Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
29.Mengajarkan Memakai Dasi


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...______...


Entah sebuah keberkahan atau bencana untuk Arini bisa datang dan bekerja pada Bos yang waras nya kadang hanya separo di Gautama Grup. Dia senang karena di janjikan dengan gaji yang besar dan juga tunjangan yang cukup untuk memenuhi kesehariannya, tapi dia sedih karena setiap hari dia harus jantungan karena tingkah bosnya yang di luar nalar.


Tiga hari Arini bekerja di sana namun setiap harinya ada-ada saja hal yang buruk yang Arya coba lakukan padanya, untung saja Allah begitu sayang padanya dan menjaganya dari Arya, kalau tidak mungkin Arini sudah menjadi bubur di hari ke empat.


Arya juga sangat aneh, dia begitu plin-plan dengan apa yang dia katakan sendiri. Katanya dia muak dan jijik saat melihat Arini tapi setiap hari ada-ada saja alasan untuk dia mendekati Arini entah apa sebenarnya mau orang kurang genap itu.


Seperti biasa Arini akan selalu berangkat lebih awal dan mengerjakannya semua paling awal juga, dia tidak ada kata membuang-buang waktu meskipun hanya sekedar menanggapi tentang perkataan miring dari para karyawan yang mengejeknya.


"Aku bekerja dengan Pak Tuan, jadi mana mungkin saya akan protes dengan apa yang mereka katakan. Ngadepin satu orang saja bikin puyeng bagaimana mau ngadepin orang satu perusahaan? bisa mati berdiri aku lama-lama," Celoteh nya di pagi hari dengan tangan terus menggoyangkan gagang pel yang menjadi temannya sehari-hari.


Siapa lagi orang yang selalu bikin puyeng bagi Arini kalau bukan orang yang kini berdiri di belakangnya dengan begitu santai dan mengantongi kedua tangannya, mungkin dia sedang kedinginan kali ya?.


"Emang siapa yang bikin puyeng?" tanya orang itu yang tak lain adalah Pak Tuan Arya Gautama sendiri.


"Siapa lagi kalau bukan orang yang kurang genap itu," jawab Arini tanpa menoleh ke belakang, sepertinya dia terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai-sampai dia melupakan suara berat itu milik siapa.


"Emang siapa yang kurang genap?" tanyanya lagi dan kali ini sepertinya Arini mulai menoleh.


"Siapa lagi kalau bukan Pak Tuan Ar... ya,, " Matanya membulat sempurna kata-katanya bahkan tercekat karena siapa yang tengah dia gunjingan itu ternyata orang yang kini dia ajak bicara, "𝘔𝘢𝘵𝘪 𝘈𝘬𝘶..., 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘦𝘥𝘦𝘭 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪, "


Arini meringis, sungguh malang niang nasibnya kenapa setiap dia membicarakan Tuannya ini, dia selalu datang bagaikan jelangkung yang tiba-tiba nongol tanpa dia kasih undangan secara resmi.


"Hehehe..., eh Pak Tuan. Tumben berangkat pagi-pagi sekali, pasti Pak Tuan bangunnya pagi sekali, nggak melupakan sholat subuh kan Pak?" meringis Arini.


Arya masih diam, namun mata juga wajahnya sudah sangat mengerikan.


"Hemm..? Pak Tuan pasti belum ngopi, Arini bikinin kopi sebentar ya. Biar Pak Tuan makin semangat kerjanya," Pamit Arini, namun belum juga dia benar-benar pergi dia kembali menoleh ke arah Arya, "Pak tolong pegangin ini sebentar ya, Arini janji tidak akan lama di pantry."


Arini bergegas pergi, alasannya bikin kopi tapi sebenarnya dia hanya mau menghindar saja dari kemarahan Arya. Tapi sepertinya banteng mulai mengeluarkan taringnya karena apa yang Arini lakukan padanya.


