Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
305. Pemeriksaan


__ADS_3

Happy Reading...


...****************...


Kebahagiaan begitu melimpah sekarang. Sebentar lagi keluarga Arya juga Arini akan sempurna dengan kedatangan buah hati yang hanya tinggal beberapa bulan saja.


Keluarga Dimas juga Raisa juga sama karena Raisa sudah positif hamil meski baru menginjak usia empat minggu.


Keluarga Nisa juga Toni juga sama, mereka akan di sempurnakan dengan kehadiran buah hati mereka berdua.


Sementara Fara dan Risman hidup mereka juga akan sempurna dengan status keduanya yang dua minggu lagi akan berubah menjadi suami istri.


Sudah lengkap bukan kebahagiaan mereka semuanya?


Namun untuk Melisa juga Ratna mereka masih menanggung kesusahan karena perbuatan mereka sendiri. Melisa masih berada di penjara sementara Ratna, dia luntang-lantung tak jelas dan hidup di kontrakan kecil.


Mungkin Ratna kena karmanya karena dulu selalu menganiaya Arini juga karma karena tega meninggalkan suaminya yang tengah terjatuh dalam usahanya.


Sementara Marta, dia perlahan mulai bangkit setelah dia mengakui kesalahan kepada kedua orang tuanya dan meminta maaf dengan tulus.


Kedua orang tuanya sudah ikhlas dan memberikan kebun teh nya dengan ikhlas hingga sekarang kebun itu perlahan kembali tumbuh hijau.


Ternyata, keikhlasan dari kedua orang tua Marta lah yang bisa mengembalikan semua yang telah hilang darinya. Meski masih belum bisa seperti dulu lagi tapi sekarang lebih baik daripada kemarin.


Perlahan Marta bisa mulai membayar hutang-hutangnya juga perlahan bangkit dan membenahi hal-hal yang tak layak.

__ADS_1


Meski pekerjanya tidak sebanyak yang dulu tapi kini hidup Marta sudah lebih baik meski tanpa anak-anak dan istrinya.


Menyesal memang selalu datang di akhir kisah. Seperti Marta yang menyesali perbuatannya dulu. Membuang anak yang bagaikan mutiara dan memilih anak-anaknya yang hanya bagaikan kerikil tak berguna.


Tapi Marta senang, akhirnya Arini bisa memaafkan dan ikhlas dengan semua yang terjadi. Setidaknya itu bisa membuat Marta tenang dan tidak merasa berdosa seumur hidupnya.


...****************...


Di rumah sakit Gautama, Arini juga Raisa melakukan pemeriksaan bersama. Keduanya memang sudah sepakat untuk bertemu di sana.


Raisa sangat merindukan adik iparnya yang dulu super duper lemot itu dan sekarang memang masih sedikit tapi tidak separah dulu. Hanya pas lagi kumat saja ubun-ubun semua orang akan mendidih.


"Mbak, bagaimana pengalaman pertama hamil ini. Rewel nggak?" tanya Arini.


"Nggak terlalu sih. Hanya pagi aja sedikit mual tapi tidak terlalu. Hanya saja sekarang sedikit manja," aku Raisa.


Kedua bumil itu terus berbincang-bincang sementara suami mereka juga sama tapi dengan topik yang berbeda.


Masih saja Dimas tak bisa dekat-dekat dengan Arini. Kalau dia dekat katanya masih suka bau jengkol padahal Dimas sendiri tidak pernah memakannya, aneh kan?


Lebih baik makan sekalian sih seharusnya daripada tidak makan tapi di katain bau jengkol. Biar bau beneran kan. Tapi nyatanya itu tidak terjadi karena Raisa juga tidak suka jengkol. Nasib deh.


"Kalau kamu sendiri bagaimana?" tanya Raisa dengan begitu antusias.


"Alhamdulillah, Mbak. Sekarang udah nggak begitu mual sih. Udah nggak aneh-aneh lagi. Bahkan sekarang udah terasa sangat aktif banget. Seneng aku bahkan udah tidak sabar pengen menggendongnya."

__ADS_1


Dielusnya perut Arini dengan kedua tangannya wajahnya menunduk dengan hati yang berbunga-bunga karena tak sabar.


"Yang sabar, Arini. Tinggal beberapa bulan lagi kan?" Raisa mengelus bahu Arini dan langsung di balas senyum oleh Arini.


"Bu Arini!" panggil perawat yang keluar dari ruang dokter.


"Saya!" Arini begitu antusias untuk beranjak dia sudah tidak sabar untuk melihat hasil pemeriksaan saat ini.


"Mbak, saya duluan ya," pamitnya.


"Iya," Raisa mengangguk.


Bukan hanya Arini yang berdiri tapi Arya juga dia langsung berdiri dan menghampiri Arini untuk menemani dalam pemeriksaannya.


Sementara Dimas? Dimas juga langsung berdiri untuk menghampiri Raisa. Menemaninya menunggu giliran setelah Arini.


"Akhirnya, bisa deket sama kamu lagi, Yang." Dimas bernafas lega setelah akhirnya bisa duduk di sebelah Raisa saat ini.


"Sabar, Mas. Tinggal beberapa bulan lagi. Setelah keponakan mu lahir juga tidak akan seperti ini lagi," Raisa menghibur.


"Hem, aneh aja tuh keponakan. Sensi amat padaku," tak habis pikir sih Dimas.


"Hem," Raisa hanya senyum saja sebagai tanda menanggapi.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2