Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
62. Susu Kuda Liar


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


"Minuman apa ini!" Arya mengendusnya aromanya tidak seperti biasanya, Arya menuangkan begitu saja di lantai, dan warnanya juga berbeda.


"Toni....!! " teriaknya dengan sangat keras.


Amarahnya langsung memuncak saat minumannya tiba-tiba berubah, bau, rasa, juga warnanya. Jelas Arya begitu kesal dia sudah seperti cacing kepanasan yang terus berputar-putar dengan frustasi sekarang.


"Toni...! " teriaknya lagi. Saking kesalnya sepertinya Arya melupakan kalau mereka sedang di lantai yang berbeda. Meskipun Arya berteriak sekuat tenaga tak mungkin Toni akan mendengarnya.


"Dasar bodoh! Toni ada di pantai berbeda! " sungutnya memarahi dirinya sendiri.


Arya mengambil ponselnya, yang jelas dia akan menghubungi Toni dan menanyakan kenapa minumannya bisa berubah.


"Datang ke ruangan ku dalam dua menit," ucapnya setelah berhasil menghubungi Toni. Belum juga mendapatkan jawaban Arya langsung memutuskannya sepertinya kekesalan Arya sangat besar.


Arya mengambil satu botolnya yang sudah kosong, melemparkannya hingga mengenai dinding dan pecah, "Argghh...! siapa yang berani melakukan ini! dia harus segera angkat kaki dari sini, meskipun dia adalah Toni. Argghh!! " teriaknya frustasi.


Lima menit Toni baru sampai di ruangan Arya, baru saja masuk tatapan membunuh dari Arya terasa menusuk mengenai ulu hatinya, sakit sekali. Toni menunduk dia juga berjalan dengan sangat pelan.


Toni tau, pasti ada masalah besar sampai-sampai Arya terlihat begitu marah dan menatapnya begitu bengis.


"Apakah kamu yang melakukannya!?" pertanyaan Arya masih terdengar sangat pelan. Dia ingin mendengar penjelasan dari Toni meski dia bertanya tanpa dengan bentakan.


"Mak-maksud, Tu-Tuan..? " Toni tergagap untuk menjawab pertanyaan Arya, Toni tak mengetahui apa yang di maksud Arya, apa yang dia lakukan? Toni tak melakukan apapun yang yang melanggar peraturan dari Arya.


"Cepat katakan! siapa yang melakukannya, katakan! " kini nada suara Arya sudah berubah lebih tinggi dan terdengar sangat marah.


"Apa yang Anda maksud, Tuan, saya tidak mengerti," Toni masih terus menunduk, tubuhnya gemetar matanya tak berani memandangi Arya yang sedang mengintimidasinya, "𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘶? " batin Toni bingung.


Arya mengambil botol yang masih penuh, melemparkan dengan sadis di hadapan Toni.


𝘗𝘺𝘢𝘳𝘳...


"Lihat dengan baik, minuman apa itu yang kamu berikan padaku, hah! minuman apa! " Tangan Arya berkali-kali menunjuk ke arah botol yang sudah pecah berceceran juga air di dalamnya.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘴𝘶? 𝘒𝘪𝘳𝘢-𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪? " batin Toni tak mengerti.

__ADS_1


Isinya yang biasanya berwarna merah kini berubah menjadi putih, bir yang begitu nikmat kini berubah menjadi susu, siapa yang tidak marah.


"Apa kamu tidak tau siapa yang melakukannya! Saya beri waktu lima menit untuk kamu membawa orang itu datang ke hadapanku, cepat! " Suara Arya begitu menggelegar memenuhi ruangan itu.


Toni sangat ketakutan, dia juga sangat bingung waktu lima menit itu waktu yang sangat singkat, bagaimana dia bisa secepat itu menemukan pelakunya.


"Ba-baik, Tuan." Toni pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan Arya dengan amarahnya yang begitu besar.


"Awas saja siapapun kamu, kamu akan mendapatkan hukuman yang besar dariku," gumamnya, tangannya sudah mengepal ingin sekali menonjok orang sekarang juga.


