
Happy Reading...
'’Tidak akan pernah!’’ Arya hanya menoleh sebentar ke arah Arini tapi di kembali seperti semula dengan penuh kekesalan.
‘’Tapi kenapa Pak Tuan! Kenapa?!’’
‘’Karena aku menyukaimu! Aku mencintaimu! Ya, aku telah mencintaimu, PUAS!!’’
Arini terperangah mendengar apa yang Arya katakan, mana mungkin rasa itu ada begitu saja dengan jarak yang sangat cepat dari pertemuan mereka berdua. Sungguh mustahil bukan?
Perlahan Arini beranjak matanya masih tak berkedip memandangi punggung Arya yang masih bergeming sama sekali.
Arini menggeleng tak percaya dia juga sangat takut jika apa yang dia dengar itu adalah nyata maka dia pati akan semakin berada dalam masalah besar.
Orang-orang yang mengharapkan Arya pasti akan tambah membencinya dan ketenangan hidupnya akan sangat susah dia dapatkan.
''Pak Tuan bercanda kan? mana mungkin rasa itu ada. Arini hanya gadis bodoh yang tak bisa melakukan apapun, tidak ada yang bisa dibanggakan dari Arini. Jika beneran ada maka aku mohon hapuslah dan jangan sampai tumbuh semakin besar.''
Hati Arini terasa sakit mengatakan itu, meski bibir mengatakan itu tapi hatinya sungguh tidak ikhlas sama sekali.
Ada bahagia ada duka yang bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Arini bahagia bisa mendapatkan sebuah cinta yang pasti itu datang dari Allah dan dia tak akan pernah bisa menyangkalnya. Tapi dia juga sedih karena tak akan mudah untuk bisa menyatukannya, akan banyak rintangan yang sangat besar.
Meskipun bodoh tapi Arini juga seorang manusia yang mempunyai hati,yang bisa membedakan mana duka juga mana kebahagiaan.
Mungkin kali ini Arini tengah menjadi seorang yang sangat munafik, karena apa yang dia katakan dan apa yang di inginkan di dalam hatinya sangat jauh berbeda.
Terlihat Arya membalikan badannya dia juga mulai melangkah menghampiri. Matanya sangat terlihat ada sebuah cinta yang sangat besar.
Langkahnya terhenti tepat di hadapan Arini yang termangu dalam tatap.
''Apakah aku terlihat seperti seorang pembohong sekarang? apakah kamu tidak bisa melihatnya?'' tanya Arya setelah sampai di hadapan Arini.
__ADS_1
Tak ada kebohongan yang terlihat dari matanya terlihat sangat nyata dan sangatlah jujur.
''Lihatlah! lihat dengan benar! apakah aku terlihat seperti orang pembohong!'' suara Arya terdengar sangat melengking sangat tinggi dia hanya ingin menjelaskan kalau kali ini dia tidak berbohong.
Arya beralih menunduk dengan lemas, inilah yang sangat tidak dia sukai. Inilah apa alasannya Arya tidak mau jatuh cinta karena semuanya akan di kendalikan oleh cinta.
Cinta membuatnya lemah tak berdaya, terkadang bisa membuatnya sakit dan seperti orang yang kehilangan kewarasannya alias seperti orang yang sangat gila, namun sekarang dia mengaku kalah dengan cinta. Musuh terbesar dari seorang Arya adalah sebuah cinta.
''Pak Tuan, kenapa harus Arini? kenapa bukan orang lain saja.''
Cinta tidak bisa dipaksa akan dimana dia datang dan pada siapa dia akan berlabuh. Bahkan Arya sendiri juga tidak akan bisa mengendalikan yang di maksud dengan cinta.
"Arini hanya gadis bodoh yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta dari Pak Tuan. Pak Tuan sangat sempurna, tapi Arini? tidak Pak Tuan, ini tidak bisa di benarkan," imbuh Arini lagi.
Arya kembali mengangkat wajahnya, di tatap dalam-dalam mata Arini yang terlihat ada sebuah semburat luka, mungkin Arini mengatakan hanya dari mulutnya saja tidak datang dari hatinya.
