Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
142.Casanova Akut


__ADS_3

Happy Reading..


"Eyang eyang! Lepasin eyang, nanti telinga Arya copot!" Protes Arya. Tangannya satu memegangi tangannya Eyang Wati satunya memegangi telinganya sendiri.



Arya menoleh dengan perlahan-lahan memastikan siapa yang datang dan ternyata benar eyang Wati beserta dua orang yaitu Toni juga Raisa yang tadi sempat dia usir.



"Sudah mulai pintar cari-cari kesempatan ya?" ucap Eyang Wati lagi. "Apa kamu tidak lihat, tuh wajahnya yang tersipu karena ulah mu! Dasar anak nakal!" omel eyang Wati.



Bukan hanya eyang Wati saja yang melirik tapi Arya juga, melirik dan melihat dengan jelas bagaimana wajah Arini saat ini.



"Astaga, Arini. Apa yang laki-laki itu lakukan padamu? Kenapa pipimu menjadi memerah seperti ini? Dia tidak menggoda mu kan? Dia juga tidak mencium mu kan?" celetuk Raisa yang tiba-tiba mendekati Arini.



Arini semakin malu sementara Arya semakin kesal.



"Kenapa kamu kesini lagi? Apa kamu tidak takut dengan ancaman ku?!" ucapan Arya semakin meninggi sepertinya dia tidak suka di goda sama sekali, mungkin Arya memang tidak menyukai yang namanya bercanda.



"Astaga Tuan, aku menggoda Arini loh ya! Kenapa Tuan yang tersipu seperti itu? Ck ck ck..." Raisa geleng-geleng kepala. Apakah Raisa akan mengikuti jejak Arini juga yang selalu berdebat dengan Arya? juga tidak takut dengan semua perlakuan Arya yang begitu keras?



"Ton, bawa kucrut ini keluar. Saya tidak mau melihat wajahnya lagi," ucap Arya.



Astaga, kucrut? Nama yang sangat indah dari Arya untuk Raisa yang sangat cerewet dan sedikit bar-bar itu.



Nama yang Arya berikan pastilah tidak akan di terima oleh Raisa begitu saja mana mungkin dia diam saja kan. Tapi Raisa juga tidak berani sih mengatakan hal yang kasar kepada Arya, bisa-bisa berakhir dia hari ini.



"Maaf Tuan, nama saya bukan kucrut tapi Raisa." Hanya itu saja yang berani Raisa katakan.



"Toni!" teriak Arya sudah tidak sabar.



"Baik Tuan." Toni melangkah maju dia sudah siap untuk mengajak Raisa keluar tapi tidak akan lah Raisa mau saja, dia masih ingin berada di sana untuk menemani Arini, karena Raisa tidak percaya pada Arya. Raisa harus melindungi Arini dari Casanova yang melewat akut.



"Mari," ajak Toni.


__ADS_1


Belum juga tangan Toni berhasil menangkap lengan Raisa gadis itu menjatuhkan diri di samping Arini, menggenggam tangan Arini yang terlihat bingung.



"Arini, tolong jangan usir aku. Bukankah aku adalah kakakmu kan? Apakah kamu akan diam saja kakakmu ini ditindas oleh mereka, please Arini tolong aku."



"Apa kamu tidak takut di sini berdua saja dengan Tuan Arya? Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu padamu, kalau ada aku kan aku bisa menolong mu saat dia mau berbuat jahat."



Tak bisa membuat Arya mengizinkan dirinya berada di ruangan itu bukan menjadi masalah dia masih tetap bisa berada di sana kalau Arini yang menginginkannya.



Raisa memasang wajahnya yang begitu memelas, mengangkat wajahnya dan terus mengedipkan matanya kepada Arini. Raisa yakin dengan seperti itu Arini pasti akan membuatnya tetap tinggal.



"Pak Tuan, biarkan Mbak Raisa di sini menemani Arini," nah kan berhasil juga usaha Raisa.



Raisa menang sekarang, hatinya tengah menyerukan terompet kemenangan. Raisa sangat bahagia.



"Tapi Arini, kalau ada kucrut ini kamu tidak akan bisa istirahat," Arya juga ingin membujuk Arini tapi Raisa yakin tidak akan bisa meluluhkan hati Arini.




Raisa menunduk dengan tawa tak bersuara, kalau Arya bisa mengusirnya maka Raisa juga bisa membuat Arya juga terusir melalui muslihatnya yang langsung menjadi perkataan dari Arini.



