
Happy Reading...
...****************...
Arini kembali cemberut saat ini, bagaimana tidak? katanya mau di ajak-ajak jalan-jalan lebih dulu sebelum pulang tapi nyatanya dia sekarang sudah ada di perjalanan pulang.
Berkali-kali Arya minta maaf karena acara yang sudah di rencanakan gagal karena ada meeting dadakan dari kolega luar Negeri, dan meeting-nya sama sekali tidak bisa di ganti waktu atau hari.
Kalau ada Toni semua bisa dia yang pegang tapi sekarang? tidak mungkin Arya akan ngerecokin pengantin baru yang masih ada di desa dan entah kapan akan kembali.
"Mas bohong, katanya mau ajak jalan-jalan Arini. Tapi nyatanya?" Arini semakin berkedut dengan wajah yang benar-benar tak bersahabat.
"Maaf, Sayang. Mas ada meeting nanti malam. Mas tidak bisa undur. Mohon mengertilah, Sayang. Semua juga demi kamu kan, Sayang." Arya benar-benar lembut dalam memberikan pengertian, dia ingin Arini benar-benar bisa memahaminya.
Arya juga ragu, entah Arini akan mengerti atau tidak. Mungkin kalau kemarin-kemarin Arini akan mengerti, tapi sekarang ini? Arya tidak yakin.
"Ini saja kita tidak bisa pulang dulu loh, Sayang. Kita harus langsung ke perusahaan untuk mengambil berkas juga laptop Mas. Setelah itu langsung pergi ke tempat meeting. Kamu juga harus ikut," ucap Arya lagi.
"Terus Arini nanti ngapain di sana?" tanya Arini.
"Hem, kamu istirahat dulu di kamar hotel. Mas sudah pesan kamar untuk kamu istirahat. Selama Mas meeting kamu nunggu di sana. Setelah meeting kalau belum malam banget, kita bisa jalan-jalan keluar sebentar, bagaimana?" tawar Arya.
"Benar ya, kita jalan-jalan."
"Iya."
Alhamdulillah, akhirnya Arini bisa mengerti dirinya dan mau menerima usul dari Arya. Kalau tidak mungkin Arya akan pusing nantinya. Ini adalah project besar, Arya tidak mungkin menyia-nyiakannya.
Arya tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Arini dengan sangat lembut, membuat sang empu juga ikut tersenyum. Senang rasanya bisa melihat Arini tersenyum begitu manis.
Begitu buru-buru Arya ke kantornya, mengambil beberapa berkas yang sudah di siapkan oleh sekertaris-nya juga mengambil laptopnya.
Sementara Arini masih bertahan di dalam mobil, Arini tertidur karena kelelahan menempuh perjalanan panjang.
Arya kembali masuk ke mobil dengan membawa semua perlengkapannya, dia juga membawa jas yang selalu ada di kantor.
Mobil kembali berjalan, membelah jalanan kota dan menuju tempat yang akan menjadi acara meeting-nya.
Perjalanan panjang lagi Arya tempuh, hingga sampai sore Arya baru sampai di tempat acara. Alhamdulillah masih ada waktu untuk dia istirahat.
"Sayang, kita sudah sampai," Arya mengelus pipi Arini untuk membangunkannya. Perlahan Arini membuka mata karena dia juga tidur sudah terlalu lama.
"Kita sudah sampai, Mas?" tanya Arini.
Tempat yang sangat asing untuk Arini. Tapi terlihat sangat indah dengan bangunan yang menjulang tinggi. Hotel Asri.
Ya, Arya akan meeting di hotel itu.
"Sayang, kita istirahat dulu yuk. Mas masih jam tujuh meeting-nya."
"Ya," Arini mengangguk. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan, masuk ke salah satu kamar setelah melewati lift.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa ngelurusin punggung juga." ucap Arini setelah berhasil merebahkan durung di kasur besar yang ada di kamar hotel.
__ADS_1
Arya tersenyum. Sepertinya Arya akan awet muda dan sehat karena setiap saat dia tersenyum setiap apapun hal kecil yang Arini lakukan. Bahkan rasanya usianya hampir sama seperti Arini, mungkin sebenarnya semangatnya yang sama.
"Mas, kok perasaan Arini tidak enak ya?" Arini kembali duduk.
"Ada apa, Sayang."
"Tidak tau. Tapi Arini merasa akan ada sesuatu deh?" Arini begitu bingung.
"Kita berdoa saja, semoga tak akan ada hal buruk yang terjadi. Sekarang kamu istirahat saja. Mas mau koreksi berkas untuk meeting nanti."
"Baiklah," Arini kembali merebahkan diri, dia terus diam dan berpikir, dia benar-benar merasa tidak enak.
"Ya Allah, semoga tak akan ada hal buruk yang terjadi kepada kami. Jaga kami ya Allah. Jaga Mas Arya dari keburukan apapun." batin Arini.
...****************...
Arini benar-benar di tinggal di kamar sendiri saat Arya akan meeting. Sebelum keluar Arini juga terus mewanti-wanti supaya Arya kembali secepatnya. Bukan itu saja, tapi Arini juga mempunyai pesanan untuk Arya, yaitu es krim cokelat yang terdapat kepingan cokelatnya, itupun tidak hanya satu, tapi tiga sekaligus.
Hanya es krim tak menjadi masalah untuk Arya, bahkan yang lebih mahal Arya pasti akan berikan untuk Arini, yang terpenting Arini selalu bahagia.
Di sinilah Arya sekarang, di ruangan VIP di hotel. Lebih tepatnya di ruangan yang terdapat tempat karaoke juga, tempat yang seperti clup malam. Bahkan banyak sekali wanita-wanita seksi yang ada di sana.
