
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Meeting siang yang di pimpin oleh Arya sudah usai, dia bergegas kembali ke ruangannya. Dia begitu penasaran saja apa yang Arini lakukan di sana saat dia tidak ada.
"Tuan, ini barang yang Anda inginkan," langkah Arya terhenti saat Toni memanggilnya. Dengan paper back di tangan tentunya.
Paper back itu Toni serahkan pada Arya, isinya ada sebuah kotak berwarna hitam sepertinya itu adalah barang yang Arya janjikan pada Arini sebagai ganti dari sepatunya yang dia buang ke tempat sampah.
"Hem.. " hanya jawaban itu saja yang Arya berikan pada Toni. Dengan siapapun orang Arya akan selalu irit bicara tapi berbeda jika sudah dengan Arini semua seakan tidak berlaku karena dia akan lebih cerewet seperti seorang ibu-ibu.
Tanpa mengatakan apapun lagi Arya melaju pergi meninggalkan Toni bahkan tak ada kata terima kasih sama sekali. Sungguh terlalu emang bos satu ini, apa akan rugi jika mengucapkan terima kasih saja?
Toni sudah sangat paham akan hal itu, dia juga tak akan berharap lebih jangankan hadiah mendapatkan ucapan terima kasih saja itu akan mustahil dia dengar dari Arya untuknya. Jadi pasrah saja dan ikhlas dengan lapang dada.
Hanya satu saja yang membuat Toni merasa tak biasa, sejak kapan bosnya itu peduli dengan seorang gadis. Bahkan sudah berkali-kali di tolak pun dia tetap saja peduli. Jaman memang benar-benar berubah untuk Tuan Arya.
"Semoga saja ini pertanda awal yang baik," gumam Toni dia juga langsung melaju pergi untuk segera ke ruang kerjanya.
/////
Langkah Arya semakin cepat saat dia sudah melihat pintu di ruangannya. Dia sudah tak sabar ingin melihat apa yang Arini lakukan semoga saja dia tetap patuh padanya dan tak melakukan apapun yang selalu dia kerjakan sebagai pekerjaan setiap harinya.
Perlahan tangannya mulai mendorong pintu, tak ada suara apapun yang timbul dari dalam terlihat adem ayem seperti tak berpenghuni.
"Arini di ma... " ucapannya terhenti saat matanya menangkap sosok gadis kecil yang kini tertidur pulas di atas sofa yang dia tempati sejak dia pergi.
Mungkin rasa bosan dan jenuh yang membuat Arini tertidur pulas apalagi dia sedang puasa dan tak bisa makan apapun itu salah satu yang membuat dirinya mengantuk.
Ternyata Arini tidur bukan sengaja, tangannya masih memegangi buku tebal namun sangat kecil, entah buku apa itu Arya sama sekali tak mengenalnya.
"Apa yang ada di tangannya?" Arya mengernyit dia tak mengenal itu. Arya duduk di sisi Arini yang tertidur.
__ADS_1
Seumur-umur dia belum pernah melihat buku kecil itu. Dengan pelan Arya mengambilnya, membukanya dan tambah bingung lagi setelah melihat tulisannya.
Ternyata buku itu adalah Al-Qur'an, jelas-jelas Arya tidak akan mengenalnya karena sejak kecil dia tak pernah belajar agama apalagi yang namanya Al-Qur'an.
"Apakah dia bisa membaca ini?" Arya menoleh ke arah Arini, tak dia percaya kalau Arini yang bodoh itu bisa membaca tulisan yang sama sekali Arya tidak kenal.
"Stt..., heyy... bangun! bangun Arini, bangun!" ujung jari telunjuknya terus menoel bahu Arini untuk membangunkannya.
"Hemm...," Arini merenggangkan tangannya dan naas tangannya yang mengepal berhasil mendarat dengan tepat di hidung Arya.
"Aww...," keluh Arya. Tangannya bergerak cepat memencet berkali-kali hidungnya yang terasa sakit.
Tak duga-duga nih bocah kalau bangun tidur. Pas tidur anteng banget kayak mayat hidup setelah bangun..? udah kayak cacing kepanasan, dan kalau ngoceh kayak burung perkutut yang tak ada henti-hentinya menyerukan suaranya.
Samar-samar Arini bisa mendengar yang menjadi keluhan Arya. Arini terperanjat dan menjauh dari Arya yang ada di sisinya.
