
Happy Reading...
Hari beru telah tiba, meski masih dalam suasana yang kurang enak Arini tetap menjalankan apa yang biasanya dia lakukan di pagi hari.
Setelah selesai menjalankan shalat subuh juga membuat sarapan kini dia baru keluar rumah sekedar untuk menghirup udara yang masih sangat sejuk.
Tidak dengan tangan kosong Arini keluar, tangan membawa sapu lidi untuk dia membersihkan halaman yang penuh dengan daun rambutan.
Baru saja berhasil membuka pintu Arini di buat terkejut dengan mobil Arya yang masih ada di tempat seperti tadi malam. Arini menoleh ke arah kursi bambu dan ternyata Arya juga masih memejamkan mata di sana.
hatinya kembali dongkol tetapi dia juga tidak akan bisa marah. Bahkan Arini merasa sangat kasihan saat ini melihat posisi Arya tidur, pasti sangat tidak nyaman bahkan mungkin tubuh Arya akan sakit semua setelah dia bangun.
Sinar matahari yang mengenai wajah Arya membuat dia perlahan-lahan mengerutkan keningnya, mungkin matanya sakit kali ya meski dia tidak membukanya.
Arini tersenyum melihat Arya yang terlihat sangat lucu, Arini berdiri di hadapan Arya menghalangi matahari supaya tidak langsung mengenai wajah Arya, dan saat itu wajah Arya kembali biasa.
"hihihi.." Arini menutup mulutnya supaya suaranya tidak sampai di telinga Arya, dia kembali minggir dan wajah Arya kembali mengkerut.
berkali-kali Arini melakukan itu, dia begitu senang. Sejenak Arini melupakan masalah semalam dan kini malah dengan sengaja isengin Arya.
"Pak Tuan tidurnya kek kebo," ucapnya.
Arini menoleh, dia melihat matahari yang semakin lama terasa hangat.
"Masak iya harus seperti ini terus? tapi kalau tidak kasihan, Pak Tuan pasti sangat lelah," imbuhnya.
Tak akan bisa Arini benar-benar membenci Arya, meski ada rasa kecewa tetapi itu tidak bisa menghilangkan perasaannya begitu saja yang sudah sangat nyaman saat bersama Arya.
"Pak Tuan benar-benar sangat tampan ya? pantesan saja banyak cewek yang tergila-gila kepadanya termasuk kak Melisa. Cewek yang mengejar Pak Tuan juga semuanya cantik tetapi kenapa Pak Tuan tidak menerima salah satu di antara mereka? kenapa juga malah mengejar Arini yang jelek dan tidak jelas ini, mana bodoh juga lagi."
"Pak Tuan, sampai kapanpun Arini tidak akan bisa membenci Pak Tuan. Walaupun kita tidak berjodoh tetapi Arini juga tidak akan mungkin bisa melupakan Pak Tuan. Pak Tuan sudah ada dua hati Arini dan di tempat yang paling indah."
"Pak Tuan, Arini sangat menyukai Pak Tuan," imbuhnya lagi.
"Aku lebih menyukaimu, aku lebih mencintaimu. cintaku lebih dari kamu mencintai ku."
Arini terkesiap saat Arya tiba-tiba bangun dan langsung duduk tegak dan menatapnya. Tidak terlihat kalau Arya seperti orang yang baru bangun tidur, matanya langsung terang begitu saja juga membulat sempurna.
"Terimakasih kamu sudah menyukaiku, Arini. Aku janji tidak akan menyia-nyiakan perasaanmu yang kamu berikan kepadaku."
__ADS_1
"Si-siapa yang menyukai Pak Tuan? Pak Tuan salah denger itu," elak Arini tak mau mengakui.
Arini berbalik arah, dia berdiri dengan memunggungi Arya.
Arini terlihat malu-malu, dia keceplosan mengatakannya atau mungkin memang sengaja.
Terlihat Arya berdiri, dia langsung melangkah dan berhenti di sebelah Arini. Arya menoleh melihat bagaimana wajah gadis di sebelahnya itu yang tingginya hanya sebahunya bahkan sepertinya tidak sampai sebahu.
Begitu senang Arya saat ini. Disaat awal dia membuka mata dan sudah langsung melihat Arini.
"Semoga saja ini selalu terjadi di masa depan. Aku akan sangat bahagia saat semuanya bisa terjadi sesuai dengan apa yang diinginkan," ucap Arya seraya tersenyum sembari memandangi wajah Arini.
Arini juga menoleh, tetapi dia harus sedikit mengangkat wajahnya untuk bisa melihat wajah Arya.
"Memangnya apa yang Pak Tuan inginkan untuk masa depan?" tanya Arini.
