
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...________...
Arini mengusap keringat yang keluar di kening nya setelah hampir sampai di rumah sakit. Arini berhenti sejenak setelah matanya sudah melihat rumah sakit. "Alhamdulillah." Serunya dengan penuh syukur.
"Rumah Sakit Gautama! " Arini berbinar membaca papan nama di hadapan nya.
Arini melihat sejenak Arya yang sama sekali tak ada pergerakan, "dia masih hidup kan? " gumam nya seraya membungkukkan badan menatap Arya yang terlihat begitu damai. "Ya Allah selamat kan dia, jangan sampai dia kenapa-napa. " doanya dengan sungguh-sungguh.
Arini memajukan jari telunjuknya dia dekatkan di bawah hidung Arya sekedar memastikan keadaan Arya, "masih bernafas, Alhamdulillah." Arini kembali mendorong dengan sisa-sisa tenaganya yang sudah terkuras habis. "ekh... "
Arini berlari masuk ke rumah sakit, berteriak meminta pertolongan pada para dokter ataupun perawat yang masih terjaga. "Tolong,, tolong..!" suara Arini begitu lantang, membangunkan beberapa perawat yang tengah istirahat.
Arini terus berteriak karena tak ada yang menanggapinya sama sekali. Sampai di depan para perawat Arini memberanikan diri mengomel habis-habisan pada mereka.
"Mbak, Mas perawat... apa kalian tidak denger kalau ada orang yang terus minta tolong? suara saya hampir habis untuk teriak dan kalian malah berdiam di sini tanpa mengindahkan kedatangan ku, apa seperti ini kerja kalian. " ucap Arini kesal.
Para perawat menatap remeh pada Arini bahkan mereka terlihat menyunggingkan bibir mereka tanda tak suka dengan kedatangan Arini.
Semua itu sudah hal yang biasa buat Arini, di abaikan, tidak di anggap, di sepelekan, bahkan di hina pun sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Arini. Kulit nya yang gelap seperti menjadi masalah buat mata yang melihat nya tapi tidak untuk diri nya itu adalah sebuah anugrah bagi Arini.
"Ihh.. kenapa gue pengen muntah ya liat dia. apalagi dandanan nya menjijikkan. " lirih perawat yang memang sangat cantik.
"Iya," jawab teman nya dengan berbisik mencondongkan bibir nya ke dekat temannya.
Arini yang samar-samar mendengar nya lebih memilih acuh saja dari pada menjawab nya. "𝘉𝘪𝘢𝘳𝘱𝘶𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘱𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘥𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩-𝘭𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘢𝘬𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶? " batin Arini menguatkan hatinya.
"Mbak, Mas. terserah kalian mau mengatakan apapun tentang saya, saya tidak perduli toh itu akan mengurangi dosa saya. Saya kesini hanya ingin anda menolong orang yang sedang sekarat di luar. " seru Arini menunjuk jarinya ke arah luar.
"Hm.., udah jelek suka ngatur lagi." jengkel salah satu perawat.
"Mbak,, saya memang jelek, tapi saya masih punya rasa kemanusiaan dari pada mbak sendiri? mbak seorang perawat tapi mbak bertingkah seperti ini, apa itu pantas.? "
Arini semakin kesal.
Bingung Arini dengan kelakuan para perawat, bukannya mereka bekerja untuk melayani masyarakat yang tengah kesakitan? tapi kenapa di sini malah mereka dengan asyik nya mengomentari kekurangan orang lain.
"Mbak! "
"Ada apa ini..!? "
Seorang dokter tampan, tinggi, gagah, datang menghentikan suara Arini yang ingin kembali protes dengan para perawat.
Arini menoleh dengan cepat kearah Dokter tampan itu, dokter yang kira-kira berumur 30 tahunan itu, "di luar ada orang yang sedang terluka parah, Dok. Tapi mereka malah mengabaikan nya. " ucap Arini.
