
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Arya terus mondar-mandir tak jelas di dalam ruangannya, sudah sepuluh menit dari waktu yang dia berikan pada Arini untuk datang namun bocah itu belum juga nongol batang hidungnya.
Arya semakin geram saja, perutnya juga beberapa kali membunyikan terompet pertanda dia mulai kelaparan, entah apa juga tujuannya meminta Arini untuk datang ke perusahaan.
Arya tau jarak rumah sakit sampai perusahaan akan bisa di tempuh dalam waktu lima belas menit itupun jika jalanan sepi dan lancar kalau ramai juga bisa lebih, tapi tak akan ada yang mustahil kan kalau Arya sudah bertitah ya meskipun akhirnya hanya berhenti di perintahnya saja karena yang jelas waktunya tidak akan bisa seperti yang dia minta.
"Dasar lelet! " gerutunya. Tangannya berkali-kali terangkat untuk dia melihat jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya.
Setelah dia berhasil melihatnya tangannya beralih menyilang di depan dadanya wajahnya menunduk memandangi lantai sembari kembali mondar-mandir.
Lima belas menit dan Arini belum juga datang.
Dua puluh menit Arini belum juga datang, Arya semakin kesal sekarang. Dia beralih duduk di sofa satu tangannya ada di lipat di atas perutnya sementara yang satu dia jadikan tumpuan untuk wajah tampangnya.
"Nih bocah benar-benar minta di hukum," Arya sudah tak sabaran. Dia tak biasa menunggu siapapun apalagi sampai selama ini. Karena biasanya dia yang di tunggu dan sekarang malah sebaliknya. Benar-benar sudah mulai terbalik.
Sementara di luar gedung Arini baru saja turun dari angkot, Arini cepat memberikan ongkos lalu berlari masuk. Arini tak menghiraukan siapapun yang memandanginya, meskipun banyak pasang mata yang menatapnya tak suka Arini tetap acuh tak peduli.
"Astaghfirullah hal 'azim, sepertinya aku terlambat deh," Arini berlari menuju lift yang akan mengantarkan dirinya ke ruang CEO dan itu membuat semua staf semakin tak suka padanya, mereka iri karena kenapa Arini gadis jelek itu yang bebas keluar masuk lift itu sementara mereka yang lebih cantik tidak di perbolehkan, bahkan sekarang saja semakin mustahil karena ada penjaga di pintu lift.
Setelah kedatangan Arini penjaga yang berseragam hitam itu langsung memencet tombol lift, dia sudah tau kalau Arya tengah menunggunya jadi dia langsung melakukan pekerjaannya.
"Silahkan, mbak Arini," ucapannya terdengar sangat sopan Arini di buat terkejut karena itu.
"Iya, Pak! terima kasih," jawab Arini, "𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨? " batinnya.
Arini tak lagi menghiraukannya dan langsung masuk ke lift dia sudah sangat takut, jantungnya terus berdetak kencang karena dia yang terus buru-buru.
Arini kembali berlari setelah pintu lift terbuka di lantai lima puluh, dia harus cepat sampai di ruangan Arya.
__ADS_1
Arini begitu buru-buru dia mendorong pintu ruangan Arya pun juga dengan tak sabaran, namun di saat yang bersamaan Arya juga membuka pintu dari dalam, keseimbangan Arini hilang dia oleng begitu saja bahkan Arya juga sempat menghindar dari hadapan Arini namun tangan Arini menarik jas Arya hingga keduanya jatuh di lantai bersamaan dengan posisi Arini di bawah Arya.
𝘈𝘬𝘬𝘬...
Arini meringis kesakitan, bukan hanya karena punggungnya yang terbentur lantai tapi dia juga harus menanggung beban berat dari tubuh Arya yang sangat besar.
Tatapan mata keduanya saling bertemu, netra coklat itu saling bertubrukan dalam sesaat dan saling terpaku dalam diam. Aroma yang sangat menenangkan dari Arini membuat Arya begitu terlena apalagi di tambah dengan bibir kecil yang hanya berpoles dengan lip care yang berwarna ceri itu membuat Arya tak sanggup menahannya untuk tidak menyentuhnya dan menyatukan bibirnya.
