
Happy Reading..
******
Dimas tidak langsung kembali ke rumah sakit ataupun ke rumahnya sendiri, dia memilih untuk singgah sebentar di cafe.
Memesan kopi, juga menikmatinya mungkin akan sedikit membuat dia tenang hatinya juga akan lega, mungkin sih?
Tetapi ternyata itu tidak berpengaruh apapun untuknya. Dia tetap sedih, khawatir, juga sangat takut kalau Arini sekarang dalam masalah atau mungkin dia kelaparan.
Semua bayangan akan apa yang selalu Arini alami itulah yang membuat Dimas menjadi tidak tenang, ya meski Arini adalah gadis kuat yang bisa sabar dalam semua cobaan apapun tetapi dia pasti membutuhkan orang yang bisa selalu melindunginya dari bahaya.
"Semoga kamu dalam keadaan baik-baik, Dek. Semoga kamu berada atau menemukan orang-orang baik yang akan membantumu dalam semua masalahmu," gumam Dimas.
Tangan kembali mengambil cangkir berisi kopi, diseruput nya dengan pelan menikmati rasa manis-manis pahit yang sangat khas.
Ketenangan Dimas terganggu setelah dia mendengar suara seorang perempuan yang tengah bertentangan dengan orang yang lain, Dimas seketika menoleh dan di lihatnya perempuan itu adalah Raisa yang yang berdebat dengan seorang laki-laki muda.
"Raisa? kenapa dia?" Dimas beranjak, dia sangat penasaran hingga akhirnya dia mulai melangkah untuk menghampirinya.
"Sudah salah masih saja nyolot! mentang-mentang situ orang hebat lalu bisa berbuat semaunya? tidak! orang-orang seperti mu benar-benar tidak pantas menjadi orang yang sukses!" omelnya.
Mata Raisa begitu tajam memandangi orang yang juga melotot kepadanya. Tangan Raisa berkacak pinggang dengan penuh berani, menantang laki-laki yang terlihat sangat menakutkan yang mempunyai tubuh yang sangat gagah.
"Heh! sebenarnya bukan saya yang salah, tapi kamu yang salah! jalan nggak lihat-lihat dan menumpahkan kopi di bajuku! Ini baju mahal saya yakin kamu tidak akan bisa menggantinya."
Laki-laki itu juga tidak mau kalah, dia juga lebih sadis mengatakan itu kepada Raisa.
"Heh! kamu yang salah! siapa suruh lari-lari di tempat ramai kayak begini, mana nggak lihat lagi!" jawab Raisa tetap kekeuh membela dirinya sendiri.
Tak mungkin kan seorang Raisa yang bar-bar asal ceplas-ceplos menyerah begitu saja apalagi dia yang tidak salah tapi disalahkan.
"Kamu yang salah!" laki-laki itu juga tetap kekeuh.
"Raisa, ada apa ini?" sampailah Dimas di samping mereka berdua.
Raisa juga laki-laki itu menoleh secara bersamaan dan melihat Dimas yang sudah berdiri tegak dan memandangi mereka berdua dengan bergantian.
"Dimas!"
"Raka!"
__ADS_1
Kedua laki-laki itu saling memekik setelah melihat wajah satu sama lain, senyum juga langsung terpancar jelas dari keduanya.
"Kamu kembali, sejak kapan?" Dimas bertanya sembari tos di susul dengan saling memeluk hangat.
"Belum lama, baru satu minggu saya kembali," jawab Raka setelah membalas sambutan hangat dari Dimas dengan pertemuan mereka berdua.
Kedua laki-laki yang terlihat begitu bahagia itu telah melupakan Raisa yang kini terpaku dalam diam, dalam rasa jengkel yang semakin dalam karena ternyata laki-laki yang membuat kopinya tumpah itu adalah teman dari Dimas.
"Heyy...! Ini bagaimana dengan nasib kopi ku! apakah kamu tidak berniat menggantinya!" seru Raisa.
Raisa sangat geram karena kedua laki-laki itu hanya menoleh sebentar dan kembali lagi dalam kesenangan mereka.
"Dasar laki-laki tak bertanggung jawab!" tangan Raisa sudah terkepal, ingin sekali memukul teman Dimas itu.
Benar saja, tangan Raisa bertindak cepat karena keberadaannya tidak di gubris oleh mereka berdua.
"Dasar sialan! akkk... brukk..." Raisa yang ingin memukul Raka malah tergelincir dan berakhir menubruk Dimas.
Dimas juga langsung menangkapnya karena dia terkejut, tangan Dimas juga langsung melingkar di pinggang Raisa dan kedua sejoli itu saling melekat tak ada lagi jarak.
Deg.. deg... deg...
Getaran-getaran dari hati keduanya juga mulai saling beradu satu sama lain menyalurkan sebuah energi yang membuat mata mereka tak saling berkedip dan menatap penuh kekaguman.
"Ih..., jangan pegang-pegang! jangan cari kesempatan dalam musibah ya!" Raisa langsung mendorong Dimas setelah dia menyadari jarak yang begitu dekat dengan Dimas, laki-laki yang kemarin hampir saja meninggalkan dia di jalan sepi.
