
...______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Melisa keluar dari perusahaan Gautama dengan wajah pilu. Syukur-syukur dia hanya di skor saja selama setengah bulan dan tidak di keluarkan, bagaimana kalau dia di keluarkan mungkin dia bisa-bisa melakukan hal nekat nantinya pada Arini.
Langkahnya terhenti, memutar badannya melihat gedung tinggi yang menjulang itu. Untung saja Melisa pandai bicara dan mengatakan dia di ancam oleh Nadia, jika tidak dia akan kehilangan pekerjaannya.
"Semua ini gara-gara kamu, Arini. Aku akan membalas mu suatu saat nanti. Tunggu tanggal mainnya Arini," matanya terlihat begitu bengis meskipun tak ada Arini di sana tapi tetap saja amarah begitu besar menguasainya.
Tangan Melisa mengepal seiring langkahnya meninggalkan tempat itu. Sekarang dia lebih baik pulang dan istirahat di rumah mumpung dia di skor selama dua minggu bisa lah dia gunakan untuk enak-enak di rumah.
////
"Bibik! Bibik! " teriakan begitu menggelegar begitu jelas dari dalam rumah Marta siapa lagi pelakunya kalau bukan Ratna ibu rumah tangga yang sangat pemalas.
Perutnya sudah sangat lapar tapi makan siang belum juga tersaji di meja makan.
"Bibik! " teriaknya lagi, dia benar-benar tak sabaran ingin sekali makan, rasanya sudah ingin melahap mentah-mentah pembantunya yang dia pikir sangat lambat saat bekerja.
"Bentar, Bu! " sautan terdengar dari dalam dapur, namun belum juga menampakkan wajahnya yang berbicara.
Ratna berdecak kesal, dia sudah tidak sabar untuk cepat makan. Perutnya sudah sangat lapar dan membutuhkan makan untuk mengisinya.
"Bibik! " teriaknya lagi.
"Iya, Bu." Kali ini orang yang di panggil datang, dia berlari dari dapur dengan tangan yang membawa dua menu makan siang, "ini, Bu."
"Lama sekali sih! Ngapain saja di dapur, tidur! " kata-kata Ratna memang tak pernah berubah suaranya juga selalu kasar pada siapapun.
Bagi Ratna dia memang pantas melakukan itu, lagian dia juga membayar pekerjaannya jadi dia bisa kan melakukan apapun pada pembantunya itu.
Sembari menaruh dua wadah di atas meja tangan pembantu itu terus gemetar. Dia memang sudah terbiasa mendapatkan itu tapi dia tak bisa keluar dari sana karena dia sudah mempunyai hutang.
"Maaf, Bu. Tapi saya tidak tidur kok. Saya benar-benar menjalankan pekerjaan saya dengan baik," jawab Bi Ani.
"Pergi sana! jangan gangguin saya, saya mau makan." ucap Ratna dengan ketus.
__ADS_1
Ratna mulai memenuhi piringnya dengan nasi juga lauk yang masih hangat, dia juga mulai menikmatinya dengan begitu rakus.
Bi Ani yang mulai melangkahkan kaki untuk pergi hanya bisa menggeleng dengan perlakuan juragannya itu. Orangnya memang masih terlihat cantik tapi caranya makan tak mengisyaratkan hal yang seperti itu.
Baru saja asyik makan, Melisa datang. Tas nya langsung di taruh di meja makan dengan kasar. Ratna terkejut, menghentikan makannya sembari menoleh ke arah Melisa.
"Loh! Kok sudah pulang!? " tanya Ratna heran.
Tak biasanya Melisa akan pulang di siang hari seperti sekarang dia akan selalu pulang sore dan sekarang? sebenarnya apa yang terjadi dengannya.
"Mel, kamu tidak di pecat kan? " Ratna begitu menyelidiki anak bungsunya itu. Ini tidak biasa bagaimana dia tidak penasaran.
"Tidak, Melisa hanya di skor selama dua minggu. Dan ibu tau ini semua karena siapa?" Ratna jelas menggeleng karena dia memang tidak tau siapa yang di maksud oleh Melisa, "semua ini gara-gara Arini. Dia yang membuatku harus kehilangan gaji ku selama dua minggu,"
Mendengar nama Arini saja Ratna langsung tersedak dia batuk begitu saja berkali-kali.
Matanya seketika melotot karena mendengar apa yang Melisa katakan masih dalam posisi tangan menutup mulut tentunya.
Ratna begitu marah dengan Arini, bagaimana tidak? Gara-gara dia pekerjaan Melisa terancam kan. Untung hanya di skor bagaimana kalau sampai di pecat.
"Kok bisa Arini buat masalah? " suara Ratna sungguh tak bersahabat, hatinya langsung di selimuti kemarahan.