Dokter itu terdiam sesaat menatap Arini yang terlihat begitu lelah, terlihat dari keringat yang masih membasahi wajah nya. Dokter itu pun juga tak melewatkan pakaian Arini, Rok plisket hitam, baju biru muda, jaket rajut berwarna navy dan hijab biru yang panjangnya sampai ke perutnya dan terdapat bercak-bercak darah yang masih segar, darah dari Arya yang tak sengaja mengenai hijab dan juga baju Arini tentunya.
Dokter itu beralih menatap semua perawat yang sudah tertunduk takut. Mata tajam dokter itu seakan-akan ingin menguliti semua perawat yang ada di hadapan nya.
"Maaf, Dokter. " ucap mereka menyesal.
__ADS_1
Dimas Anggara, Dokter yang begitu berbakat dan di segani oleh semua pasien-pasien nya. Keramahan nya dan juga kerjanya yang begitu baik membuat Dimas mendapatkan pasien yang begitu banyak, dan juga dia mendapatkan kepercayaan dari keluarga Gautama sebagai Dokter pribadi. Dimas pun terpilih menjadi dokter Kepala di rumah sakit Gautama.
Bukan hanya itu saja. Sebenarnya Dimas adalah teman akrab Arya sejak sekolah dasar sampai sekarang, hanya saja mereka berdua tidak sepemikiran, Dimas yang sedari kecil bercita-cita menjadi Dokter dan Arya yang ingin menjadi seorang pengusaha hebat melebihi Papa nya sendiri dan ternyata cita-cita mereka tercapai.
"Cepat tolong pasien itu, atau kalian keluar dari pekerjaan kalian! " sungut Dimas.
Semuanya tersentak dan segera berlari, mengerjakan perintah dari Dimas.
Semuanya berlari mengambil brangkar dan keluar untuk menolong Arya, begitu juga dengan Dimas dan juga Arini.
"Dimana? " tanya Dimas bingung, bagaimana tidak? sampai nya di depan rumah sakit hanya gerobak sampah saja yang ia lihat.
"Di sana, Dokter. " tunjuk Arini.
Dimas pun bergegas beserta para perawat yang tadi menghina Arini.
"Arya! " pekik Dimas menatap sahabat nya terkulai tak sadarkan diri di gerobak sampah dan begitu banyak luka.
Dimas menatap tajam Arini, bagaimana bisa gadis berkulit gelap ini membawa seorang Arya anak dari keluarga Gautama hanya dengan gerobak sampah, seandainya Arya tau entah apa yang akan dia lakukan pada gadis itu.
"Maaf Dok. Saya terpaksa bawa dia dengan gerobak ini karena tak ada satupun mobil yang melintas di sana. Maaf, " ucap Arini yang seakan tahu apa yang Dimas pikir kan.
"Apa yang terjadi dengan nya.?! " tanya Dimas dengan suara berat.
Arini ketakutan mendengar itu, Arini takut di salahkan atau mungkin di tuduh yang melakukan itu pada Arya.
"Ta-tadi,, saya melihat dia sudah seperti ini Dok." jawab Arini.
"Dimana? "
"𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘯𝘨.? 𝘫𝘢𝘳𝘢𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘔𝘪𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘶𝘩,, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘨𝘦𝘳𝘰𝘣𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪. " batin Dimas.
"Kamu sendiri!?"
Arini mengangguk."Iya, Dok. Dok jangan tanya mulu, selamatkan dia dulu dia pasti sangat menderita,"teriak Arini menatap tak tega Arya yang penuh luka.
"Hm. " Dimas mengangguk, "cepat angkat angkat.. "pinta Dimas.
"Tunggu saya sampai selesai menangani nya, saya masih ada beberapa pertanyaan untuk mu.? "ujar Dimas.
"I-iya,, Dok. " jawab Arini.
Dimas dan para perawat membawa Arya untuk mendapatkan pemeriksaan atas semua luka-luka nya. Sedangkan Arini masih menunggu di depan ruangan sesuai dengan permintaan Dimas.
"Astaghfirullah hal 'azim,, aku lupa harus membeli obat untuk nenek.. " Arini beranjak dan berlari dengan cepat menuju apotek rumah sakit, membeli beberapa obat untuk Murni. Arini kembali berlari keluar dari rumah sakit dia harus secepatnya memberikan obat pada Murni yang tengah demam.
