
Happy Reading...
Baru juga dua hari tak bertemu dengan Arini kini Arya sudah sangat tak sabar. Dia begitu frustasi karena merindukan Arini dan ingin sekali bertemu dengan calon istrinya.
Dia maupun Arini hanya tinggal di rumah mereka masing-masing, dan Arya sama sekali tak bisa bertemu Arini. Jangankan untuk bertemu, sekedar untuk berbicara melalui telfon saja tidak bisa karena ponsel Arini di sita oleh Dimas.
Arya terlihat sangat uring-uringan di dalam kamarnya sendiri. Sesekali dia mencoba untuk menyelinap keluar untuk menemui Arini tapi tetap saja tak bisa karena eyang Wati selalu saja memergoki.
"Kamu sedang apa, Arini? Aku sangat merindukanmu. Kenapa hanya untuk bertemu dengan mu saja tidak boleh. Padahal aku juga tidak mau melakukan apapun padamu, aku hanya ingin melihatmu saja dan melihat senyummu. Itu sudah lebih dari cukup," ucapnya.
Arya terus memainkan ponselnya. Berkali-kali dia ingin menghubungi Arini tapi dia selalu urung karena pasti yang menerima adalah kakaknya, Dimas.
"Tidak boleh seperti ini. Aku harus bicara dengannya kalau tidak aku bisa gila," ucapnya lagi.
Terpaksa Arya membuka ponselnya mencari nomor kontak Arini di sana yang sekarang sudah di ganti namanya dari OB norak menjadi My wife.
Setelah berhasil menemukannya Arya cepat menghubunginya, sembari terus berdoa semoga saja Arini yang menerimanya.
Arya berdiri, terus melangkah mondar-mandir sembari menunggu telfonnya ada yang mengangkat. Sampai dua kali belum juga ada yang menerimanya membuat Arya benar-benar ingin berlari keluar dan menemui Arini.
"Ish..., kenapa nggak ada yang menerimanya sih! Apa ponselnya sama sekali tidak di hiraukan?"
"Awas saja kamu, Dim! Besok kamu bakal menerima pelajaran dariku karena menghalangiku untuk berbicara dengan Arini," umpatnya seraya memberikan ancaman pada Dimas.
Arya mencoba lagi.
"Semoga saja kali ini ada yang mengangkatnya. Kalau tidak ada aku akan melanggar aturan ini dan aku akan pergi ke sana. Dan aku akan membawa Arini pulang sekarang juga," ucapnya lagi.
Tut... Tut... Tut...
Sudut bibir Arya terangkat, dia mulai tersenyum saat apa yang dia harapkan menjadi kenyataan. Suara yang sangat dia rindukan kini bisa di dengar.
Sementara di kediaman Hendra Arini sudah berada di dalam kamarnya, dia baru saja selesai melakukan runtutan acara yang berlangsung di sana.
Karena malam juga sudah semakin larut Arini juga harus istirahat. Dia harus benar-benar menjaga dirinya dengan baik supaya tidak sakit saat hari pernikahannya.
Makanan yang bergizi juga vitamin harus selalu Arini konsumsi. Nilam ataupun Hendra tidak mau kalau sampai Arini sakit.
Dilepas hijabnya setelah dia duduk di depan meja rias, satu persatu jarum dia lolos dari hijabnya dan dia letakan di wadah kotak berwarna putih di atas meja.
__ADS_1
Matanya terus melihat wajahnya sendiri yang dipantulkan dari kaca. Arini tersenyum, dia merasa sangat berbeda dari biasanya.
"Benarkah ini diriku? Benarkah ini Arini?" ucapnya.
Bagaimana tidak, biasanya yang hanya berdandan dengan make-up apa adanya dan tentunya dengan harga murah kini dia harus berdandan dengan semua alat make-up yang sangat mahal. Itupun juga perias khusus yang melakukannya bukan Arini sendiri.
Kring... Kring... Kring...
Arini terkesiap saat mendengar suara nada dering dari ponselnya. Arini sedikit bingung bukankah ponselnya di sita oleh Dimas, lalu kenapa bisa suara ponsel itu dia dengar?
Arini beranjak, dia terus celingukan mencari suara ponselnya yang entah di mana.
"Dimana ponselnya?" ucapnya.
Tangan Arini langsung meraih ponsel itu saat dia melihatnya. Ponsel yang berada di atas sofa tapi tertutup oleh bantal.
"Pak Tuan?" Arini bingung, apakah dia akan mengangkatnya?
Dua kali Arini tidak mengangkatnya karena masih berpikir. Dan setelah itu tak lagi di dengar. Arini sedikit lega mungkin Arya tak jadi menghubunginya karena tak kunjung di angkat.
