langsung mengalihkan Arini dari ponselnya yang ada di tangan.



Ya, untuk menghilangkan rasa bosan Arini terus melihat film kartun. Sebenarnya dia bisa melihatnya dengan televisi besar di hadapannya tapi dia tidak menginginkannya. Dia lebih suka menggunakan ponsel saja yang tidak terlalu besar juga tidak begitu berisik.



"Wa'alaikumsalam..!" Arini cepat beranjak dari tempatnya duduk, dia menaruh ponselnya di meja lalu berjalan mendekati pintu.



Perlahan tangan mulai membuka pintu dan dapat dia lihatlah seorang perempuan yang tidak muda tapi menurutnya sedikit aneh.



Perempuan itu membawa tas ransel hitam besar, bisa di pastikan itu adalah barang-barang bawaannya. Berarti dia adalah orang yang Arini tunggu-tunggu sedari tadi.



"Assalamu'alaikum, Nyonya cantik. Perkenalken saya Susi. Sebenarnya nama saya Susi Susila Sisi Sulasmi tapi emak saya lebih suka memanggil saya Susi, kalau Abah lebih suka memanggil Sisi, kalau Kakak lebih suka Sila tapi kalau adik lebih suka memanggil Sulas. Kalau Nyonya cantik boleh panggil siapa saja yang lebih enak," ucapnya.



Arini pusing dengan perempuan di hadapannya ini hingga akhirnya dia hanya berkali-kali mengerjab-ngerjabkan matanya.



"Itu namanya satu KK di bawa semua ya, Mbak? Panjang banget."



Perempuan itu hanya bisa meringis menanggapi Arini. Dia sadar namanya memang sangat panjang tapi dia sangat bangga dengan namanya sendiri.



"Terus Nyonya cantik mau panggil siapa?" Matanya kedip-kedip membuat Arini geli namun matanya terasa tersetrum dan mengikutinya.



"Saya boleh panggil Suka-suka nggak?" Celetuk Arini.



"Maksudnya Suka-suka?" Matanya melotot dan wajahnya mendekat berkaca dengan wajah Arini.

__ADS_1



Arini terkesiap dia langsung memundurkan wajahnya, "ya panggil Suka-suka, Suka-suka saya. Mari masuk." Ajak Arini.



Lama-lama pusing juga dengan perempuan itu.



"Waw, ini rumah apa istana di negeri dongeng ya Nyonya cantik? Subhanallah, ini mah rumah surga dunia ya," Matanya terperangah melihat semua isi di dalamnya.



"Mari, Mbak," Arini mengajak masuk lebih dalam, hingga akhirnya mereka duduk di sofa.



"Loh, kok di bawah, Mbak. Naik saja di sini duduknya."



Arini terkejut karena Susi itu duduk di bawah yang hanya beralaskan karpet itupun duduk tepat di sebelah Arini.



"Tidak apa-apa, Nyonya cantik. Susi gerah kalau duduk di atas. Nggak enak banget, terlalu keenakan." ucapnya begitu polos.



Benar-benar hampir sama seperti Arini dulu saat pertama kali berasa di kota. Mungkin Arini akan cocok dengan perempuan ini.



"Jangan, Mbak. Kalau di bawah nanti mbaknya kembung loh."




Arini harus bagaimana sekarang, dia merasa tak enak karena Susi lebih tua tapi bagaimana bisa dia yang ada di atas.



"Nyonya pasti capek kan? sini ami pijitin," tangannya langsung bergerak memberikan pijatan kepada kaki Arini membuat sang empu semakin tidak enak.



"Mbak, tidak usah," tolak Arini.



"Tidak apa-apa, Nya. Saya sering melakukannya pada emak, jadi sudah terbiasa."



"Tapi...?"



"Tidak apa-apa," Susi meringis menatap Arini.



"*Subhanallah, adem sekali lihat wajah Nyonya cantik ini. Baru juga kenal tapi kenapa aku langsung nyaman ya. Langsung betah begitu saja. Sepertinya Nyonya cantik ini orang baik." batin Susi*.



¢¢¢¢¢¢¢¢¢

__ADS_1



"Fara, kenapa kamu selalu menjauh dari ku. Sebenarnya apa salahku. Apakah aku tidak boleh berteman dengan mu! sebenarnya apa yang terjadi kepadamu, apa kamu ada masalah? ceritakan semuanya kepadaku tapi jangan terus menjauh darimu seperti ini," begitu frustasi Risman sekarang.



Dia terus mengejar Fara yang terus menjauh darinya. Di toko bunganya ini dia terus berusaha untuk mengejar Fara yang terus saja menjauh darinya.



"Maaf, bukan kamu yang bersalah. Kamu tidak punya masalah apapun. Tapi kita memang tidak pantas untuk berteman. Apalagi menjalin hubungan yang kamu katakan barusan."



Fara terus menjauh. Dia tak mau dekat dengan Risman.



Ya, baru saja Risman mengatakan kalau dia menyukai Fara dan ingin menjalin hubungan kepada Fara.



Apa yang Risman katakan membuat Fara semakin merasa bersalah, apa yang dia takutkan kini telah terjadi.



"Tapi kenapa, kenapa kita tidak bisa menjalin hubungan! kenapa! kamu belum menikah kan? aku juga belum. Kita juga bukan saudara! lalu apa yang membuat kita tidak bisa memiliki hubungan!"



Risman terus mengejar Fara sementara yang di kejar terus berjalan kesana kemari sembari membenarkan bunga-bunga yang ada di sana.



Fara berhenti sejenak, matanya terlihat tertutup, dia juga mengambil nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.



"*Apakah ini saatnya aku jujur kepada Risman? apakah Risman memang harus tau kalau saat ini aku tengah hamil?" batin Fara*.



"Kenapa, Fara. Kenapa!"



"Karena..." Suara Fara terdengar sangat melengking.



"Karena apa?!"



"Karena, karena aku..."



"Permisi, Mas, bisa pesan bunganya?" kedatangan pembeli membuat mereka berdua harus menghentikan perbincangan mereka. Menghentikan Fara yang ingin jujur kepada Risman.



"Hem, bisa!" Fara mengusap sekilas air matanya lalu berjalan mendekati pembeli itu.



"*Kenapa, kenapa sangat susah mendapatkan kamu, Fara. Sebenarnya apa yang terjadi kepadamu. Apa yang kamu sembunyikan." batin Risman*.


__ADS_1


\#\#\#\#\#\#\#\#


Bersambung...


__ADS_2