Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
234. Sampai ke Hotel


__ADS_3

Happy Reading...


••••••••••


Satu tangan Arya menggenggam tangan Arini dan satunya lagi menarik koper. Ya, mereka hanya membawa satu koper yang lebih besar untuk membawa semua barang-barang mereka berdua.


Alasannya karena Arya tidak ingin membawa barang yang terlalu banyak hanya yang penting saja yang di bawa. Kalau ada kekurangan mereka bisa membelinya di Bali.


Wajah Arini begitu sumringah setelah kakinya sudah menginjak tanah Bali. Tanah dari pulau yang menjadi kegemaran para wisatawan untuk menikmati semua paronama yang sangat indah. Dan sekarang Arini bisa sampai di sana. Sungguh bagaikan sebuah mimpi saja menurut Arini.


"Mas, Arini tidak sedang bermimpi kan? Kita benar-benar sudah sampai di pulau Bali kan?" Arini menoleh ke arah Arya dan suaminya itu terlihat tersenyum.


Saking senangnya Arini melepaskan tangan Arya, dia berjalan lebih dulu. Dia sudah sangat penasaran dengan semua keindahan yang pernah dia dengar dan baca dari beberapa berita kabar.


"Arini, Sayang! Jangan cepet-cepet!" Arya sedikit berteriak, langkahnya dia percepat untuk mengejar Arini yang semakin menjauh, Arya tidak mau sampai kehilangan jejak Arini.


"Mas, Cepatan!" Arini berhenti, tangannya melambai-lambai meminta Arya untuk semakin cepat jalannya. Sepertinya Arini sudah tidak sabar.


Arya menggeleng halus, dia berhenti setelah sampai di samping Arini.


"Ingat sayang, jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak mau sampai kamu hilang atau di bawah orang," ucapan Arya terdengar sangat tegas tapi bukan keras.


"Hehehe..., maaf Mas, Arini hanya sudah tidak sabar. Sekarang kita akan kemana dulu?"


"Kita akan ke hotel, bersih-bersih dan akan istirahat di sana. Dan besok baru kita akan berjalan-jalan," jawab Arya menjelaskan. Dia bisa saja menuruti apa yang Arini minta sekarang tapi dia sendiri juga sangat lelah.


"Hem," Arini mengangguk.


Arya kembali menggandeng tangan Arini kali ini tidak akan dia lepaskan lagi. Arya tidak mau sampai dia kehilangan istri yang tidak ada duanya itu.


Arini mengernyit saat tiba-tiba ada mobil yang berhenti di hadapannya. Sepertinya Arya juga dirinya belum memesan taksi atau apalah.


"Permisi, dengan Tuan Arya?" Tanya sang sopir.


"Mas, dia siapa?" tanya Arini begitu polos.


"Dia adalah sopir kita, Sayang. Dia yang akan mengantarkan kita ke hotel sekarang dan akan mengantarkan kemanapun kita akan pergi untuk besok," Jawab Arya menjelaskan.


"Oh," Arini mengangguk, dia mengerti sekarang karena itu memang tidak sulit untuk di pahami oleh nya. Ya meski dia sendiri masih bingung juga sih, sejak kapan suaminya itu menghubungi sopir itu.


"Ya, saya Arya," Jawab Arya kepada sang sopir.


Mendapat jawaban dari Arya sang sopir langsung menghampiri, mengambil alih koper yang Arya bawa dan membawanya ke mobil dan memasukkan ke dalam bagasi.


"Yuk Sayang," ajak Arya. Kembali menuntun Arini, membukakan pintu mobil dan meminta Arini masuk lebih dulu dan setelah itu baru dirinya sendiri.




Setelah perjalanan yang begitu melelahkan kini Arya juga Arini sudah berhasil masuk ke dalam hotel, masuk ke dalam kamar mereka yang begitu indah. Kamar yang terdapat di lantai lima dan terdapat balkon di depannya.



Balkon yang tepat mengarah ke arah pantai juga akan melihat matahari saat terbenam. Ternyata Wiguna sangat pintar memilih tempat dan itu bisa menambah kesan romantis untuk mereka berdua.



Tidak susah-susah mereka berdua melihat keindahan pantai, menikmati hembusan semilir angin yang bisa sampai ke balkon mereka. Apalagi saat menjelang petang, mereka bisa melihat senja yang indah dengan siluet tepat di atas laut.



Rasa lelah tak membuat Arini menjadi lokro begitu saja, dia masih begitu semangat, dia sangat antusias setelah masuk ke kamar hotel dan melihat semua keindahan.



"Ini barang-barang anda Tuan. Saya permisi dulu. Jika anda membutuhkan sesuatu bisa menghubungi saya," ucap Sang sopir tadi yang mengantarkan koper mereka sampai ke kamar.



"Terimakasih, Pak. Saya akan hubungi bapak jika ada yang saya butuhkan," Jawab Arya dengan sangat ramah. Berbeda dengan Arini yang sudah lebih dulu berlari masuk dan kini sudah berdiri di balkon melihat keindahan hamparan pantai.



Setelah sang sopir pergi Arya langsung menutup pintunya dan secara otomatis pintu itu akan terkunci jika dari luar. Arya menarik kopernya masuk menaruh koper di sebelah kasur yang begitu besar.



Sejenak Arya memandangi kamarnya itu, sangat luas dan memuaskan, tak ada kurang menurutnya semua sangat sempurna.

__ADS_1



"Papa sangat pintar memilih ternyata," Pujian yang dia berikan kepada papanya.



