
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Hingga siang Arya menunggu kedatangan Arini, dia sama sekali tak bisa diam bahkan pekerjaannya menjadi terbengkalai, dia tak bisa fokus.
Bukan dia menunggu karena ingin minta maaf pada Arini melainkan dia ingin kembali membuat perhitungan pada gadis yang telah menolaknya kemarin apalagi dia telah berani menamparnya.
Semua pekerjaan dia lewatkan bahkan makan siang pun juga dia lewatkan dia sama sekali tak mau apapun sekarang karena dia hanya ingin membalas perlakuan Arini padanya.
"Apakah dia benar-benar tidak membutuhkan uang lagi! sampai-sampai dia tidak datang, apakah dia benar-benar ingin mendapatkan hukuman di penjara! awas Arini kalau kamu berani kabur dariku, sampai ke ujung dunia pun aku akan menemukanmu," ucapnya dengan geram.
Di saat Arya sangat kesal tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, Arya terlihat sangat kesal melihat siapa yang datang siapa lagi kalau bukan wanita yang ingin mendapatkan hatinya dia adalah Melisa.
Dengan cepat Arya memalingkan wajahnya, dia tak mau melihat wajah itu apalagi pakaian yang Melisa pakai sepertinya dia memang berniat untuk menggoda Arya.
"𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪, 𝘴𝘺𝘶𝘬𝘶𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘔𝘦𝘭𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢-𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢.
"Permisi Tuan, saya datang ke sini untuk minta tanda tangan Tuan, " ucapnya dengan suara yang sangat menggoda.
"Hem.. " Jawab Arya, kini dia mulai melangkah ke arah sofa dan Melisa langsung membuntutinya.
Keduanya duduk di kursi yang berbeda namun jarak mereka berdua juga di bilang sangat dekat.
"Ini Tuan," Melisa menyodorkan berkas pada Arya namun di saat itu ponsel Arya berdering.
"Dimas? ngapain nih anak!" gumam Arya.
Dengan cepat Arya menerima telfon itu dari Dimas.
"Ada apa?! " tanyanya dengan suara yang seperti biasa, suara campur aduk antara dingin juga kesal
"𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘮𝘶 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶? 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪? 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪, 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘣𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢? " 𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨.
"Hem..., aku akan datang nanti. Lagian aku juga sangat penasaran dengan orang itu," jawabnya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘦𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘶, 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢. "
"Hem..., aku pasti datang! tapi tidak untuk sekarang! aku sedang menunggu seseorang,"
"𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢? 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪? "
"Bukan urusanmu. "
𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵...
Tak ingin lama-lama Arya memutuskan telfon mereka berdua. Arya kembali menoleh ke arah Melisa dia di buat terbelalak dengan kelakuan gadis itu, dengan sengaja dia menggoda Arya dengan kelakuan buruknya.
"Apa kamu memang berniat menggodaku? " tanya Arya.
Dengan begitu berani dan tanpa ada sedikit keraguan Melisa beranjak dia berpindah duduk di sebelah Arya berada, "jika Tuan tergoda kenapa tidak, aku akan rela memberikan apa yang Anda mau, Tuan," jawab Melisa yang sudah mendekat.
Arya masih diam, dia bahkan menerima sentuhan dari tangan Melisa yang mulai meraba-raba jas nya.
"Apa Tuan tau? punyaku masih tersegel rapat loh Tuan. Dan aku akan rela jika Tuan yang mengambilnya hari ini," ucap Melisa dengan sangat berani, dia tak takut apalagi ragu menawarkan harta yang paling berharga untuk laki-laki yang bukan pasangannya.
Siapa yang tak akan tertantang dengan ucapan Melisa, dia masih tersegel rapat pasti akan sangat nikmat bukan.
"Izinkan aku melayani, Tuan. Aku akan puaskan Tuan sekarang juga," ucapnya yang terus menggoda Arya.
Tak ada penolakan dari Arya membuat Melisa senang berarti kali ini dia berhasil dan mendapatkan lampu hijau dari Arya.
__ADS_1
Melisa beranjak beralih duduk di pangkuan Arya dan terus menggodanya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘪𝘢𝘳 𝘥𝘪𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘨𝘦𝘭 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘮𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪, " batin Arya.
Begitu luar biasa Melisa memberikan pemanasan untuk Arya, dia sama sekali tak takut ataupun ragu lagi, semua rencananya sudah berhasil bagaimana mungkin dia akan melepaskan kesempatan itu.
Keduanya sudah saling bercumbu di atas sofa itu bahkan baju keduanya sudah acak-acakan namun masih menempel pada tempatnya hanya kancing-kancing saja yang sudah terlepas.
