Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
146.Ulang Tahun Arya


__ADS_3

Happy Reading...


Di dalam kamar Arya kini Arini masih sibuk, dia menyiapkan kado yang akan dia berikan untuk Arya sebagai hadiah ulang tahun yang sebenarnya acara sudah di mulai. Tak ada yang spesial hadiahnya hanya sebuah sapu tangan putih yang dia sulam dengan nama Arya Gautama dengan benang berwarna biru tua, biru muda lalu putih.



Arini baru saja menyelesaikan sapu tangan itu. Arini yang sangat bingung karena tak dapat membeli apapun hingga akhirnya dia menemukan sapu tangannya sendiri yang selalu dia gunakan untuk membungkus Al-Qur'an kecil yang selalu dia bawa dan kini dia sulap menjadi berwarna akan nama Arya di sana.



"Alhamdulilah, akhirnya selesai juga. Semoga Pak Tuan menyukainya kalau tidak suka ya sudah Arini akan menyimpannya." gumamnya.



Wajah Arini terlihat senang, walaupun hanya sapu tangan seenggaknya dia bisa menepati janji kalau dia akan memberikan hadiah untuk Arya.



Arini langsung melipatnya kecil memasukkan ke dalam kotak kecil bekas yang dia dapat dari Mila tadi. Bukan hanya itu saja, tapi Arini juga memasukkan tasbih biru kesayangannya. Arini juga berniat untuk memberikan tasbih itu juga kepada Arya.



"Pak Tuan, Arini harap tasbih ini akan menjadi kesayangan pak Tuan sama seperti Arini yang sangat menyayanginya. Semoga selalu membuat pak Tuan ingat kepada Allah dalam keadaan apapun." harapnya dengan begitu tulus.



"Astaga! Sudah jam delapan!" Arini terperanjat setelah melihat arloji, dia cepat turun dari kasurnya. Dia sadar kalau acara ulang tahun Arya di mulai pukul setengah delapan berarti Arini sudah terlambat.



Di saat Arini terperanjat tanpa dia tau kalungnya terjatuh di lantai dan tergeletak begitu saja karena Arini langsung pergi ke kamar mandi.



Beberapa saat setelah Arini masuk ke kamar mandi Raisa masuk, dia sudah siap untuk ke acara ulang tahun Arya. Dia sudah siap dengan baju khususnya juga dengan kotak hadiah yang sederhana.



"Cungkring! Sampai kapan aku harus menunggumu! Dari tadi aku hanya seperti satpam yang menunggu di depan pintu, dasar kau ini!" seloroh Raisa sangat kesal.



"Lah, dimana anaknya? Terus aku marah-marah sama angin gitu?" Mata Raisa mengedar sempurna, tak dia temukan Arini dimana-mana tapi dia mendengar ada suara gemericik air di dalam kamar mandi. "Dasar lelet, temannya sudah sampai di bandara dia baru mandi, dasar!" umpatnya.



Raisa duduk di kasur yang Arini tempati, di lihatnya kotak biru putih kecil yang ada pita nya juga sisir hitam yang dia yakini milik Arini.



Ada sedikit rambut Arini yang rontok di sana dan Raisa mengambilnya. Raisa sudah menyiapkan sapu tangan biru dia menaruh rambut itu di sana, membungkusnya lalu mengantongi lagi sebelum ketahuan Arini.



Raisa beralih mengambil kotak milik Arini.

__ADS_1



"Ini pasti hadiahnya Arini untuk Tuan Arya." Raisa tersenyum, tangannya meraihnya tapi tak berniat membukanya.



"Lah kenapa hadiahnya malah terjatuh," Kalung milik Arini terlihat oleh Raisa karena pas berada di samping kakinya.



Raisa mengambilnya melihatnya sejenak dia tersenyum juga menggeleng.



"Sungguh gadis aneh, masak seorang laki-laki di beri kalung seperti ini. Dasar Arini. Tapi bagus juga. Hem..., Kira-kira dari mana Arini bisa mendapatkan kalung seperti ini? Ini hanya imitasi kan? Ya iyalah! Tidak mungkin ini permata asli, duit darimana?"



Raisa membuka kotak Arini memasukkan kalung itu tanpa bertanya dulu kepada Arini, "beres."



"Ari... ni.... " teriakan Raisa melirih karena Arini sudah keluar dari kamar mandi, dia sudah siap.



Gamis navy dengan rompi kotak-kotak kecil berwarna navy putih yang sama panjangnya dengan gamisnya. Hijab pasmina navy yang dia kaitkan sebelah kirinya ke atas kepala dan satunya dia naikkan di bahunya menggunakan bros berwarna biru bercampur silver.




"Gimana, Mbak! Bagus nggak?" tanya Arini. Kakinya berjalan menghampiri Arini yang terpaku.



