
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦
_________
Hati sangat penuh dengan kekesalan rasanya ada yang mengganjal dan ingin sekali Arya keluarkan saat dia melihat Toni yang duduk santai di ruang tamu.
Saat ada kesempatan untuk sedikit menyentuh Arini ada-ada saja rintangan yang menggagalkannya. Padahal sedikit lagi Arya bisa mencicipi bagaimana rasanya bibir Arini yang selama ini membuatnya sangat penasaran.
Mungkin memang dengan cara itu Allah mempertahankan kesucian Arini, dengan mengirimkan orang yang akan menggagalkan niat buruk Arya.
"Kenapa kamu datang?! " pertanyaan Arya terdengar sangat angkuh. Dia juga langsung duduk di kursi yang lain di dekat Toni.
Apa itu, kenapa kamu datang? Bukankah Arya sendiri yang meminta untuk Toni datang menjemputnya. Apakah dalam waktu empat setengah jam saja Arya sudah amnesia?
Toni mengangkat wajahnya memandangi Arya namun itu hanya sebentar saja karena ulah dari mata Arya yang membuatnya ketakutan. Benar-benar kedatangannya di waktu yang salah kalau tidak tak mungkin Arya akan se-mengerikan itu.
Mungkin ada hal yang gagal karena kedatangan Toni mungkin ada sebuah pesta kecil yang gagal.
"Maaf, Tuan. Saya terlambat," jawab Toni.
"Apakah kamu menyadari kesalahanmu sebenarnya!? " tanya Arya dan Toni menggeleng tidak tau. "Karena kamu datang saat ini. Seharusnya kamu datang dua atau tiga jam lagi. Dasar asisten tidak peka! " umpat Arya.
Mintanya dua jam saja, tapi Toni datang di waktu empat setengah jam kenapa malah memintanya menambah dua atau tiga jam lagi? Bukankah itu artinya akan semakin lama Toni sampai di sana.
"Tu-tuan..., A- Arini hilang," ucap Toni dengan gugup.
"Dia tidak hilang, dia... "
"Tuan Toni sudah datang, sekarang kita bisa pulang kan? Arini ingin cepat-cepat kembali lagi ke rumah," kedatangan Arini mengejutkan Toni juga menghentikan kata-kata Arya yang ingin menjawab Toni.
Keduanya menoleh dan Arini sudah mengganti bajunya sendiri sekarang. Benar-benar hilang kesempatan Arya untuk mendapatkan Arini sekarang.
"Arini? " gumam Toni.
Ternyata tebakannya benar Arini pergi bersama Arya apa mungkin dia marah karena pestanya yang gagal itu dengan Arini? Benar-benar dalam masalah sekarang si Toni entah apa yang akan dia dapatkan setelah ini.
"Aku akan siap-siap dulu," Arini begitu antusias dia kembali masuk ke kamar yang sama dari Arya tadi. Fix dugaan Toni benar.
"Kenapa kamu memandangnya? Apa kamu sudah tak membutuhkan matamu lagi?!" tak ikhlas tuan Arya saat Toni memandangi Arini. Belum apa-apa Arya sudah sangat posesif tidak mungkin tidak ada apapun kan?
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩?" batin Toni lagi.
"Jadi kalian akan pulang sekarang? " tanya pak Karna. Arya juga Toni menoleh secara bersamaan. Melihat pak Karna yang mendekat dan ikut bergabung duduk dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Iya, Pak." jawab Arya sopan.
"Terus, bagaimana dengan mobil Nak Arya? " tak mungkin kan mobil yang berharga miliaran di tinggal di tengah hutan begitu saja. Tidak mungkin.
"Toni, kamu ambil mobil ku di hutan sana. Jangan lupa bawa bahan bakar. Aku akan pulang lebih dulu dengan Arini," kata-katanya terdengar dingin lagi saat bicara dengan Toni, hadeh.
Bilang saja kalau Arya tidak mau ada yang mengganggunya saat bersama dengan Arini.
"I-iya, Tuan." jawab Toni pasrah.
"Nisa! Nisa..! " panggil Pak Karna.
"Iya, Abah! " Nisa pun keluar setelah mendengar panggilan dari ayahnya. Nisa mendekat dan menunggu apa yang ingin di perintahkan kepadanya.
"Kamu temani Nak Toni ke hutan. Jangan lupa temani dia membeli bensin di pom mini di tempat mang Ujang. Kunci motor bapak ada di laci," jelas pak Karna.
Sekejap Nisa dan Toni saling melihat ada rasa canggung pada keduanya.
"Kamu bisa kan, Nis? " tanya pak Karna membuyarkan.
