Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
271.Kemanjaan Arini


__ADS_3

Happy Reading....


***********


"Apa saya harus ikut juga?" Mata Raisa terbelalak, namun bukan berarti dia semangat, dia malas lebih tepatnya. Malas untuk ikut ke acara pernikahannya Toni yang berada jauh dari kota. Perjalanan juga pasti akan sangat melelahkan.


Bukan itu saja, tapi Raisa juga tidak mempunyai baju yang akan dia pakai. Semua baju yang dia punya hanya celana juga kemeja dan juga kaos oblong untuk di rumah, jadi bagaimana mungkin dia akan ikut.


Dia ada baju yang sedikit pantas, itu adalah baju dari Arini sebagai oleh-oleh kemarin saat dia pulang bulan madu dari Bali. Tapi masak iya harus pakai itu.


Dimas mengangguk cepat, kalau bukan Raisa siapa lagi yang akan dia ajak sebagai pasangannya. Lagian dia juga sangat menyukai Raisa.


"Jelaslah, emang siapa lagi? Apakah aku akan mengajak orang dari pinggir jalan begitu saja, tidak kan?" Jawab Dimas.


"Ta_tapi...? Tapi saya tidak ada baju yang pantas." Jawab Raisa jujur.


Itulah yang Dimas suka dari Raisa dia selalu apa adanya, tidak ada hal yang di sembunyikan. Jujur meski memalukan.


"Kalau hanya masalah baju kamu tenang saja. Aku sudah siapkan baju couple untuk kita berdua."


Mata Dimas berkedip genit. Memang terlihat sangat manis tapi Raisa masih saja takut.


"Couple? Dengan kamu? Tidak tidak!" Raisa menolak.


"Sudah, aku tidak menerima penolakan. Cepatlah, kita harus berangkat kalau tidak kita akan terlambat."


Tanpa aba-aba Dimas menarik paksa tangan Raisa, tentu gadis itu berontak karena dia juga belum siap.


"Tuan! Saya belum siap-siap! Barang-barang saya juga belum aku bawa!" Raisa hendak menepis tangan Dimas tapi kekuatannya ternyata kalah. Tumben Raisa bisa kalah semudah itu.


"Sudah, nggak usah bawa apapun lagi. Semuanya sudah aku siapkan. Apa kamu mau ambil KTP sama KK juga biar sekalian daftar nikah bareng dengan Toni juga Nisa?"


Laki-laki ini sangat menyebalkan untuk Raisa. Dia bertingkah semaunya sendiri.


"Sembarangan kalau ngomong!"


"Makanya, jangan banyak komentar."


"Saya juga belum mandi. Belum apapun!" Raisa semakin kesal. Jelas dia belum mandi, Dimas datang pagi-pagi sekali sebelum dia bangun tidur. Dan sekarang dia masih memakai baju tidur.


Tentunya Raisa juga belum sempat sikat gigi juga cuci muka. Benar-benar malu Raisa sekarang.


"Nggak usah mandi. Nanti kita mampir ke salon sebentar biar aku yang mandiin." Celetuk Dimas sekenanya.


Bukk...

__ADS_1


"Bisa ngomong bener nggak!" Dongkol dan semakin dongkol hati Raisa. Ternyata ucapan Dimas suka ngelantur juga.


Dengan paksa Dimas tetap mendorong Raisa untuk masuk ke dalam mobil dan langsung menutupnya sebelum Raisa kabur.


"Yes!" Gumam Dimas bersorak bahagia. Akhirnya dia bisa mengajak Raisa meski dengan cara paksa.


Tak masalah gadis itu marah, dia yakin nanti bisa menjinakkannya dengan kemampuannya.


Perjalanan panjang mulai di tempuh oleh Dimas. Tak mau mendengarkan ocehan Raisa yang tiada henti dia memutar lagu dan juga mengikuti alunannya.


'Kau begitu sempurna..


Di mataku kau begitu indah...


"Bagaimana, suaraku bagus kan?" Dimas tersenyum seraya menoleh ke arah Raisa yang tetap menekuk wajahnya.


Raisa tetap diam.


"Apa kamu menyukai lagu dangdut? Atau lagi Barat? Atau lagi Indi? Atau...?"


"Putar saja Qira'ah biar jin yang ada di kepala Tuan lari." Jawab Raisa ketus.


Bagaimana tidak seperti itu, Dimas benar-benar seperti orang kesurupan karena mengajak Raisa secara paksa. Seandainya mau, ini bisa masuk pasal penculikan, atau pemaksaan, atau kekerasan. Entahlah.


Benar-benar bikin darah tinggi nih orang. Bahkan Dimas benar-benar memutar Qira'ah.


"Ademnya hati Abang, Dek. Apalagi di temani adek cantik. Tambah adem," Ucapnya cengengesan.


Ya Allah, sejak kapan Dimas jadi oleng seperti ini. Otak Dimas benar-benar eror, sepertinya dia membutuhkan obat.


