Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
50.Piala Ketampanan


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•...


𝘖𝘦... 𝘖𝘦... 𝘖𝘦...


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢. 𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘩𝘪𝘮 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶, "


"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢. 𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘭𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘶! "


𝘚𝘦𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘵𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘯𝘶𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘥𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯.


𝘉𝘢𝘺𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘦𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴. 𝘋𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘨𝘶𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘪𝘳 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩-𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘵𝘪𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘭𝘦𝘨𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘬𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯.


𝘉𝘢𝘺𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘵𝘪𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘪𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪. 𝘉𝘢𝘺𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘭𝘶𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘬 𝘴𝘦𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘴𝘢-𝘴𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘩𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩𝘬𝘢𝘯.


"𝘓𝘦𝘯𝘺𝘢𝘱𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳𝘢, 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘦𝘭𝘪𝘯𝘨𝘬𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪𝘬𝘶, " 𝘜𝘤𝘢𝘱𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘤𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯.


"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘮, " 𝘚𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘺𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘦𝘵𝘢𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘰𝘵𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘭𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬.


"𝘈𝘯𝘢𝘬𝘬𝘶...!!! " 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘢𝘵𝘪𝘩-𝘵𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘨𝘶𝘺𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘫𝘢𝘯.


𝘖𝘦... 𝘖𝘦... 𝘖𝘦...


"Akk...!! " Arini terperanjat dari tidurnya, dia duduk dengan gerakan cepat. Matanya membulat dengan tatapan kosong keringatnya terus mengucur deras karena mimpi yang tak biasa yang dia alami.


Arya yang baru saja akan duduk dan menaruh jasnya kembali berdiri, dia begitu terkejut dengan Arini yang tiba-tiba bangun sembari berteriak. Bahkan wajahnya juga basah karena keringat.


"Berisik sekali sih kamu! apa nggak bisa jadi perempuan yang alim sejenak dan berhenti bersuara," bukannya menanyakan keadaan Arini Arya malah bertanya dengan sinis padanya. Benar-benar pria yang tak punya hati sepertinya.


Arini tak mengindahkan apa yang Arya katakan padanya, sepertinya dia juga belum menyadari akan keberadaan bos nya di ruangan itu.


Jantung Arini masih terus berdetak tak karuan, kenapa dia sendiri yang seolah mengalami kejadian dari bayi kecil yang ada di dalam mimpinya, sebenarnya siapa bayi mungil itu.


"Astaghfirullah hal 'azim..., astaghfirullah hal 'azim.., kenapa aku bisa bermimpi seperti itu? siapa bayi kecil tadi? dan, kenapa pria itu begitu kejam sampai-sampai dia rela menghanyutkan bayi tak berdosa itu di sungai di bawah hujan deras?" ucap Arini spontan.


Tangan Arini terus mengelus dadanya, dia berharap bisa menenangkan jantungnya yang terus berdetak maraton sesuka hatinya.


Mulutnya terus menyerukan istighfar dia langsung gelisah. Arini kembali mengingat-ingat kejadian yang ada di dalam mimpinya, tak ada yang dia kenal dari kedua orang yang ada di sana tadi. Pria juga wanita itu sepertinya adalah pasangan dan sepertinya tengah terjadi selisih paham di antara keduanya sampai-sampai si pria tega menghanyutkan bayinya.


"Heh! apa kamu nggak bisa diam, saya baru pulang dari kantor, saya lelah mau istirahat. Kamu diam dan jangan bicara lagi, ngerti! " ucap Arya menekankan.


Suara berat dari Arya akhirnya sampai juga menusuk telinga Arini, seketika dia menoleh dan kembali di buat terkejut.

__ADS_1


"Astaghfirullah hal 'azim! kenapa Pak Tuan kembali ke sini? terus di mana Eyang?! " Arini terlihat bingung matanya terus menelisik semua penjuru namun nihil dia tak melihat siapapun kecuali dirinya juga Arya yang ada di ruangan itu.


"Eyang sudah pulang, ini juga sudah malam! " jawab Arya dengan ketus.


"Malam? " Arini melihat ke arah kaca dan ternyata benar, hari sudah gelap.


Arini terlihat kelabakan dia belum menjalankan sholat isya, dia heran kenapa dia bisa tidur begitu saja setelah sholat maghrib tadi apakah semua ini karena pengaruh obat yang dia minum tadi, bisa jadi sih?


Dengan cepat Arini turun dari ranjang, berlari ke kamar mandi dan kembali keluar setelah beberapa saat. Tangannya langsung menyambar sajadah juga mukena yang ada di atas ranjang yang tadi dia tempati, Arini begitu buru-buru untuk menjalankan sholat isya.