"Kamu cantik, Kring. Di luar sana pasti ada yang akan terpana nih!" Raisa mengedipkan matanya.



"Arini tidak terpana?" Arini bingung.



"Bukan kamu bodoh! Yuk, kita sudah terlambat ini."



"Hadiahku?" Arini ingin berpaling.



"Nih!" Raisa langsung menyodorkannya, "Kring, hadiah mu bagus sekali. Kalau aku ulang tahun mau juga dong hadiah yang sama, tak masalah meskipun imitasi." Raisa merangkul Arini mengajaknya mulai berjalan.


__ADS_1


"Masak sih, Mbak! Hanya... "



"Sudah sudah!"



Pesta outdoor di gelar untuk perayaan ulang tahun Arya. Beratapkan langit yang keindahannya langsung dapat dilihat dari kolam besar yang ada di sana. Tentunya juga AC alami dari Sang Pencipta yang terasa semilir begitu menyegarkan.


Hamparan malam begitu cerah saat ini semua terlihat sangat indah, di hiasi dengan bintang-bintang yang terus berkedip menampakkan diri mereka. Beserta sang bulan yang menjadi sinar utama untuk tempat yang sudah di siapkan untuk acara ulang tahun Arya.


Semua tampak indah, di tambah dengan pancaran lampu yang kini bernuansa kuning juga begitu banyak untaian bunga yang terselip kata selamat untuk Arya yang hari ini bertambah lagi satu tahun usianya menjadi tiga puluh satu tahun.


Satu persatu orang berdatangan dengan tangan membawa hadiah untuk Arya.


Seperti tahun-tahun sebelumnya Arya selalu mendapatkan hadiah yang banyak juga tentunya yang mahal-mahal, bahkan ada yang khusus memberikan sebuah mobil pengeluaran terbaru untuknya.


Satu persatu mereka menyalami Arya mengucapkan selamat untuk bertambah usianya juga mendoakan untuk menjadi lebih baik. Meski bibir terus tersenyum tapi mata Arya terus berkelana mencari gadis bodohnya.


"Dia di mana?" gumamnya.


Matanya terhenti berkelana setelah ada gadis yang begitu cantik datang, dia adalah Melisa yang sekarang memakai gaun hitam termahalnya juga tatanan rambut yang dia kuncir tinggi di sisakan sedikit dan di biarkan berada di depan telinganya.


"Tuan, selamat ulang tahun. Semoga Tuan semakin sukses dan makin berjaya," ucap Melisa. Senyum dia keluarkan semanis mungkin di hatinya terus berharap Arya akan menoleh kepadanya dan tertarik karena dandanannya sekarang yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.


Kotak hadiah Melisa sodorkan saat Arya benar-benar menoleh, kotak berbungkus warna gold juga berpita kuning itu yang sudah Melisa siapkan sejak jauh-jauh hari.


"Ini Tuan, ada hadiah kecil dari saya," ucapnya.


Arya menerimanya dengan wajah datar, tak ada senyum sama sekali menghiasi wajahnya, "hem..." jawab Arya.


"Ton!" panggil Arya.


Seketika Toni datang membungkuk hormat di sebelahnya, "iya Tuan,"


"Nih! Taruh di tempat semestinya," kotak dari Melisa Arya berikan kepada Toni dia juga tidak mungkin memegangi kotak sampai akhir acara. Lagian semua hadiah sudah ada tempat khusus dan tidak perlu di berikan kepada Arya.


"Baik Tuan." Toni kembali pergi setelah menerima kotak yang di berikan oleh Melisa.


Melisa terdiam, tapi dia sedikit kesal karena Arya tetap tidak tertarik kepadanya meski dia sudah berdandan begitu cantik.


Arya berjalan melalui Melisa, tangan terlihat meraba kantong jasnya. Mengeluarkan sebuah kotak bekulit beludru berwarna hitam. Arya menyiapkan sebuah cincin indah yang akan dia gunakan untuk menyatakan cintanya di depan semua orang kepada Arini. Arya akan menjadikan Arini sebagai hadiah paling berharganya di hari ulang tahunnya dengan cara melamarnya.


Dari kejauhan mata Arya melihat Arini juga Raisa yang berjalan masuk ke tempat acara dengan senyuman khas mereka. Arya tersentum juga melihat itu, penampilan Arini yang sederhana tapi selalu bisa mengikat hatinya.


Tapi baru saja Arya tersenyum sebentar dia heran karena mereka berdua terlihat berebut sesuatu dengan orang lain.


Arini terlihat panik saat orang itu melemparkan sesuatu di dalam kolam kemudian orang itu juga mendorong Arini yang terlihat panik di samping kolam. Arini masuk ke kolam karena ulah orang yang tidak terlihat wajahnya itu.


"Ariniii...!!! "



Bersambung...

__ADS_1


\_\_\_


__ADS_2