Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
223. Sebuah Janji


__ADS_3

Happy Reading...


•••


Arini terus diam saat berada di dalam mobil Arya yang sudah berjalan. Mengingat semua perkataan dari Luna yang begitu tak enak di dalam hatinya. Hatinya memang sangat sakit tapi dia lebih takut kalau apa yang di inginkan oleh Luna tak bisa di wujudkan.


Jiwa seorang perempuan muncul dia juga ingin bisa secepatnya hamil ingin secepatnya menimang buah hatinya. Tapi kini ada rasa takut jika dia hamil sekarang, dia takut jika kelak anaknya akan sama seperti dirinya yang memiliki kulit gelap tidak sama seperti Arya yang mempunyai kulit putih.


"Mas, bagaimana jika suatu saat Arini hamil dan anak kita akan sama seperti ku, apakah Mas akan meninggalkan ku juga anak kita?" pertanyaan itu muncul di benaknya dan langsung Arini katakan saat itu juga.


Matanya tak berani memandangi Arya yang masih fokus nyetir tapi masih dengan rasa kekesalannya terhadap Luna. Seketika Arya menginjak pedal rem dan membuat mobil langsung berhenti.


Arya menoleh dengan cepat, mengamati istrinya yang terus menunduk dan tak berani mengangkat wajahnya, apalagi untuk menatapnya.


Rasa sedih yang menyelimuti hati Arini sangat jelas Arya lihat, bahkan pipinya sedikit memerah. Mungkinkah Arini tengah menahan tangis sekarang?


Arya mendekat, tangannya terangkat untuk menyentuh dagu Arini dan membuat wajahnya terangkat untuk melihatnya.


Arya langsung menggeleng, jari-jari dari tangan satunya juga ikut terangkat untuk menghapus air mata yang ternyata sudah mengalir membasahi pipi wanita kesayangannya.


"Jangan menangis, kamu tidak pantas untuk mengeluarkan air mata. Kamu hanya boleh tersenyum saja."


"Masalah anak, aku tidak akan mempermasalahkan bagaimana anak kita nanti. Seperti apapun dia, dia adalah anak ku, darah daging ku yang harus aku jaga. Bukankah dia adalah titipan Tuhan? sama seperti mu yang Allah titipkan kepadaku? Kamu ataupun anak-anak kita nanti akan menjadi prioritas ku, jadi kamu jangan pernah berpikir bahwa aku akan meninggalkan mu. Itu tidak akan pernah terjadi," ucap Arya yang begitu panjang.


"Aku menikahi mu karena Allah, bukan karena apapun. Kekuranganmu biar aku yang menutup nya, begitu juga kekuranganku, dan hanya kamu yang hanya bisa menutupnya. Kita hanya bisa saling melengkapi tanpa harus mengusik perbedaan kita. Jadikan perbedaan kita sebagai pondasi hubungan kita, bukan malah menjadi kehancuran rumah tangga kita."


"Biarkan semua orang mengatakan apapun, aku tidak akan peduli dengan apa yang mereka katakan. Ini adalah hidup kita, kita tidak berpangku tangan kepada mereka untuk hidup kita, jadi hiraukan apa yang mereka katakan. Meskipun orang itu adalah orang tuaku sendiri."


Arini begitu terharu mendengar ucapan Arya, begitu tulus dia mencintainya. Bahkan dia lebih memilih dirinya ketimbang ibunya sendiri.


Bukannya berhenti tapi air mata Arini semakin deras keluarnya. Tapi sekarang bukan karena kesedihan melainkan perasaan haru karena dia telah mendapat cinta yang begitu dalam. Cinta karena Allah, dan akhirnya Allah mewujudkan cinta mereka berdua untuk saling bersama.


"Hey, sudah jangan menangis lagi, Sayang. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji," ucap Arya tak mengerti dengan isi hati istrinya sekarang.


Tak menjawab perkataan Arya tapi Arini langsung memeluk Arya, dia sangat bahagia dan bersyukur mendapatkan suami yang begitu mencintainya.


"Terimakasih, Mas. Terimakasih karena sudah menerima Arini apa adanya. Arini yang tak ada apa-apanya di banding dengan wanita lain yang lebih sempurna. Arini minta maaf karena tak bisa memenuhi apa yang menjadi keinginan Mama Luna. Maafkan Arini," ucapnya.