Arya beralih melihat istrinya yang sudah berdiri di balkon bahkan tas selempang nya juga masih menggantung di pundaknya.



Arya melangkah menghampiri, senyumnya indah bisa melihat Arini yang begitu bahagia.



"Sayang," Panggil Arya.



Arini menoleh, tapi belum juga dia sempurna menoleh dan bisa melihat Arya ternyata suaminya itu sudah memeluknya dari belakang, melingkarkan kedua tangan di perutnya.



"Mas, ini sangat luar biasa," ucap Arini.



"Apa kamu menyukainya?" Tanya Arya memastikan.



Arini mengangguk dia sangat menyukai tempat yang begitu indah baginya. Semua terlihat sempurna di matanya dan Arini tidak sabar ingin bisa menikmati pantai di hadapannya dan bermain-main dengan airnya di sana.



"Mas, kapan kita akan ke sana?" tangan Arini terangkat menunjuk arah pantai yang sebenarnya tidak terlalu jauh karena mereka bisa sampai hanya dengan jalan kaki saja.



"Besok kita akan ke sana. Hari ini cukuplah kita istirahat di sini. Mengumpulkan lagi tenaga yang telah hilang karena perjalanan panjang."




"Kalau kamu memang tidak lelah, maka hari ini kita gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat."



"Apa?" Arini mengernyit juga langsung menoleh.



"Kamu harus memberikan servis untukku. Aku yang lelah karena dari rumah aku tidak bisa tidur karena menjagamu, jadi kamu harus memanjakan ku," Arya semakin erat memeluk Arini, bahkan sekarang kepalanya sudah masuk ke dalam hijab Arini dan terus mengecup leher Arini.



"Mas, geli!" pekik Arini. Mungkin memang sangat geli, bahkan Arini sudah langsung merinding saat lidah Arya menyentuh telinganya.



Arini terus menggeliat seperti cacing kepanasan karena perbuatan suaminya. Ada-ada saja si Arya katanya meminta Arini untuk istirahat tapi nyatanya? Dia tidak akan membiarkan Arini untuk istirahat jika sudah seperti itu.



"Masak sih geli, ini hanya di sini loh kalau di tempat lain baru aku percaya," jawabnya begitu enteng.



Memang bener-bener terlalu si Arya, bukannya dia sudah tau benar kalau semua anggota tubuh wanita itu bisa merasa geli saat di sentuh, bahkan semua nyaris menjadi tempat yang sensitif jika di sentuh tidak seperti dirinya.



"Mas, geli ah!" Berkali-kali Arini mencoba menghindar tapi Arya sama sekali tak peduli dan malah semakin menggila. Padahal mereka berdua juga baru sampai belum sempat istirahat sama sekali, tega benar si Arya.



Tanpa aba-aba Arya langsung mengangkat tubuh Arini dan membawanya masuk, tapi bukan ke kasur sih melainkan Arya langsung membawanya ke kamar mandi.


__ADS_1


"Loh, kok kesini sih, Mas!" Arini begitu bingung.



"Kamu bau acem, aku harus mandiin kamu biar wangi biar enak di nikmati."



Arini menganga di buatnya, mendengar perkataan Arya yang sepertinya juga tidak serius karena ada sedikit kekehan kecil yang keluar.



"Jangan lebar-lebar, jangan sampai aku melakukan yang lain loh sekarang," ucapnya lagi.



Arini langsung kicep, menutup mulutnya dengan rapat. Arya kan tidak suka main-main kalau dia bicara seperti itu kalau tetap ngeyel pasti dia akan melakukannya. Tapi masak iya Arini akan di mandiin sama Arya?



"Jadilah anak baik dan nurut, oke," ucapnya.



"Arini bisa mandi sendiri, Mas. Mending Mas nunggu di luar saja deh," Arini sangat malu jika itu benar Arya lakukan. Meski mereka sudah beberapa kali melakukannya tapi rasa itu tetap saja akan muncul pada Arini.



"Nggak mau, aku hanya mau memanjakan istriku saja. Aku tidak mau istriku sampai kelelahan," Jawabnya enteng.



Setelah menurunkan Arini Arya langsung mengisi bathtub dengan air hangat juga sabun yang sudah tersedia di sana.



"Kita akan berendam sebentar, itu akan menghilangkan lelah kita. Apalagi di tambah dengan aroma terapi dari sabun ini, hem, sangat menenangkan," ucap Arya.



"Ta\_tapi..?"



"Haduh, istri kecilku cerewet banget sih, sini," Arya langsung menarik Arini setelah dia berdiri membuat Arini langsung menubruknya dengan keras.



"Mass!" teriak Arini.



"Hahaha," Arya malah tertawa melihat Arini yang berteriak kencang dan kini berwajah masam.



"Jangan berwajah seperti itu sayang, kalau kamu seperti itu aku bukan hanya memandiin kamu saja, tapi aku akan melakukan hal yang lain padamu," ucapnya.



Satu tangan menahan Arini supaya tidak pergi sementara satunya lagi mulai bergerak sesuka hatinya dan mulai menanggalkan pakaian yang Arini pakai.



"Mas, Arini malu. Biar Arini melakukannya sendiri ya," Arini begitu memohon.



"Tidak, kamu akan kelelahan nanti," jawabnya.



Benar-benar tak bisa menolak lagi apa yang Arya lakukan. Arini hanya bisa pasrah dan membiarkan Arya melakukan apapun yang dia inginkan. Arini hanya bisa menutup mata saja, dengan seperti itu dia akan sedikit mengurangi rasa malunya.



~••••~~~


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2