Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
320. Bucin Akut


__ADS_3

...****************...


"Aw!" pekik Arini. Seketika dia meringis dan membuat Arya ikut panik.


Arya yang baru saja masuk kamar langsung berlari dan meletakkan gelas di atas nakas dan menghampiri istrinya.


"Sayang, ada apa? apa yang sakit?" tanyanya yang begitu khawatir. Cepat Arya menyentuh punggung istrinya dan menatap wajah Arini yang kini terdiam.


Bingung, jelas saja Arya bingung karena tak tau apa yang terjadi pada istrinya yang barusan memekik seperti kesakitan.


"Sayang, kamu kenapa? apakah ada yang sakit, kita ke rumah sakit sekarang." Arya begitu buru-buru dia bahkan hendak mengangkat tubuh Arini.


"Mas, Arini tidak apa-apa. Tadi, tadi hanya perut Arini bergerak kayak di tendang gitu." ucapnya.


Arya melongo, dia sudah begitu kuat dan takut tapi ternyata hanya karena anaknya menendang perut Arini dengan keras.


"Astaghfirullah, Sayang. Kamu membuatku takut," keluh Arya.


"Kok jadi gitu, Mas nyalahin Arini ya?" mata Arini membulat.


Nah kan, sensitifnya kumat lagi.


"Bukan begitu sayang. Aku, aku hanya khawatir," Arya tersenyum, berusaha membuat Arini mengerti. Bicara dengan Arini memang harus hati-hati kalau tidak ya pasti dia sendiri yang akan kebingungan untuk menenangkan Arini.


"Sini- sini, lebih baik kami duduk dan istirahat saja. Tidak usah mengerjakan pekerjaan apapun lagi, nanti kamu kecapean Arini sayang," Arya langsung menuntun Arini untuk duduk di kasurnya.


Arini menurut saja, dia duduk dengan tenang dan kini melihat Arya yang kembali beranjak untuk mengambil gelas yang berisi susu yang sudah dia buat tadi.

__ADS_1


"Sekarang minum dulu susunya," pintanya lalu duduk di sebelah Arini.


Hiks hiks hiks!


"Loh, kok malah nangis. Kenapa?" tanya Arya, kembali dia di buat bingung dengan sikap Arini ini.


"Mas baik banget, mas sayang sama Arini?" tanyanya.


Tidak usah di tanya lagi, Arya sangat sayang bahkan sangat cinta pada Arini.


"Jelas, Mas sangat sayang sama Arini. Emangnya kenapa?"


"Peluk," kedua tangan Arini langsung merenggang meminta peluk sama Arya.


Tanpa banyak bicara bahkan tanpa mengatakan apapun Arya langsung mewujudkannya, dia memeluk Arini dengan erat.


"Sudah, jangan nangis lagi ya. Kasihan adek nanti dia ikut nangis lagi," begitu sabar bahkan sangat ekstra kesabaran Arya untuk Arini.


"Aku selalu menang dalam hal apapun, tapi aku akan kalah. Kalah dengan senyuman Oma dan juga senyuman kamu." ucap Arya setelah melepaskan pelukannya. Beralih menggenggam tangan Arini dan mengecup punggung tangannya.


"Kenapa seperti itu?" tanya Arini.


"Karena aku sangat mencintai mu," ucapnya, menjelaskan akan isi hatinya yang benar-benar nyata.


...****************...


"Kak Dimas!" teriak Arini. Begitu bahagia saat melihat kedatangan Dimas dan juga Raisa.

__ADS_1


"Adekku sayang!" teriak Dimas juga. Seperti anak kecil mereka berdua berlari dengan merenggangkan tangan. Hingga akhirnya mereka ingin berpelukan setelah berhadapan tapi ternyata tidak!


Ekhem!


Suara dekhemam Arya menghentikan Dimas. Tangannya menjadi kaku dan tertahan ketika ingin memeluk adik kesayangannya itu. Kalau yang punya sudah seperti itu jelas saja Dimas tidak berani melanjutkan keinginannya.


"Kenapa?" tanya Arini bingung.


"Tidak, tidak apa-apa." Dimas mundur lagi.


"Bagaimana keadaan keponakan kakak, sehat kan?" tanyanya. "Mamanya jiga sehat kan?"


"Papanya nggak di tanya juga?" sahut Arini. Menoleh ke arah Arya yang sudah berdiri di sebelahnya.


"Ya, bagaimana keadaan papanya juga, sehat kan?" terkesan terpaksa ucapan Dimas. Terdengar kaku.


"Hem," Arya hanya mengangguk. Tangannya langsung merangkul Arini, seolah mengatakan pada Dimas bahwa Arini adalah miliknya.


"Baik dong, Kak. Kami semua sehat." Wajah Arini begitu berbinar.


"Ayo duduk, Kak Dimas, Kak Raisa." ajaknya.


Dimas juga Raisa pun menurut, berjalan ke arah sofa bersama Arini yang tetap di rangkul oleh Arya.


Dimas menoleh melihat Arya, dia adalah kakaknya tapi tak ada kesempatan untuk memeluk adiknya mencurahkan rasa rindunya. 'Nasib nasib,' batin Dimas.


'Sabar punya ipar posesif seperti ini. Bucinnya akut,' imbuhnya lagi.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2