Arya sangat terkejut, kenapa harus tempat seperti itu yang di pilih untuk meeting-nya. Bukankah tempat yang lebih baik dan nyaman juga banyak di hotel itu, tapi kenapa tempat seperti itu yang di gunakan.
"Apa-apaan ini!" Arya sangat paham dengan tempat yang seperti itu, tempat yang sudah lama dia tinggalkan. Tempat yang ingin dia jauhi selamanya, tapi sekarang? demi sebuah bisnis dia kembali ke tempat yang seperti itu. Ya, meski bukan atas kemauannya sendiri sih.
"Selamat datang, Tuan Arya." satu orang wanita cantik bertubuh seksi datang menghampiri. Tubuhnya memang sangat menggiurkan karena benar-benar menggoda. Bahkan lekuk tubuhnya benar-benar membuat laki-laki hidung belang akan ngiler saat melihatnya.
"Jangan pegang-pegang!" sentak Arya. Sekarang dia begitu risih saat wanita yang seperti itu mendekati atau menyentuhnya. Karena sekarang, tak akan ada yang berhak menyentuhnya selain Arini saja.
"Maaf, Tuan." matanya benar-benar penuh ketertarikan. Wanita itu bener-bener tertarik dengan Arya yang terlihat sangat tampan.
Arya terus melangkah, menghiraukan wanita itu dan segera masuk untuk mencari koleganya.
Ruang yang VIP, Arya masuk ke sana, dia terperangah karena melihat koleganya yang tengah bermain-main dengan para wanita bayaran.
"Selamat datang, Tuan Arya. Kemarilah, dan ikutlah bersenang-senang dengan kami. Setelah itu baru kita mulai meeting-nya." ucapnya.
Arya menatap dengan marah, bagaimana bisa dia masuk dan akan bekerja sama dengan orang yang seperti ini. Orang yang suka celap-celup seperti dirinya dulu.
"Maaf, saya tidak tertarik untuk itu. Bisakah kita mulai meeting kita? kalau tidak lebih baik saya pergi dari sini," Arya menegaskan.
"Oh, maaf. Baiklah, mari kita mulai meeting kita." jawabnya.
"Kalian pergilah, nanti kami akan panggil lagi. Persiapkan saja diri kalian," ucapnya lagi meminta wanita bayaran itu untuk pergi dari sana.
Arya duduk setelah para perempuan itu keluar.
"Perkenalkan Saya Youmes." tangannya terulur, suaranya juga tak fasih benar dengan bahasa Indonesia, tapi tetap dia berbicara dengan bahasa Indonesia.
"Arya," hanya sepatah kata saja Arya menjawab.
"Anda terlihat sangat luar biasa, Tuan Arya, semoga kerja sama ini akan terjadi dan akan menguntungkan kita berdua," ucap Youmes.
__ADS_1
Sebenarnya Youmes tidak sendiri, dia ada asisten yang bersamanya di sana. Bahkan kebiasaan mereka berdua benar-benar sama, sama suka dengan wanita bayaran untuk memuaskan hasrat mereka.
"Anda terlalu berlebihan, Pak Youmes. Saya tidak se-luar biasa dari pak Youmes." Arya merendah.
"Hahaha, anda juga rendah hati," Youmes tertawa, sementara Arya hanya tersenyum menanggapi.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Arya.
"Tentu."
Acara meeting benar-benar telah di bicarakan, beberapa kesepakatan telah di tanda tangani oleh kedua pihak. Meski Arya ragu tapi Arya tetap menandatanganinya.
Keduanya saling menutup berkas mereka masing-masing, tersenyum juga berjabat tangan sebagai awal kerja sama untuk mereka.
"Mari kita bersulang untuk kerja sama kita ini, Tuan Arya." tangan Youmes sudah mengangkat gelas kaca yang isinya berwarna kuning.
"Maaf, saya tidak minum," Arya tetap berpikir, kalau minuman itu adalah minuman haram yang dulu pernah menjadi kesenangannya. Arya harus berhati-hati, dia tidak mau sampai meminum minuman haram lagi dan akan mengingkari janjinya dengan Arini.
"Tuan Arya tenang saja, ini hanya jus," ucap Youmes meyakinkan.
Tak percaya begitu saja Arya.
"Ayolah, Tuan. Ini hanya jus." kekeuh Youmes, "anda tidak akan mabuk hanya karena sebuah jus."
Di lihat dengan mata memang benar-benar seperti jus, warnanya juga kuning pekat.
Arya mulai mengangkatnya, menghirup aromanya dan aromanya benar-benar jus.
"Mari kita bersulang."
Arya, Youmes juga asistennya benar-benar bersulang, mereka juga meneguk sampai habis.
Arya meletakkan gelas kosong di atas meja, dia tersenyum sebelum dia pergi. Dia harus cepat kembali karena mengingat pesan-pesan dari Arini kepadanya.
"Maaf, saya harus segera pulang." pamit Arya.
"Silahkan, Tuan."
Arya juga Youmes berdiri, begitu juga dengan asistennya. Mereka kembali berjabat tangan dan setelah itu Arya benar-benar pergi.
Gadis cantik tersenyum sinis saat Arya keluar dari ruangan itu. Dia melangkah dengan bersedekap dada dan mendekati Youmes dan asistennya.
"Bagaimana?"
"Beres, Bos. Dia telah masuk perangkap." ucap Youmes.
"Bagus. Setelah ini, akan aku hancurkan rumah tangga kalian, dan kalian akan hancur."
"Lakukan kerjaan kalian," ucap wanita itu dan Youmes juga laki-laki satunya keluar untuk mengejar Arya.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1