
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
..._________...
Hingga sore hari Arini terus keliling kota mencari pekerjaan, namun tetap saja satupun tak ada yang mau menerimanya. Alasannya karena Arini yang tidak menarik lah, Arini yang terlalu kecil lah, Arini yang tidak berpendidikan tinggi lah.. Semuanya mencari kekurangan Arini sesuka hati mereka.
Ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan saja untuk bisa mendapatkan pekerjaan, Arini harus bisa lebih sabar, mungkin tidak sekarang tapi mungkin besok dia bisa dapatkan.
Arini pulang dengan rasa kecewa, namun dia tetap tak pasrah begitu saja, dia tetap menyerahkan nasibnya pada sang Pencipta karena Dia lah yang akan memberikan segalanya yang dia ingin dan dia butuhkan.
"Assalamu'alaikum." Arini masuk rumah Murni dengan pelan, dia tetap berusaha tersenyum di depan kedua orang yang dia punya, nenek dan juga kakeknya.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Gimana, kamu udah dapatkan pekerjaannya? " tanya Murni yang telah menyambut kedatangan Arini.
Arini menggeleng, namun dia tetap tersenyum. "Belum Nek, mungkin besok. Mungkin Arini kurang keras mencarinya, besok Arini harus lebih semangat lagi, " jawab Arini.
"Nenek yakin kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan itu. Sekarang bersihkan dirimu dan istirahatlah sembari menunggu maghrib tiba, " pinta Murni.
"Iya, Nek, " Arini kembali berjalan dan kini dia pergi ke kamar untuk mengambil baju ganti dan hendak membersihkan tubuhnya dari keringat.
Sebelum keluar Arini terduduk sejenak sebenarnya apa yang kurang dari dirinya dia sudah berjuang sangat keras tapi kenapa belum juga bisa mendapatkan pekerjaan. Kenapa semuanya yang di permasalahkan adalah penampilan Arini yang mereka bilang sangat norak dan juga kulit Arini yang gelap.
"Ya Allah... Semua adalah suratan takdir yang telah Engkau berikan pada Arini, Arini sudah ikhlas, Arini mohon mudahkanlah Arini untuk bisa mendapatkan pekerjaan seperti orang lain. Bukankah semua orang di mata-Mu adalah sama, maka samakan aku dengan yang lain juga ya Allah. Mudahkanlah untuk ku seperti mereka yang juga yang Engkau mudahkan," doa Arini sungguh-sungguh.
____
Fara terus membuntuti Melisa, dia begitu penasaran dengan cerita tentang bos dingin bin cuek bin sombong di tempat kerja Melisa. Fara terus kepo, dia ingin mengetahui semuanya dari Melisa.
"Kak, bagaimana? sudah sampai mana Kak Melisa mendekati bos, kakak? " tanya Fara.
Melisa yang masih sangat capek karena baru pulang dari kerja langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang begitu empuk. Membuang tas nya jauh di atasnya.
"Belum ada peningkatan apapun, masih saja gitu-gitu saja. Lagian hari ini bos tidak berangkat. " jawab Melisa.
Fara duduk di sebelah Melisa menatap wajah lelah sang kakak yang kini memejamkan matanya, "Terus, apa rencana kakak? " tanyanya.
"Belum tau, tapi aku akan berusaha untuk bisa mengambil hatinya dan menjadi satu-satunya wanita yang bisa mengendalikannya," tekat Melisa sudah bulat dia ingin meluluhkan hati Arya yang sekeras batu dan sedingin salju.
__ADS_1
Melisa kembali membuka mata, dia duduk lagi menoleh ke arah Fara. "Terus, gimana dengan kamu? apa kamu masih terus mengganti pacar seperti kamu mengganti baju setiap hari?" ketus Melisa.
"Ya, ya begitulah! kan itu sudah menjadi makanan sehari-hari, Kak. Hidup ini hanya sekali kan? harus di nikmati. " jawab Fara dengan perasaan senang.
"Ingat! Jangan suka-suka menyakiti hati seorang pria, jika mereka sudah marah mereka bisa melakukan apapun pada kita yang seorang perempuan. " seloroh Melisa.
"Helehh..., kayak kakak baik saja orangnya, " ketus Fara tak terima saat di nasehati.
"Terserah kamu saja lah, yang penting kakak sudah ingatkan kamu. Meskipun kakak tidak baik tapi kakak hanya mengejar satu orang saja, tapi kamu?" mata Melisa memicing sinis.
"Ya... Ya..., kakak emang selalu benar. " Fara melenggang pergi dengan kesal. Fara pergi begitu saja keluar dari kamar itu meninggalkan Melisa yang masih duduk di ranjang dan terus menatap kepergiannya sembari menggelengkan kepalanya.
Merasa sudah lebih baik, Melisa beranjak dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sebenarnya dia sangat kesal karena Arya tidak datang, waktunya sudah terpotong satu hari, rencana yang dia rancang dari pagi gagal total karena ketidakhadiran seorang Arya Gautama.
