
Happy Reading...
Masih saja Arini kepikiran apa yang sebenarnya terjadi pada Arya semalam, tak seperti biasanya jadi merasa aneh saja kan?
Mungkin perasaan seorang istri memang benar-benar sangat peka meski sang suami tidak mau bercerita padanya, dan itulah yang terjadi pada Arini saat ini.
Makannya jadi tak enak, minuman manis rasanya juga menjadi hambar apalagi di tambah dengan pikirannya yang begitu kacau balau akibat suaminya yang kini sudah berangkat ke kantor.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mas Arya?" matanya menatap lurus ke depan sementara tangannya terus mengaduk susu yang sedari tadi belum juga dia minum. Dari susu hangat sampai sekarang menjadi dingin, entah bagaimana rasanya.
"Nyonya cantik kenapa?" Susi datang menghampiri sembari membawa kemoceng, lap juga semprotan yang akan dua gunakan untuk membersihan meja.
"Apa Nyonya cantik ada ma?" tanyanya lagi yang kini sudah sembari membersihkan meja.
"Nggak ada, Mbak. Hanya merasa capek saja," jawab Arini tak mengakui. Selalu saja seperti itu, Arini akan selalu menjaga rahasia dari orang lain bahkan dari kedua orang tuanya sekaligus.
"Apa mau saya pijit?" Susi menghentikan pekerjaan dan mendekati Arini yang juga terlihat sangat lelah.
"Boleh," juga dengan singkat Arini menjawab.
"Sebentar, saya cuci tangan dulu," Susi berlari masuk ke dapur untuk cuci tangan di sana rak berapa lama dia kembali dengan tangan yang sudah bersih.
Dan Arini sudah berpindah di sofa setelah Susi kembali supaya akan semakin enak saat di pijit.
Tangan Susi perlahan bergerak, menekan kedua pundak Arini dan membuat Arini merasa sangat nyaman. Arini bahkan menutup mata saking enaknya kala merasakan pijatan Susi.
"Bagaimana, Nya, enak kan?" tangan Susi terus bergerak dan terasa semakin enak saja.
Arini mengangguk rasanya mampu menghilangkan rasa lelah bahkan rasa pusingnya juga ikut hilang.
"Mas Arya tidak sedang bohongi aku kan? kala ternyata dia sedang berbohong bagaimana? kalau dia melakukan kesalahan bagaimana?" batin Arini.
Hati Istri memang akan sangat peka di saat-saat perubahan kecil dari suaminya. Apalagi seorang istri yang benar-benar mencintai dengan tulus dan mencintai hingga begitu besar pasti hatinya akan sangat peka.
Arini tak mau membicarakan masalah keluarga kepada orang-orang yang dia kenal bahkan orang terdekat yang ada di satu atap dengannya. Biarkan urusan atau masalah rumah tangganya hanya dirinya dan suaminya.
"Nyonya benar-benar tidak apa-apa?" tanya Susi sangat curiga dengan diamnya Arini yang terlihat ada beban. Entah apa yang menjadi bebannya.
"Tidak ada apa-apa, Mbak," jawab Arini dengan tetap setia menutup mata.
"Alhamdulillah kalau tidak ada apa-apa. Saya suka takut kalau sampai punya majikan yang bermasalah dalam rumah tangganya. Pernah sekali punya majikan yang seperti itu hingga akhirnya mereka berpisah dan gajiku hilang satu bulan," ucap Susi bercerita akan pengalaman pahitnya.
__ADS_1
"Amit-amit, Mbak. Semoga Allah menjadikan mas Arya jodoh Arini hingga maut," jawab Arini penuh harap.
Tok tok tok....
Suara ketukan pintu membuat mata mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu, setelahnya Susi pamit untuk membukakan pintu.
Arini masih dia menunggu kira-kira siapa yang menjadi tamu untuknya saat ini. Arini juga terus melihat arah pintu.
Pintu terbuka dan terdengarlah suara seorang wanita. Arini sangat penasaran kenapa ada seorang wanita yang datang dan yang paling membuat Arini penasaran adalah, kenapa dia mencari Arya suaminya?
"Kamu pasti pembantu disini ya," tanya perempuan itu pada Susi.
"Ya, saya emang pembantu di sini. Ada ada ya, dan anda mencari siapa?" tak pernah Susi melihat perempuan itu sebelumnya. Dandanannya sangat tidak berbeda jauh dari majikan perempuannya.
"Perkenalkan, saya Anggi. Saya mencari Arya. Apakah Arya_nya ada di rumah?"
"Oh, Anggi. Tapi maaf, tuan Arya tidak ada di rumah. Apakah ada pesan tuan, atau mungkin mau katakan sama Nyonya?"
"Nyonya?"
"Iya, Nyonya. Istrinya Tuan." jelas Susi.