Baju Arya harus basah karena tangis yang tak ada henti dari Arini. Dagunya yang masih ada di pundaknya membuatnya semakin basah.

__ADS_1


"Sudah, jangan menangis lagi. Jangan kamu pikirkan apa yang Mama katakan tadi. Kita harus fokus dengan rumah tangga kita, jangan pikirkan orang lain. Mereka mengatakan seperti itu karena mereka hanya iri dengan hubungan kita. Jadi tetaplah berbahagia dan buat mereka semakin iri dengan kebahagiaan kita," ucap Arya sungguh sangat yakin.


"Terimakasih, Mas," sekali lagi Arini berterima kasih, sepertinya dia tidak ada kata puas untuk mengucapkan kata terimakasih kepada Suaminya.


"Iya iya, sudah ah, bosan dengar kata terimakasih mulu. Sesekali dengar kata I Love You ngapa sih," ucap Arya.


Arini melepaskan pelukannya dengan malu-malu, tapi tangannya juga langsung mengeringkan pipinya yang masih basah. Cepat Arya juga membantunya.


"Aku harus dapat imbalan yang enak loh ini. Ini tidak gratis ya," tangan Arya terus bergerak, menghapus air mata Arini yang sudah berhenti.


"Imbalan apa yang enak?" tanya Arini tak paham.


"Oh iya, aku melupakan sesuatu. Kita ke kantor sekarang," ujarnya entah apa lagi yang Arya lupakan, sampai-sampai dia terlihat sangat berbeda.


"Kita jalan sekarang?" Arini mengangguk dia hanya akan ikut saja kenapa suaminya akan membawanya pergi. Sekarang Arini adalah milik Arya seutuhnya, dia akan selalu ikut kemanapun Arya pergi.



Tak ada Arya tak membuat semangat bekerja dari para karyawan surut dan padam. Mereka tetap semangat mengerjakan semua tugas yang memang sudah mereka dapatkan.




Tak seperti biasanya yang selalu memarkirkan mobilnya di depan kantor sekarang Arya lebih memilih langsung masuk melewati jalan khusus CEO. Masuk dengan mobilnya juga tentunya.



Arya hanya tidak mau kedatangannya saat ini di ketahui oleh orang lain, bahkan Toni pun juga tidak tau kalau dirinya datang. Hanya petugas keamanan saja yang tau karena tepat berada di depan gerbang.



Sampai di parkiran lantai 50 Arya langsung menghentikan mobilnya, dia juga cepat keluar dan membukakan pintu untuk Arini.



"Mas, kok lewat sini? ini pintu kemana?" tanya Arini bingung. Matanya terus menerawang ke segala arah meski tangan sudah menerima uluran tangan dari Arya.


__ADS_1


"Kita lewat pintu khusus, Sayang. Dulu kamu masuk pertama kali sebagai OB, tapi sekarang tidak lagi. Kamu akan masuk ke perusahaan ini sebagai istri ku, istri dari pemilik perusahaan Gautama. Kamu adalah Nyonya Gautama sekarang."



Arini diam dan mengikuti begitu saja kemana Arya membawanya. Tangannya terus di tarik oleh Arya sampai mereka berdua masuk ke ruang dimana biasanya Arini bekerja.



"Mas, apakah aku tidak perlu bekerja lagi di sini?" tanyanya sembari melangkah.



"Kenapa harus bekerja, jika kamu datang ke sini kamu hanya akan berada di sisiku untuk menemaniku saja. Kamu hanya perlu duduk dan melakukan apa yang aku mau," Arya masih terus menarik Arini. Dia juga sempat menoleh sejenak juga tersenyum.



"Mas, kita mau ngapain ke sini? bukannya kata Mas pekerjaannya sudah selesai kemarin?" Benar saja apa yang Arini katakan. Pekerjaan Arya sudah selesai lalu untuk apa mereka datang ke tempat itu.



Arya masih diam, dia belum mau bercerita. Tentu membuat Arini semakin bingung kan?



"Mas?"



Arya mengajak Arini masuk ke dalam ruang kerjanya, melepaskan Arini dan berjalan ke tempat yang berlawanan dari Arini berdiri saat ini.



"Aku mengajakmu datang karena ada janji yang harus aku penuhi di sini."



"Janji?"


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2