"Ehh.., pak Tuan ngapain! " ucapnya dalam keterkejutan.
"Kamu lihat saya sedang ngapain?! " bukannya menjawab Arya malah balik tanya. Ya jelas lah, dia kan tidak ngapa-ngapain kalau di tuduh macam-macam mana rela.
"Ehh..., ini milik Arini! Pak Tuan juga tidak seharusnya menaruhnya di bawah, Al-Qur'an harus di pegang dengan tinggi," protes Arini.
Setelah Al-Qur'an bisa sampai di tangannya Arini berkali-kali menciumnya, membuat Arya terperangah tak percaya. Itu hanya buku saja kenapa harus mendapatkan ciuman yang bertubi-tubi. Yang jelas bikin iri kan? Arya lebih baik darinya kenapa tak mendapatkan ciuman itu.
"Seharusnya saya yang mendapatkan ciuman itu, emang itu apa sih sampai segitunya kamu memperlakukannya. Kamu begitu menjunjung tinggi buku itu, sementara saya? " benar-benar iri kan si Tuan Arya.
"Ini namanya Al-Qur'an, Pak Tuan. Kitab dari Allah yang di turunkan melalui perantara Nabi Muhammad. Kita sebagai seorang hamba harus menghormatinya, dan tidak boleh sembarangan memperlakukannya," jawab Arini.
"Tidak kenal," jawab Arya dengan dingin.
Arini di buat melongo, laki-laki segede Pak Tuannya sama sekali tidak mengenal Al-Qur'an , Allah SWT, juga Nabi Muhammad SAW. Sungguh terlalu.
Terus apa yang dia pelajari selama ini? apa juga yang menjadi pedoman hidupnya? Pantas saja hidup Arya begitu amburadul tak jelas. Memang jelas dalam urusan dunia tapi dalam urusan akhirat? Kosong melompong.
__ADS_1
Bagaimana sifat juga tingkahnya akan baik-baik saja, sementara dia tak mengetahui apa yang seharusnya menjadi pedoman untuk hidupnya, benar-benar salah kaprah jalan hidup Arya.
"Pak -pak Tuan tidak kenal?" pekik Arini.
Arya mengangguk dia memang tidak mengenalinya, bahkan dia juga tidak membutuhkannya.
"Buat apa aku mengenalnya, tak ada untungnya juga. Nihh.., sepatu yang aku janjikan! harganya lima juta dan akan di tambahkan di daftar hutangmu,"
Mata Arini terbelalak, astaga hanya sepasang sepatu saja harus merogoh kocek lima juta? apakah Arini tidak sedang bermimpi? apakah ini benar-benar nyata?
Lagian kenapa harus sepatu yang mahal untuk mengganti sepatu bututnya. Dengan uang empat puluh ribu saja sudah bisa beli sepatu flat yang sama seperti miliknya, bahkan sepatu yang Arya buang harganya hanya tiga puluh lima ribu saja.
"Pak Tuan benar-benar mau memeras ku," celetuk Arini dengan mata kosong.
"Kalau hutangku tambah banyak begini akan sampai berapa tahun aku bekerja di sini? Tidak mungkin akan seumur hidupku kan? " Pelan-pelan matanya beralih ke arah Arya, dan bos satunya itu malah dengan santainya beranjak dari duduknya.
"Pak Tuan! Arini tidak akan seumur hidup kan berada di sini?! " suaranya semakin keras saja.
"Kita lihat saja nanti," jawab Arya dengan begitu enteng.
Astaga, Arini tidak mau di kurung di tahan di perusahaan itu seumur hidupnya, dia ingin bisa bebas setelah beberapa tahun. Memiliki usaha sendiri, bisa membuka sesuka hatinya. Dia juga ingin bisa kembali mendengarkan petuah-petuah dari orang yang lebih mengetahui agama, dia juga ingin bisa pergi-pergi lagi ke acara pengajian dan sebagainya.
Kalau di sana seumur hidupnya maka Arini?
"𝘏𝘶𝘢𝘢𝘢..., 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪, " hatinya berteriak dengan pilu.
Wajah yang terlihat lesu membuat Arya tersenyum saat melihatnya. Sungguh lucu ingin sekali Arya mencubitnya dengan gemas pipi yang rata itu.
"Kamu tidak akan bisa pergi kemanapun tanpa persetujuan ku, Arini. Kamu adalah mainan ku," gumam Arya begitu lirih.
/////
Bersambung...
__ADS_1
________