Tangan Melisa mengambil satu lauk di piring, dia makan begitu saja tanpa memakai nasi. Ternyata tak sia-sia juga dia pulang lebih awal, di samping bisa makan enak dia juga bisa irit untuk makan siang.
"Ya bisa lah, Bu. Apa Ibu tau? Arini bekerja juga di tempat kerja Mel. Bahkan sepertinya dia mendapatkan perhatian penuh dari bos yang Mel sukai. Bagaimana dong, Bu. Melisa menyukai tuan Arya, dan Arini mengacaukan segalanya," ucap Melisa mengadu.
"Dasar kurang ajar, berani-beraninya dia mengambil orang yang kamu sukai. Dia harus kita kasih pelajaran kan! " Ratna begitu geram.
"Perbuatan Arini tidak bisa di maafkan, dasar gadis murahan, dasar pel*cur...!! " mata Ratna seketika memerah tangannya juga mengepal meskipun terdapat sendok di dalamnya.
Sudut bibir Melisa terangkat dia senang karena mendapatkan dukungan penuh dari Ratna ibunya, semua akan menjadi mudah tentunya.
"Bu, temani Mel ke Mall yuk. Mel mau beli gaun yang indah dan membeli hadiah untuk ulang tahun tuan Arya di puncak," ajak Melisa dengan semangat, tak masalah kan dia tidak ke kantor selama dua minggu dia tetap yakin akan bisa menyelesaikan pekerjaannya dan akan tetap ikut serta di acara ulang tahun perusahaan juga ulang tahun Arya.
Wajah Ratna berubah berbinar, bahagia dong pasti. Kapan lagi bisa jalan-jalan ke Mall dengan Melisa, meski ujung-ujungnya dia yang harus menggelontorkan uang untuk belanjaan Melisa tapi tak masalah, uang miliknya sangat banyak.
"Baiklah, Ibu selesaikan makan dulu,"
__ADS_1
"Hem.., cepatlah! Mel mau mandi dulu juga ganti baju." Melisa beranjak dan berlalu untuk menuju kamarnya.
Tak lama untuk keduanya bersiap, setelah semuanya sudah mereka bawa, tas juga sudah di periksa mereka bergegas untuk berangkat ke tempat yang mereka tuju, Mall yang akan memanjakan mata mereka dengan barang-barang mewah.
Baru beberapa saat keduanya pergi Fara pulang diantar oleh Nando kekasih, keduanya pun masuk ke rumah tanpa rasa takut atau sungkan. Nando juga sudah terbiasa keluar masuk rumah itu dan tidak pernah mendapat larangan dari orang tua Fara jadi membuatnya merasa leluasa begitu saja.
"Ibu..! Ayah...! " teriak Fara memanggil. Tapi sama sekali tak ada jawaban dari kedua orang tuanya. "Ibu..! Ayah...! "
"Sepi amat, mungkin mereka semua sedang pergi kali, Sayang," ucap Nando. Dengan bebas Nando nyelonong masuk lalu duduk di kursi ruang tengah yang pasti juga langsung di susul oleh Fara yang duduk di sampingnya.
Yang dipanggil kedua orang tuanya yang datang adalah Bi Ani. Bi Ani yang sedang bersih-bersih di dapur langsung keluar setelah suara teriakan dari Fara dia dengar.
"Ada apa, Non?" tanya Bi Ani.
"Bi, kok sepi Ibu juga Ayah kemana?" tanya Fara.
"Ibu pergi dengan Non Melisa, dan Bapak masih di kebun," jawab Bi Ani dengan sangat sopan.
"Oh, pergilah," usir Fara pada Bi Ani.
Pembantunya itu langsung kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
Nando begitu girang mendengar keadaan rumah yang sepi tak ada Ratna Ibunya Fara. Tangannya mulai usil menyibak rambut panjang Fara dan mengecup lehernya yang bersih.
"Sayang, aku punya gaya baru loh. Bagaimana kalau kita coba sekarang, mumpung rumah sepi kita bisa puas-puas bermain dengan gaya-gaya yang baru," bisik Nando tepat di telinga Fara sebelah kanan, tak lupa dia juga meniup lembut telinga itu membuat sang empu merinding di buatnya.
"Hem..., boleh." Fara mengangguk menyetujui. Wajahnya berbinar karena dia juga sangat merindukan sentuhan tangan ajaib milik Nando yang selalu membuat dirinya seakan melayang-layang.
"Yuk," Fara begitu semangat, dia menarik tangan Nando dan membawanya masuk ke kamarnya. Bahkan Nando sudah sangat tidak sabar dan mulai menyentuh tubuh Fara sembari melangkah.
"Astaghfirullah hal 'azim...," Bi Ani yang kebetulan keluar ingin membuang sampah di buat terkejut dengan keduanya yang begitu mesra berciuman bibir, bahkan tangan Nando juga sudah mulai menggagahi si kembar identik yang semakin menonjol.
//////
Bersambung...
________
__ADS_1