"Heyyy, kembali!! Saya bos di sini! Kenapa kamu memerintah ku memegangi pel seperti ini. Apa kamu melupakan batasan mu! Heyyy! Kembali!! " Teriakan Arya tetap tak berguna sama sekali untuk Arini karena dia sudah lebih dahulu pergi.


"Sial! Aku bos di sini, bukan babu yang harus membersihkan lantai!" Arya langsung melemparkan pel itu dengan kesal, bisa hancur reputasinya sebagai CEO angkuh kalau sampai para karyawannya tau dia yang sedang ngepel.


"Sebenarnya aku atau dia yang bodoh? dari kemarin aku tak pernah berhasil mengerjainya. Awas kamu Arini, setiap kesalahanmu akan menambah Poin untuk pembalasanku," gumam Arya.


/////


Arini benar-benar pergi ke pantry, namun dia masih mondar-mandir karena bingung apa yang harus dia lakukan sekarang. Benarkah dia akan membuatkan kopi untuk Arya dan berakhir harus masuk ke ruangannya.


"Bagaimana kalau Pak Tuan mulai lagi? tapi kalau tidak ke sana dengan kopi orang itu pasti akan lebih marah lagi. Ishh..., kamu sih seneng banget bikin gara-gara sama tuh orang, tau orangnya nggak genap," gumam Arini menceramahi dirinya sendiri.


Tak ingin berlama-lama Arini tetap membuatkan kopi untuk Arya,"beres, semoga dengan kopi ini moodnya Pak Tuan membaik," Arini menarik senyum sembari mengangkat gelas itu dan mengendus nya, "Hem, kayaknya enak."


"Kopi ala Arini siap meluncur, kopi nescapek siap di hidangkan," Langkahnya perlahan mulai meninggalkan pantry, membawa harapan dengan kopi itu Arya akan memaafkannya dan juga bisa meredakan amarahnya, "ini di sebut penyogokan nggak sih? nggak lah ya, kan hanya kopi. Udah lah, kapan-kapan kalau bertemu dengan ustadzah Aisyah aku akan menanyakannya."


Pelan namun pasti Arini melangkah, dia sangat menjaga kopi itu supaya tidak menetes di lantai bisa-bisa dia harus mengulang ngepel lagi nantinya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim... Bismillahirrahmanirrahim... " Arini terus komat-kamit melantunkan basmalah sebelum dia masuk ke ruangan Arya, dia juga masih sempat-sempatnya mengoceh menggunjing Arya.


"Kalau bukan gara-gara takut denda udah kabur aku dari sini. Pantesan saja perusahaan ini besar ternyata ada pemerasan juga di dalamnya, dasar Pak Tuan, katanya kaya tapi masih saja menginginkan uang rakyat jelata."


"Astaghfirullah hal 'azim.., Arini ingat dosa, ingat dosa! Astaghfirullah.. "


"Assalamu'alaikum, Pak Tuan... Hehehe... " Arini masuk setelah dia berhasil membuka pintu, dia juga langsung meringis memperlihatkan giginya yang putih dan ada gigi gingsulnya juga di sebelah kiri.


"Lah, di mana tuh orang?" Arini mengernyit karena dia tak melihat Arya di kursi kebesarannya dia langsung menoleh dan ternyata orang itu sedang merebahkan dirinya di sofa dan matanya sudah terpejam.


"Ya elah, udah mendengkur aja pagi-pagi. Apa nggak takut rezekinya di patok mbah ayam ya? hemm.. Orang kaya kan bebas, nggak seperti kamu Arini," Celoteh nya.


Arini tetap berjalan mendekat, berniat untuk meletakkan cangkir di meja sebelah Arya, "Kopinya di sini ya pak Tuan," ucapnya dengan pelan tak mau mengganggu tidurnya dan yang pasti tak mau sampai dia mendapatkan masalah lagi.


"Permisi ya Pak Tuan, Arini mau lanjut kerja lagi. Jangan lupa di minum kalau sudah bangun. Ishh..., kau ini masak orang tidur di ajak bicara." Arini memukul kepalanya sendiri, tak habis pikir aja dengan kelakuannya sendiri.


