Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
16.Apa itu OB


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...__________...


Baru saja beberapa jam pulang dari rumah sakit kini Arya sudah berada di 𝘤𝘭𝘶𝘱 seperti biasa. Sepertinya dia sama sekali tak tahan jika harus berlama-lama tidak menikmati surga sesaat itu. Minuman haram, para perempuan bayaran yang bisa memuaskan dirinya sangat dia impi-impikan dalam dua hari kemarin.


Kini di kamar VIP Arya baru saja selesai bergelut dengan perempuan bayaran yang begitu cantik. Perempuan yang berparas cantik, tubuh seksi ala gitar Spanyol, kulit putih dan memiliki segudang kelebihan yang membuat Arya begitu tertarik kepadanya.


Peluh masih membasahi tubuh keduanya namun perempuan itu sepertinya belum merasa puas, dia masih ingin meminta sentuhan lagi dari tangan Arya, meminta kembali kecupan dari Arya yang begitu membuat dirinya terkulai tak berdaya akan kenikmatan.


"Tuan." Panggil perempuan itu. Tangannya mulai menggerayangi tubuh Arya yang masih polos, bahkan tangannya tak ragu sama sekali menyentuh bagian ter sensitif milik Arya.


"Lepaskan tanganmu! " bentak Arya, sepertinya Arya sudah tidak mau lagi menambah satu ronde saja seperti yang perempuan itu inginkan.


Bukannya melepaskan batang yang sudah mulai mengeras lagi di bawah sana, namun Perempuan itu lebih semangat menggodanya, dan semakin membangunkannya.


"Tuan." Panggilnya lagi dengan suara serak nya.


"Jikalau saya mau melakukannya lagi, saya tidak mau dengan orang yang sama, kamu mengerti bukan! " Arya menampel tangan perempuan itu dan berhasil terlepas dari adik kecilnya.


Arya menyibak selimut yang menutupi tubuhnya lalu beranjak dengan kasar, bergegas dia berjalan masuk ke kamar mandi dengan tubuh yang tak tertutup sehelai benangpun.


Perempuan itu merengut kecewa, keinginan untuk merasakan sentuhan dari Arya lagi telah gagal. "Sial," serutunya.


Arya begitu memperhatikan kebersihan, setiap selesai jajan pada perempuan dia pasti akan selalu berendam, menghilangkan keringat yang begitu menyiksanya. Yang pasti Arya harus berendam karena harus menidurkan lagi adik kecilnya yang terbangun gara-gara perempuan tadi.


Beberapa saat Arya di kamar mandi dia kembali keluar hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Arya membuka lemari mengambil baju ganti dan pergi ke ruang ganti setelahnya.


Arya sudah kembali terlihat segar dan juga kembali terlihat tampan namun perempuan tadi masih bermalas-malasan di atas kasur yang hanya khusus Arya yang menggunakannya. Suatu keberuntungan bagi semua perempuan yang bisa masuk dan merasakan kamar itu, apalagi bisa merasakan sentuhan dari Arya.


𝘉𝘶𝘨𝘩...


Arya melemparkan gepokan uang ke arah perempuan itu sebelum dia benar-benar pergi dari sana. "Itu bayaran mu, cepatlah pergi dari sini saya tidak mau kamu menempati kasur ku lagi. " ucapnya dengan dingin.


"Baik, Tuan. " jawab perempuan itu.


Setelah mendengarkan jawaban dari perempuan itu Arya bergegas pergi dari tempat itu, sepertinya dia akan pulang ke apartemen nya saja tak ada niatan untuk kembali ke rumah utama karena dia tau pasti akan mendapatkan ceramah dari mamanya.


Tak butuh waktu lama Arya sudah sampai di kediaman nya. Apartemen yang begitu besar dan megah itu nyatanya tak ada siapapun di dalamnya selain Arya, dan jika siang hanya akan ada petugas kebersihan itupun seorang laki-laki.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari dan Arya baru sampai, dia sangat lelah pertempuran tadi benar-benar telah menguras tenaganya, ya mungkin karena dia belum pulih seutuhnya.


Setelah melepaskan sepatu, jam tangan dan juga jas hitamnya Arya langsung menghempaskan tubuhnya di kasur yang begitu luas itu, dia akan putuskan untuk tidur sekarang karena dia harus pergi ke perusahaannya besok.


____


Ayam sudah berkokok sedari tadi, seperti biasa selesai dengan sholat subuh Arini pergi ke dapur untuk membuat sarapan, tidak seperti kemarin yang hanya nasi goreng dan juga telur ceplok, hari ini Arini memasak sayuran hijau berupa bayam, membuat sambal dan juga tempe goreng saja. Meskipun hanya sederhana tapi itu akan sangat menyehatkan untuknya dan nenek-kakeknya.