Dulu menghadapi adiknya yang erornya minta ampun dan sekarang harus ngadepin kakaknya yang sepertinya otaknya sebelas dua belas dengan adiknya. Sungguh akan sangat melelahkan, lelah hati dan pikiran.


Benar saja, setelah hampir keluar dari kota ada salon yang sangat besar. Dimas menepikan mobilnya dan berhenti di pelataran salon yang sangat luas.


"Loh, kenapa berhenti di sini, memang kita sudah sampai?" Raisa menatap luar melalui jendela. Tentunya dia akan mengernyit bingung karena dia tak tau itu ada di daerah mana. Tapi Raisa tau itu adalah salon.


"Ya mau mandiin kamu lah. Emangnya kamu mau mau kondangan pakai baju tidur kayak gitu. Yuk turun," Ajak Dimas dan sudah siap untuk turun.


"Ta_tapi?"


"Mau turun sendiri atau aku gendong?" Pertanyaan begitu menegaskan dari Dimas, sepertinya dia juga tidak main-main karena sekarang dia sudah berjalan menghampiri pintu samping Raisa.


"Yuk turun," Pintu terbuka sangat lebar dan Dimas tentu pelakunya.


"Yuk gendong," Dimas sudah siap, mendekatkan punggungnya ke arah pintu mobil. Barangkali Raisa benar-benar mau dia gendong.

__ADS_1


"Dasar nggak waras!" Raisa turun sendiri, tentu dengan sangat kesal. Mimpi apa Raisa sampai-sampai bisa bertemu dengan pria seperti Dimas.


"Hahaha!" Tawa Dimas terbahak-bahak setelah Raisa sudah nyelonong begitu saja.


Tentu tak mau ketinggalan oleh Raisa dan kini Dimas juga berjalan untuk masuk ke salon. Dia juga tak lupa membawa paper bag yang terdapat baju yang sudah dia siapkan.


____


Satu persatu tamu sudah mulai berdatangan. Saksi sudah duduk di tempatnya sementara penghulu juga pengantin belum datang.


Semua sudah siap, acara pernikahan akan di gelar setelah semuanya komplit, benarkan?


Arini juga Arya sudah duduk di tempatnya, di baris pertama dengan baju couple. Arya dengan baju batik berdasar hitam juga celana hitam sementara Arini mengenakan kebaya brokat berwarna salem, hijab warna senada dan bawahan batik yang sama dengan baju Arya.


Sungguh serasi keduanya, meski di depan keramaian tapi kemanjaan Arini tidak pudar, dia tetap manja dengan Arya. Bahkan kali ini dia minta di suapi roti sama Arya.


Tak mau ribut Arya menurut saja, meski dia sangat bingung dengan perubahan Arini saat ini tapi dia sangat senang melakukannya.


"Sudah?" Tanya Arya saat menyuapkan yang terakhir.


Arini menggeleng, "belum kenyang," Jawabnya dengan menggemaskan.


"Belum kenyang, dari tadi udah makan terus loh, Yang. Apa nggak takut gendut," Kenapa Arini jadi bisa makan banyak begini, biasanya roti satu potong juga sudah, lah ini udah habis tiga tapi bilang belum kenyang.


"Kenapa kalau aku gendut, apa Mas akan melirik yang lebih kurus," Matanya melotot, entah kenapa nih anak begitu sensitif banget. Ucapan Arya selalu saja salah.


"Bukan begitu, Sayang. Maksudnya, Mas. Apa kamu tidak takut perutnya sakit nanti kalau sampai kekenyangan. Perut mu perut mini loh, nanti kebanyakan dikit bisa sakit seperti biasa. Mas tidak mau sampai kamu sakit, Sayang."


Begitu pelan dan lembut Arya memberikan pengertian, dia harus bisa pinter membuat Arini mengerti kalau tidak dia akan ngambek lagi.


"Oh, tapi Arini masih lapar. Satu lagi deh ya. Please.." Arini begitu memohon, matanya berkedip dengan memasang wajah yang sangat memelas.


Tak tega rasanya hati Arya. Dia jadi yakin, kalau istrinya itu benar-benar mulai hamil? Perubahan yang cukup signifikan ini yang membuatnya yakin.


"Baiklah, tapi benar hanya satu ya. Nggak boleh nambah lagi."


"Iya," Arini mengangguk manja. Tangannya juga langsung bergelayut manja di lengan Arya.


Begitu banyak pasang mata yang melihat kemesraan mereka tapi ya seperti biasa, Arya akan selalu acuh. Sementara Arini? Dia tengah di kuasai dengan tingkah manjanya jadi dia tidak ngeh dengan pandangan semua orang. Yang penting dia senang karena bisa bermanja-manja dengan suaminya.


Hadeuh, bikin para jomblowan dan jomblowati pada iri kalau lihat mereka berdua.


◦•●◉✿_✿◉●•◦


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2