////////


Toni terlihat kebingungan, di mana dia akan menemukan pelakunya. Jika dia tidak bisa menemukannya pasti dia akan mendapatkan hukuman yang besar, bisa jadi dia akan kehilangan pekerjaannya juga karena kesalahan yang tidak dia perbuat.


"CCTV, ya! aku bisa menemukan orang itu lewat CCTV," Toni berjalan buru-buru menuju ruangan CCTV berada. Dia yakin dia akan mendapatkan jawabannya di sana.


Toni sangat tak sabaran, dia masuk begitu saja tanpa menghiraukan siapapun yang melihatnya.


"Tuan Toni, ada yang bisa saya bantu? " tanya penjaga ruangan itu.


"Putarkan rekaman di depan ruangan Tuan Arya," pintanya.


"Baik, Tuan," jawabnya. Tangan penjaga itu langsung bergerak di keyboard laptop di depannya, mencari putaran rekaman di depan ruangan Arya.


"Tak ada yang masuk ke ruangan tuan Arya, Tuan. Selain OB baru yang di tugaskan di lantai lima puluh," ucapnya memberi tau.


"Arini maksudmu! " tanya Toni memastikan.


"Iya, Tuan. Ini, anda bisa melihatnya sendiri," bisa di lihat sangat jelas bahwa Arini yang masuk ke ruangan Arya beberapa kali bahkan yang terakhir dia masuk dengan membawa nampan yang ada dua gelas besar berisi susu.


"Ternyata benar-benar Arini," Toni kembali keluar dia ingin mencari keberadaan Arini dan membawanya ke ruangan Arya.


///////


Di dalam pantry Arini terus mondar-mandir tidak tenang dia merasa takut karena melakukan kesalahan. Tapi semua yang dia lakukan adalah permintaan dari eyang Wati Arini tak bisa menolak permintaannya itu.


"Bagaimana ini, pak Tuan pasti akan sangat marah padaku," gumamnya.


𝘍𝘓𝘈𝘚𝘏𝘉𝘈𝘊𝘒..

__ADS_1


𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘦𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘢𝘵𝘪, 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘥𝘶𝘢 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘴𝘪 𝘴𝘶𝘴𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘦𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘢𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪.


𝘓𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘦𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘞𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘭𝘢𝘤𝘪 𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘣𝘰𝘵𝘰𝘭 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘴𝘶.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 '𝘢𝘻𝘪𝘮, 𝘮𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢 𝘗𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘌𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘪𝘬, 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘯? 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘴𝘶 𝘬𝘶𝘥𝘢 𝘭𝘪𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢-𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘶𝘮𝘯𝘺𝘢, " 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢.


𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢. 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘭𝘰𝘴𝘦𝘵, 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘶𝘤𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩 𝘸𝘢𝘥𝘢𝘩 𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳.


"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨, " 𝘶𝘤𝘢𝘱𝘯𝘺𝘢.


𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘯𝘺𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘭𝘢𝘤𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳.


𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘪𝘧𝘵, 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 -𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘺𝘪 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘥𝘪𝘯𝘥𝘪𝘯𝘨.


𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘢𝘧𝘢𝘴 𝘭𝘦𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦 𝘢𝘳𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬.


"𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢, 𝘗𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘢𝘶 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘰𝘴𝘢, " 𝘨𝘶𝘮𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢.


𝘕𝘖𝘙𝘔𝘈𝘓...


Arini yang sangat gelisah tak menyadari kedatangan Toni, dan langsung di kejutkan oleh panggilan untuknya yang terdengar sangat kasar.


"Arini! ikut aku sekarang! " ucapnya dengan sangat kasar.


"Ke-kemana, Tuan," Arini tergagap jelas dia sangat takut.


"Ikut sekarang," ajaknya.


Dengan ragu Arini berjalan mengikuti Toni, dan ternyata Arini di ajak ke ruangan Arya.


"Permisi, Tuan. Saya telah berhasil membawa pelakunya," ucapan Toni berhasil membuat Arya yang tengah duduk santai di sofa langsung menoleh.


"𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪! 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘶𝘨𝘢, " Batin Arya.


"Pergilah," pintanya, mengibaskan tangan mengusir Toni.


"𝘔𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶... " Arini tertunduk, tubuhnya seketika gemetar juga terasa sangat kaku, matanya juga tak berani menatap Arya.


///////

__ADS_1


Bersambung...


__________


__ADS_2