"Tapi Arini..."



"Eyang juga tidak akan tenang kalau hanya ada kamu saja di sini, lebih baik sekarang kamu keluar dan sarapan. Dengan sarapan otakmu akan kembali jernih." Imbuh Eyang Wati.



Benar-benar sudah kalah Arya sekarang. Dia tidak akan menang melawan para wanita kalau mereka sudah bersatu.



"Baiklah! Lagian Arya juga ada urusan." Arya berdiri, dia juga mulai melangkah tapi dia kembali membalikkan badannya.



"Beneran kamu ingin aku keluar?" tanyanya kepasa Arini.



"Sudah keluar, lagian apa alasannya Arini memintamu untuk tetap bertahan? Kamu belum jadi suaminya," Eyang Wati terkekeh geli melihat Arya yang terlihat kesal. Tangannya juga mendorong Arya untuk secepatnya keluar.


__ADS_1


"Eyang."



"Sudah, jangan kayak bocah!" seru Eyang Wati yang terus di hiasi tawa.



Akhirnya Arya keluar juga setelah tidak diinginkan berada di dalam sana. Susah memang kalau sudah berurusan dengan para emak-emak, seberapapun dia kuat tetap aja dia akan kalah.



"Tuan, ada yang harus saya kerjakan?" tanya Toni yang juga ikut keluar.



"Kamu jaga di sini, pastikan Arini baik-baik saja. Jangan sampai ada orang yang datang dan kembali berniat buruk kepadanya." titahnya.



"Baik, Tuan." Toni membungkuk, dia sangat patuh.



Setelah itu Arya pergi dari sana, entah urusan apa yang ingin Arya lakukan.



Sarapan pagi yang begitu sangat hangat dengan dua keluarga yang rencananya akan menjadi satu keluarga setelah anak-anak mereka akan menikah.


Kedua orang tua Arya, kedua orang tua Nadia juga Nadia sendiri tengah menikmati sarapan mewah yang sudah siap sedia.


Gurauan kecil godaan kecil terus di lontarkan untuk Nadia selaku calon menantu dari keluarga Gautama, apalagi Luna? Dia tak henti-hentinya membuat Nadia malu.


"Seneng rasanya, sebentar lagi akan ada menantu cantik yang akan selalu ada di rumah. Apalagi setelah mereka menikah pasti akan segera memberikanku seorang cucu. Hem.. Sudah tidak sabar aku." ucap Luna.


"Sama, Mbak. Saya juga sudah tidak sabar, sebentar lagi punya menantu ganteng." Dinda pun ikut bicara.


"Kalian berdua ini, mereka baru mau bertunangan bukan mau menikah. Masak iya kalian sudah heboh," Wilman pun tak mau kalah.


"Sudah sudah, semoga saja acara pertunangan nanti berjalan dengan lancar dan setelah itu kita bisa bicarakan kapan mereka akan menikah. Saya lihat pengantinnya juga sudah tidak sabar." Wiguna membubuhi sembari matanya melirik ke arah Nadia yang menunduk tak semangat.


Nadia masih sangat ketakutan dengan apa yang ada di pikirannya bagaimana jika apa yang dia lakukan terbongkar dan keempat orang itu tau pastilah hubungan mereka tidak akan sehangat ini lagi.


"Kenapa, Nad. Apa beneran kamu sudah tidak sabar? Kita bisa perhitungkan untuk mempercepat acara pernikahannya kalau kamu memang mau," Luna menatap Nadia.


"Sa-saya..., saya ikut bagaimana baiknya saja, Tan." Nadia hanya tersenyum kaku membuat Luna juga yang lain penasaran dengan perubahan anak itu.


"Baiklah, setelah pertunangan nanti malam, kita akan membicarakan pernikahan kalau perlu besok menikah juga tidak masalah bagi tante," ucap Luna dan langsung di angguk-ki oleh semua orang.


Brakkk....


"Tidak akan pernah ada pertunangan apalagi pernikahan dengan wanita yang berhati busuk seperti dia!"


Semua terperanjat setelah Arya datang dan langsung menggebrak meja juga langsung mengatakan hal buruk kepada Nadia, Arya memaki Nadia di hadapan semua orang. Sepertinya Arya akan membuka kedok wanita yang bermuka dua seperti Nadia.



Bersambung...


\_\_

__ADS_1


__ADS_2