____
"Hari ini aku sudah bisa pulang kan? Aku sudah tidak betah berada di kamar 𝘭𝘶𝘤𝘬𝘯𝘶𝘵 ini. Dengan berada di sini bukan kesembuhan yang aku dapat, tapi penyakit baru yang akan datang! " sungut Arya.
Seorang yang biasa sibuk mondar-mandir di perusahaannya yang besar dan terkadang pergi bersenang-senang kini harus duduk dan rebahan terus menerus di atas ranjang, siapa yang kuat?.
"Kamu benar-benar sudah tidak apa-apa? tapi lukamu belum sepenuhnya membaik, Ar. " Jawab Dimas yang sebenarnya sangat khawatir dengan keadaan sahabat sekaligus tuannya itu.
"Aku baik-baik saja, kalau aku tetap di sini apa kamu bisa menjamin aku akan tetap hidup besok. " Sarkas Arya sinis.
"Emang kamu berniat mau bunuh diri? sungguh gila kamu, Ar. " Kesal Dimas tak habis pikir dengan jalan pikiran seorang Arya.
"Siapa yang mau bunuh diri, aku belum merasakan semua surga dunia, bagaimana mungkin malaikat akan tega mencabut nyawaku! Dasar..! " Kesal Arya.
Dimas hanya bisa pasrah, menggeleng dengan kasar dan tak mau menjawab lagi. Mulut Arya sungguh pedas, bahkan dia dengan santainya mengatakan tentang kematian. Mungkin otak Arya sudah hancur karena di pukul oleh para preman.
"Aku akan menyiapkan kepulangan mu, sebaiknya kamu istirahat dulu sebelum kau benar-benar pulang." Dimas bergegas pergi, bisa gila dia kalau lama-lama berada di hadapan Arya, kalau tidak gila mungkin bisa-bisa dia akan mati berdiri di usia mudanya, dan belum sempat mencecap rasa manisnya surga dunia tidak seperti Arya.
Tak sabar terus berada di atas ranjang Arya turun, melepaskan infus yang masih melekat di punggung tangannya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi asisten Toni untuk menjemputnya.
"Cepatlah datang, sepuluh menit tidak sampai maka bersiaplah kau pergi ke perusahaan cabang. " ancaman Arya yang mampu membuat bulu kuduk Toni berdiri.
"𝘉𝘢- 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯. " Jawab Toni dari seberang.
__ADS_1
Baru saja jawaban dari Toni itu berhenti di saat itu juga Arya langsung menutup ponselnya. Dia sudah sangat malas berada di kamar yang menurutnya seperti neraka itu, Arya mengambil baju di laci melepaskan baju rumah sakit begitu saja di sana lalu mengganti dengan bajunya sendiri.
Baju rumah sakit berwarna biru muda itu langsung di lempar oleh Arya hingga berhasil mendarat di tempat sampah. Arya terlihat gagah dengan baju hem berwarna gelap itu, semua baju Arya memang tak ada yang berwarna cerah semuanya berwarna gelap, coklat, hitam, abu-abu... , dan seperti itulah semuanya.
Belum juga Toni maupun Dimas datang Arya sudah keluar, mengayunkan kakinya untuk segera pergi dari tempat itu. Bahkan obat-obatan sama sekali tidak di bawa olehnya.
Dimas yang akan masuk ke kamar Arya langsung berbalik arah setelah dia melihat Arya yang sudah berjalan pergi. Tak heran lagi untuk Dimas, Arya memang selalu seperti itu. Dia seperti pria anti obat-obatan meskipun dalam keadaan sakit keras sekaligus.
"Arya! Ar...! " Teriak Dimas seraya berlari mengejar Arya yang tetap acuh meskipun mendengar suaranya. "Dasar Arya, nyusahin aja terus! awas saja kalau sampai masuk rumah sakit lagi, aku ogah merawatnya lagi. " sungut Dimas.
Sampai di depan rumah sakit ternyata mobil yang di kendarai Toni sudah datang, apa sih yang tidak akan di komentari oleh Arya, setiap ada kesalahan sedikit pasti dia akan berseru dengan begitu angkuh. "Dasar lelet! udah nggak butuh pekerjaan lagi! " mulutnya berucap namun dia juga langsung masuk ke dalam mobil yang pintu nya sudah di buka oleh Toni.
Toni menunduk, dia tak akan pernah berani menjawab, pasrah aja dah, mau di katain seperti apapun juga nggak masalah, nyatanya bahunya masih di butuhkan.
"Toni! " teriak Dimas dengan nafas terengah.
"Iya, tuan Dimas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Toni ramah.
"Nih, obat Arya! pastikan dia meminumnya." Jawab Dimas seraya menyerahkan beberapa bungkus obat.
"Baik Tuan. "
"Lelet! cepatlah! atau kamu memang siap untuk ke perusahaan cabang!" sungut Arya tak sabar.
"I- iya, Tuan."
"Pergilah." ucap Dimas.
Toni mengangguk, langsung berlari memutari mobilnya dan masuk ke tempat pengemudi. Perlahan-lahan mobil pun mulai melaju.
"Arya... Arya..., Sampai kapan kau akan angkuh seperti ini. " ucap Dimas dengan kepala yang kembali menggeleng.
___
Bersambung...
_______________
__ADS_1