"Yang aku inginkan, yang aku ingin adalah kamu selalu ada di setiap aku membuka mata. Selalu menemani kehidupanku hingga tua. Menjadi guruku yang sangat bodoh akan ilmu agama. Aku ingin bisa belajar untuk dekat dengan Sang Pencipta dan itu bersamamu," jawab Arya begitu panjang.
Arini terdiam, dia kembali menunduk tak mau melihat Arya lagi.
"Kenapa tidak diaminkan, apa kamu tidak menginginkan itu?" Arya beralih berdiri di hadapan Arini dan terus melihatnya yang terus menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Arini belum bisa belum percaya dengan Arya begitu saja.
"Bertanggung jawab apa? Lagian mana mungkin aku akan bertanggung jawab dengan apa yang tidak aku lakukan. Meskipun dunia mengatakan itu tetapi saya tidak akan mengakuinya. Juga Ada Allah yang melihatnya kalau Aku tidak bersalah," jawab Arya.
"Astaghfirullah hal 'azim..," Arini mengelus dada.
"Kenapa, apa aku salah? bukankah kamu selalu percaya kan dengan Allah, maka mintalah jawaban Dari-Nya. Allah juga tidak tidur kan? Kalau begitu Allah pasti melihat semua yang terjadi." Arya sudah kehilangan akal untuk menjelaskan kepada Arini hingga hanya yang dia katakan..
Arya yakin Arini percaya, jika dia tidak bisa percaya padanya tidak masalah tetapi apa dia juga tidak akan percaya jika kepada Allah?
"A-aku percaya kepada Pak Tuan, tetapi apakah orang lain akan percaya, tidak kan?" Arini membalikkan kata.
"Terimakasih kamu percaya padaku. Aku mohon selalu percayalah dengan ku, dengan cintaku. Karena ini benar-benar ada bukan hanya sekedar untuk permainan."
Arini mengangguk, dia sangat percaya kalau Arya memang tidak melakukannya tetapi dia tidak bisa yakin kalau orang lain akan percaya dan masalah itu akan berhenti dan hilang begitu saja. Pasti akan berbuntut panjang dan akan terus menggangu hubungan mereka. Bahkan akan menjadi sebuah ancaman untuk memisahkan mereka berdua.
__ADS_1
"Arini, terimakasih. Hadiah mu aku sangat menyukainya." Arya tersenyum mengingat hadiah yang di berikan oleh Arini kepadanya. Meski dia berpikir hadiahnya tidak sesuai tetapi tidak masalah, dia akan menerima dan menyukai apapun yang Arini berikan.
"Hadiah!?" Seketika Arini menoleh.
Arini mengingat akan kalung yang tidak sengaja Raisa masukan ke dalam kotak hadiah untuk Arya, Arini ingin memintanya.
"Pak Tuan, apakah kalungnya?"
"Kalung permata biru, sangat indah. Darimana kamu mendapatkannya?"
"Boleh Arini memintanya lagi kalung itu?" Arini mengatakan hal lain dan tidak menjawab pertanyaan Arya.
Arya mengernyit, bagaimana mungkin barang yang sudah di berikan di minta kembali.
"Tidak, aku tidak akan memberikannya. Bukankah itu hadiah yang sudah kamu berikan? bagaimana mungkin kamu bisa memintanya lagi."
Arini tau jawaban itu yang akan dia dapat, dan dia yakin memang tidak akan bisa dia mendapatkannya lagi dengan mudah kalau sudah jatuh di tangan Arya.
"Kamu tidak perlu malu, seberapapun harganya kalau kamu yang memberikannya akan menjadi sangat mahal untukku. Karena barang apapun tidak akan ada yang bisa menandingi mu, kamu sangat berharga untukku."
"Tetapi aku masih heran, sebenarnya darimana kamu bisa mendapatkan kalung itu?"
"Kalung! Kalung apa yang kalian maksud?!"
Arya juga Arini menoleh bersamaan setelah mereka mendengar ucapan dari Kakek Susanto.
"Ka-kalung punya Arini, Kek," Arini menunduk dia sangat takut.
"Kamu menjaganya dengan baik kan?"
"Hem...?" Arini terlihat sangat bingung. Apa yang akan dia katakan kalau sekarang kalung itu ada di tangan Arya dan dia tidak bisa memintanya.
"Dia sangat menjaganya kok Tuan." Arya yang angkat bicara, "*Sebenarnya darimana kalung itu berasal. Kalau kalung itu berharga kenapa Arini memberikannya kepadaku*?" Batin Arya bingung.
"Oh, syukurlah kalau begitu."
"Lalu, kenapa kamu masih di sini?" Imbuhnya.
"Sa-saya...?" Kini giliran Arya yang bingung.
__ADS_1
Bersambung....