Tangan keduanya sudah sangat liar menyentuh dan meraba bagian-bagian yang sangat sensitif, bagian yang akan semakin meningkatkan gelora pertandingan yang ingin segera mereka berdua lakukan.
"Bagaimana, Tuan? apakah harus di lanjutkan," tanya Melisa.
"Hem.." jawab Arya yang gairahnya sudah mencapai ubun-ubunnya.
"Apakah aku harus membukanya sekarang," tanya lagi Melisa.
"Hem... " jawab Arya.
𝘗𝘳𝘢𝘯𝘬𝘬....
Baru saja Melisa akan membuka baju keduanya di kejutkan dengan nampan yang berisi cangkir yang jatuh dari tangan seseorang. Keduanya langsung menghentikan aktivitas mereka menoleh secara bersamaan.
"A-Arini... " ucap Melisa tergagap. Cepat-cepat Melisa beranjak, menutup kembali baju yang dia pakai membenahi kancing yang sudah terlepas.
Sementara Arya dia terlihat santai bahkan dia tetap duduk di tempat dan malah menyandarkan bahunya.
Arya menyeringai, akhirnya mangsa sebenarnya telah datang. Arya mengibaskan tangannya dan mengusir Melisa dari sana dan tentu saja itu akan membuatnya hati Melisa mengamuk bukan.
"Tapi Tuan? " Melisa masih enggan untuk pergi, kenapa bukan Arini yang di suruh pergi kenapa harus Melisa, itulah yang membuatnya bingung.
"Pergi!" matanya melotot ke arah Melisa dan berhasil membuatnya gemetar dan segera pergi dari sana.
𝘊𝘵𝘢𝘬𝘬...
Arini menunduk takut, kedatangannya ke sana karena dia ingin meminjam uang untuk pengobatan Neneknya tak dia sangka dia akan melihat Arya juga Melisa yang sedang ingin bercinta.
"Kenapa kamu telat, apa kamu memang tak ingin bekerja lagi di sini? " tanya Arya sinis.
"A- Arini... "
"Kenapa, apa kamu sudah berubah pikiran sekarang, sebenarnya penawaran ku sudah hangus tapi aku akan berbaik hati untuk mu, aku akan memberikan apapun padamu selama kamu mau menuruti permintaanku,"
"Ma-maaf Pak Tuan, Arini datang ke sini hanya untuk meminjam uang untuk biaya... "
"Bahkan aku akan memberikan padamu secara cuma-cuma, kamu tidak perlu meminjamnya dan pusing memikirkan untuk mengembalikannya. Aku hanya ingin kamu menuruti apa yang aku mau," ucap Arya.
"Tidak Pak Tuan, Arini hanya mau meminjam saja, Arini akan mengembalikannya, Pak Tuan bisa memotong gaji Arini setiap bulannya," jawab Arini dengan gemeteran.
Arya berdiri dia mulai berjalan mendekati Arini, dan Arini yang ketakutan sudah mulai berjalan mundur untuk menjauh dari Arya.
"Kenapa kamu takut, bukankah aku tidak akan menyakitimu? dan ya! sebagai hukuman mu karena mengganggu ku tadi maka kamu yang harus melakukannya, kamu yang harus menggantikan perempuan itu melayaniku,"
Arini semakin ketakutan, dia tak berniat masuk saat Arya dan Melisa ingin melakukan itu tadi, Arini hanya datang karena dia ingin mempercepat waktu supaya neneknya bisa secepatnya mendapatkan pengobatan secara Maksimal.
Arini menggeleng dia tak mau melakukan itu. Tapi sepertinya Arya sudah tak peduli lagi dengan itu. Arya semakin mendekat dan berhasil mengunci tubuh Arini di dinding.
"Mari kita lakukan, Arini," ucap Arya.
"Tidak Pak Tuan, Arini tidak mau," tolak Arini.
"Kenapa tidak mau jika aku yang melakukannya, bukankah kamu tadi malam juga melakukannya dengan pria lain?"
__ADS_1
Arini semakin tak mengerti dengan Arya, dia tak melakukan apapun dengan pria manapun tapi bagaimana bisa Arya mengatakan itu padanya, "tidak Pak Tuan, Anda pasti salah saya tidak melakukan apapun dengan pria manapun," jawab Arini.
"Jangan berbohong Arini, aku melihatnya sendiri, dan sekarang aku jika ingin kamu melakukannya denganku," Arya mencapit rahang milik Arini dia ingin sekali menyambar bibir kecil milik Arini.
"Ja- jangan Pak Tuan... " bicara Arini sudah mulai susah Arya begitu kuat menahannya.
"Jangan menolak ku Arini, aku juga bisa melakukannya dengan lembut, tapi aku juga bisa melakukannya dengan kasar kalau kamu berontak,"
Yang pasti Arini tak akan tinggal diam, dia terus berontak meskipun Arya sudah memperingatkan nya. Arini tak akan pernah membiarkan Arya atau siapapun merenggut mahkotanya.
