
Happy Reading...
"Apa yang kamu inginkan. Maksudnya, kamu mau beli apa?" Arya menghentikan langkah setelah dia juga Arini sampai di sebuah taman malam yang penuh dengan pancaran sinar lampu, juga begitu banyak akan para penjual dengan berbagai dagangan mereka.
Arini yang dari tadi ngeyel ingin pulang juga akhirnya menghentikan langkah, matanya celingukan ke segala arah melihat semua para pedagang yang menjajakan makanan buatan tangan mereka sendiri.
Selama ini belum ada yang Arini ingin jadi dia kembali melangkah mendahului Arya.
"Loh, kamu nggak mau beli sesuatu?" Arya mengejar Arini yang masih terdiam.
Usahanya untuk membuat Arini senang dan terus tersenyum Arya rasakan sangat gagal saat ini. Dari tadi Arini tidak mau tersenyum dia terus saja cemberut dengan langkahnya yang malas.
"Arini, kalau kamu tidak mau membeli apapun maka kita tidak akan pulang sampai besok," terdapat ancaman dari Arya membuat Arini seketika menghentikan langkah.
Biasanya orang akan jengkel karena wanita yang dia ajak jalan begitu banyak meminta di belanjakan semua barang tetapi Arya? Dia malah menawarkan sendiri kepada Arini. Ya, sultan mah bebas kan.
"Arini tidak mau apapun, Arini mau pulang, Pak Tuan. Ini sudah malam Arini tidak pernah pergi malam-malam begini. Kata kakek seorang gadis tidak boleh sembarangan pergi apalagi malam-malam begini," jawab Arini.
"Emangnya kenapa?" Arya mengernyit. Itu hanya kata-kata orang jaman terdahulu saja kan, tetapi itu tidak berpengaruh kan untuk orang kaya apalagi bagi Arya. Nyatanya banyak wanita yang keluar malam bahkan mereka hanya nongkrong saja.
"Ya Arini nggak tau, tanya aja sama kakek. Kan Kakek yang tidak memperbolehkan Arini pergi malam-malam." jawab Arini dengan begitu polosnya.
Arini kembali melangkah setelah membuat Arya terdiam. Bagaimana tidak diam kicep begitu saja si Arya? Dia bertanya kepada Arini kenapa harus bertanya jiga dengan Kakeknya, makin panjang nanti ceritanya.
Arya menggeleng, dia juga kembali melangkah mengikuti Arini yang berjalan sembari celingukan.
Tiba-tiba Arini berlari, entah apa yang dia lihat hingga membuat dia begitu tertarik dan bergegas menghampiri.
"Arini, kamu mau kemana? Tunggu!" Arya berjalan cepat untuk mengejar Arini. Gadis itu berlari seperti anak kecil bahkan dia juga tersenyum seolah melihat mainan yang dia ingin.
Arini berhenti di samping penjual es krim, dia begitu antusias di sana.
"Pak, es krimnya satu harganya berapa?" Benar-benar seperti anak kecil yang baru pertama mengenal jajan si Arini. Beli ya beli saja kan, tetapi Arini malah bertanya harganya dulu sebelum membeli.
"Ini lima belas ribu, Neng," jawabnya.
Arini terdiam sesaat, tangannya langsung merogoh tasnya yang kecil mengeluarkan dompet yang ternyata isinya hanya sepuluh ribu saja. Arini kembali meraba-raba tasnya mungkin ada yang melarikan diri dari dompet. Setelah terus mencari ternyata Arini tak mendapatkannya.
"Gimana, Neng. Jadi beli?" tanya pedagang es krim itu.
__ADS_1
"Sebentar, Pak," Arini melirik sebentar lalu kembali fokus mencari uang lima ribu di kedua saku bajunya. Naas, hanya seribu rupiah yang ditemukan itupun hanya berupa koin dan nyelip di paling ujung saku.
"Hanya sebelas ribu," Wajah Arini berubah masam dia menginginkan es krim cokelat itu tetapi uangnya kurang empat ribu.
"Kalau sebelas ribu saja boleh nggak, Pak. Sedikit saja juga boleh," ucapnya.
"Maaf, Neng. Ini sudah harganya," jawab penjual.
"Ya sudah deh pak, maaf kalau begitu. Arini nggak jadi beli deh." Arini cepat membalik, dia melangkah pergi dengan wajah lesu. Arini begitu ingin tetapi uangnya kurang.
Arini duduk di bangku putih, meratapi betapa miskinnya dia hanya untuk makan es krim saja tidak bisa.
"Seharusnya aku nggak harus kesini kan?" ucapnya lesu.