Setengah jam Dimas memeriksa Arya, diapun keluar setelah semuanya selesai dan meminta perawat memindahkan Arya ke ruang VVIP khusus untuk keluarga Gautama.
Dimas celingukan mencari Arini yang tidak ada di sana, bukannya dia sudah meminta nya untuk menunggu nya. Tapi sekarang..?
"Di mana gadis itu?" ucap Dimas bingung.
__ADS_1
"Sus,, apa kamu melihat gadis yang membawa tuan Arya tadi? " tanya Dimas pada perawat yang melintas di sana.
"Tadi saya lihat dia buru-buru pergi, Dok. Dan dia juga sempat membeli obat di apotek rumah sakit. " jawab nya.
_________
"Assalamu'alaikum!" seru Arini mengucapkan salam, menutup pintu setelah dia masuk dan secepatnya menuju kamar Murni.
"Wa'alaikumsalam... kamu darimana malam-malam begini, Arini? " tanya Santoso.
"Arini beli obat untuk nenek, Kek. " jawab Arini lirih.
Arini mengambil segelas air putih untuk Murni dan memintanya untuk meminum nya segera.
"minum obatnya, Nek. " pinta Arini seraya membantu Murni beranjak dari tidur nya.
Tubuh yang lemah membuat Murni menerima semua permintaan Arini, dan meminum obat nya tanpa bertanya dan berkomentar apapun.
Arini kembali merebahkan tubuh Murni dengan perlahan, dan menyelimuti nya dengan rapat. "Istirahat lah Nek. Besok pasti nenek akan sembuh," ucap Arini seraya tersenyum manis pada Murni.
" Hm," Murni mengangguk dan mulai memejamkan matanya tanpa melihat terlebih dahulu keadaan Arini.
Arini beranjak dan keluar dari kamar Murni, Santoso yang sadar akan keadaan Arini dan juga hijab dan baju Arini yang terdapat darah pun membuat Santoso penasaran, mengikuti dan berniat untuk bertanya langsung pada Arini.
"Arini!" panggil Santoso.
"Ya, "jawab Arini, menoleh dengan cepat setelah menghentikan langkah nya.
"Kenapa dengan pakaian mu, kenapa begitu banyak darah? kamu baik-baik saja kan? tidak ada yang menggangu mu kan? " tanya Santoso khawatir.
Arini tersenyum ramah ke arah Santoso, "tidak kok, kek. Tadi ada orang yang kecelakaan jadi Arini membantunya dan darah ini? darah dari orang itu Kek. kakek tidak usah khawatir seperti itu, Arini baik-baik saja kok" jawab Arini menjelaskan.
"Ya sudah, sekarang istirahat lah. Oh, iya. kamu besok beneran mau cari kerja? " tanya Santoso dan Arini mengangguk cepat.
"Iya kek. "
Santoso membelai lembut kepala Arini dan juga tersenyum padanya. "Semoga Allah memudahkan segala urusan mu, " ucap nya.
"Terima kasih, Kek. "
"Hm.. sekarang istirahat lah. "
"Iya, kek. "
Arini pergi dari hadapan Santoso yang masih terus menatap punggung nya. Meskipun semua orang di tempat orang tua Arini tidak percaya pada Arini tapi Santoso dan juga Murni sangat percaya dengan Arini, Arini tak mungkin melakukan hal serendah itu.
"Semoga Allah memberikan kebahagiaan untuk mu kelak, Nak. Kakek dan nenek mu ini hanya bisa mendoakan untuk kebaikan mu saja. "
Santoso kembali masuk ke kamar nya dan Murni setelah Arini menutup pintu kamar nya. Harapan untuk kebahagiaan Arini selalu menjadi doa utama untuk mereka berdua. Untuk sekarang Arini lah segala-galanya untuk mereka berdua, setelah perlakuan Marta yang telah tega mengambil harta mereka dengan paksa dan mengusir mereka setelah mendapatkan nya.
____
__ADS_1
Bersambung...
_________________