"Hem..., kayaknya enak nih." Baru saja menghirup aromanya sudah membuat Murni memujinya. Murni sudah tak sabar ingin mencicipi masakan Arini yang begitu menggugah selera makan.


Arini tersenyum kecil, dia malu karena mendapatkan pujian dari Murni yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya dari orang tuanya.


"Nenek bisa saja. Kan nenek belum mencobanya siapa tau rasanya nggak enak? " Jawab Arini.


"Tidak mungkin, Arini. Ini pasti sangat enak."


Tak lama Sumarno juga datang dan bergabung duduk di sana, sarapan pagi yang begitu menyegarkan akan di mulai setelah kedatangannya.


Arini begitu telaten mengambilkan bagian untuk Murni ataupun untuk Sumarno sementara keduanya duduk menunggu dengan tenang.


"Gimana, Nak. Apa kamu akan pergi mencari pekerjaan lagi? " Tanya Sumarno.

__ADS_1


"Iya, Kek. Arini harus mencari pekerjaan." Jawab Arini.


Makan pagi yang begitu nikmat akhirnya selesai dengan cepat karena tak ada obrolan yang memperlambatnya, Sumarno ataupun Murni tak menyukai pembicaraan saat makan, jadi mereka akan berbicara sebelum atau sesudahnya.


Piring kotor sudah Arini bawa ke belakang dan sudah dia cuci lagi hingga bersih, Arini bergegas ke kamar mengambil tas selempang berwarna hitam dan juga selembar koran yang kemarin.


"Kamu sudah mau berangkat? " Tanya Murni.


"Iya, Nek. Mumpung masih pagi jadi masih semangat. Arini berangkat dulu yang, Nek, Kek, Assalamu'alaikum. " Pamit Arini dan tak lupa dia menyalami keduanya.


"Wa'alaikumsalam, semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan sesuai yang kamu inginkan. " Jawab Susan.


"Amiiinnn." Seru Arini.


___


Jam tujuh pagi dan Arini sudah sampai di depan gedung yang begitu menjulang tinggi, matanya begitu terpana melihat bangunan itu, dia juga begitu senang meskipun baru melihat para karyawan yang keluar masuk.


"Wah, ini sungguh luar biasa." Arini ternganga wajahnya masih terus mendongak ke atas.


Entah berapa lantai gedung itu, dengan begitu polosnya Arini menyempatkan menghitung banyaknya lantai.


"Satu, dua,...,..,.., empat puluh delapan, empat puluh sembilan, lima puluh. Benarkah lima puluh lantai? Subhanallah, orang kaya di kota memang luar biasa. Kalau untuk membangun gedung sebesar ini pasti akan mengeluarkan uang... ? Ratusan juta, atau milyar? Ah tidak, tidak! Ini pasti triliunan. Triliun itu nol nya berapa ya?? "


Bingung memikirkan nol dalam uang triliun membuat Arini melupakan sejenak maksud kedatangannya, hingga akhirnya ada seorang penjaga yang datang dan menegurnya, mengira Arini datang hanya untuk main-main atau mungkin meminta sumbangan.


"Ehhh, kenapa kamu di sini, pergi pergi!! " Usir nya.


Arini gelagapan dan langsung tersadar setelah itu. "Hehehe..., maaf, Pak." Arini hanya meringis.


"Mau ngapain kamu kesini? " Tanya penjaga begitu ketus.


Penjaga itu memandangi Arini dari bawah sampai atas kepala, sepatu flat hitam, rok coklat polos, tunik salem dan juga hijab yang berwarna hampir sama dengan tunik nya. Astaga.., pakaian macam apa itu?.


Penjaga itu terkekeh melihat style yang Arini pakai sekarang, tanpa harus dia menjawab semua pertanyaan Arini kan? Itu tidak akan penting kan? Karena di perusahaan besar itu tidak akan mungkin memperkerjakan gadis seperti Arini, apalagi kulit Arini? Itu sungguh Mus-ta-hil.


"Sebaiknya kamu pergi saja, cari pekerjaan di tempat lain, di sini tidak akan pernah memperkerjakan orang seperti mu, sana pergi!" Usir nya dengan tak berpikir.


"Emangnya kenapa, Pak? " Tanya Arini.


"Lihatlah semua karyawan itu, apa mereka ada yang seperti mu? Mereka semua cantik, berpenampilan menarik, seksi, putih, lah kamu?" siapapun pasti akan memandang rendah gadis yang seperti Arini, dan dari kemarin semuanya menolaknya dengan alasan yang sama.


Arini memandangi semua karyawan yang keluar masuk di tempat itu, semuanya memang tak sama seperti dirinya. Dan itu pun juga membuat Arini bergidik ngeri karena apa yang mereka kenakan.


"Ihh.. , merinding gini jadinya. Masak ramai gini tempatnya tapi kenapa seperti horor begini?" celetuknya.