Sementara Arya yang melihat Arini pergi dari penjual es krim dengan wajah lesu membuatnya menghampiri penjual itu dan bertanya.
"Pak, perempuan tadi kenapa?" tanya Arya dengan pelan tetapi tetap terlihat auranya yang begitu dingin.
"Oh dia," tangan penjual itu menunjuk ke arah Arini yang duduk diam dengan tak semangat, "dia mau beli es krim rasa cokelat ini, Tuan. Tetapi uangnya tidak cukup."
"Satu ya, Pak," pinta Arya dengan menaikkan jari telunjuknya ke atas.
Penjual itu mengangguk di tambah dengan senyum juga jawabannya, "siap, Tuan."
Arya menunggu, matanya terus melirik ke arah Arini karena dia juga takut kalau sampai Arini menghilang dari jangkauan matanya. Atau mungkin di gondol orang, kan bahaya.
"Ini, Tuan," satu cup penjual itu berikan dengan cepat Arya mengambil dompet dan mengeluarkan uang biru lima puluh ribuan.
"Ini ,Pak," setelah menyerahkannya Arya mengambil cup itu lalu melangkah begitu saja saat penjual mengambil kembalian.
"Tuan, kembaliannya!" teriaknya.
Arya kembali menoleh mengangkat tangannya juga, "ambil saja, Pak!" jawabnya.
Penjual itu terlihat sangat senang dia tersenyum dengan mengangguk beberapa kali. Alhamdulillah rejeki anak sholeh, kalau orang bilang mah.
Sebelum duduk Arya berdiri di belakang Arini namun tangannya sudah terulur di depan wajah gadis itu untuk menyerahkan es krim rasa cokelat yang ingin Arini makan.
__ADS_1
Seketika Arini menoleh kebelakang, dan dia dapatkan wajah Arya yang datar tanpa ekspresi.
"Ini untuk Arini?" tanya Arini dengan mengerutkan dahi.
"Untuk siapa lagi, aku nggak doyan," Arya beralih duduk di sebelahnya padahal Arini juga belum menerima cup itu darinya, "nih makan, nanti ileran lagi. Masak calon nyonya Arya ileran," celetuknya.
"Nggak mau ah," Arini melengos.
Arya bingung, tadi begitu menginginkannya kenapa sekarang tidak mau menerimanya? "Kenapa?" tanya Arya.
"Arini nggak mau hutang Arini tambah banyak, Arini takut nggak bisa bayar hutang sampai mati. Entar di tagih lagi sama malaikat," celetuknya.
"Ini gratis, Arini. Aku tidak akan menambahkan ini sebagai hutangmu. Lagian mana mungkin aku akan perhitungan hanya karena uang kecil saja. Kalau jutaan baru akan masuk list," ucap Arya dengan santai namun tidak di dalam hatinya yang tengah berseru tawa.
"Beneran, ini gratis!" Arini begitu antusias.
Arya mengangguk mengiyakan.
"Nggak ah.." ucapnya lagi dan membuat Arya kembali bingung. Apalagi coba alasannya.
"Kenapa lagi?" Arya harus belajar untuk selalu sabar jika berhadapan dengan gadis kecilnya itu.
"Arini tidak mau jadi cewek matre," celetuknya lagi yang membuat Arya semakin ingin terpingkal dalam nyata.
Nafas panjang Arya keluarkan, jangankan hanya es krim saja semua yang Arini minta akan Arya kabulkan dan dia tidak akan pernah menganggap Arini gadis matre. Karena bagi Arya, Arini memang pantas untuk mendapatkan itu darinya.
"Kalau begitu, jadilah gadis matre. Tetapi kamu hanya boleh meminta padaku saja, tidak pada orang lain. Uangku banyak, aku bisa memberikan apapun yang kamu mau," jawab Arya.
"Nanti masuk list juga, kan itu pasti jutaan."
Arya kembali melongo. Iya juga ya?
"Ya nggak apa-apa lah, kalau kamu banyak hutang nantinya pas kita nikah nggak usah aku beri mahar, kan maharnya udah kamu habisin duluan, hahaha... " akhirnya tawa Arya pecah.
"Ih..., kok gitu!" Arini kesal tangannya langsung memukuli Arya.
Arya masih terus tertawa, dia begitu senang melihat Arini yang kesal namun terdapat senyuman di bibirnya. Arya ingin selalu bisa melihat Arini yang tersenyum seperti itu apalagi lesung pipinya? Tak akan bisa terlupakan oleh seorang Arya.
Bersambung....
__ADS_1