Arini menangis dia tak tau kalau peringatan dari Nenek Murni tadi adalah karena ini. Dia pikir dia bisa meninggalkannya sebentar saja selama Nek Murni tidur tapi dia tak menyangka bahwa Arya akan sekejam ini padanya.
Arini berhasil menggigit tangan Arya dan berhasil membuatnya terlepas dari kungkungan nya. Arini berlari ke arah pintu namun dia akan sia-sia karena pintu itu sudah terkunci.
Arya mengejar Arini kemanapun Arini berlari, Arya melepaskan jasnya, melemparkannya ke sembarang arah. Kali ini dia harus mendapatkan Arini dia tak ingin gagal lagi.
Arini melemparkan apapun yang bisa dia raih dia tak peduli entah itu penting atau tidak yang terpenting dia bisa selamat dari Arya.
"Jangan mendekat, Pak Tuan! jangan dekati Arini!" teriak Arini namun itu tak di hiraukan oleh Arya.
Pergerakan Arini semakin pelan, dia sudah kelelahan tenaganya habis karena dia juga dari kemarin tidak makan. Kemarin dia puasa, malam dia juga tidak makan karena khawatir dengan keadaan neneknya.
"Jangan! jangan sentuh Arini! " teriaknya saat Arya berhasil menangkapnya.
"Lepaskan Arini, Pak Tuan, lepaskan!" teriak Arini namun Arya semakin erat memeganginya.
tubuh yang kecil tak akan bisa mengeluarkan tenaga yang besar untuknya, dia sangat kesusahan untuk bisa melepaskan diri dari Arya yang kuat dan besar.
Arya menarik hijab Arini dan dengan satu tarikan saja hijab pasmina itu berhasil terlepas darinya dan saat hijab itu berhasil terlepas Arini juga terlepas dari pegangan Arya.
Arya semakin menyeringai saat dia berhasil membuka satu yang menjadi penghalang dari tubuh Arini dia mengendus hijab itu aromanya sangat menenangkan, aroma melati yang menjadi kesukaan Arini.
Arini terjatuh di lantai dia sudah sangat ketakutan dan dia juga terus menangis dan berteriak minta tolong.
"Hahaha..., teriaklah Arini, tak akan ada yang mendengar mu di sini," ucap Arya.
Mahkotanya adalah kehidupannya bagi Arini, dia akan rela mati demi mahkotanya yang akan selalu jaga. Mahkotanya hanya akan menjadi milik pasangannya kelak karena itu adalah hadiah terindah yang bisa dia berikan padanya, kalau mahkotanya hilang bagaimana dia bisa menghadapi dunia nantinya.
"Awww... " Arini mengadu sakit saat tangannya terkena pecahan cangkir yang tadi dia bawa. Namun itu seakan menjadi petunjuk untuk nya. Arini mengambil pecahan yang lebih besar saat Arya semakin dekat padanya.
"Berhenti, Pak Tuan! atau aku..., atau aku akan mengakhiri hidup Arini sendiri." ancam Arini.
"Jangan gila kamu Arini! " Arya terlihat panik saat dia melihat Arini mengarahkan pecahan itu pada tangannya yang tepat di denyut nadinya.
"Aku memang gila, Pak Tuan. Apakah Pak Tuan baru tau kalau aku ini memang gila! kehormatan ku adalah hidupku Pak Tuan, dan aku lebih baik mati daripada kehormatan ku anda renggut!"
Tak pernah terbayangkan kalau Arya benar-benar bertemu dengan gadis keras kepala seperti Arini. Dia pikir kepolosannya bisa dia manfaatkan tapi ternyata di balik kepolosan itu ada sebuah keberanian yang tidak Arya bayangkan.
Arya masih tak peduli sepertinya egonya masih terlalu besar. Arya tetap mendekat Arini dia berhati-hati ingin tetap menyentuh Arini.
Arini tak akan pernah membiarkan itu terjadi, saat Arya berhasil menyentuhnya tubuhnya saat itu juga Arini berhasil menggoreskan pecahan itu di tangannya hingga darah segar mulai mengucur.
"Arini! apa yang kamu lakukan kamu benar-benar gila Arini, kamu gila! " teriak Arya panik.
Arini hanya tersenyum melihat kepanikan Arya," apakah Pak Tuan berpikir kalau Arini berbohong? dunia boleh meragukan kesucian seorang Arini, tapi Allah? Allah yang tau segalanya tentang hidup A-ri-ni.. "
"Arini! bangun Arini, bangun! "
/////
Bersambung..
__ADS_1
______