Terlihat Anggi begitu tak suka saat Susi mengatakan istrinya Arya. Padahal sebenarnya Anggi juga sudah tau kalau Arya sudah menikah karena dulu dia waktu pernikahan juga menjadi tranding.
"Siapa, Mbak?" Arini berjalan mendekat dan perlahan mulai terlihat lah Anggi yang belum juga di suruh masuk.
"I_ini?" Susi begitu bingung.
Berdiri Arini di hadapan Anggi sejenak terdiam, berpikir karena pernah melihat perempuan itu. Yah, Arini pernah melihat waktu bersama Arya dan Arya melihat perempuan ini sampai mengabaikannya. Siapa dia? Arini sangat penasaran.
"Anda siapa, dan perlu apa mencari suami saya?" tanya Arini dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Oh, jadi perempuan seperti ini yang menjadi istrinya Arya. Hem, kampungan!" suaranya sangat ketus memberikan kritikan pada Arini.
"Hey, jangan..." Susi_lah yang seketika ingin marah tapi Arini menghentikannya ketika Susi hendak maju.
"Tapi, Nya. Dia menjengkelkan sekali," kesal Susi.
Arini tetap menghalangi Susi yang hendak maju mendekati Anggi entah apa yang sebenarnya ingin dia lakukan pada Anggi.
Tak mengatakan apapun lagi Anggi malah menyerobot masuk begitu saja dan menyenggol lengan Arini dengan kasar, semakin kesal si Susi.
__ADS_1
"Hey! dasar perempuan nggak punya sopan santun!" omel nya. Jelas tak punya sopan santun dia belum di persilahkan masu oleh pemiliknya sudah masuk begitu saja.
"Hem, bagus sekali rumahnya. Kenapa dulu Arya tidak menunjukkan rumah ini padaku? Hem, mungkin dulu Arya ingin memberikan kejutan untukku," matanya melihat ke semua penjuru tak ada satupun sudut yang terlewat.
"Hey kamu! siapapun kamu mulai sekarang kamu harus bisa berbagi tempat denganku. Karena apa, sebentar lagi saya juga akan tinggal di sini sebagai istri Arya juga," ucapnya.
Mata Arini membulat, berbagi?
"Aku adalah wanita yang sangat Arya cintai sejak dulu dan sekarang aku telah kembali, aku yakin Arya akan bahagia karena aku datang dan akan menikahi ku juga. Dan kamu? Hem, sampah," ejeknya.
Sakit, jelas hati Arini sangat sakit dia juga ingin sekali meluncurkan air matanya tepi dia masih sangat percaya dengan suaminya, dia tidak mungkin tega melakukan itu padanya. Menduakan_nya? tidak!
Arini menahan sekuat tenaga, dia sadar suaminya banyak pengagum fanatik Kate dia tampan juha sangat kaya raya paket komplit lah untuk semua perempuan jadi Arini tidak ingin terpancing dengan pengagum fanatik ya contohnya perempuan satu ini.
"Maaf, saya tidak mengenal Anda, tapi jika kedatangan anda hanya ingin berusaha mengacaukan rumah tangga saya lebih baik Anda pergi dari sini. Saya percaya pada suami saya tidak akan mungkin dia melakukan itu." begitu tegar Arini mengatakan.
"Hem, apa kamu tau? aku juga Arya setiap malam melawati malam yang indah, dia sangat bahagia dengan semua yang aku lakukan padanya. dia juga sangat puas. Apakah kamu tidak marah dengan itu?"
"Tidak," jawab Arini singkat.
"Aku dan Arya selalu bermain dan kami saling terpuaskan setiap malam, bahkan setiap hari. Apakah kamu juga tidak akan terpengaruh dengan itu?"
"Tidak," bagaimana Arini akan terpengaruh hanya karena sebuah cerita di masa lalu. Bahkan bukan hanya dengan Anggi saja Arya melakukan tapi pada perempuan-perempuan lain juga dan selalu berganti perempuan setiap malamnya.
"Saya tidak terpengaruh apapun dengan yang kamu katakan sekarang kamu boleh pergi, Mbak Susi, usir dia." pinta Arini.
"Baik, Nya."
Tak lagi menghiraukan Anggi lagi Arini lebih memilih pergi ke kamar dia tak ingin melihat perempuan yang begitu terobsesi pada suaminya itu.
"Hey, sombong sekali kamu ya! cepat atau lambat kamu akan kehilangan Arya! dia milik ku!" teriak Anggi.
"Heh! jangan bangga kamu. Mau jadi pelakor kok bangga. Cepat pergi!"
Rupanya Susi sangat berani dia mendorong Anggi dengan kuat hingga benar-benar keluar dari rumah itu. Susi langsung menutup pintu.
"Hey! dasar pembantu gila!" umpat Anggi dengan tangan terus menggedor pintu.
Tapi itu tak lagi di hiraukan oleh Susi yang teru melangkah pergi.
...****************...
__ADS_1
Bersambung....