"Si-siapa yang mencari kesempatan, saya hanya menolong saja. Coba kalau aku tidak ada kamu bisa masuk tuh ke got," jawab Dimas.
"Halah, alasan!" Raisa langsung canggung, meski dia menjawab tetapi pipinya juga sudah memerah, dia merona karena berdekatan dengan Dimas.
"Ingat, urusan kita belum selesai! dan untuk kamu Tuan! jangan berpihak padanya kalau tidak mau mendapatkan balasan dari saya juga!" ucap Raisa mengingatkan Dimas.
Raisa pergi setelah itu, dia masih sangat malu dan dia harus menyembunyikan dari Dimas ataupun dari dunia.
Sementara Raka juga Dimas masih terus memandangi kepergiannya yang semakin jauh. Raka mendekat, berdiri tepat di sebelah Dimas yang terus diam mengamati.
"Siapa perempuan itu, kamu mengenalnya? atau jangan-jangan kamu naksir padanya? hem... dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah, selalu menyukai gadis bar-bar," Seloroh Raka.
"Emangnya kenapa? justru gadis bar-bar itu yang bertindak dengan apa adanya, dia juga cenderung cewek yang setia. Lah kamu? menyukai gadis yang kalem ternyata kamu di duain mulu, Hhhhh... " Dimas tersenyum acap kali mengingat masa-masa muda mereka dulu apalagi masa-masa SMP sampai masa SMA.
Ya, Raka adalah teman kecil Dimas juga Arya, teman seperjuangan namun sekarang berada dalam gelar mereka masing-masing. Arya seorang CEO, Dimas seorang dokter, sementara Raka seorang Pengacara.
__ADS_1
°°°°°°°°°°°°
"Ma, maafkan Papa. Sampai sekarang Papa juga belum bisa menemukan Arini," Hendra tertunduk lesu, penuh sesal juga penuh dengan ketakutan.
Duduk menemani sang istri yang masih berada di rumah sakit yang perlahan-lahan keadaannya semakin membaik.
"Tapi Papa tidak akan putus asa, Papa akan terus mencarinya sampai menemukannya," imbuhnya lagi.
Sementara Nilam terus diam, dia masih saja dalam rasa kecewanya terhadap Hendra yang dulu tidak mempercayainya. Seandainya Hendra percaya mungkin mereka tidak akan seperti sekarang, dekat namun tetap dengan jarak.
Seorang istri mana yang akan menerima begitu saja maaf dari suaminya, suami yang telah tega menuduhnya berselingkuh hingga sampai dia membuang anaknya sendiri karena mengira anak itu adalah anak dari selingkuhannya.
"Semua ini terjadi juga karena Papa, kalau Papa percaya pasti semua ini tidak akan terjadi. Seharusnya kita juga sedang berbahagia untuk menyambut ulang tahunnya, tapi apa sekarang? bahkan kita tidak tau di mana di sekarang. Apakah dia baik-baik saja, dia kehujanan atau kelaparan kita tidak tau kan?"
Nilam masih sangat marah, dia belum bisa memaafkan Hendra meski berkali-kali Hendra meminta maaf padanya.
Nilam selalu saja mengatakan sudah memaafkan tetapi hatinya tak sama dan itu untuk bisa menerimanya.
"Papa ngaku salah, Ma. Papa ngaku salah," ucap Hendra, dia benar-benar sudah sangat menyesal.
Nilam tetap kekeuh, dia juga memalingkan wajahnya dari Hendra, rasanya sangat sakit setiap melihat wajahnya.
"Baiklah, Papa akan pergi mencarinya. Jangan cari Papa, karena Papa tidak akan pulang sebelum menemukan Arini."
Tekat Hendra sudah bulat, dia tidak akan pulang dan menemui Nilam selama dia belum menemukan Arini. Hendra tetap memberikan kecupan di kening Nilam sebelum dia pergi, dia akan selalu melakukannya meski tidak mendapat respon apapun dari Nilam.
"Assalamu'alaikum..." dilepaskannya tangan Hendra daru kepala Nilam, dia juga langsung melangkah pergi.
"Wa'alaikumsalam," jawab Nilam dengan begitu malas.
Nilam sama sekali tak melihat Hendra yang benar-benar pergi, kekesalannya masih terlalu besar dan sangat susah untuk memaafkan.
"Maafkan Papa, Ma. Papa janji akan pulang bersama Arini. Papa tidak akan kembali sebelum menemukan Arini, anak kita." batin Hendra.
Air mata menetes setelah kepergian Hendra, Nilam sudah berusaha untuk memaafkan juga untuk menerima takdirnya, tetapi itu sangat susah untuk dia terima.
Meskipun dia sudah tau kalau anaknya masih hidup tapi tetap saja dia belum bisa memaafkan. Mulut bisa saja mengatakan kalau dia sudah memaafkan, tetapi hatinya siapa yang tau?
••••••°°••••••
Bersambung...
__ADS_1