"Kenapa, kenapa aku tidak boleh mencintai mu, apakah karena aku buruk? aku bukan orang yang baik? apakah karena aku adalah pendosa?" mata Arya semakin tajam, tapi juga terlihat ada sebuah kesedihan di sana.
Arya sadar penuh dengan apa yang kurang dari dirinya, semua dosa dan perlakuan buruk yang dia pernah lakukan memang doa yakini tidak akan pernah pantas mendapatkan cinta dari gadis baik-baik.
Tapi Arya juga tidak bisa menyalahkan cinta yang datang di hatinya, itu semua murni bukan karena ego dan juga karena sebuah obsesi lagi. Mungkin beberapa hari yang lalu itu adalah sebuah obsesi tapi sekarang?
Arya membalikkan badannya. Dia berjalan menjauh dari Arini yang kembali terdiam. Tak mempermasalahkan bagaimana masa lalu Arya, karena seiring waktu Arya berubah dengan sendirinya dan Arini juga melihatnya. Tapi masalahnya adalah kasta, tahta dan harta semua menjadi pembatasnya.
"Jika aku memang tidak pernah pantas untuk mu, jika aku memang tidak bisa membahagiakanmu tidak masalah. Aku sadar aku bukan orang baik. Sekarang pergilah, dan anggap saja aku tidak pernah mengatakan semua ini. Lupakan," Ucap Arya lirih.
"Pergilah, akan aku hitung sampai tiga. Jika kamu memang tidak menerimaku maka pergilah sebelum aku membalikkan tubuhku."
"Jika kamu memberikanku kesempatan untuk bisa membahagiakanmu, maka tetaplah di sini hingga hitungannya habis."
Dilema besar datang di hati Arini. Apa yang akan dia pilih sekarang, haruskah pergi atau tetap bertahan di sana.
__ADS_1
"Satu... "
Arini semakin bingung, dia menggigit bibir bawahnya dengan pikiran yang terus berkelana.
"Dua... "
Arini berjalan mundur dia hatinya sangat takut mengingat semua masalah yang telah terjadi. Tapi dia merasa sangat berat untuk pergi karena Arini sendiri juga sangat nyaman di sisi Arya meski dia belum sepenuhnya menyadari.
"*Aku harus bagaimanapun? apakah aku harus tetap berada di sini dan menerima Pak Tuan? memberikan dia kesempatan. Tapi bagaimana dengan masalah yang akan datang untuk kedepannya*? " batin Arini, dia sangat bingung dengan keputusannya.
"Ti... ga... " Arya memejamkan matanya, dia ikhlas dengan semua takdir yang akan dia dapatkan. Dia akan hargai bagaimana keputusan Arini. Dia sadar kalau rasa cinta tidak akan bisa di paksakan.
Arya menghela nafas panjang, kakinya perlahan mulai berputar begitu juga dengan tubuhnya.
Arya masih terus memejamkan matanya dia belum sanggup untuk melihat kenyataan kalau Arini mungkin sudah pergi dari sana karena kali ini sudah tidak ada lagi suara.
Kelopak mata mulai terangkat, netra hitam mulai terlihat, Arya mulai membuka matanya.
Perasaannya campur aduk dan tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, gadis itu masih ada di sana meskipun dia menunduk tak memperlihatkan wajahnya. Arini telah memberikan kesempatan untuknya.
"Aku mencintaimu, Arini. Aku mencintaimu," kicaunya di iringi dengan senyum manis juga dengan air mata haru.
"Aku tau kamu tidak akan setega itu dan meninggalkan ku sendiri, Arini. Terimakasih," Arya mulai melangkah mendekati Arini. Gadis itu menjadi pendiam saat ini, tapi tidak masalah dia pasti sangat malu kan?
"Terimakasih, aku janji akan menjadi yang sempurna untukmu. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu."
"Arini tidak menuntut Pak Tuan untuk menjadi yang sempurna, tapi Arini mohon jangan pernah ulangi kesalahan yang lalu-lalu. Jauhi semua itu bukan untuk Arini, tapi untuk Allah dan untuk pak Tuan sendiri."
"Aku akan berusaha, aku akan berusaha.." jawab Arya.
Bersambung...
__ADS_1
____