Kring... Kring... Kring...
Arini bertekad untuk mengangkatnya, lagian Arya hanya menghubungi lewat telfon bukan video call jadi tak masalah kan?
"Assalamu'alaikum..." suara Arini sangat pelan.
"Wa'alaikumsalam."
Arini tersenyum kecil setelah mendengar suara Arya yang terdengar sangat lembut. Bahkan kini terdengar sangat fasih saat menjawab salam.
"Hem..., apakah sudah selesai acaranya?" tanya Arya.
"Sudah," Arini kembali duduk di depan meja rias.
"Hemm, aku merindukanmu," ucap Arya terang-terangan tak ada yang di tutup-tutupi olehnya.
"Hem," jawab Arini singkat.
__ADS_1
Hati Arini terasa sangat berbunga-bunga mendengar kata-kata Arya barusan, benarkah dia dirindukan oleh Arya? Kalau di pikir-pikir Arini juga sama, dia juga ingin secepatnya bertemu dengan Arya tapi dia masih bisa bersabar. Tak lama lagi mereka akan bertemu kan, bahkan mereka bisa bersatu untuk selamanya.
"Apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Arya lagi.
"Hem, aku... aku..."
"Dek, mau mengambil ponsel mu!" teriak Dimas dari luar pintu. Bukan hanya berteriak tapi Dimas juga terus mengetuknya.
"Maaf, ada kak dokter. Kita sambung besok. Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam.."
Meski hanya sebentar tapi sudah membuat Arya tenang. Dia lega karena bisa mendengar suara Arini yang terdengar semakin merdu.
Hari berganti, semua acara sudah rampung di lakukan dan hari ini adalah hari terakhir Arya juga Arini akan terpisah. Mereka akan bertemu nanti malam setelah mereka sah menjadi sepasang suami-istri.
Arini terlihat sangat lelah, tapi dia masih saja semangat dalam hal apapun.
Ya, dua hari ini Arini berpuasa menjelang pernikahan. Menjalankan puasa sunah yang biasa di lakukan oleh wanita sebelum mereka resmi menjadi seorang istri.
Arini ada di dalam kamar khusus untuk mempelai pengantin wanita. Arini tidak sendiri di sana dia bersama para pihak WO juga Raisa.
Tangan polos Arini tengah mendapat lukisan henna dari pihak WO. Lukisan henna yang sangat indah sesuai keinginan Arini.
"Wah wah, aura pengantin baru semakin terpancar dengan jelas nih. Apalagi di tambah dengan puasa," ucap Raisa menggoda.
"Mbak, bagus nggak? Arini sangat menyukainya," ucapnya yang melenceng dari apa yang Raisa katakan.
"Hadeuh, kebiasaan. Sini ngomong A situ jawabnya B. Dasar," kesal Raisa. Tapi tetap saja hanya di mulut saja tidak di hatinya.
"Mbak, mbak Raisa mau di henna juga nggak?" tanya Arini begitu antusias menoleh ke arah Raisa yang terlihat kesal.
"Tidak perlu, aku kan tidak akan menikah," jawab Raisa judes.
"Ya, siapa tau setelah ini mbak Raisa ngejar nikah juga," Arini kembali melihat tangannya.
"Emang situ nikahnya lari?! Kenapa pakai di kejar?" Raisa semakin judes.
"Ya nggak juga lah, Mbak."
Keduanya lalu diam setelah itu, tapi pihak WO hanya terus tersenyum setelah tadi mendengar sedikit perdebatan antara Arini juga Raisa.
"Assalamu'alaikum, Sayang."
Nilam masuk ke dalam kamar itu, tangannya membawa nampan yang berisi makan juga minum untuk berbuka Arini.
"Wa'alaikumsalam, Ma."
Arini seketika menoleh dia tersenyum melihat Nilam yang semakin dekat dengannya.
"Sebentar lagi berbuka, Sayang. Jangan sampai terlambat. Nanti pingsan lagi," gurau Nilam.
"Tidak, Ma," jawab Arini.
Pihak WO pamit keluar setelah selesai dengan hasil yang indah di tangan Arini. Semua akan di lanjut nanti setelah bakda isya saat pernikahan akan di langsungkan.
"Arini, aku juga pamit ya. Mau mandi lagi nih, gerah," pamit Raisa. Dan Arini mengangguk sebagai jawaban.
"Mama juga keluar ya, Sayang. Ada hal yang harus mama lakukan. Ingat, jangan lupa di habiskan makannya," Nilam juga pamit.
"Iya, Ma."
__ADS_1
Bersambung,.