Arya hanya menggeleng, dia tak mau berkomentar lagi seperti sebelumnya lagian Arini juga sudah terlihat baik-baik saja tidak seperti saat pagi. Wajahnya juga sudah terlihat segar.


####


Akhirnya Arini bisa bernafas lega setelah dia sudah menjalankan sholat lima waktu tanpa ada yang terlupakan ya meskipun waktunya sedikit molor tapi tak masalah dia tidak sengaja melakukannya.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪? " Batin Arini.


Arini kembali menoleh dia tak ingin terlalu memikirkan tentang mimpi tadi, mimpi adalah bunga tidur kan? tak mungkin ada hal yang berarti atau nyata.


Arini tercengang saat dia menoleh dan masih melihat Arya di atas sofa, Arya masih asyik tidur menghadap langit-langit sembari memainkan ponselnya sementara kakinya saling tumpang.


"Pak Tuan! kenapa pak Tuan masih di sini, ini sudah malam sebaiknya pak Tuan pergi. Mau pulang atau mau kemanapun terserah, yang penting jangan ada di ruangan ini. Nanti bisa terjadi Fitnah," ucap Arini.


"Tidak usah mengatur ku, ini rumah sakit ku, aku bebas mau ada di manapun," Jawab Arya dengan acuh, bahkan sama sekali tak mau memandangi Arini.


"Pak Tuan beneran tidak mau keluar? kalau begitu biarkan Arini saja yang keluar,"


Arya langsung beranjak, dia tak akan membiarkan Arini keluar begitu saja.


"Assalamu'alaikum,, "


Keduanya menoleh mendapati Dimas yang masuk dengan memperlihatkan deretan giginya karena dia langsung meringis tanpa alasan.


"Kenapa kamu ke sini?" Arya begitu ketus bertanya pada Dimas, dia tak suka saja dengan kedatangannya.


"Saya hanya mau menemani kalian berdua, berdua saja dalam satu ruangan tidak akan baik, apalagi kalian kan beda jenis." dengan entengnya Dimas duduk di sofa yang lain, dia tak memperdulikan Arya yang begitu tajam menatapnya.


Bukan Arya yang berkomentar, melainkan Arini yang mulai kesal. Mengusir satu orang saja dia kesusahan dan sekarang harus tambah satu lagi. Sungguh pusing si Arini.


"Lebih baik Pak Tuan sama pak Dokter keluar deh, Arini nggak bisa tidur kalau kalian di sini," ucap Arini dengan serius.


"Saya tidak akan berisik Arini, saya akan diam," jawab Dimas, mana mungkin dia akan keluar sedangkan Arya masih ada di sana. Tak ikhlas hati saja.

__ADS_1


"Kamu memang tidak akan berisik tapi kamu menggangu pemandangan ku," ketus Arya.


"Gue tampan gini loh, Tuan Arya! masak mengganggu," Dimas jelas tak akan terima begitu saja dengan komentar dari Arya yang sangat tak masuk akal menurutnya.


"Hilih..., kepedean loh! masih tampanan gue," sepertinya akan terjadi perebutan Piala ketampanan untuk mereka berdua. Keduanya memang sama-sama tampan tapi mempunyai ciri khas yang berbeda.


"Tampan gue, mending Tuan Arya yang keluar saja dari sini, katanya juga lelah kan? biar aku saja yang menjaga Arini," jawab Dimas.


"Siapa kamu berani mengusir ku? kamu harus ingat statusmu di sini. Jadi kamu yang harus keluar," Arya pun tak mau kalah.


"Pak Tuan yang keluar,"


"Kamu yang keluar, "


"Pak Tuan,"


"Kamu! "


"DIAM...! lebih baik kalian berdua yang keluar, saya mau istirahat kalian berdua sangat mengganggu ku. Jadi silahkan kalian keluar," usir Arini. Jengah juga lama-lama mendengarkan orang berdebat.


"Tidak Arini, saya tidak mau keluar," ucap Dimas yang masih kekeuh.


"Saya juga tidak mau," Arya pun juga sangat angkuh.


"Oke..! Kalau begitu Arini yang keluar," Arini cepat beranjak.


"Ehh! jangan jangan! Oke kita keluar," ucap Arya pasrah, "semua ini gara-gara kamu."


"Kenapa jadi aku?" Dimas masih tak mau kalah.


"Keluar! " suara Arini meninggi.


"Iya! " Jawab Arya.


Arini berlari setelah keduanya keluar, mengunci pintunya dengan cepat. Dia tak akan tenang kalau tidak menguncinya, bisa jadi Arya akan kembali menyelinap masuk seperti kemarin.


"Dasar! " kesal Arini.


//////


Bersambung...


__________

__ADS_1


__ADS_2