Arini mulai berjalan untuk keluar namun sepertinya dia tak beruntung karena Arya bangun dan langsung duduk, "Aku kira kau hanya menghindar dariku, ternyata kamu bikin kopi beneran," Celetuk Arya dan berhasil mengejutkan Arini tentunya.


Seketika Arini menoleh dia kembali meringis dengan kikuk, dalam kepalanya juga mengomel karena Arya yang tiba-tiba bangun. "𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘶𝘯? 𝘚𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘭𝘢 𝘣𝘭𝘢 𝘣𝘭𝘢... "


Batin Arini.


Arya tak mau menunda lagi, dia menyambar cangkir dan meneguk pelan karena masih panas, bahkan dia sesekali meniupnya.


Rupanya mata Arini melewatkan pakaian yang di kenakan oleh Arya, tadi pas berangkat dia rapi-rapi saja juga ada dasi yang melekat tapi kenapa sekarang dasinya sudah terlepas dan juga bajunya acak-acakan? mungkin Pak Tuan gerah kali ye?.


"Sebentar lagi saya ada meeting," Ucapan Arya membuat Arini mengernyit bingung tentunya, dia bukan emaknya kenapa harus bilang padanya? "Cepat pakaikan dasi ku! " Titahnya.


Nah kan benar-benar mulai lagi, kenapa harus Arini yang memakaikannya? Arya punya dua tangan sempurna jarinya juga sepuluh tak berkurang satu tapi kenapa harus meminjam tangan Arini.


Taring Arya mulai tumbuh sekarang, dia langsung menoleh dengan mata melotot, wajah menyeramkan dan hidung yang kembang kempis kayak bocah niup balon nggak bisa-bisa, "Pakaikan atau aku potong gaji mu lima puluh persen! " ucapnya sadis.


Bolehkah Arini menangis sekarang? kenapa dia selalu saja mengalami hal ini. Sebenarnya bukan karena tak mau memakaikan dasi untuk Arya, di samping itu tak pantas karena mereka bukan pasangan halal tapi Arini jiga tidak bisa mengikat dasi.


"Tapi Pak Tuan?" ragu Arini untuk mendekat, "𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢. 𝘏𝘶𝘢𝘢𝘢..., 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬, 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬.. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪..!! "


"Cepat! waktuku terbatas cepatlah!" bentak Arya. Arya berdiri matanya melihat Arini yang berjalan maju dengan perlahan, "Kalau jalan itu yang cepat! jangan kayak keong! dasar lambat! " sungut Arya.


"𝘏𝘦𝘮𝘮..., 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘰𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘯? 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩... 𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 "


Tak sabar Arya menyambar hijab Arini dan menariknya, "Cepat! aku tak punya banyak waktu! " sinis nya.


"Jangan tarik-tarik dong Pak Tuan! Arini kan bukan kambing! " protes Arini keras.


"Makanya cepat! "


Dengan tangan gemetar Arini mulai menyentuh dasi Arya yang sudah menggantung di lehernya dia sangat kesusahan karena tinggi Arya yang tak sepadan dengan dirinya. Arini berjinjit namun tetap saja dia tak bisa menggapainya.


"Ini orang atau tiang listrik sih! tinggi amat," keluh nya.


Benar-benar berani nih anak, iya kali bos nya di samakan tiang listrik.

__ADS_1


"Makanya jadi orang jangan pendek-pendek! " ejek Arya, "Naik!! " Pintanya matanya melirik ke sofa di sebelahnya dia berdiri.


"Naik? di atas masih ada lantai lagi ya pak Tuan?" benar-benar tidak nyambung tuh aliran listrik, Arya meminta Arini naik ke sofa tapi Arini malah mendongak mengira di suruh naik ke lantai atas.


"Naik di sofa, Arini! " geram Arya.


