
Happy Reading...
Begitu nikmat Arini menikmati es krim cokelat yang Arya belikan. Arya yang tidak menyukainya makanan dingin itu menjadi penasaran sebenarnya bagaimana rasanya.
Sengaja Arya merebut satu sendok yang seharusnya masuk ke dalam mulut Arini. Arya melahap nya dengan cepat kemudian dia diam sejenak untuk mengetahui rasa yang sebenarnya.
Apa yang Arya lakukan tentunya membuat Arini terbelalak kesal. Itu adalah sendok terakhirnya dan harus hilang karena perbuatan Arya.
Bukan karena itu saja, melainkan Arya yang juga menggenggam tangan Arini yang memegangi sendok es krim bening tanpa warna itu.
Sudah terlanjur juga Arini malah langsung membuka tangan Arya satunya dan meletakkan cup kosong di atasnya.
"Nih, sekalian!" Arini berlalu kesal.
Arya terkesiap setelah sadar dari dia yang menikmati es krim terakhir milik Arini yang ternyata benar-benar sangat enak.
"Arini!" Arya langsung bergegas untuk mengejar Arini yang sedang merajuk, "ishh, pelit juga ternyata tuh anak," gumamnya.
Sebenarnya bukan masalah pelitnya sih, tadi Arya di tawarin juga tidak mau katanya tidak doyan tetapi kenapa setelah tinggal satu-satunya dia embat itupun tanpa berkata dulu.
Arya terus mengejar Arini yang kini menuju ke arah mobil Arya yang terparkir tak jauh dari sana.
Arini masuk kedalam mobil karena kebetulan Arya juga tidak menguncinya.
Arya juga bergegas ikut nyusul masuk di sebelahnya di tempat pengemudi. Dilihatnya wajah Arini yang tertekuk kusut sungguh tak enak di lihat.
"Arini, maaf," Arya menghadap ke arah Arini yang kembali membuang muka darinya. Benar-benar tingkah bocahnya muncul lagi sekarang dari Arini.
__ADS_1
"Arini, aku minta maaf. Apa perlu aku ganti?" tangan Arya sudah siap untuk membuka pintu mobil dia akan menggantinya yang utuh daripada dia akan melihat Arini seperti itu terus.
"Arini hanya ingin pulang, Arini lelah juga dingin," jawabnya.
Alhamdulillah, ternyata itu alasannya kenapa Arini terus mengerucut. Arya melepaskan jasnya dia pakaikan kepada Arini. Arya juga mematikan AC mobilnya.
"Pak Tuan, tidak usah! Nanti Pak Tuan kedinginan. Arini masih kuat kok," Arini hendak menolak dan akan melepas jas Arya lagi tetapi di tahan oleh Arya.
"Tidak, kamu yang lebih penting. Aku kan laki-laki, aku kuat. Aku tidak mau kamu sakit," ucapan Arya terdengar begitu lembut membuat Arini terpaku diam.
Keduanya saling tatap, Arini terus melihat senyum Arya yang terlihat begitu tulus. Benarkah dia tulus padanya, dan tak ada embel-embel buruk yang menjadi tujuannya?
"Baik, kita pulang sekarang," Arya beralih fokus ke setir juga menyalakan mesin setelah itu perlahan-lahan mobil mulai berjalan.
"Kenapa? Apakah kamu masih mau membeli sesuatu?" Arya menoleh sejenak dan masih melihat Arini yang melihatnya.
"Ti-tidak..." Arini tergagap. Cepat memalingkan wajahnya karena ketahuan tengah menatap Arya dan berkhayal tentangnya.
Arya hanya tersenyum sembari terus melihat jalan yang akan dilalui oleh mobilnya.
"Arini, jika aku datang di kehidupanmu untuk menjadi teman hidupmu apakah kamu akan menerimaku? Apakah kamu akan menerima aku yang begitu banyak dosa ini?" Arya kembali berbicara, memecah keheningan yang sejenak terjadi diantara mereka berdua.
"Hem!" Arini menoleh, dia bingung dengan pertanyaan Arya.
"Bagaimana jika aku benar-benar ingin serius padamu. Serius untuk menjadikanmu temanku di setiap hariku hingga selamanya," imbuh Arya lagi.
__ADS_1
"Pak- Pak Tuan, sebaiknya Pak Tuan jangan berbicara hal yang belum tentu lebih dulu. Tetapi kalau memang Pak Tuan serius dengan Arini maka selesaikan dulu masalah Pak Tuan dengan Kak Melisa. Carilah bukti kalau Pak Tuan memang tidak melakukan apapun dan Pak Tuan hanya di jebak, dan setelah semuanya selesai baru Pak Tuan datang pada Arini dan mengatakan semua itu."
"Arini hanya tidak mau terlalu berharap, Arini tidak mau terlalu bahagia karena ucapan Pak Tuan dan setelah itu Arini akan kecewa," ucap Arini tanpa melihat Arya sama sekali.
Ketakutan Arini sungguh besar, tetapi mungkin memang benar. Jika Arini menjawab iya dan mereka saling serius dan hampir bahagia tetapi masalah dari Melisa datang apakah itu tidak akan sangat menyakitkan.
"Kalau itu memang mau mu maka aku akan secepatnya menyelesaikan masalah itu. Akan aku buktikan kalau aku tidak bersalah," jawab Arya yang begitu sangat yakin.
Arya sangat yakin kalau dirinya memang tidak bersalah.
Kakek Susanto juga Nenek Murni bersama-sama duduk di ruang tengah, mereka berdua menunggu Arini yang sampai kini belum juga pulang.
Ditemani teh hangat juga beberapa cemilan di atas piring mereka berdua terus khawatir. Tak seperti biasanya Arini selalu pulang hingga malam seperti ini.
"Kek, sebenarnya Arini pergi kemana?" mata Nenek Murni terus mengamati pintu yang hanya sedikit terbuka.
"Sebentar lagi juga dia akan pulang, Nek. Nenek yang sabar ya. Arini kita kan sudah besar, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik," sebenarnya Kakek Susanto juga sangat khawatir tetapi dia berusaha untuk terlihat tenang dan baik-baik saja.
Nenek Murni mengangguk meski dia tetap khawatir.
"Assalamu'alaikum..."
Suara salam yang mereka dengar membuat mereka langsung beranjak dan menghampiri pintu, memastikan siapa yang datang.
"Wa'alaikumsalam...!" Seru keduanya menjawab.
Kakek Susanto juga Nenek Murni tersenyum setelah melihat siapa yang datang, siapa lagi kalau bukan Arini.
Tetapi senyum keduanya hanya sesaat saja karena melihat ada Arya yang juga berjalan di belakang Arini.
"Arini, kamu darimana?" Kakek Susanto melontarkan pertanyaan kepada Arini tetapi matanya melirik kearah Arya.
"A-Arini...?" Arini menoleh kearah Arya, dan laki-laki itu itu tetap saja berwajah datar dan berusaha tenang. Sepertinya Arya sama sekali tidak takut kepada kakek Susanto.
"Saya yang mengajak Arini pergi, Tuan," Arya angkat bicara.
"Arini masih memiliki kami sebagai orang tuanya, apakah tidak bisa meminta ijin dulu pada kami sebelum mengajak dia pergi," jawab Kakek Susanto dengan begitu nyelekit.
Bersambung...
__ADS_1