"Kenapa? kamu pasti tidak akan bisa kan seperti mereka?" tanya penjaga.


Arini menggeleng, ya jelas tidak lah! bagaimana mungkin dia bisa seperti semua orang itu. Itu bukanlah jati dirinya. Tapi tetap saja itu tak membuat Arini menyerah, dia tetap kekeh untuk mendapatkan pekerjaan itu.


"Pak, pekerjaan OB itu apa?" Tanya Arini.


"Pekerjaan OB, ya seperti membersihkan kaca mengepel, memberikan minum pada semua karyawan, dan juga membantu mereka mengambil kertas dan bisa juga mem-foto copy, dan masih banyak lagi," Jawab Penjaga.


"Itu mah pekerjaan Arini setiap harinya ngepel, nyapu, bersih-bersih, memasak itu semua keahlian Arini, jadi bisa kan Arini bekerja di sini? " Tanyanya antusias.


"Ti-dak!! " Jawab penjaga dengan berjeda dan juga sangat keras.


"Ayo lah, Pak. Boleh ya ya.. " Arini terus memohon siapa tau dia akan berhasil setelah itu.


Jengah, itulah yang penjaga itu rasakan, paginya harus kehilangan moodnya karena kedatangan Arini di tempat itu.

__ADS_1


"Tidak! ya tidak! " Jawab dengan membentak.


"Uhh..., jangan galak-galak pak. Apa nggak takut nanti botak tuh kepalanya kalau keseringan marah-marah." Arini tak mau kalah, dia mencoba berbagai cara untuk bisa bekerja di tempat itu.


"Bisa pergi nggak? "


Dan Arini hanya menggeleng, dia masih tak mau pergi dari tempat itu, dia sangat membutuhkan pekerjaan kalau dia tak kunjung mendapatkan pekerjaan bagaimana dengan kehidupan selanjutnya, dia tidak mau membuat beban untuk nenek-kakeknya.


"Please, please... "


"Hem.., keras kepala banget sih! Apa kamu juga tidak tau apa persyaratannya untuk bisa bekerja di sini! " Penjaga sudah mulai frustasi, namun lagi-lagi Arini hanya menggeleng.


"Syaratnya adalah, cantik berpenampilan menarik, berkulit putih dan tentunya seksi! Jelas sekarang! "


"Peraturan macam apa itu, bukannya kalau bekerja yang di perlukan adalah keahliannya? Kenapa aturannya menyimpang seperti itu, ini namanya peraturan sesat. " Jawab Arini.


"Apa kamu bilang! "


"Aturan sesat. " Jawab Arini berani.


"Ini bukan perusahaan mu, jadi terserah pemiliknya yang membuat aturan, kenapa kamu yang keberatan."


"Ya, ya saya tau. "


"Makanya sekarang kamu pergi! karena kamu tidak akan bisa di terima di sini. Pergi sana! "


"Ada apa ini! " Pria tampan datang mengejutkan Arini dan juga penjaga.


Seketika keduanya menoleh. "𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵? 𝘈𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘣𝘶𝘩? " batin Arini yang melihat siapa yang datang. Ya, pria tampan itu adalah Arya yang di ikuti oleh Toni di belakangnya.


"Ini, Tu... " Ucapan penjaga terhenti.


"Apa mau mu kesini? mau minta sumbangan! " Tanya Arya begitu angkuh.


Arini menganga, astaga! Siapa juga yang mau minta sumbangan? "Saya bukan orang yang mau minta sumbangan, Pak tuan. Saya hanya mau melamar pekerjaan di sini." Jawab Arini.


Arya terbelalak, bagaimana bisa perusahaannya di masukin oleh orang seperti gadis yang ada di hadapannya ini? dan dari planet mana datangnya, juga dari mana gadis ini memiliki keberanian untuk datang.


"Apa kamu yakin akan di terima? " Tanya Arya dan dengan polosnya Arini menggeleng. "Jadi sekarang pergilah. " Usir Arya.


"Siapa Pak Tuan, apa Pak Tuan pemilik gedung ini?" Tanya Arini.


"𝘏𝘢𝘣𝘪𝘴𝘭𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘪𝘯𝘪. 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪? " Batin Toni.


"Toni! "


"Iya tuan. " Toni maju satu langkah.


"Bawa gadis ini ke ruangan ku. Dan ya, ambilkan seragam OB. " Titah Arya.


"Baik Tuan. " Patuh Toni.


"Ikut dengan ku! " Ajak Arya. Entah kerasukan apa pria tampan itu yang begitu menggilai wanita cantik, seksi, dan berpenampilan menarik kini malah mengajak Arini.


Penjaga hanya cengo, memandang tak percaya pada Tuan besarnya. "Apakah kepalanya terbentur aspal? " Penjaga itu mengernyit.


__


Bersambung


_______________

__ADS_1


__ADS_2