"Ihh..., nggak boleh Pak Tuan, sofa itu buat duduk bukan untuk berdiri. Itu namanya tidak sopan."


Mulai ngebul kepala Arya sekarang. Cerewet, suka ngomel dan sekarang suka membantah juga, "Apa kamu benar-benar tidak membutuhkan gaji mu lagi?" ancaman yang akan membuat Arini menurut sepertinya.


"Ehh, jangan gitu dong Pak Tuan! Arini kan hanya... "


"Naik! " bentak Arya tak sabar.


"I-iya," nyali Arini seketika menciut saat mendapatkan bentakan barusan dari Arya, meskipun ragu Arini benar-benar naik setelah melepaskan sepatu flat nya yang sudah tipis itu.


Wajah Arini begitu fokus memandangi tangan yang terus menggerakkan dasinya, dia benar-benar tidak bisa, "Pak Tuan, bagaimana sih cara makai dasi? Kenapa Arini tidak bisa-bisa ya?" bingung Arini.


Wossss... Wossss..


Beneran ngebul sekarang kepala Arya.


"Kamu pernah sekolah nggak sih! masak hanya pakai dasi saja nggak bisa! " kesal Arya.


"Kenapa sih semua harus di sangkut pautkan dengan sekolah, kemarin mbak Raisa tanya Arini pernah makan bangku sekolah atau belum, lah sekarang Pak Tuan juga bertanya tentang sekolah? Arini hanya sekolah sampai SMP, Pak Tuan. Itupun juga sekolah terbuka, lagian bu Anis tidak mengajarkan bagaimana cara pakai dasi, besok kalau ketemu bu Anis Arini akan minta di ajarin deh," jawab Arini panjang kali lebar.


Sepertinya Arya yang harus menangis sekarang, bisa-bisanya dia memelihara orang bodoh di perusahaan yang besar, yang hanya di huni orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi.


"Sabar ya, Pak Tuan? Arini akan coba,"


"Akk!! Apa kau mau mencekik ku!! " Teriak Arya saat Arini mengikat dasi dan menariknya.


"Maaf, Pak Tuan. Kayaknya begini deh, oh salah salah! seperti ini yang benar, lah kok salah lagi, fokus Arini fokus." ucapnya yang terlihat bingung sendiri.


Tak sabar juga Arya menunggu hingga akhirnya dia merebut dasinya dan mengajarkan pada Arini. Belum juga sampai di dasinya Arini sudah menarik tangannya sendiri supaya dia tak bersentuhan dengan tangan Arya,"Kenapa, kamu takut aku menyentuhmu! aku tidak kutilan?" Arya mengernyit.


"Bukan seperti itu, Pak Tuan. Tapi kita bukan mahram, dosa jika bersentuhan langsung," jawab Arini.


"Heh.., mahram!" Arya menyungging sinis. Ada-ada saja dengan gadis satu ini, semua karyawannya pada berlomba-lomba untuk bisa menyentuhnya tapi anak ini? "Aneh."


"Nih!! lihat baik-baik, caranya seperti ini," Arya langsung mencontohkan pada Arini. Tak memperdulikan lagi apa yang barusan Arini katakan, "Tuh lihat! jadi kan?" Arya memandangi Arini setelah dia berhasil.


"Wah, Pak Tuan keren. Tuh Pak Tuan lebih pintar, seharusnya Pak Tuan nggak harus meminta Arini memakaikannya, kepotong kan waktu Pak Tuan."


"Udah bisa sekarang? " tanya Arya dan Arini menggeleng sebagai jawaban, "Terus tadi?" Arya heran, tadi Arini terlihat fokus melihatnya kenapa tetap belum bisa?.


"Arini nggak lihat cara Pak Tuan pakai, Arini hanya berfikir, itu kancing jas Pak Tuan lari ke mana? apa lagi jalan-jalan kali ya."


"Hahh!! " Arya di buat melongo karena satu anak ini.


__

__ADS_1


Bersambung...


_____


__ADS_2