"Bi-bisa kok, Bah! Nisa ambil kuncinya dulu," Nisa kembali berlari masuk. Tak lama dia kembali keluar dengan membawa kunci di tangannya. "Mari, Tuan," ucap Nisa dengan sangat sopan.
"Saya pergi dulu, Tuan. Permisi," Toni pun ikut beranjak dan membuntuti Nisa.
Namun Arini tercengang karena tidak melihat ada Toni di sana. "Tuan Toni dimana?" tanya Arini. Kakinya mulai melangkah menghampiri, mencari Toni yang sudah pergi.
Pertanyaan yang membuat Arya kesal. Kenapa juga harus mencari Toni apa hebatnya asistennya itu daripada dirinya.
"Kalian sudah mau pulang?" Bu Sulasmi keluar dari kamar dia juga langsung mendekat.
"Iya, Bu." jawab Arini.
"Apa nggak makan dulu? Makan dulu ya."
"Tidak usah, Bu. Kami masih kenyang. Terimakasih sudah mau menampung kami sementara. Dan terimakasih ibu juga pak Karna sudah baik kepada kami," Arya beranjak, dia berjalan menghampiri Arini dan merangkulnya.
Astaga, dramanya belum juga berujung ternyata, alias masih bersambung.
"Sayang, bilang terimakasih kepada mereka." Jika bukan sebuah drama, mungkin Arini akan terpana karena tutur kata yang lembut dari Arya. Tapi tidak! Semua ini hanya kepalsuan dari mulut manisnya. Melanjutkan drama yang sudah di mulai olehnya.
Tapi Arini bisa apa, kecuali hanya menuruti apa yang Arya katakan.
"Terimakasih, Pak, Bu. Semoga Allah membalas kebaikan bapak juga ibu," ucap Arini dengan tulus tanpa ada drama juga kepalsuan karena Arini memang tidak menyukai hal-hal yang palsu.
__ADS_1
"Itu sudah kewajiban kami, Nak. Ingat ya, dalam rumah tangga pasti akan selalu ada masalah, semua bisa di bicarakan dengan baik tanpa ada kekerasan juga amarah, ingat itu ya, Nak Arya." ucap Pak Karna.
"Iya, Pak. Saya akan selalu mengingatnya. Sekali lagi terimakasih. Kami permisi, semoga suatu saat nanti bisa bermain ke sini," ucap Arya.
"Iya, Nak. Hati-hati ya di jalan."
"Assalamu'alaikum... "
"Wa'alaikumsalam.."
Arya tetap merangkul Arini, menuntunnya keluar menuju mobil yang tadi di kendarai oleh Toni.
Arini merengut, dia senang karena ada Toni jadi Arya tidak akan bisa melakukan apapun lagi tapi lihatlah sekarang? Sepertinya Tuhan telah berpihak pada Arya.
"Assalamu'alaikum.. ! " teriak Arini setelah dirinya ada di dalam mobil. Tangannya melambai-lambai ke arah pasutri yang sangat baik itu.
"Wa'alaikumsalam," jawab keduanya. Tangannya juga ikut melambai untuk membalas Arini.
Perlahan-lahan mobil mulai berjalan juga kaca mobil mulai tertutup dengan otomatis dan pelakunya adalah tuan Arya.
"Kok di tutup?! " Arini sedikit kesal, dia ingin sekali melihat keindahan sore di pedesaan juga menikmati udara yang sejuk yang belum terlalu terkontaminasi akan polusi.
"Udara sangat dingin, tidak baik untuk kesehatan! " jawab Arya dengan sangat ketus.
Berdua lagi berdua lagi, Arini hanya bisa berharap semoga Arya tidak melakukan hal buruk padanya dan tidak membuat mereka berdua kembali tersesat lagi.
Arini ingin cepat sampai di rumah menemui orang-orang yang mungkin sangat mengkhawatirkannya.
"Ingat, jangan membuat ku kesal lagi kalau kamu tidak mau hal seperti ini terulang lagi. Aku sih tidak masalah ini terjadi lagi," ucap Arya terlihat begitu nyinyir.
"Emang apa yang Arini lakukan? Pak Tuan saja yang suka-suka marah tidak jelas. Tiba-tiba marah seperti anak yang masih labil. Atau seorang pemuda yang sedang di mabuk cinta yang selalu saja cemburu buta. Tapi tidak lah ya, tidak mungkin orang seperti pak tuan jatuh cinta." jawab Arini yang lebih nyinyir.
"Jangan membuat ku marah lagi, Arini," kesal Arya.
"Marah ya marah saja, nggak usah peduliin Arini," Arini semakin ketus.
"Ihhh... " Arya geregetan dengan Arini yang terus saja menjawab perkataannya.
/////
Bersambung...
______
__ADS_1