Arini masih diam terpaku dengan wajah tampan dari Arya, meskipun jantung nya berdetak dengan cepat tapi otaknya kini juga tengah mengagumi wajah tampan itu yang sama sekali tak memiliki cacat.
Arya semakin mendekatkan bibirnya bahkan tinggal beberapa senti saja jaraknya, tapi alhamdulillah Arini langsung tersadar dia berucap istighfar setelah sadar dan mengetahui apa yang akan di perbuat oleh Arya padanya.
"Astaghfirullah hal 'azim..! "
𝘉𝘳𝘶𝘬𝘬...
Arini mendorong wajah Arya dengan telapak tangannya, saking refleknya dia juga tak sadar kalau itu tangannya juga telah bersentuhan dengan wajah Arya.
Arini menjauh, dia juga terus beristighfar, "astaghfirullah hal, Azim.. "
"Lihat! gara-gara kamu wajahku pasti lebam sekarang, kamu harus bertanggung jawab ya!" ucap Arya.
"Kok jadi Arini yang salah sih, Pak Tuan! kan Arini nggak sengaja. Lagian pak Tuan juga yang salah, kenapa malah buka pintu saat Arini mau masuk," Arini tak mau kalah lah yang pasti.
"Kenapa jadi menyalahkan ku, jelas-jelas kamu yang salah!" Arya pun juga demikian.
"Pak Tuan juga yang salah, kenapa juga mau mengambil kesempatan dalam kesempitan! eh, itu artinya apa ya! kesempatan dalam kesempitan? hem.., pak Tuan tau artinya?" mulai lagi seperti oon nya.
"Hihh...," Arya di buat geregetan sendiri gara-gara Arini, jika saja bisa pasti sudah di lahap hidup-hidup nih anak di depannya.
Arya beranjak dia berjalan menuju sofa sembari membenarkan jasnya yang sedikit berantakan. Begitu juga dengan Arini, dia berpindah duduk dan jalan menggunakan lututnya. Arini berhenti di sisi meja dekat sofa yang di duduki Arya.
"Kenapa kamu duduk di bawah, apa nggak ada sofa?" heran si Arya dengan tingkah satu anak ini.
__ADS_1
"Ya nggak sopan dong pak Tuan, Arini kan hanya OB di sini. Kata mbak Raisa waktu itu OB itu setara dengan babu jadi bos juga babu tidak pantas duduk di posisi yang sama. Kalau bos di atas berarti babu harus di bawah, begitu kata mbak Raisa," ucap Arini menjelaskan.
"Terserah deh apa yang kamu katakan! Saya tidak peduli dengan alasanmu."
Arini diam dia menunggu perintah apa yang akan di berikan padanya dari Arya.
"Kenapa kamu lama sekali angkat telfon ku?" tanya Arya.
"Arini belum bisa pak Tuan, tadi saja di ajarin dulu sama nenek saya,"
"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩! " Arya hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri karena lupa akan kebenaran Arini.
"Pak Tuan, apa ada kerjaan untuk Arini?" tanya Arini memberanikan diri.
"Ada, " Jawab Arya dengan sangat jelas.
"Apa?"
"Buatkan aku kopi," jawab Arya dengan enteng.
"Hanya itu saja? " Arya mengangguk, "Ya Allah berikan Arini kesabaran," gumamnya.
Arini pikir Arya meminta dirinya untuk datang karena ada pekerjaan yang sangat penting dan ternyata, sangat mengecewakan.
"Kenapa, apa kamu keberatan! itu bagian dari pekerjaanmu, jadi kamu harus patuh. Makanya aku kasih kami ponsel supaya kamu bisa datang saat aku membutuhkanmu," ucap Arya.
"Ya Allah..., sabar sabar..." Arini hanya bisa mengelus dada.
//////
Bersambung...
_______
__ADS_1